RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Pendamping Hidup


__ADS_3

Azzahra tersentak kaget saat mendapati suaminya memeluknya tiba-tiba saat dia sedang menyiapkan menu untuk sarapan pagi ini.


" Astaghfirullahal adzim, bikin aku kaget saja sih, By."


" Kamu masak apa, Honey?" tanya Gavin tidak melepaskan pelukannya dari tubuh Azzahra.


" Aku sedang bikin ayam bumbu lengkuas sama nasi uduk. Hubby suka 'kan sama masakan aku yang satu ini?" tanya Azzahra menoleh suaminya yang menyanggah kepalanya di pundak Azzahra.


" Tentu saja, Honey. Apapun yang kamu buat pasti aku suka dan aku makan dengan lahap sama yang bikinnya juga aku santap sekalian." Gavin menghujani kecupan di pipi istrinya itu. Meskipun usia mereka sudah di atas kepala empat namun keharmonisan dan kemesraan mereka tidak kalah dengan pasangan-pasangan suami istri yang baru menikah.


" By, sudah, dong! Nanti kalau anak-anak lihat 'kan malu." Azzahra meminta suaminya itu untuk menghentikan aktivitas mencum bu nya.


" Biarkan saja mereka tahu, biar mereka melihat jika Mom dan Dad mereka itu bahagia dan saling cinta." Gavin mengacuhkan teguran istrinya itu.


" Nggak bisa begitu juga dong, By. Aku 'kan lagi masak juga ini," protes Azzahra.


" Suruh Entin saja yang teruskan memasak." Gavin enggan melepas pelukannya.


" Entin lagi aku suruh ke pasar buat beli bahan-bahan untuk besok, By." ujar Azzahra.


" Sudah deh, By. Tangannya jangan mulai, deh!" Azzahra berontak karena tangan terampil suaminya itu sudah mulai memainkan gerakan di kedua asset kembar Azzahra.


" By, kalau mau begituan di kamar saja, jangan di ruangan terbuka seperti ini. Kalau ada yang lihat 'kan kita yang malu." Azzahra merasa jengah dengan kelakuan suaminya itu.


" Dad, Mom, sedang apa?"


Azzahra segera mencubit lengan suaminya saat suara Rayya terdengar di ruangan dapur itu.


" Baby, kemarilah ..." Bukannya melepas pelukannya dari Azzahra, Gavin justru merentangkan satu tangannya ke arah Rayya, sementara satu tangan lainnya masih melingkar di pinggang Azzahra.


" Mommy sama Daddy sedang apa?" tanya Rayya kembali seraya mendekat ke arah Gavin.


" Dad sedang menunjukkan rasa sayang Daddy kepada Mommy kamu." Kini Gavin memeluk kedua orang wanita yang sangat berharga dalam hidupnya.


" Dad begitu menyanyangi kalian berdua." Gavin kembali mencium pipi Azzahra dan Rayya bergantian.

__ADS_1


" Rayya juga sayang Daddy. Daddy adalah cinta pertama untuk Rayya. Rayya berharap akan beruntung seperti Mommy yang mendapatkan suami sebaik dan sayang seperti Daddy." Rayya mengeratkan pelukannya ke pinggang Gavin.


" Baby, kamu masih kecil, jangan pikirkan tentang pendamping hidup dulu! Yang mesti kamu pikirkan sekarang ini adalah belajar dan sekolah, jangan pikirkan hal lain di luar itu!" tegas Gavin tidak menyukai ucapan Rayya yang membahas seputar pendamping hidup.


Tentu saja ucapan tegas Gavin membuat hati Rayya menciut lalu menundukkan kepalanya.


" By ..." Azzahra yang melihat wajah sendu Rayya langsung menegur suaminya.


" Rayya kamu cepat bawa Daddy mu keluar dari dapur ini. Kalau nggak, Mommy nggak akan selesai-selesai menyiapkan sarapan untuk kalian." Azzahra sengaja menyuruh Rayya melakukan hal itu agar pembahasan tentang pendamping hidup itu tidak berlanjut menjadi panjang.


" Ayo, Baby. Sepertinya Mommy mu mengusir Daddy, dan sepertinya keberadaan Daddy tidak dibutuhkan. Sebaiknya Baby menemani Daddy saja, kita duduk di ruang keluarga." Gavin langsung membawa Rayya keluar dari dapur meninggalkan Azzahra yang akhirnya kembali sibuk dengan aktivitas memasaknya.


***


Azkia membawa bolu ulang tahun di tangannya. Bersama Gavin, Azzahra, Rahsya dan Raihan adik bungsu Rayya yang berusia tujuh tahun beserta ART nya sudah berkumpul di depan pintu kamar Rayya siap-siap memberikan kejutan selamat ulang tahun.


" Satu, dua, tiga ..." Azkia memberi aba-aba agar Azzahra membuka pintu kamar Rayya.


" Surprise ..." Seru Azkia saat pintu kamar terbuka diiringi lagu Happy Birthday yang dinyanyikan seluruh keluarga Gavin.


" Happy Birthday .... ayo tiup lilinnya, Ray." Azkia meminta Rayya segera meniupkan lilin angka tunjuh belas yang menancap di bolu ulang tahun itu.


" Jangan lupa make a wish, berharap Kak Rama datang nanti malam," bisik Azkia menggoda Rayya hingga membuat Rayya melotot ke arahnya. Sudah pasti Rayya takut jika Daddy nya akan mendengar apa yang diucapkan Azkia tadi.


" Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga ..." Gavin memulai menyanyikan lagu tiup lilin yang diikuti oleh anggota keluarga lainnya.


Setelah membaca doa memohon seluruh kebaikan akan menyertainya, Rayya pun meniup lilin ulang tahunnya yang disambut tepuk tangan seluruh anggota keluarga.


" Barakallah Fii Umrik anak gadis Mommy." Azzahra mengucapkan selamat seraya memeluk putrinya itu dengan haru dan menitikkan air mata karena dia benar-benar tidak menyangka putri kecilnya kini sudah menjadi gadis remaja dan memasuki usia tujuh belas tahun. " Mommy berharap kebahagiaan selalu menyertai kamu, Sayang." Azzahra kini mengusap kepala putri cantiknya itu.


" Aamiin, makasih, Mom." Rayya kembali mengeratkan pelukan kepada Mommy nya itu.


" Mommy, sudah dong pelukannya. Daddy juga ingin memeluk Baby." Gavin memprotes Azzhara yang tak juga melepas pelukannya pada Rayya.


Azzahra pun segera mengurai pelukannya dan kemudian berdiri memberi kesempatan kepada suaminya untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada Rayya.

__ADS_1


" Baby, Happy birthday putri Daddy yang cantik." Gavin memeluk putrinya dan menganggat tubuh putrinya itu kemudian membawanya berputar-putar. Gavin pun memberikan hujan kecupan di pipi, kening dan kelopak mata putrinya itu. " Daddy sayang kamu, Baby. Daddy harap kamu selau bahagia selamanya. Jika kelak kamu dewasa dan kamu berumah tangga, Daddy harap kamu akan mendapatkan suami yang bisa menyanyangi kamu melebihi Daddy menyanyangimu," harap Gavin kepada putrinya itu.


Ucapan Gavin membuat kening Azzahra berkerut, karena pagi tadi Gavin terlihat tidak suka saat Rayya menyinggung soal pendamping hidup.


" Aamiin, Dad. Rayya juga sayang Daddy." Rayya yang kini sudah diturunkan Gavin kini melingkarkan tangannya di pinggang Gavin.


" Kak Rayya selamat ulang tahun ..." Rashya dan Raihan kini bergantian mengucapkan selamat ulang tahun.


" Terima kasih adik-adik Kak Rayya." Rayya membungkukkan badannya memeluk kedua adik laki-lakinya itu.


" Sekarang giliran aku yang ucapin." Azkia segera memeluk Rayya. " Happy birthday, Ray. Wish you all the best lah pokoknya."


" Aamiin, makasih, Kia."


" Kak, kok bolunya nggak dipotong, sih?" Raihan mempertanyakan kenapa bolu ulang tahunnya hanya ditaruh di atas nakas bukannya dipotong dan dibagi-bagi. Ucapan Raihan itu membuat semua orang di sana tertawa.


" Oh iya ya, ayo potong dulu bolunya, Ray." AzKia kembali mengambil bolu yang tadi sempat dia taruh di atas nakas kemudian menyodorkan kembali ke arah Rayya.


Setelah memotong bolu ulang tahun, Rayya pun memberikan potongan pertama bolu ulang tahunnya kepada Azzahra dan Gavin secara bergantian. Rayya memberikan terlebih dahulu kepada Azzahra baru setelah itu menyuapkan kepada Gavin. Selanjutnya adik-adiknya lah yang mendapatkan suapan kue ulang tahun dari Rayya di hari ulang tahun Rayya yang ke tujuh belas tahun itu.


...***...


*


*


*


.


Bersambung ...


Jangan lupa bantu dengan like juga komen ya, biar bisa naikin level karya RDHR dan juga menyemangati Othor agar selalu rajin up,


Karena jujur aja sih jika level karya akan mempengaruhi mood untuk menulis. Saat kita rajin up, sampai begadang nulis tapi levelnya macet di angka itu² aja itu bikin semangat kita buat tetap lanjut menulis itu mengendur. jadi jangan kendur kasih dukungan untuk RDHR. Makasih🙏

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2