RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Mas Rama


__ADS_3

Ramadhan menjatuhkan tubuhnya di samping Rayya dengan nafas tersengal-sengal. Setelah pergumu lan di malam pertama pernikahan mereka, kini mereka sama-sama berbaring bersebelahan.


Rayya langsung memiringkan tubuhnya dengan menyembunyikan wajah di bahu sang suami karena dia masih belum bisa menyembunyikan rasa malunya karena permainan penuh kenikmatan yang dia rasakan tadi.


" Kenapa, Sayang?" Ramadhan terkekeh melihat sikap istrinya. " Istirahat sebentar, nanti kita lanjut lagi."


Rayya langsung mengangkat wajahnya menatap sang suami ketika suaminya mengatakan akan melanjutkan aktivitas tadi.


" Kita akan melakukan yang tadi lagi, Kak?" Rayya tidak percaya dia akan diajak suaminya untuk melakukan persetu buhan lagi.


" Tentu saja. Apa kamu nggak merasakan, tadi itu benar-benar terasa nikmat?" Ramadhan menyeringai.


" Tapi ini masih terasa nyeri rasanya, Kak." keluh Rayya.


" Di mana yang terasa nyeri? Sini aku lihat," goda Ramadhan ingin bangkit melihat bagian yang dimaksud sakit oleh Rayya.


" Kak ...!" Rayya menahan tangan Ramadhan agar suaminya itu tidak melakukan apa yang baru saja dikatakan suaminya itu.


" Kenapa? Katanya terasa nyeri? Sini aku obati."


" Kak Rama jangan aneh-aneh, deh!" Rayya langsung mencubit lengan sang suami.


" Apanya yang aneh? Aku ini ingin memeriksa aset penting penunjang kebahagiaan rumah tangga kita, Sayang." Rayya terkekeh kecil.


" Kak, jangan meledek terus ..." keluh Rayya.


" Jadi sudah siap melakukan hal tadi?" Ramadhan mengedipkan matanya menggoda istrinya kembali.


" Kak, apa nggak bisa besok lagi saja? Ini rasanya beneran masih terasa nyeri," keluh Rayya meminta pengertian sang suami.


" Ya sudah kalau begitu kita istrirahat saja." Ramadhan akhirnya menyetujui permintaan Rayya.


Rayya lalu bangkit dari tempat tidur setelah sebelumnya melilit tubuhnya dengan selimut.


" Mau ke mana, Sayang? Katanya sakit?" tanya Ramadhan.


" Aku mau ke kamar mandi dulu, Kak." sahut Rayya seraya menggigit bibirnya. Karena saat dia hendak melangkah bagian intinya terasa nyeri.


" Sini aku bantu!" Ramadhan. langsung mengangkat tubuh Rayya.


" Kak, ya ampun ... turunkan aku, aku mau ke kamar mandi!" Rayya yang kaget ketika tubuhnya diangkat kembali oleh Ramadhan langsung memprotes.

__ADS_1


" Aku ingin membantumu, Sayang. Kau bilang terasa nyeri, pasti akan terasa susah untuk melangkah. Makanya biar aku angkat kamu sampai kamar mandi." Ramadhan menjelaskan.


" Kak Rama terlalu berlebihan, deh!" Walau memprotes namun Rayya tak mampu menghentikan tindakan Ramadhan yang membawanya ke kamar mandi.


" Kak Rama kenapa berdiri disitu?" tanya Rayya saat melihat suaminya tak juga keluar dari kamar mandi setelah menurunkannya.


" Aku tunggu kamu di sini sampai selesai," sahut Ramadhan.


" Apa? Kak Rama mau melihat aku di sini? Tapi aku mau ..." Rayya menjeda kalimatnya karena ragu untuk mengatakan tujuan dia adalah untuk membersihkan sisa-sisa dari percintaan mereka di intinya.


" Kamu mau apa memangnya? Nggak apa-apa aku tunggu kamu di sini." Ramadhan sengaja tak ingin meninggalkan istrinya.


" Kak, bisa tinggalkan aku sebentar?" pinta Rayya.


" Kenapa aku mesti keluar sih, Sayang? Kita ini sudah suami istri, kenapa harus malu, sih? Memangnya apa yang ingin kau lakukan, hmmm?" Ramadhan memainkan alisnya menggoda Rayya.


Rayya mende sah melihat keseisengan suaminya itu. Dia pun akhirnya memilih memutarkan badan membelakangi suaminya lalu membersihkan bagian intinya. Rayya benar-benar harus menahan rasa malunya di hadapan suaminya itu.


***


Azzahra terjaga saat melihat suaminya itu sejak tadi nampak gelisah dan terduduk di tepi tempat tidur.


" Kenapa belum tidur, By?" tanya Azzahra kemudian bangkit dan terduduk di tempat tidur.


" Apa yang mesti Hubby khawatirkan? Rayya saat ini sedang bersama suaminya. Sudah ada orang yang tepat untuk menjaga Rayya, By." Azzahra meminta suaminya itu untuk tidak perlu mengkhawatirkan putri mereka.


" Tapi rasanya aneh Rayya tidak ada di sini, Honey."


" Ini bukan pertama kali Rayya tidak ada di rumah 'kan, By? Sebelumya juga Rayya sering jauh dari kita." Azzahra merasa ketidakberadaan Rayya saat ini adalah hal yang biasa.


" Tapi ini tidak akan sama, Honey. Rasanya pasti akan beda." Gavin masih belum bisa benar-benar ikhlas melepaskan putrinya itu untuk Ramadhan.


" Apa dulu waktu Hubby bawa aku, Abi sama Umi juga tidak merasakan hal yang sama dengan apa yang Hubby rasakan sekarang? Semua itu ada masanya, By. Masa ketika Hubby membawa anak gadis orang pergi dari kedua orang tuanya dan masa saat Hubby harus merelakan putri Hubby untuk pria lain." Azzahra memberi pengertian kepada Gavin. Entah sudah yang keberapa kalinya dia memberi penjelasan kepada suaminya itu agar lebih mengerti. Namun Rayya yang memang selalu mendapatkan perlakukan istimewa dari Gavin, membuat Gavin agak sulit untuk bisa merelakan untuk melepas Rayya.


" Honey, apa Rayya akan sepertimu dulu saat pertama menikah denganku?" tanya Gavin tiba-tiba.


" Rayya itu 'kan wanita yang polos, By. Sudah pasti dia akan malu saat harus melewati malam pertamanya bersama Rama," sahut Azzahra.


" Bukan itu maksudku, Honey."


" Lalu?" Azzahra mengeryitkan keningnya.

__ADS_1


" Apa dia akan meminta supaya jangan dilepas sepertimu dulu?" Gavin menyeringai mengingat pertama kali dia dan Azzahra melakukan hubungan suami istri dan dia mengerjai istrinya yang polos itu.


" Sudah ah, By. Jangan ingat itu lagi. Sekarang tidur, sudah jam satu dini hari." Azzahra meminta Gavin untuk segera beristirahat karena mereka benar-benar lelah sejak pagi sampai malam tadi karena pernikahan putri mereka.


" Aku tidak bisa tenang, kecuali melakukan satu hal yang mungkin akan membuat aku tenang, Honey."


" Apa, By?"


" Melakukan aktivitas apa yang Rayya dan suaminya lakukan sekarang ini." Gavin menyeringai menatap penuh damba terhadap istrinya. Dan tak lama dia langsung menangkap tubuh Azzahra dan menjatuhkannya di atas tempat tidur untuk melakukan apa yang sedang dilakukan Rayya dan Ramadhan di kamar pengantinnya.


***


" Selamat pagi, Nyonya Ramadhan ..." Sebuah sapaan dan kecupan mendarat di pipi mulus Rayya sehingga membuat Rayya mengerjapkan matanya.


Rayya langsung menolehkan wajahnya ke arah suaminya.


" Pagi, Kak." Rayya tersenyum menjawab sapaan suaminya.


" Mulai hari ini, ganti panggilannya dong, Sayang." protes Ramadhan.


" Memangnya Kak Rama ingin aku panggil apa?" tanya Rayya mengusap wajah tampan Ramadhan dengan punggung jari tangannya. " Mas Rama?" ucap Rayya seraya tersenyum.


" Iya, itu juga bagus."


" Baiklah, Mas Rama." Rayya kembali tersipu malu.


" Jam berapa sekarang, Mas?" tanya Rayya.


" Jam setengah tujuh."


Rayya terbelalak mengetahui waktu yang disebutkan oleh Ramadhan.


" Astaghfirullahal adzim! Kenapa Kak Rama nggak membangunkan aku, sih? Aku jadi ketinggalan sholat Shubuh." Rayya langsung bergegas ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri dengan sedikit kesal karena suaminya tidak membangunkannya untuk melaksanakan sholat Shubuh. Rayya sendiri sampai lupa dengan panggilan baru untuk suaminya itu.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2