RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Sikap Posesif Gavin


__ADS_3

" Honey, cepatlah!" Gavin meminta agar istrinya itu agar cepat menyelesaikan berhiasnya.


" Sebentar, By. Memangnya ada apa? Hubby mau ajak aku ke mana?" tanya Azzahra heran karena sejak tadi suaminya itu memintanya untuk cepat-cepat mengganti baju.


" Kita mau memjemput Baby pulang kuliah," Gavin menyebutkan alasannya menyuruh istrinya bergegas.


" Bukannya Rayya pulang dengan Willy? Willy sendiri 'kan bawa kendaraan."


" Willy tadi telepon dia ada pekerjaan mendadak dan harus pulang lebih cepat, jadi minta tolong aku untuk menjemput Baby. Dan juga aku penasaran dengan teman laki-laki yang disebut William itu, Honey." Gavin memang tidak merasa tenang jika teringat ada pria yang mendekati putrinya. Sikapnya memang berlebihan, namun itu adalah bentuk rasa sayangnya kepada anak perempuan satu-satunya itu.


" Ya sudah tunggu sebentar, aku tinggal memakai maskara saja."


" Honey, kenapa kau berhias seperti itu?" Gavin yang melihat Azzahra berhias dengan mengenakan make up langsung menatap curiga.


" By, kita mau ke luar, kan? Pria Italia itu tampan-tampan jadi aku harus terlihat cantik." Azzahra berkelakar dengan terkikik.


" Apa kau bilang?!" Gavin langsung menarik pundak istrinya. " Berani sekali kau bilang pria Italia tampan! Aku tidak suka kau kecentilan seperti ini." Gavin langsung menarik tissue lalu mengelap make up yang menempel di wajah Azzahra.


" Astaghfirullahal adzim, By! Kenapa dihapus? Jadi berantakan tuh make up nya?" Azzahra memberengut kesal dengan ulah suaminya itu.


" Makanya cepat kau cuci wajahmu dan kau hapus make up mu yang tebal itu!" perintah Gavin.


" Make up aku natural gini kok, By! Mana pernah aku menggunakan make up tebal!" Azzahra membela diri karena dia memang menggunakan riasan wajah natural seperti biasanya.


" Sama saja! Aku nggak suka melihat kau berdandan cantik untuk pria lain!" tegas Gavin nampak emosi.


Azzahra yang awalnya kesal melihat ulah suaminya itu kini tersenyum. Karena dia tahu suaminya bersikap seperti tadi karena suaminya itu tidak ingin dia berpaling kepada pria lain dan karena suaminya itu sangat mencintainya.


" Hubby ..." Azzahra langsung melingkarkan tangannya di leher sang suami. " Aku berdandan begini untuk Hubby, lho! Aku ingin terlihat pantas jika mendampingi Hubby. Kalau aku tidak berhias, memangnya Hubby mau ada yang bilang, Suaminya tampan, gagah, keren, tapi istrinya jelek, kuno, kampungan. Memangnya Hubby nggak malu kalau ada yang berkomentar seperti itu?"


" Honey ..." Gavin menangkup wajah Azzahra dengan kedua tangannya. " Aku tidak perduli walaupun kau jelek, kuno, dan kampungan. Karena aku sudah terlanjur jatuh cinta kepadamu."


" Jadi menurut Hubby aku ini jelek, kuno dan kampungan?" Azzahra mencebikkan bibirnya saat suaminya itu seolah membenarkan jika dirinya seperti itu.


Gavin tergelak mengetahui istrinya merajuk.


" Bukannya kau yang awalnya mengatakan seperti itu, Honey? Sudah cepat bersihkan dulu make up nya, nanti kita telat Baby keburu pulang." Gavin meminta istrinya agar cepat merapihkan riasannya.


***


" Rayya ...!"


Rayya melihat Simone yang berlari-lari mendekat ke arahnya.

__ADS_1


" Vuoi andare a casa? Non stai aspettando William?" ( Apa kamu ingin pulang? Apa kamu tidak menunggu William ) tanya Simone karena melihat Rayya berjalan ke luar menuju gerbang kampus.


" No, è tornato a casa prima perche aveva un lavoro." ( Tidak, dia tadi pulang lebih dulu karena ada pekerjaan," sahut Rayya. Setengah jam lalu, William memberitahukan jika dia ada pekerjaan yang harus diselesaikan hingga harus meninggalkannya.


" Allora, su cosa stai andando a casa? ( Lalu, kamu akan pulang naik apa ) Simone membalikkan tubuhnya hingga kini dia berjalan mundur dengan tubuh berhadapan dengan Rayya.


" Sono stato prelevato dai miei genitori," ( Aku dijemput oleh orang tuaku ) sahut Rayya terkekeh melihat Simone yang berjalan mundur.


" I tuoi genitori sono qui?" ( Orang tuamu ada di sini ) Simone nampak terkejut saat Rayya mengatakan jika kedua orang tuanya ada di sini.


" Si." ( Iya )


" Posso conoscere i tuoi genitori?" ( Apakah aku boleh berkenalan dengan orang tuamu )


Rayya seketika menghentikan langkahnya saat Simone meminta berkenalan dengan orang tuannya.


" Non poui?" ( Tidak bisa ya? )


Rayya menghela nafas panjang. Bukannya dia tidak ingin mengenalkan Simone kepada orang tuanya tapi sikap posesif Daddy nya lah yang membuatnya sangat khawatir.


" Ai miei genitori non piace che fossi troppo vicino agli amici maschi." ( Orang tuaku tidak menyukai aku terlalu dekat dengan teman laki-laki ) Rayya menyebutkan alasannya.


" Oh, capisco. Ogni genitore si comporterebbe così con la propria figlia." ( Oh, saya paham. Setiap orang tua pasti akan bersikap seperti itu kepada anak perempuannya ) Simone nampaknya memaklumi akan sikap orang tua Rayya.


Rayya segera mengambil ponselnya saat benda itu berbunyi.


" Assalamualikum, Dad." Rayya menjawab telepon dari Daddy nya yang menghubunginya saat itu.


" Waalaikumsalam, Baby kau ada di mana? Dad sudah ada di gerbang utama kampus Baby," sahut Gavin.


" Sebentar lagi Rayya ke situ, Dad. Assalamuailkum ...."


" Waalaikumsalam ...."


Rayya segera mematikan panggilan telepon Daddy nya.


" Simone, devo andare ora, ciao." ( Simone, aku harus pergi sekarang, bye) Rayya kemudian berpamitan lalu bergegas menuju gerbang utama kampus.


" Rayya, aspetta! Mi unisco!" ( Rayya, tunggu! Saya ikut! ) Simone pun ikut mengejar Rayya, dia tidak perduli meskipun Rayya melarangnya.


" Daddy ...!" Rayya menghampiri Gavin yang sedang berdiri di dekat mobil yang pria itu sewa. " Mom mana?" Rayya menoleh ke dalam mobil dan dia mendapati Mommy nya itu.


Gavin lalu melirik pria yang berlari di belakang Rayya dan pria itu berhenti di hadapannya.

__ADS_1


" Hmmm ... Dad, ini Simone." Rayya langsung mengenalkan Simone kepada Gavin saat Daddy nya itu terus manatap penuh selidik Simone.


" Salve, zio, zia... come sta?" ( Halo, Om, Tante ... apa kabar?" Simone langsung menyapa Gavin dan Azzahra yang akhirnya turun dari mobil.


" Pakai bahasa Inggris atau bahasa Indonesia! Bukannya salah satu orang tuamu dari Indonesia?" Gavin berkata dengan cukup tegas.


" Oh, maaf, Paman. Rayya sudah cerita tentang saya ke Paman rupanya." Simone tersenyum, dia tidak menyangka kalau orang tua Rayya tahu tentang keberadaannya.


" Jangan besar kepala dulu! Bukan Rayya yang cerita tapi kakaknya, karena saya meminta Willy untuk mengawasi siapapun lelaki yang mencoba mendekati putri saya," tegas Gavin kembali.


" Dad ...."


" By ...."


Rayya dan Azzahra menegur Gavin yang terlihat terlalu ketus terhadap Simone.


" Oh, iya, Paman. Maaf ..." Sementara Simone sendiri sangat memaklumi sikap Gavin.


" Apa sebenarnya tujuan kamu mendekati putri saya? Apa ada maksud tersembunyi kau mendekati Rayya?" Masih dengan nada penuh intimidasi Gavin mengintrogasi Simone.


" Dad ...!" Rayya memprotes Gavin yang nampak keras bersikap kepada Simone.


" Hubby jangan seperti itu!" Azzahra pun menasehati suaminya.


" Saya mengerti jika Paman dan Bibi bersikap seperti ini kepada saya."


" Panggil Om dan Tante!" Gavin meralat kata-kata Simone.


" Oh maaf, Om. Saya mengerti dengan sikap Om seperti ini. Saya berteman dengan Rayya, karena saya melihat dia wanita yang baik dan sederhana. Rayya juga sangat ramah dan tidak sombong. Mempunyai tutur kata yang santun. Rayya mengingatkan akan Mama saya, sosok yang anggun, benar-benar wanita Indonesia yang sangat istimewa." Simone kini melirik ke arah Azzahra yang berpembawaan sangat mirip dengan Mamanya.


" Jangan melirik-melirik istri saya!" Gavin langsung menarik lengan Azzahra lalu melingkarkan lengannya di pundak Azzahra. Sementara Rayya langsung memijat pelipisnya menanggapi sikap posesif Daddy nya yang justru seperti anak kecil.


" Maaf, Om. Saya tidak bermaksud buruk. Saya hanya teringat akan Mama saya." Simone dengan segera menjelaskan jika dia tidak seburuk yang Gavin sangka


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2