
Mas, kenapa Mas malah meladeni sindiran Daddy? Sudah tahu Daddy ku orang begitu?" Rayya memprotes suaminya setelah suaminya membalas sindiran Daddy nya.
" Habis, Daddy mu itu malah mendoakan aku digigit hiu dan paus." Ramadhan tidak ingin disalahkan oleh istrinya.
" Daddy itu sangat sayang sama aku, Mas. Mas Rama harus mengerti Daddy. Mas Rama harus sabar menghadapi Daddy, jangan malah menentangnya." Rayya menasehati suaminya agar lebih sabar menghadapi Gavin.
" Iya, Sayang. Maaf ... jangan marah, ya?" Ramadhan lalu menggenggam jari tangan Rayya dan mengecup tangan sang istri.
" Kita jadi ke rumahmu sekarang?" tanya Ramadhan.
" Iya, Mas. Tapi aku mau beli kue dulu untuk Mommy ya, Mas?" ucap Rayya.
" Oke, Sayang."
Setelah mengunjungi kantor Daddy nya, Rayya dan Ramadhan mengunjungi Azzahra di rumah orang tuanya. Karena dini hari nanti mereka akan melakukan perjalanan udara menuju Sorong, Papua Barat.
" Kalian pasti senang akan pergi bulan madu, ya?" Azzahra merasa senang dikunjungi oleh Rayya dan menantunya, setelah mereka sampai di rumah milik keluarga Gavin.
" Sudah pasti senang, Ma. Apalagi anak Mama ini, sepertinya nggak sabar banget ingin cepat-cepat bulan madu." Ramadhan menyeringai meledek istrinya yang langsung mendelik.
" Kalian harus jaga kesehatan ya di sana." Azzahra kembali menasehati anak dan menantunya itu.
" Iya Ma."
" Iya, Mom."
Ramadhan dan Rayya menjawab bersamaan.
" Semoga pulang dari bulan madu, kalian bawa oleh-oleh buat Mommy dan Daddy di sini." Azzahra tersenyum saat mengatakan hal tadi.
" Tenang saja, Ma. Insya Allah kami akan membawakan oleh-oleh paling berkesan untuk Mama dan Papa." Ramadhan menyahuti ucapan Mommy itu.
" Memangnya Mommy ingin oleh-oleh apa dari kami? Mommy bilang saja, nanti kami akan belikan apa yang Mommy mau." Rayya yang tidak mengerti maksud ucapan dari Azzahra langsung menduga jika apa yang dimaksud Azzahra dengan oleh-oleh adalah barang.
Azzahra dan Ramadhan tertawa kecil saat mengetahui jawaban polos Rayya.
" Oleh-oleh yang Mommy kamu maksud itu adalah bawa oleh-oleh di sini, Sayang." Ramadhan menyentuh perut Rayya dengan tangannya, membuat wajah putri dari Gavin dan Azzahra itu bersemu merah.
" Mom ...." Rayya langusng menyembunyikan wajahnya karena dia sedang tersipu malu.
" Kamu sudah menikah dengan Rama, sebagai orang tua, wajar 'kan kalau Mommy berharap kalian cepat mendapatkan momongan? Apalagi setelah kalian berdua melewati bulan madu." Azzahra sengaja menggoda putrinya karena dia tahu putrinya itu sama seperti dirinya dulu yang pemalu apalagi jika dihubungkan dengan hal-hal sensitif tentang hubungan suami istri.
__ADS_1
" Insya Allah, Ma. Mama doakan saja semoga di bulan madu ini kita bisa langsung dikasih rezeki." Ramadhan menyahuti ucapan Mama mertuanya itu.
***
Dini harinya Rayya dan Ramadhan langsung menuju Cengkreng untuk melakukan perjalanan udara menuju Bandara Domine Eduard Osok, Sorong. Sebelum melanjutkan dengan penerbangan menuju Bandara Marinda Raja Ampat.
Sekitar lima jam perjalanan, mereka akhirnya sampai di DEO Airport, Sorong. Mereka memilih melanjutkan perjalanan melalui jalur udara untuk mempersingkat perjalanan yang hanya akan memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Berbeda jika memakai perjalanan laut dengan menggunakan kapal feri akan menghabiskan waktu sekitar satu atau dua jam.
" Masya Allah, indah banget pemandangan alamnya, Mas. Akhirnya aku bisa juga sampai di sini." Rayya merentangkan tangannya sesampainya di penginapan terapung yang mereka sewa selama menghabiskan waktu di Raja Ampat.
" Pemandangan ini sangat cantik, secantik dirimu, Sayang." Ramadhan memeluk Rayya dari arah belakang dan membenamkan kecupan di pipi cantik Rayya.
" Mas Rama bisa saja." Rayya tersipu malu mendengar ucapan suaminya. Dia kemudian mengurai pelukan suaminya dan melangkah masuk ke dalam resort.
" Sepertinya aku akan betah di sini, Mas." ucap Rayya begitu terpesona dengan penginapan yang akan mereka huni selama bulan madu di sana.
" Aku pun betah di sini asalkan berdua denganmu, Sayang." ucap Ramadhan.
" Aku lebih serius, Sayang." Ramadhan menyeringai.
" Sudah, ah." Rayya melangkah ke luar melihat arah laut
" Rasanya nggak sabar ingin melukis pemandangan ini, Mas. Ini tidak boleh dilewatkan begitu saja." Sebagai seorang pelukis tentu saja pemandangan alam nan indah seperti ini adalah makanan empuk untuknya. Dia bisa menyapukan goresan crayon di atas canvas atas pemandangan yang begitu memanjakan mata setiap orang yang melihatnya.
" Sayang, kita ini sedang berbulan madu, untuk apa kau melukis?" protes Ramadhan.
" Memangnya bulan madu itu kita nggak boleh melakukan aktivitas lain selain mesra-mesraan, Mas?"
" Apa kau lupa janjimu yang akan melayaniku sepuasku, hmmm?" Ramadhan melotot menatap ke arah istrinya.
" Iya, tapi nggak seharian penuh kita harus melakukan itu 'kan, Mas? Aku nggak bisa bayangkan kalau selama bulan madu ini aku harus terus-terusan melayani Mas Rama." Rayya mendramatisir dengan menempelkan telapak tangan ke wajahnya.
" Kamu tidak bisa menolak jika aku mengingikannya, Sayang."
" Apa Mas Rama nggak capek? Aku saja rasanya lelah sekali kalau habis berhubungan," keluh Rayya.
__ADS_1
" Kau tenang saja, aku bisa bantu pijat jika kau lelah." Ramadhan menyeringai dan kembali memeluk istrinya lalu mengangkat tubuh Rayya dan membawanya berputar-putar membuat Rayya memekik namun akhirnya mereka berdua tertawa bahagia sewajarnya sepasang suami istri yang sedang kasmaran.
***
Rayya memperhatikan suaminya yang sejak tadi berenang dari resort mereka menginap.
" Sayang, aku ingin sekali diving. Kau mau ikut?" tanya Ramadhan setelah dia kembali naik ke atas, setelah dia rasa cukup untuk berenang. Rasanya dia merasa rugi jika tidak menikmati pemandangan bawah laut dari Raja Ampat.
" Mas, nggak usah diving, deh. Di sini saja. Aku takut ..." Sepertinya Rayya terpengaruh dengan ucapan Daddy nya.
Ramadhan terkekeh mendengar kekhawatiran Rayya kepadanya.
" Kau jangan berpikiran seperti Daddy mu, Sayang." Ramadhan meminta agar Rayya tidak merasa khawatir kepadanya.
" Aku tidak berpikiran seperti Daddy, Mas. Aku hanya takut saja ditinggal sendirian." Rayya menyampaikan alasannya tidak ingin ditinggal sendirian.
" Bagaimana jika kita menyewa perahu saja untuk berputar-putar tempat ini?" Ramadhan menawarkan kepada Rayya.
" Oke, tapi besok saja ya, Mas. Hari ini kita beristirahat dulu saja."
" Oke siap, kita istirahat di atas tempat tidur, kan?" Ramadhan langsung memeluk tubuh Rayya.
" Ya Allah, Mas. Baju aku jadi basah semua ini ..." keluh Rayya karena tubuh Ramadhan yang basah mengenai pakaian Rayya.
" Hahaha, maaf, Sayang." Ramadhan lalu melepaskan pelukannya karena Rayya langusng memberengut.
" Aku mandi dulu, setelah itu kita habiskan waktu sampai malam di tempat itu." Ramadhan menunjuk ke arah ranjang.
" Kau siapkan tenagamu, Sayang. Kita akan lembur malam ini. Kita mulai buatkan pesanan oleh-oleh Mommy mu." Ramadhan memainkan alis matanya seraya menyeringai.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1