RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Mengajak Jalan Ke Luar


__ADS_3

Gibran hanya menggelengkan kepalanya saat dia melihat tingkah Azkia yang langsung berlari menuju Ramadhan sampai meninggalkannya begitu saja.


" Hai, Kak Rama ..." sapa Azkia dengan riang. Azkia seolah mewakili perasaan Rayya yang pasti akan merasa senang dengan kedatangan Ramadhan malam Minggu ini di rumah Gavin.


" Kia ..." Ramadhan menyapa balik Azkia.


" Tumben nih, Kak Rama datang ke sini? Hmmm, mau ngapelin Rayya, kan? Cieee, yang mau dijodohkan." Seperti itulah Azkia, selalu dengan candaannya. Terlebih kepada Ramadhan, orang yang sering diajaknya bercanda kadang terkesan seperti orang berdebat.


Namun tidak seperti biasanya yang suka menangkis sendiran yang Azkia lontarkan. Kali ini Ramadhan hanya tersenyum samar, seakan tak tertarik merespon apa yang diucapkan Azkia kepadanya.


" Ayo, Kak. Rayya pasti senang banget kalau Kak Rama datang ke sini." Dengan penuh semangat Azkia menarik lengan Ramadhan agar mengikutinya sampai depan teras rumah Rayya. Azkia seolah benar-benar melupakan keberadaan Gibran yang akhirnya berjalan dan bersandar di samping mobilnya menunggu Azkia selesai dengan urusannya.


" Kak Gibran kok nggak masuk?" Alden yang baru saja datang mengendarai motornya bertanya heran karena mendapati Gibran hanya berdiri di dekat mobilnya.


" Sedang menunggu adik kamu itu mengantar tamu ke rumah Om Gavin." Gibran menyahuti.


" Oh, ya sudah. Aku masuk dulu, Kak." Alden lalu membawa motornya masuk ke dalam garasi rumahnya.


Sementara itu setelah sampai di depan rumah Rayya, Azkia dengan cepat menekan tombol bel.


" Assalamualaikum, Rayya, Auntie, Uncle." Azkia memberi salam dengan memanggil beberapa penghuni rumah itu. Dan tidak lebih dari semenit menunggu, pintu rumah Rayya pun terbuka.


" Waalaikumsalam, Non. Masuk, Non." Sus Imah yang masih bekerja di rumah Rayya yang membukakan pintu rumah dan mempersilahkan Azkia untuk masuk.


" Sus, Rayya mana?" tanya Azkia.


" Kia, ada apa?" Belum sempat Sus Imah menjawab, terdengar suara Azzahra yang sedang menuruni anak tangga karena mendengar Azkia berteriak di depan pintu mencari dia, Gavin dan Rayya.


" Auntie, coba tebak siapa yang datang?" Posisi Ramadhan yang berdiri di belakang Azkia memang tidak terlihat dari arah tangga.


" Memangnya siapa, Kia?" tanya Azzahra penasaran kemudian berjalan mendekat ke arah Azkia.


" Taraaaaa ... Kak Rama, Auntie." Azkia menunjuk ke arah Ramadhan.


Azzahra sedikit terperanjat dengan kehadiran Ramadhan di rumahnya.


" Assalamualaikum, Tante." sapa Ramadhan sopan seraya menyalami Azzahra.


" Waalaikumsalam ..." Azzahra langsung melirik ke arah Azkia masih dengan keterkejutan nya. Sepertinya Azzahra tidak pernah menduga dengan kedatangan Ramadhan yang tiba-tiba. Karena sejak suaminya mengatakan akan menjodohkan Rayya dengan pemuda di hadapannya sekarang ini, Gavin tidak pernah menyinggung soal perjodohan itu lagi.


" Om ada, Tante?" tanya Ramadhan kemudian.


" Kok yang dicari Uncle sih, Kak? Mestinya cari Rayya, dong! Kan yang mau diapelin Rayya bukan Uncle." Azkia langsung memprotes Ramadhan.

__ADS_1


" Kia ..." Azzahra justru kini yang menegur Azkia agar tidak bicara berlebihan. " Om ada kok di atas. Ayo silahkan masuk dulu." Azzahra mempersilahkan Ramadhan masuk sementara Sus Imah sudah lebih dulu menuju arah dapur untuk menyediakan minuman.


" Kia, tolong panggilkan Om di atas di ruangan keluarga." Azzahra menyuruh Azkia untuk memanggilkan Gavin karena mereka tadi sedang berkumpul di ruangan atas.


" Oke, Auntie." Azkia pun berlari menaiki anak tangga untuk memanggilkan Gavin.


" Hati-hati kalau naik tangga, Kia!" Azzahra langsung menasehati Azkia yang berlari menjejaki anak tangga.


" Rama mengganggu ya, Tan?" Ramadhan berbasa-basi.


" Ah, nggak, kok. Kami sedang bersantai di ruang keluarga di atas," Azzahra menyahuti. " Mama gimana? Sehat?" tanya Azzahra, karena baik Azzahra maupun Anindita tidak pernah berkomunikasi terkait perjodohan Rayya dengan Ramadhan.


" Mama sehat, Alhamdulillah, Tan." jawab Ramadhan.


" Syukurlah kalau begitu." Azzahra tersenyum, sebenarnya dia sendiri bingung menghadapi situasi sekarang ini. Rencana perjodohan Rayya dan Ramadhan membuatnya serba salah. Azzahra masih merasa takut kalau ternyata berjalan mengecewakan untuk putrinya.


" Rama ..." Untung saja suara Gavin yang terdengar dari arah tangga membuat Azzahra terlepas dari kebingungan dan mencairkan suasana.


" Om ..." Ramadhan langsung berdiri dan menyalami Gavin setelah Gavin mendekat.


" Kamu mau kemari kok nggak bilang-bilang sama Om, Ram?" tanya Gavin kemudian duduk di samping Azzahra.


" Iya kebetulan saja Rama ingin kemari, Om." jawab Ramadhan.


Sementara itu di atas.


" Sudah, kamu sekarang ganti baju dan berhias yang cantik." Azkia menyuruh Rayya untuk menganti pakaiannya dan berhias.


" Memangnya buat apa, Kia?" Rayya kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur empuknya.


" Karena tamu yang datang itu spesial."


" Memang siapa?" Rayya terlihat tidak terlalu antusias dengan tamu yang dimaksud Azkia.


" Kak Rama ...."


" Hahh?? Kak Rama?" Seketika Rayya langsung bangkit dan berdiri.


" Serius Kak Rama, Kia?" Berbeda dari sebelumnya, Rayya nampak sumringah mengetahui jika yang datang adalah Ramadhan.


" Iya, makanya buruan berdandan yang cantik!" Azkia mendorong Rayya menuju lemari pakaian dan segera menyuruhnya berganti pakaian.


" Rayya mesti pakai baju yang mana, Kia?" Rayya nampak kebingungan karena hatinya saat itu berdebar-debar bahkan rasa nervous seketika menyerangnya.

__ADS_1


Ddrrtt ddrrtt


Ponsel Azkia seketika tiba-tiba berbunyi membuat Azkia mengambil ponsel di dalam sling bag nya.


" Ya ampun, aku lupa Kak Gibran nungguin di bawah." Azkia menepuk keningnya saat melihat nama Gibran yang memanggilnya.


" Halo, Kak. Iya aku kesitu sekarang." Belum sempat Gibran berkata-kata, Azkia lebih dahulu bicara kemudian dia mematikan panggilan telepon dari Gibran.


" Ray, Kia pergi dulu, ya! Kak Gibran sudah nunggu Kia di bawah. Goodluck, ya! Assalamualaikum ..." Azkia langsung keluar kamar Rayya.


" Waalaikumsalam, kok Kia pergi, sih?" Rayya menyanyangkan kepergian Azkia karena dia tidak tahu harus bagaimana sekarang ini. Kedatangan Ramadhan yang tanpa diduganya membuat dia gugup. Bahkan detak jantungnya seolah berjalan lebih kencang dari biasanya.


" Rayya harus pakai baju apa, ya?" gumam Rayya yang justru berjalan hilir mudik kebingungan.


" Rayya ...."


" Astaghfirullahal adzim ...!" Rayya nampak tersentak saat mendengar suara Mommy nya dari arah pintu kamarnya.


" Kamu kenapa, Sayang? Kok kaget gitu dengar suara Mommy?" tanya Azzahra yang melihat anaknya sampai terperanjat seperti tadi.


" M-mom, memang benar ada Kak Rama datang ya?" tanya Rayya kemudian menggigit kuku jari tangannya.


" Iya, sedang bicara sama Daddy kamu." Azzahra berjalan menghampiri Rayya.


" Ada apa ya Mom, Kak Rama datang ke sini?" tanya Rayya penasaran.


Azzahra meraih punggung putrinya kemudian mengarahkannya ke depan cermin.


" Kak Rama ingin ajak Rayya jalan-jalan keluar. Sekarang Rayya ganti baju dulu."


Rayya tercengang sampai membuka mulutnya mendengar ucapan Mommy nya yang mengatakan Ramadhan ingin mengajaknya jalan keluar. Rasanya seperti mimpi baginya.


" Kak Rama mau ajak Rayya keluar? Memang Dad kasih ijin, Mom?" Setelah bisa mengendalikan dirinya, Rayya pun bertanya tentang Gavin yang sangat ketat menjaganya.


" Sudah, makanya Dad suruh Mom panggil kamu. Sekarang kamu ganti baju dulu. Mau Mom pilihkan bajunya?" Azzahra menawarkan karena dia tahu untuk putrinya yang pemalu situasi seperti saat ini membuat Rayya berada dalam tingkat nervous yang maksimal.


" I-iya, Mom." Rayya dengan cepat menyahuti karena dia memang bingung dan butuh seseorang yang dapat membantunya. Namun dia tidak bisa mendustai hatinya jika dia saat ini merasa sangat bahagia. Seakan ribuan bunga bermekaran di hatinya, jauh lebih banyak dari sebelumnya saat dia mengetahui Daddy nya akan menjodohkannya dengan Ramadhan.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2