RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Dad David, Daddy & Grandpa Terbaik


__ADS_3

Sekitar jam setengah sebelas siang pesawat yang membawa Rayya dan William mendarat di Bandara Sukarno Hatta. Mereka berdua sudah ditunggu Pak Rudi yang menjemput mereka. Ini pertama kalinya Rayya menginjakkan kaki dan menghirup udara kota Jakarta kembali setelah dia pergi berkuliah di luar Indonesia.


Selama dalam perjalanan di pesawat, William nampak berdiam diri tak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di Jakarta, membuat Rayya semakin merasa gelisah karena perasaan hatinya merasa tidak enak. Dia sudah menduga sesuatu yang buruk telah terjadi dalam keluarganya.


" Kita ke mana, Kak?" Rayya merasa heran karena mobil yang dikendarai Pak Rudi tidak membawa mereka ke rumah Gavin. Namun semakin lama Rayya mengingat jalan, mobil yang dikendarai Pak Rudi mengarah ke arah rumah Dad David.


" Kak, ini jalan ke rumah Grandpa. Sebenarnya ada apa, Kak? Apa yang terjadi?" Air mata Rayya tiba-tiba berlinang karena dia merasa cemas sesuatu telah terjadi dengan Grandpa nya.


William menatap Rayya, bola mata pria itu pun kini sudah mulai terisi cairan bening. William lalu merangkul Rayya dan meletakan kepala Rayya di atas pundaknya.


" Grandpa David sudah meninggal, Rayya," lirih William dengan suara tercekat di tenggorokan.


Rayya terperanjat mendengar kabar duka yang disampaikan William kepadanya. Dia lalu menarik kepalanya dari pundak William seraya menatap kakaknya itu.


" Grandpa meninggal? Innalillahi wainnaillaihi rojiuun ..." Rayya semakin terisak kencang mengetahui jika Papa dari Daddy itu sudah berpulang ke Rahmatullah.


" Grandpa, maafkan Rayya. Rayya nggak sempat ketemu Grandpa. Rayya menyesal waktu lebaran kemarin nggak pulang ke Jakarta, Kak. Hiks ..." Saat hari Raya Idul Fitri lalu Rayya memang tidak pulang ke Jakarta. Justru Gavin dan Azzahra beserta adik-adik Rayya yang diboyong mengunjungi Rayya di Roma. Rayya sendiri merencanakan pulang ke Indonesia tengah tahun ini, setelah wisuda magister William dan bertemu keluarganya di Jakarta. Namun ternyata Dad David lebih dahulu dipanggil Sang Pemiliknya


" Rayya harus sabar ya, itu sudah jadi kehendak Allah. Kita tidak akan tahu kapan seseorang akan tutup usia." William mencoba menenangkan Rayya yang masih terus terisak.


" Rayya benar-benar menyesal, Kak. Maafkan Rayya, Grandpa." Rayya tak henti-hentinya menangis tersedu.


***


Rayya menatap nanar deretan papan bunga ucapan turut belasungkawa yang banyak berjejer di depan rumah megah milik Grandpa nya, dan juga bendera kuning yang terpasang di depan gerbang rumah membuat cairan bening terus berjatuhan di pipi mulusnya. Rasanya seperti mimpi dia mengetahui jika Kakek dari pihak Daddy nya itu sudah meninggal dunia.


Rayya juga melihat banyaknya mobil yang terparkir dari luar jalan hingga ke pekarangan rumah Dad David yang luas, menandakan banyaknya pelayat yang hadir di rumah itu.


Rayya segera berlari keluar dari mobil saat mobil yang dikendarai Pak Rudi terparkir. Rayya benar-benar tidak sabar ingin melihat jenazah sang kakek untuk terakhir kalinya.


" Grandpa ..." Rayya terisak berlari tak menghiraukan apa yang ada di hadapannya hingga dia tersandung anak tangga yang mengarah ke teras rumah Dad David.


" Aakkhh ...!" Rayya hampir saja terjerembab jatuh ke lantai jika tidak ada sebuah tangan menahan tubuh Rayya agar tidak jatuh ke lantai.


" Rayya kamu nggak apa-apa?" William yang berlari dari belakang langsung menghampiri adiknya saat melihat Rayya hampir saja terjatuh.


Rayya yang awalnya menduga jika William lah yang menopang tubuhnya langsung tersentak kaget saat dia mendapati kakaknya itu mendekatinya. Dia lalu menolehkan pandangan ke arah orang yang saat ini sedang memeluk tubuhnya. Dan Rayya langsung terperangat saat melihat Ramadhan yang saat ini sedang berada dekat dengan dirinya.


" Kak Rama?"


" Hati-hati, kamu bisa terjatuh tadi," ucap Ramadhan mencoba menasehati Rayya agar tidak bertindak ceroboh seperti tadi.


" Thanks Rama." William lalu mengucapkan terima kasih atas pertolongan Ramadhan kemudian dia menuntun adiknya untuk masuk ke dalam rumah Dad David.


" Dad ..." William memanggil Gavin yang sedang membacakan doa-doa di hadapan jenazah Dad David.


Gavin menoleh ke arah William dan William langsung memeluk Daddy nya seraya terisak di bahu Gavin.


" Rayya ..." Sementara Azzahra langsung memeluk putrinya yang terlihat sangat terpukul dengan kepergian Grandpa nya.


" Jangan menangis, ikhlaskan Grandpa. Yang Grandpa butuhkan sekarang ini adalah doa dari kamu. Air mata hanya akan membuat Grandpa kamu tidak tenang di sana. Rayya sayang sama Grandpa, kan? Rayya harus ikhlas, ya?" Azzahra mengusap punggung putrinya mencoba menenangkan Rayya.

__ADS_1


" Silahkan bagi pihak keluarga yang ingin melihat Almarhum untuk yang terakhir kalinya sebelum.ditutup." Pak Ustad yang akan memimpin pemakaman mempersilahkan anggota keluarga untuk melihat Dad David untuk terakhir kalinya dimulai dari Tante Linda.


" Pa, terima kasih untuk waktu yang selama ini kita lewatkan bersama. Papa adalah pria terhebat yang pernah Mama kenal." Tante Linda lalu mengecup kening Dad David.


Kali ini giliran Gavin yang diberi kesempatan.


" Sampai saat ini aku masih tetap merasa menyesal tidak mengenal Dad dari kecil, tapi aku bersyukur aku diberi kesempatan untuk mengenal Dad dan dekat dengan Dad layaknya seorang Daddy dan anak yang sesungguhnya. Terima kasih untuk semua yang Dad berikan kepada aku dan keluargaku, Dad." Gavin pun mencium kening Dad David.


Setelah itu kedua adik Gavin yang mencium kening Dad David.


" Grandpa adalah Grandpa terbaik yang Willy miliki. Terima kasih atas kebaikan Grandpa terhadap Willy dan Mommy." William pun mengecup kening Kakeknya untuk terakhir kalinya.


" Rayya, ayo ... jangan nangis. Jangan sampai air mata kamu jatuh di kening Grandpa kamu." Abi Rara kini menyuruh Rayya.


" Grandpa, Rayya sayang sama Grandpa. Rayya pasti akan kehilangan Grandpa."


" Rayya jangan menangis ..." Abi Rara mendekati cucunya dan menyuruh Rayya kembali bersama Azzahra.


Abi Rara menatap tubuh Dad David yang terbujur kaku.


" Pak David, Saya kenal Anda selama ini adalah orang yang sangat baik. Semoga Allah SWT menerima semua amal kebaikan yang sudah Pak David lakukan selama ini. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu." Setelah Abi Rara selesai menyelesaikan doakan, jenazah Dad David langsung ditutup dan diikat bagian atasnya.


***


" Pa, terima kasih karena selama ini Papa selalu ada untuk mendampingi Rara saat Rara menghadapi ujian dalam menghadapi biduk rumah tangga bersama suami Rara. Rara nggak akan lupakan kebaikan Papa selama ini. Terima kasih sudah menjodohkan Rara dengan anak laki-laki Papa. Rara nggak menyesal, Pa. Rara bahagia menjadi bagian keluarga Papa. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu." Azzahra langsung bangkit setelah mengucapkan kata-kata perpisahan dengan Papa mertuanya dan mengusap nisan sang mertua.


" Om, Jo tahu Om David adalah orang yang sangat baik. Setidaknya itu yang Jo rasakan selama ini. Terima kasih karena Om telah menerima kehadiran Willy sebagai cucu Om. Itu adalah hal teristimewa yang Jo rasakan selama ini. Semoga Om diberikan tempat terindah di sisi Allah SWT, Aamiin ..." Jovanka yang ikut menghadiri pemakaman kakek dari putranya pun turut memberikan doanya seraya berpelukan erat dengan William, karena putra itu pun sangat terpukul dengan kepergian kakeknya yang selama ini selalu terlihat sehat.


" Aku masih menyesal kehilangan masa remajaku tanpa dekat dengan Daddy, Honey." Tak henti-hentinya Gavin menyatakan penyesalannya.


" Satu orang baik sudah meninggalkan kita, Mas ' Natasha menyandarkan tubuhnya dalam pelukan Yoga, suaminya. Dia pun sangat kehilangan Dad David yang sudah dia anggap seperti Papanya sendiri.


" Om David adalah orang yang baik dan sangat bijaksana." Yoga meneruskan kalimat istrinya.


" Tuan Gavin, saya turut belasungkawa atas kepergian Tuan David. Beliau adalah orang yang sangat baik." Ricky menyampaikan rasa belasungkawanya kepada Gavin setelah sebagian besar tamu yang mengikuti acara pemakaman satu persatu meninggalkan area pemakaman.


" Terima kasih, Pak Ricky." Gavin mengucapkan terima kasih karena kehadiran Ricky yang datang dan ikut menghadiri acara pemakaman orang tuanya.


" Rara, aku turut belasungkawa, ya." Anindita pun memeluk Azzahra mengikuti suaminya yang menyampaikan rasa berkabungnya.


" Terima kasih ya, Mbak Anin. Sudah ikut mengantar ke sini." Azzahra menjawab dengan suara parau.


" Saya turut berduka cita ya, Om, Tante ..." Ramadhan ikut mengucapkan rasa belasungkawanya.


Sementara Rayya dan Tante Linda masih duduk di hadapan gundukan tanah makam Dad David.


" Ma, ayo kita pulang." Kedua adik perempuan Gavin menuntun Tante Linda yang benar-benar merasa terpukul karena ditinggal sang suami yang telah puluhan tahun bersamanya.


" Biar Willy yang menemani Grandma, Auntie." William langsung menuntun Tante Linda kembali ke dalam mobilnya bersama cucu-cucu Dad David lainnya.


Sementara Rayya sendiri masih duduk seraya memegang nisan sang kakeknya. Dia benar-benar merasa menyesal hampir dua tahun tidak bertemu secara langsung dengan Grandpa nya itu.

__ADS_1


" Ray, sudah jangan menangis terus. Ayo kita pulang ..." Azkia menepuk pundak Rayya namun tubuh Rayya tiba-tiba terkulai jatuh menimpa tubuh Azkia hingga membuat Azkia memekik. " Astaghfirullahal adzim, Rayya pingsan ...!"


Ramadhan yang saat itu berposisi paling dekat dengan Rayya dengan cepat menghampiri Azkia dan mengangkat tubuh Rayya dengan kedua lengan kokohnya.


" Ya Allah, Rayya ..." Azzahra nampak kaget saat mendapati putrinya itu pingsan.


" Baby ..." Gavin ingin mengambil tubuh putrinya itu dari tangan Ramadhan.


" Biar Rama saja, Om. Mau dibawa ke mobil yang mana Om?" tanya Ramadhan kemudian.


" Bawa ke mobil Om yang silver saja, Rama!" Gavin lalu berjalan lebih dulu untuk membukakan pintu mobilnya. Sementara Azzahra dibantu oleh Natasha kembali ke mobilnya dan Yoga juga Gibran membantu Azkia yang tadi sempat ikut terjatuh menahan tubuh Rayya.


Sedangkan Anindita dan Ricky langsung saling berpandangan saat mendapati sikap Ramadhan yang nampak gesit mengangkat tubuh Rayya. Sebuah harapan mulai terpercik di hati mereka berdua dengan sikap Ramadhan yang terlihat sangat perduli terhadap Rayya.


" Pa ..." Anindita berbisik seraya merangkulkan tangannya di lengan sang suami.


" Papa mengerti, Ma." Ricky menepuk-nepuk tangan Anindita yang sedang melingkar di lengannya. " Kita berdoa saja semoga sesuai dengan yang kita harapkan," lanjutnya kemudian ikut meninggalkan area pemakaman Dad David.


Sementara di area parkir, Azzahra sudah masuk ke dalam mobil lebih dahulu.


" Rama, tolong Rayya ditidurkan di sini, kepalanya di pangkuan Tante saja." Azzahra menyuruh meletakan tubuh Rayya yang terkulai lemas di kursi tengah dengan kepala bersandar di pangkuan Azzahra.


" Dikasih essential oil biar cepat sadar, Tante." ujar Ramadhan.


" Iya, ini Tante sudah pegang," jawab Azzahra. " Rayya, bangun, Sayang ..." Azzahra mulai menepuk pipi Rayya dan mengoles essential oil itu di dekat lubang hidung Rayya.


" Rama, terima kasih ya, Nak." Gavin kemudian naik ke mobil dan memindahkan kaki Rayya hingga kaki Rayya berada di atas pangkuan Gavin.


" Sama-sama, Om. Rayya baru datang dari Italy ya, Om? Mungkin dia merasa kelelahan ditambah mendengar kabar duka." Ramadhan yang sepertinya tahu jika Rayya baru datang dari Italia langsung menyampaikan pendapatnya.


" Kamu tahu Rayya kuliah di Italia, Rama?" Azzahra nampak terkejut saat mengetahui jika Ramadhan tahu Rayya kuliah di Italia.


" Iya, Tan. Beberapa waktu lalu kami malah sempat bertemu di Milan"


Azzahra semakin terperanjat saat Ramadhan mengatakan jika dia dan Rayya pernah bertemu di Italia, namun putrinya itu tak menceritakan apa-apa tentang pertemuan mereka.


" Kalian pernah bertemu di Milan? Kok Baby tidak cerita apa-apa ya, Honey?" tanya Gavin heran kemudian menatap sang istri.


" Hmmm, mungkin Rayya sibuk, Om. Jadi belum sempat cerita. Ya sudah, Om. Rama sekalian pamit ya, Om. Sekali lagi saya dan keluarga mengucapkan turut belasungkawa atas meninggalnya Opa David." Ramadhan mengatupkan kedua tangannya di dekat wajahnya.


" Terima kasih, Rama." Gavin dan Azzahra pun mengucapkan terima kasih kepada pria yang sampai saat ini masih mengisi hati putri kesayangan mereka itu.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2