
Setelah menjemput Rayya, Gavin dan Azzahra lalu menikmati indahnya objek wisata di kota Roma. Salah satu yang mereka kunjungi adalah air mancur yang menjadi salah satu icon kota Etarnal City Roma yaitu Fontana di Trevi.
Air mancur yang sangat terkenal ini mempunyai mitos melempar koin ke dalam kolam The Fountain Trevi.
" Mom, ayo kita ikut melempar koin ke kolam itu." Rayya meminta Azzahra ikut melempar uang koin ke dalam kolam.
" Cara lempar koinnya harus membelakangi air mancur menggunakan tangan melalui bahu kiri seperti ini." Rayya mencoba mempraktekan cara melempar koin. " Mitosnya jika kita melempar satu koin ke dalam sana, kita pasti akan kembali suatu saat nanti, meskipun untuk Daddy kembali ke sini bukan satu hal yang mustahil." Rayya terkekeh.
Azzahra dan Gavin pun mengikuti apa yang dilakukan oleh putrinya itu.
" Hati-hati lemparnya, Honey. Barangkali koinnya terkena kepala orang." Gavin memperingatkan.
" Berapa kali kita harus lempar koin ini ke kolam itu, Baby?" tanya Gavin kemudian.
" Menurut mitos, lemparan yang kedua adalah harapan kalau kita akan menemukan cinta sejati kita, dan lemparan yang ketiga dipercaya bahwa kebahagian dengan pasangan akan berakhir di pernikahan." Rayya menjelaskan.
" Kalau begitu kita tidak usah melempar koin kedua dan ketiga, Honey. Kita sudah menemukan cinta sejati kita dan cinta kita sudah bahagia dalam satu ikatan pernikahan." Gavin lalu memeluk dan mengecup Azzahra.
" By, malu dilihat orang!" Azzahra segera memprotes sikap Gavin, sementara Rayya hanya tersenyum mendapati kelakuan kedua orang tuanya yang tak kalah romantisnya dengan pasangan muda mudi.
" Semua itu hanya mitos, Dad. Sebagai orang yang beragama kita hanya boleh percaya kepada Allah SWT." Rayya menegaskan jika itu hanya satu tradisi yang tidak harus dipercayai secara mutlak.
" Rayya benar, By. Anak kita semakin pintar dan semakin bijak." Azzahra merangkul pundak putrinya itu.
" Tentu saja, anak Daddy." Gavin berucap bangga.
" Anak Mommy juga dong, Dad!" Rayya langsung menginterupsi kata-kata Gavin sebelum Azzahra mengkomplain ucapan Gavin.
" Dad sama Mom duduklah di sana biar nanti Rayya foto." Rayya meminta kedua orang tuanya mengabadikan kunjungan mereka di sana.
Malam harinya, Gavin dan Azzahra pun menghabiskan waktu menikmati indahnya kota Roma bersama Rayya karena besok mereka akan kembali ke Jakarta. Sementara William harus pergi ke Firenze atau yang dikenal dengan sebutan Florence. Mereka mengunjungi bangunan peninggalan bangsa Romawi, Colosseum yang nampak lebih indah dengan lampu-lampu yang menerangi.
__ADS_1
" Pantas Rayya betah di sini. Banyak bangunan indah yang bisa kamu lukis di sini ya?" ujar Azzahra menikmati indahnya objek wisata di hadapannya.
" Iya, Mom. Rayya juga sedang melukis Colosseum ini kemarin. Dari kamar Rayya juga bagunan ini kelihatan kok, Mom." sahut Rayya.
" Baby, apa kakakmu itu sering meninggalkanmu sendirian seperti ini?" Gavin tiba-tiba teringat jika William masih sibuk dengan pekerjaannya.
" Nggak kok, Dad. Kak Willy baru kali ini pergi ke luar kota." Bukan bermaksud menutupi tapi memang William sebelumnya tidak pernah meninggalkan Rayya sendirian.
" Nanti Dad akan bilang pada kakakmu agar lebih mementingkan kamu dari pada pekerjaannya itu." Gavin mengambil sikap ingin melarang William yang dilihatnya terlalu sibuk dengan pekerjaannya daripada menemani Rayya.
" Nggak bisa seperti itu dong, Dad. Kak Willy itu harus profesional dengan pekerjaannya. Dad sudah memaksa Kak Willy pindah kuliah dan kerja hanya untuk menemani Rayya di sini. Masa sekarang mesti diatur ini itu lagi, Dad?" Rayya merasa tidak enak jika William ikut dibatasi geraknya oleh Gavin.
" Dad, please ... Rayya baik-baik saja kok, di sini. Jangan terlalu mengkhawatirkan Rayya. Dad doakan saja supaya Rayya lancar kuliah di sini." Rayya mengusap lengan Gavin berusaha memberikan pengertian kepada Daddy nya yang begitu sangat menyanyanginya itu.
***
Kini Rayya dan William sudah memasuki tahun kedua mereka kuliah di Italia. Tahun terakhir William kuliah karena gelar Master yang akan dia capai hanya berdurasi dua tahun, sedangkan Rayya sendiri harus menempuh pendidikan selama tiga tahun untuk mencapai gelar Bachelor nya.
Hubungan Rayya dan Simone pun tetap berjalan baik, bahkan kini William tak canggung meminta bantuan Simone jika dia berhalangan untuk mengantar pulang Rayya. Teman Rayya pun kini tidak hanya seputar Simone. Dia kini mulai belajar berinteraksi dengan banyak mahasiswa lain dari kampus dia menuntut ilmu.
" Rayya, dove Simone?" ( Rayya, di mana Simone ) tanya Donna seraya menyantap pasta di hadapannya.
Rayya menarik tissue dan mengelap bibirnya yang terkena saus tomat
" Sta parlando con il signor Matteo." ( Dia sedang berbicara dengan Pak Matteo ) Rayya menjelaskan ke mana Simone karena tidak bersamanya.
" Rayya, Ragazzi state uscendo insieme?" ( Rayya, apa kalian berpacaran ) tanya Monica. karena dia melihat jika Rayya dan Simone sangat dekat.
" No!" Rayya menjawab cepat seraya tertawa. " Noi siamo solo amici." ( Kami hanya berteman ) tepis Rayya.
" Ma voi ragazzi siete così vicini, pensavamo che vi frequentaste." ( Tapi kalian sangat dekat, kami pikir kalian berpacaran ) sahut Monica kemudian.
" Ciao, di cosa state parlando ragazzi?" ( Hai, apa yang kalian bicarakan ) Suara Simone tiba-tiba sudah terdengar di dekat mereka bertiga. Pria itu kemudian duduk di samping Rayya.
__ADS_1
Rayya tentu saja tersentak kaget dengan kemunculan Simone, karena tadi mereka sedang membicarakan tentang pria itu. Dan kemunculan Simone yang datang dari arah belakangnya membuatnya tidak menyadari. Berbeda dengan Donna dan Monica yang sedang terkikik karena mereka sudah melihat kedatangan Simone dari arah pintu masuk kantin.
" Niente." ( Tidak ada apa-apa ) Rayya menjawab cepat seraya mendelik ke arah Donna dan Monica.
" Rayya è confusa, ti piace davvero o no?" ( Rayya itu sedang bingung, Sebenarnya kamu itu suka dia atau tidak ) celetuk Donna dengan terkekeh.
" Donna!!" Rayya langsung menegur Donna dengan melotot. " No, Simone! Non ascoltare, è una bugia!" ( Tidak, Simone! Jangan dengarkan, dia itu bohong ) Rayya berusaha menepis tuduhan Donna. Sementara Simone hanya tersenyum menanggapinya.
" Rayya, vuoi vedere una mostra di pittura al Museo di Palazzo Cipolla?" ( Rayya, apa kamu ingin melihat pameran lukisan di Museum Palazzo Cipolla ) Simone nampaknya ingin mengajak Rayya ke pameran lukisan.
" Voglio ..." ( Aku mau ) Donna dan Monica menjawab serentak.
" Non l'ho chiesto a voi due!" ( Aku tidak bertanya kepada kalian berdua ) sindir Simone meledek Donna dan Monica. Membuat kedua wanita itu mencibir.
" Quando è la mostra?" ( Kapan pamerannya ) tanya Rayya.
" La prossima settimana." ( Minggu depan ) jawab Simone.
" Va bene vogliao." ( Baiklah aku mau ) sahut Rayya.
" Ehi, Simone. Non ci hai invitato?" ( Hei, Simone. Apa kamu tidak mengajak kami ) protes Donna yang merasa diacuhkan.
" Non ho bisogno di invitarvi, puoi andarci tu stesso." ( Tanpa perlu aku ajak, kalian bisa pergi sendiri ke sana ) jawab Simone tertawa membuat Rayya ikut terkekeh.
Mereka akhirnya menghabiskan waktu istirahat mereka dengan mengobrol dan bercanda dengan riang. Rayya benar-benar menikmati interaksinya dengan teman-teman barunya di kampus. Rayya kini bukan lagi gadis pemalu yang selalu ada di belakang Azkia jika harus berhadapan dengan teman-temannya. Lebih dari setahun tinggal jauh dari orang tua membuatnya belajar menjadi pribadi yang mandiri dan lebih percaya diri.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1