RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Sudah Ditakdirkan Menjadi Jodoh


__ADS_3

" Mas, sudah ... aku lelah ..." Rayya meminta agar suaminya menghentikan aktivitas bercinta mereka, karena suaminya itu seolah engan melepasnya walau untuk sebentar saja.


" Sebentar lagi, Sayang. Nanggung ini ..." Ramadhan mempercepat gerakan untuk segera menuntaskan pergu mulan mereka.


" Aakkhh, Mas ... Ougghh ..." Rayya mende sah panjang saat dia merasakan cairan hangat yang mengalir ke dalam rahimnya.


Setalah pelepasan mereka Ramadhan kemudian menjatuhkan tubuhnya di samping Rayya dengan peluh yang mengembun, karena aktivitas panas mereka di siang hari itu. Sementara deru nafas mereka berpacu bagaikan habis berlari kencang.


Tok tok tok


" Kak, Kak Rayya ...!"


Suara Talitha dari luar kamar Ramadhan membuat sepasang suami yang baru saja terbang ke atas awan itu menjadi terperanjat.


" Mas, Thalita ...!" Rayya buru-buru mengambil pakaiannya yang tercecer karena perbuatan Ramadhan tadi.


" Sudah biarkan saja, nggak usah dihiraukan," sahut Ramadhan mengacuhkan ketukan pintu Thalita.


" Jangan begitu dong, Mas. Awas, deh. Aku mau membuka pintu." Rayya meminta suaminya agar tidak menghalanginya.


" Ck, mengganggu saja!" umpat Ramadhan karena kehadiran Thalita seakan mengganggu aktivitas bercin ta mereka berdua.


Sementara Rayya bergegas membuka pintu kamar suaminya itu.


" Thalita, ada apa?" tanya Rayya saat melihat adik iparnya itu sudah berdiri di depan pintu.


" Kak Rayya ..." Thalita langsung merentangkan tangannya dan memeluk tubuh Rayya. " Aku senang, deh. Kak Rayya akhirnya jadi kakak iparku. Aku ingin sekali punya kakak perempuan. Kak Rayya nanti tinggal di rumah ini, kan?" Thalita merasa senang dengan kehadiran Rayya di rumah Ricky.


" Tentu saja kami tidak akan tinggal di rumah ini!" Suara Ramadhan terdengar dari dalam kamar Ramadhan.


" Terus Mas Rama sama Kak Rayya akan tinggal di mana? Di rumah Kak Rayya?" tanya Thalita.


" Kita akan tinggal di rumah sendiri dong! Masa di rumah orang tua???" ujar Ramadhan.


" Kenapa nggak tinggal di sini saja sih, Mas?" Thalita langsung menerobos masuk ke dalam kamar Ramadhan, dan dia melihat tempat tidur Ramadhan terlihat kacau dengan beberapa bantal terjatuh di lantai. Dia juga melihat pakaian dalam yang dia duga milik Rayya tergeletak di tepi tempat tidur.


" Aku ganggu ya, Kak, Mas?" Thalita menyeringai dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Banget, kehadiran kamu itu mengganggu kami. Jadi sebaiknya kamu keluar dari kamar ini!" Tangan Ramadan menyentuh pundak Thalita dari belakang kemudian mengarahkan tubuh wanita itu untuk keluar dari kamarnya.

__ADS_1


" Mas, jangan begitu." Bahkan ucapan Rayya seolah tidak digubris oleh Ramadhan.


***


" Kak Rayya, tinggal di sini saja, dong. Jadi aku ada temannya di sini." Saat menikmati suasana santai selepas makan malam keluarga Ricky, Thalita masih saja membahas tentang di mana Rayya dan Ramadhan akan tinggal.


" Memang selama ini kami ini kamu anggap apa, Tha?" Arka menanggapi ucapan adiknya.


" Maksud aku, biar aku ada kakak cewek yang bisa aku ajak curhat dan hangout bareng, Mas. Selama ini Mas Rama dan Mas Arka 'kan sibuk dengan segala urusan pria." Thalita menyampaikan alasannya.


" Memang kalian jadi akan tinggal di rumah pemberian dari Pak Dirga?" Ricky yang sedari tadi hanya mendengarkan ikut menanggapi.


" Iya, Pa. Rencananya kami akan tinggal di sana." Ramadhan menggeggam tangan Rayya.


" Om Dirga kasih rumah untuk Mas Rama, Pa? Wah, nanti kalau Thalita nikah, dapat rumah dari Om Dirga juga, dong!" Thalita terkikik.


" Sekolah saja dulu yan benar, baru mikir nikah," sindir Arka kembali.


" Aku 'kan sudah kuliah, Mas. Sudah boleh nikah juga 'kan, Ma?"


" Memang kamu mau menikah sama siapa?" tanya Ramadhan.


" Ya nanti aku cari dulu dong, Kak. Siapa tahu nanti aku ketemu pangeran ganteng yang baik hati." Thalita berandai-andai.


" Mana ada pangeran ganteng patah hati." celetuk Thalita memutar bola matanya. " Bodoh saja menolak pangeran yang ganteng."


" Hmmm, ada juga sih, pangeran ganteng yang patah hati," sahut Ramadhan melirik ke arah Rayya, kemudian membisikkan sesuatu di telinga Rayya. " Gibran ...."


Rayya membelalakkan matanya saat mendengar ucapan suaminya itu. Dia bahkan langsung menoleh ke arah Ramadhan.


" Mas Rama bisik-bisik apa sih sama Kak Rayya? Curiga deh aku ..." Thalita memicingkan matanya melihat kakaknya itu berbisik kepada kakak iparnya.


" Mas Rama punya teman, dia baik, ganteng cuma dia baru saja patah hati ditinggal ceweknya nikah."


" Kak Luigi, ya? Thalita mau deh kalau sama Kak Luigi." Thalita terkikik senang.


" Siapa juga yang mau kenalkan kamu sama Luigi?? Bisa bahaya kalau dia jadi adik iparku." tegas Ramadhan khawatir.


" Hahaha, takut ya, Mas? Takut Kak Luigi rebut Kak Rayya, seperti Mas Rama merebut Kak Rayya dari Kak Luigi?" sindir Thalita tertawa kencang.

__ADS_1


" Sok tahu anak kecil! Eh, Mas itu nggak merebut Rayya dari siapapun! Rayya itu sudah ditakdirkan jadi jodohnya Mas kamu ini. Jadi tidak ada bahasa Masmu ini merebut dari pria manapun juga termasuk dari Luigi!" sanggah Ramadhan dengan tegas.


Semua anggota keluarga Ricky hanya menggelengkan kepala bahkan Thalita dan Arka sampai memutar bola matanya mendengar ucapan Ramadhan tadi.


***


Sementara itu di belahan dunia bagian lain, di sebuah pantai Cala Goloritze yang terletak di wilayah selatan Sardinia, Italia. Seorang wanita cantik berdiri di tepi pantai berpasir putih dengan air mata yang menetes di pipinya.


" Kenapa, Rama? Kenapa kamu tega berbuat seperti ini ke aku?"


" Kurang apa aku sama kamu? Hiks ..." Wanita itu menangis seraya menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Berita tentang pernikahan Ramadhan dan Rayya yang sempat dia baca sangat menusuk hatinya.


" Apa gunanya menangis karena patah hati?" tanya seorang pria di belakang wanita itu, membuat wanita tadi menoleh ke arah suara pria yang berkata kepadanya. Bahasa Indonesia yang diucapkan pria itulah yang membuat wanita tadi menoleh ke arah suara itu.


Wanita yang tak lain adalah Farah langsung menyeka air matanya. Dia mendapati seorang pria tampan berdiri mengenakan celana selutut dan kemeja bercorak pantai dengan tangan dimasukan ke dalam saku celananya.


" Habis putus cinta? Kenapa harus menangis? Memangnya hanya satu pria saja di bumi ini hingga harus ditangisi seperti itu?" sindir pria tadi.


Farah yang merasa kesal karena disindir langsung melangkah hendak pergi meninggalkan pantai.


" Kamu orang Indonesia, kan? Seharusnya senang bisa bertemu sesama orang Indonesia di sini," ucap pria itu tadi. " Orang Indonesia itu ramah-ramah, kan?" ucap pria itu menanggapi sikap Farah yang tak ramah kepadanya.


" Anda hanya ingin menyindir saja, untuk apa saya meladeni?!" Farah kemudian berjalan meninggalkan pria itu.


" Kalau kau ingin bunuh diri, kau bisa melompat dari tebing di sana!" Pria tampan itu terkekeh seraya menunjuk tebing di belakang mereka berdiri.



" Dasar sin ting!!" umpat Farah yang benar-benar merasa terganggu atas kemunculan pria sok akrab yang tidak dia kenal sebelumnya.


" Haha, aku hanya memberi solusi agar penderitaanmu berakhir, Nona!" teriak pria itu namun tak digubris oleh Farah yang langsung berlari menuju arah hotel tempat dia menginap.


*


*


*


.Bersambung ...

__ADS_1


Kira² siapa pria itu?


Happy Reading❤️


__ADS_2