RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Merasa Terusik


__ADS_3

Rayya, Azkia, Luigi dan Pegawai hotel bernama Andi sedang berdiri menunggu pintu lift terbuka.


" Aku tidak menyangka dibalik penampilanmu yang sederhana ternyata kamu adalah anak dari pengusaha yang mempunyai bisnis perhotelan terkenal di Indonesia, Rayya. Kamu memang benar-benar menyembunyikan identitasmu." Luigi memuji Rayya.


Rayya tersenyum mendengar pujian yang ditujukan kepadanya oleh pria berwarga negara Italia itu.


" Apa yang mesti aku banggakan, Kak? Semua itu milik Daddy dan Almarhum Grandpa aku," sahut Rayya merendah. Rayya memang tidak pernah menyombongkan kekayaan keluarganya. Dia tetap selalu bersikap sederhana walaupun keluarganya bergelimang harta.


Ting


Suara pintu lift terbuka dan dari dalam itu muncullah seseorang yang terlihat terperanjat melihat sosok Rayya ada di hadapannya.


Tak beda dengan orang yang keluar dari lift itu, Rayya pun terlihat terkejut menadapati seorang pria yang dia kenal keluar dari pintu lift. Terlebih lagi Azkia yang langsung memasang wajah garang saat melihat penampakan orang itu di depan mereka.


" Rayya?" Orang itu langung menyapa dengan binar wajah bahagia di wajahnya.


" Kak Raffa?"


" Rayya kamu ada di Indonesia? Kapan datang?" Raffasya sudah pasti sangat excited melihat kehadiran Rayya di hadapannya saat ini. Pria yang sejak kecil mengejar Rayya itu terlihat bahagia bisa berjumpa kembali dengan Rayya.


" Nona Rayya, mari ..." Andi mengajak Rayya dan yang lainnya untuk naik ke dalam lift.


" Rayya, ayo!! Nggak usah meladeni dia!" Azkia yang memang sudah terlanjur kesal langsung menarik tangan Rayya hingga masuk ke dalam lift.


" Rayya, tunggu dulu!" Raffa menahan pintu lift agar tidak tertutup, bahkan dia kembali ikut masuk ke dalam lift dan ikut naik ke lantai atas. " Rayya, apa nanti kita bicara?" tanya Raffasya.


" Eh, Kak Raffa! Nggak usah ganggu-ganggu Rayya lagi, deh! Rayya itu sudah punya calon suami. Tuh orangnya!" Azkia menunjuk ke arah Luigi.


" Kia ...!" Rayya meminta Azkia agar tidak meladeni Raffasya apalagi menggembar-gemborkan tentang siapa Luigi kepada banyak orang dan ada pegawai dari hotel milik Papanya itu.


" Kak Luigi itu orangnya baik, pinter, sopan, dosen pula. Nggak seperti Kak Raffa, pria me*sum yang pengangguran nggak jelas!" tuding Azkia yang masih merasa kesal karena tindakan pele*cehan yang dilakukan oleh Raffasya beberapa waktu lalu.


" Maaf, dia ini sebenarnya siapa, Kia?" tanya Luigi kepada Azkia.


" Dia itu Trouble maker, Kak!"


" Kia, sudah!" Rayya meminta agar Azkia tidak mencari masalah di depan Luigi dan karyawan hotel.


" Rayya, apa Kak Raffa bisa minta nomer ponsel Rayya yang baru?"


" Eh, Kak Raffa dengar nggak, sih?! Kalau Rayya itu sudah punya calon suaminya? Jadi jangan ganggu-ganggu Rayya lagi!" Azkia menyetak Raffasya dengan berkacak pinggang.


" Nggak usah ngotot lu! Mau gue ceburin lagi ke kolam buat makanan ikan-ikan, lu?! Dasar gersang!"


Azkia yang mendengar Raffasya yang seolah mengejeknya akan peristiwa tidak menyenangkan kemarin langsung mengepalkan tangan dan melayangkan pukulan ke wajah Raffasya.


Buuuggghhh

__ADS_1


Sebuah tinju keras menghantam bagian wajah tampan Raffasya.


" Aaakkkhhh ...!! Sh*it!!"


" Asataghfirullahal adzim!! Kia ...!! Kenapa Kia pukul Kak Raffa?" Rayya kaget saat Azkia mengahantamkan pukulan di wajah Raffasya. Sebenarnya bukan hanya Rayya saja yang kaget tapi Luigi, pegawai hotel dan tentu saja Raffasya sendiri terkejut dengan tindakan bar-bar Azkia. Rayya malah sampai memegang pundak Azkia, dia melihat sepupunya itu terlihat sangat marah kepada Raffasya.


" Dasar cewek bar-bar!!" Raffasya ingin menyerang Azkia namun Luigi segera menghalangi Raffasya.


" Jangan kasar kepada wanita!" Luigi merentangkan tangannya menghalangi Raffasya yang ingin membalas perbuatan Azkia. " Jika Anda pria sejati, jangan sampai berbuat kasar kepada wanita!" tegas Luigi.


" Kak Raffa, Rayya mohon sebaiknya Kak Raffa pergi dari sini." Rayya meminta agar Raffasya keluar dari dalam lift dengan bahasa yang tetap santun tanpa menyinggung pria itu.


Raffasya yang diminta Rayya untuk keluar akhirnya menekan tombol lantai kedua di atas lift itu berada dan keluar saat pintu itu terbuka dengan mengusap pipinya dan menatap penuh kesal kepada Azkia.


" Maaf atas kejadian tadi, Kak Luigi." Rayya langsung meminta maaf kepada Luigi karena harus melihat kejadian kekerasan tadi.


" Non importa," sahut Luigi. " Apa kamu baik-baik saja Kia?" Kini Luigi menatap Azkia yang masih terlihat memerah wajahnya karena emosi yang sepertinya belum reda, dan langsung dibalas anggukan kepala Azkia. Dia sempat kaget melihat reaksi Azkia yang berani memberikan bogem mentah kepada seorang pria, suatu tindakan nekat menurutnya.


Ting


Lift pun terbuka dan Andi mempersilahkan Rayya, Azkia dan Luigi keluar dari lift.


" Pria tadi itu sebenarnya siapa?" tanya Luigi penasaran saat mereka berjalan menuju kamar Luigi.


" Dia itu Kak Raffa, kakak kelas kami saat kami SD, scuola elementare. Dan Kak Raffa itu ..." Rayya agak malu mengatakan jika sejak kecil dia disukai oleh Raffasya. Karena dia bukan orang yang suka membanggakan dirinya karena disukai banyak lawan jenis.


" Dia itu suka sama Rayya sejak SD tapi ditolak dan tetap memaksa mengejar-ngejar Rayya terus." Azkia yang akhirnya malah menjelaskan.


" Kalau masalah Kia dan Kak Raffa, itu masalah pribadi mereka. Kia dan Kak Raffa memang sejak dulu tidak pernah akur." Rayya sedikit menerangkan bagaimana hubungan antara Azkia dan Raffasya selama ini.


Dan setelah mereka sampai di kamar Luigi, Rayya dan Azkia lalu berpamitan pulang.


***


Saat bangun pagi ini, Ramadhan langsung memandang ponselnya. Dia lalu membuka galeri dan menatap foto Rayya yang sempat dia ambil dari foto profil yang dipakai Rayya sebelum nomer ponselnya diblokir oleh Rayya. Ramadhan mengusap foto gadis berwajah imut itu



Entah mengapa, sejak terungkap fakta jika Rayya menyimpan perasaan yang mendalam kepada dirinya sejak Rayya masih kecil, hati dan pikirannya merasa terusik. Bagaimana tidak terusik? Dia tidak bisa berkonsentrasi dalam bekerja karena selalu terpikirkan akan Rayya. Apalagi sejak kejadian kemarin di Bogor, dia membuat Rayya kecewa dan menangis, rasa bersalahnya semakin berlipat-lipat. Sayangnya dia tidak diperkenankan untuk berinteraksi dulu dengan Rayya. Padahal kalau saja boleh, saat Rayya berlari dan menangis meninggalkannya, rasanya ingin sekali dia mengejar dan memeluk wanita itu lalu menenangkannya agar tidak bersedih. Namun apalah daya, semua itu tidak bisa dilakukan olehnya.


Tapi keasyikan Ramadhan memandang foto Rayya terganggu karena layar ponselnya itu menampakan suatu panggilan masuk dari Farah.


Ramadhan berdecak, saat mengetahui Farah menghubunginya. Sebenarnya dia sendiri malas jika harus beriteraksi dengan wanita itu. Tapi wanita itu kadang nekat bahkan senang memberi ancaman jika keinginannya tidak dipenuhi. Sifat yang sungguh bertolak belakang dengan Rayya, lagi-lagi nama Rayya lah yang terbersit di pikirannya.


Ramadhan mengacuhkan panggilan masuk dari Farah dan memilih beranjak ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum melaksanakan sholat Shubuh nanti.


***

__ADS_1


" Papa berangkat ke kantor, Ma." Ucapan Ricky langsung membuat Anindita meraih dan mencium punggung tangan suaminya, yang langsung dibalas dengan kecupan di kening Anindita.


" Hati-hati ya, Pa ..." Anindita menyahuti.


" Rama berangkat ya, Ma." Ramadhan pun ikut berpamitan kepada Anindita seraya mencium punggung tangan dan mengecup pipi Mamanya itu saat ingin berangkat ke kantor.


" Kamu berangkat sama Papa atau bawa mobil sendiri?" tanya Anindita.


" Bawa sendiri, Ma."


" Ya sudah hati-hati, jangan ngebut bawa mobilnya!" Anindita mencoba memperingatkan putranya.


" Iya, Ma.


Saat mereka berdua tiba di pintu rumah tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah mereka.


" Hai, Mas Rama ..." Seorang wanita keluar dan menyapa Ramadhan dengan riangnya.


" Farah?" Ramadhan terperangah saat mendapati wanita yang tadi pagi teleponnya dia abaikan tiba-tiba muncul di hadapannya saat ini.


Sebenarnya bukan Ramadhan saja yang terkejut, Ricky dan Anindita pun sama terkejutnya dengan Ramadhan mendapati wanita itu datang ke kediaman mereka.


" Mau apa dia datang kemari, Rama?" tanya Anindita menampakkan ketidaksukaannya akan kehadiran Farah ke rumah mereka.


" Mana Rama tahu, Ma." Ramadhan mengedikkan bahunya, karena dia sendiri tidak tahu maksud Farah datang ke rumah orang tuanya.


" Assalamualikum, Om, Tante. Wah, Om sama Mas Rama mau berangkat ke kantor, ya?" Farah mencoba mengakrabkan diri dengan keluarga Ramadhan.


" Waalaikumsalam ..." Keluarga Ricky menjawab serempak.


" Iya, kami mau berangkat ke kantor. Ada apa kamu datang kemari?" tanya Ramadhan.


" Rama, Papa berangkat duluan. Assalamualikum ..." Ricky memilih segera meninggalkan Farah, karena dia juga tidak menyukai tingkah wanita muda itu.


" Waalaikumsalam ..." Anindita dan Ramadhan membalas salam dari Ricky.


" Mas Rama kenapa nggak angkat telepon aku tadi pagi?" tanya Farah kemudian.


" Aku nggak tahu ada panggilan masuk. Aku tadi bangun kesiangan." Ramadhan beralasan. " Maaf Farah, aku harus segera menyusul Papaku. Sebaiknya kamu pulang saja! Ma, Rama berangkat. Mama sebaiknya cepat masuk dalam! Assalamualaikum ..." Setelah meminta Mamanya untuk segera masuk ke rumahnya. Ramadhan pun bergegas menuju mobilnya dan meninggalkan Farah dan Anindita berdua.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Ternyata bukan hati Rama saja yang galau, readers nya juga sama😁 Ada yg trauma karena ASKML, baik kisah cintanya atau pun ending nya masih belum puas. Tenanglah, Eyang bilang kalau jodoh takan ke mana🤭🤭


Happy Readingā¤ļø


__ADS_2