RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Permintaan Tak Terduga


__ADS_3

Siang ini Rayya sampai terlebih dahulu di gallery nya, sedangkan Ramadhan menunggu waktu jam makan siang untuk bertemu dengan wanita yang belakangan ini sanggup membolak-balikkan perasaanya.


Rayya masuk ke dalam ruangan yang akan menjadi tempatnya kelak jika dia sedang berada di gallery itu. Ruangan yang berada di lantai dua itu juga dibuatkan balkon untuk Rayya bisa bersantai sambil melukis. Sejak melangkah memasuki ruangan itu tentu saja hati Rayya rasanya berbunga-bunga karena dia akan bertemu dengan pria yang begitu spesial di hatinya.


Ddrrtt ddrrtt


Rayya langsung meraih ponselnya saat dia mendengar panggilan teleponnya itu berbunyi. Senyum mengembang di bibirnya karena Rayya menduga jika panggilan itu berasal dari Ramadhan yang akan mengatakan jika pria itu sedang dalam perjalanan ke gallery itu. Namun saat nama Luigi yang muncul di ponselnya, seketika senyuman itu memudar di bibirnya.


" Assalamualaikum, Kak." sapa Rayya saat mengangkat panggilan telepon masuk dari Luigi.


" Waalaikumsalam, Rayya. Kamu apa kabar di sana?" Luigi membalas salam Rayya.


" A-aku baik, Kak." Rayya sedikit gugup menjawab pertanyaan Luigi.


" Aku rindu sekali, Rayya. Rasanya ingin segera terbang ke Jakarta untuk bertemu denganmu."


Rayya menelan salivanya mendengar ucapan Luigi. Rasa bersalah kembali merayap di hatinya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana dengan Luigi jika pria itu tahu saat ini dia sudah mengambil keputusan sesuai keinginan hatinya.


" Hmmm ...."


" Rayya, akhir bulan ini aku dan keluargaku akan datang ke Indonesia. Aku akan segera melamarmu, Rayya. Aku sudah tidak sabar ingin kita cepat bersama."


Lidah Rayya seolah kelu seakan tidak sanggup berkata apa-apa untuk menanggapi peryataan Luigi.


" Aku harap kamu juga sama sepertiku, Rayya."


" Mbak Rayya, tamunya sudah datang." Suara pegawai gallery yang terdengar tiba-tiba di ruangan Rayya membuat gadis itu terperanjat.


" Hmmm ... Kak, aku tutup dulu teleponnya, ya? Karena ada pengunjung di gallery yang datang. Assalamualaikum ..." Rayya terpaksa berbohong dengan mengatakan pengunjung gallery yang datang.


Tentu saja Rayya tidak berani mengatakan jika saat ini dia sedang menunggu Ramadhan kepada Luigi.


Setelah mengakhiri sambungan telepon, Rayya langsung bergegas menemui Ramadhan.


" Assalamualaikum, Rayya ..." Ramadhan menyapa Rayya yang terlihat menuruni anak tangga bagaikan bidadari yang turun dari surga dengan senyuman yang mengembang di bibir wanita cantik itu.


" Waalaikumsalam, Kak Rama ..." Rayya tersipu malu menyambut pria yang sejak kecil sudah dia kagumi.


" Jadi ini gallery kamu, Rayya?" tanya Ramadhan mengedar pandangan setiap sisi bangunan itu.


" Iya, Kak. Gallery ini Daddy buat untukku memamerkan hasil lukisan-lukisanku," sahut Rayya.


" Apa semua ini hasil lukisanmu?" tanya Ramadhan seraya melihat satu persatu lukisan yang dipajang di setiap bagian dinding gallery.


" Iya, Kak." Rayya memang membawa Ramadhan berkeliling melihat lukisan-lukisannya.


" Bagus semua lukisan kamu, Rayya. Oh ya, apa kamu pernah mengadakan pameran lagi setelah ikut pameran bersama Kayla dulu?"


Pertanyaan Ramadhan membuat Rayya terdiam sejenak. Tentu saja nama Kayla begitu mengganjal di hatinya karena dia tahu jika Ramadhan sangat menyukai Kayla.


" Iya beberapa kali aku ikut pameran-pameran kecil di Roma, Kak." sahut Rayya kemudian.


" Rayya, apa kita bisa bicara di tempat yang lebih privacy?" tanya Ramadhan karena dia butuh tempat yang untuk menyampaikan niatnya bertemu Rayya.

__ADS_1


" Kita ke atas saja, Kak." Rayya kemudian membawa Ramadhan masuk ke dalam ruangan kerjanya. Dia memilih balkon yang akan dijadikan tempat untuk mereka berdua berbincang.


" Kak Rama ingin bicara apa?" tanya Rayya setelah mereka duduk berhadapan dan hanya terhalang meja.


" Rayya, aku ingin diberikan kesempatan sekali lagi. Aku memang salah, aku memang terlalu bodoh selama ini. Tapi aku ingin kamu memberikan aku kesempatan untuk membuktikan jika aku sudah berubah dan benar-benar ingin bersama kamu."


Rayya tertunduk, setelah dia merenungkan apa yang dia inginkan, sebenarnya hal seperti inilah yang dia inginkan. Bersama Ramadhan, menggapai impian yang sejak lama dia inginkan bersama pria di hadapannya itu. Namun telepon dari Luigi yang mengatakan jika Luigi dan keluarganya akan segera ke Jakarta dan ingin melamarnya, seketika itu juga membuat hatinya dipenuhi rasa gelisah.


" Apa Rayya mau memberikan kesempatan ke aku?" Ramadhan memang bertekad akan mendapatkan Rayya, meskipun dia akan mendapatkan pertentangan, asalkan Rayya sendiri masih menginginkannya.


" Tapi, Kak ...."


" Tapi apa, Rayya?" tanya Ramadhan saat melihat Rayya yang nampak ragu. " Rayya nggak percaya sama aku?"


" Bukan itu, Kak." Rayya menggigit bibirnya. " Tadi Lalu Luigi baru saja telepon aku, dia bilang akan melamar aku secepatnya."


Ramadhan terkesiap mendengar ucapan Rayya soal rencana Luigi. Ramadhan berpikir, permintaan Dirga agar Luigi melepas Rayya lah yang menyebabkan pria itu melakukan gerak cepat ingin segera mengikat Rayya.


" Apakah itu yang Rayya inginkan? Apa Rayya ingin bersama Luigi?" Ramadhan menatap wanita cantik di hadapannya itu. Dia sangat menyesal terlambat menyadari betapa istimewanya sosok Rayya di hadapannya ini.


Rayya hanya tertunduk, dia sangat bingung. Dia tidak tega menyakiti hati Luigi namun hati kecilnya menginginkan bersama dengan Ramadhan.


" Rayya, kasih aku jawaban. Jika kamu memang ingin bersama Luigi, dengan berat hati aku akan mengikhlaskan kamu untuk dia. Namun jika hati kamu menentang hal itu, aku akan berusaha untuk mendapatkan kamu walaupun Daddy kamu akan menentangnya!" tegas Ramadhan.


Rayya kini menaikkan pandangannya, memperhatikan pria yang wajahnya masih terlihat sedikit memar karena ulah Daddy nya itu.


" Daddy sudah menyerahkan semuanya kepadaku, Kak. Apapun keputusan yang aku buat, Daddy nggak akan menentangnya. Tapi ... aku merasa tidak enak hati dengan Kak Luigi. Aku pasti akan melukai Kak Luigi kalau aku menolak, Kak." Seketika cairan bening mengembun di bola matanya.


" Kita bicara dengan Luigi soal ini."


" Kita temui Luigi. Kita bicarakan baik-baik dengan Luigi." Ramadhan kemudian bangkit dari tempat duduknya dan kini mendekati Rayya dan duduk berlutut di depan Rayya.


" Besok malam aku akan ke rumahmu dan menemui Papamu untuk membicarakan hal ini. Setelah dapat ijin dari Papamu, kita akan menemui Luigi untuk menyelesaikan masalah ini."


" Kak Rama mau menemui Daddy?" Rayya nampak khawatir dengan keputusan Ramadhan yang ingin bertemu dan berbicara dengan Daddy nya malam ini.


" Iya, kenapa? Rayya keberatan? Rayya sendiri bilang kalau Daddy kamu sudah menyerahkan keputusan kepada Rayya, kan?"


" Iya, tapi ...."


" Rayya, aku akan menunjukkan keseriusanku ke orang tuamu." Ramadhan mencoba meyakinkan Rayya akan tindakan yang akan dilakukannya.


***


Ramadhan berlari memasuki rumahnya sepulang dari kantor.


" Assalamualaikum ... Ma, Mama ...!!" teriak Ramadhan saat masuk ke dalam rumah orang tuanya mencari keberadaan Anindita.


" Waalaikumsalam, Astaghfirullahal adzim ... kenapa kamu teriak-teriak, Rama?!" Anindita berjalan menuruni anak tangga saat mendengar putranya itu berteriak memanggil namanya.


" Ma, cepat ikut Rama ...!" Ramadhan langsung menarik lengan Anindita agar mengikuti langkahnya


" Eh, eh, eh ... kamu mau bawa Mama ke mana ini, Rama?" Anindita nampak kaget saat Ramadhan tiba-tiba menarik lengannya.

__ADS_1


" Rama mau minta antar Mama sebentar. Ayo ...!" Ramadhan kemudian melingkarkan lengannya dipundak Anindita dan memintanya masuk ke dalam mobil.


" Kamu mau bawa Mama ke mana? Mama nggak bawa apa-apa ini ...."


" Mama nggak usah bawa apa-apa, kok! Mama hanya antar Rama sebentar." Ramadhan lalu menyalakan mesin mobilnya.


" Tapi Mama nggak HP, Mama ambil HP Mama sebentar." Anindita ingin membuka pintu mobil Ramadhan.


" Nggak usah bawa HP deh, Ma." Ramadhan melarang Mamanya turun.


" Nanti kalau Papa kamu cari gimana? Nanti adik-adik kamu kehilangan Mama karena Mama nggak ada di rumah gimana?" tanya Anindita.


" Nanti Rama yang akan beritahu Papa ke mana Mama pergi," ucap Ramadhan


" Memangnya kamu mau bawa Mama ke mana sih, Rama?"


Ramadhan tersenyum melirik ke arah spion di mana Mamanya itu duduk di kursi belakang.


" Nanti Mama juga pasti akan tahu, kok." sahut Ramadhan.


Anindita hanya menghempas nafas secara kasar karena kelakuan anaknya yang tidak memberitahukan akan ke mana mereka sekarang ini.


Sekitar empat puluh lima menit kemudian, mereka sampai di sebuah mall.


" Ya ampun, Rama. Kamu bawa Mama ke mall dengan pakaian Mama seperti ini?" Anindita langsung melotot saat putranya itu ternyata memarkirkan mobiknya di basement sebuah mall.


" Memangnya kenapa, Ma? Baju Mama bagus gitu, kok." Ramadhan terkekeh seraya membuka seat belt nya.


" Tapi Mama nggak dandan, nggak ganti baju begini, Rama! Malu-maluin saja, deh!" keluh Anindita dengan wajah memberengut.


" Ma, Mama itu nggak dandan saja sudah cantik. Lagipula mau dandan buat apa sih, Ma? Buat bikin laki-laki melirik Mama gitu? Nggak takut diamuk Papa, Ma?" Ramadhan kini justru tergelak.


" Kamu ini ..." Anindita memutar bola mata menanggapi ucapan nyeleneh dari putra pertamanya itu.


Anindita lalu turun dari mobil setelah Ramahan membukakan pintu mobilnya untuk Mamanya. Lalu Ramadhan membawa Mamanya itu ke sebuah toko perhiasan.


" Rama, Mama nggak sedang ulang tahun. Ulang tahun pernikahan juga masih lama. Dan ini nggak ada momen hari ibu. Kenapa Rama mau kasih Mama perhiasan?" Walaupun merasa heran namun dia senang saat Ramadhan membawanya ke toko perhiasan.


" Memang ini bukan ulang tahun Mama, bukan anniversary Papa Mama juga, jadi Rama nggak mau kasih Mama kado." Kini Ramadhan menyeringai.


" Lalu kenapa Rama bawa Mama ke sini?" tanya Anindita mengeryitkan keningnya.


" Rama mau minta bantuan Mama untuk pilihkan cicin untuk melamar Rayya."


Anindita langsung membelalakkan matanya dengan mulut terbuka saat mendengar permintaan tak terduga Ramadhan.


*


*


*


Bersambung ....

__ADS_1


Mohon maaf belakangan ini ga up kisahnya Rayya, lagi keasyikan di cerita sebelah🤭🤭✌️


Happy Reading❤️


__ADS_2