
Anindita mengarahkan langkahnya menuju kamar Ramadhan setelah perdebatan yang terjadi antara suami dan anaknya tadi.
Tok tok tok
" Rama, Mama boleh masuk, Nak?" Anindita tahu jika suasana hati anaknya saat ini tidak sedang dalam keadaan baik, karena itu dia meminta ijin terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kamar Ramadhan. Dan tak berapa lama pintu kamar Ramadhan pun dibuka oleh putranya itu.
Anindita menatap wajah anaknya yang memperlihatkan wajah kecewanya.
" Apa Mama disuruh Papa untuk mempengaruhi Rama?" tuding Ramadhan saat mendapati Mamanya itu berdiri di depan pintu saat dia membuka daun pintu kamarnya itu.
" Apa Rama keberatan jika Mama masuk ke dalam? Kalau Rama merasa Mama mengganggu kamu, Mama urungkan saja niat Mama." Baru satu langkah Anindita ingin menjauh dari kamar Ramadhan, namun Ramadhan langsung menyahuti perkataan Mamanya.
" Masuklah, Ma." Ramadhan membuka lebar pintu kamarnya dan mempersilahkan Anindita untuk masuk ke dalam kamarnya.
Anindita akhirnya mengurungkan niatnya meninggalkan kamar Ramadhan dan masuk ke dalam kamar putranya itu. Anindita memilih duduk di tepi tempat tidur Ramadhan, sedangkan Ramadhan sendiri lebih memilih duduk di sofa.
" Apa Mama ingin memaksa Rama untuk menerima perjodohan itu?" Ramadhan menduga jika Papanya lah yang menyuruh Mamanya meluluhkan hatinya. Karena selama ini dia selalu berusaha menuruti apa yang diinginkan Mamanya itu.
" Apa kamu tahu, Rama? Bagi seorang ibu, melihat anak dan suami saling berdebat adalah situasi yang sangat sulit. Apalagi seperti tadi, Papa kamu sampai bicara dengan nada bicara tinggi. Selama ini apa Rama pernah melihat Papa bicara seperti itu terhadap keluarga, terhadap Rama sendiri misalnya?
Ramadhan menghela nafas panjang, memang dia akui selama ini dia tidak pernah melihat Papanya nampak emosi seperti itu saat berbicara dengan keluarga.
" Papa kamu sangat menyayangi kamu, Rama. Dari sebelum kamu tahu kalau Papa Ricky adalah Papa kandung kamu. Bahkan sebelum kamu terlahir pun Papa kamu sudah mencari-cari keberadaan kamu."
" Kalau Rama memang tidak bisa menerima perjodohan ini, katakanlah dengan bahasa dan tutur kata yang santun tanpa menyinggung perasaan Papa."
" Mama yakin, Papa kamu sudah mempertimbangkan baik-baik sebelum Papa menerima permintaan Om Gavin untuk menjodohkan kamu dengan Rayya. Rayya anak yang sangat baik, santun dan sangat taat dalam beribadah. Sejatinya dia adalah calon pendamping hidup idaman untuk laki-laki yang mendambakan kebahagian lahir batin dunia dan akherat."
Anindita kemudian berdiri dan mendekat ke arah Ramadhan lalu menepuk bahu putranya itu.
" Mama harap kamu bisa pikirkan baik-baik tentang keputusan Papa kamu. Berpikirlah dengan jernih, tidak dengan emosi. Ingatlah, Nak. Tidak ada orang tua di dunia ini yang ingin menjerumuskan anaknya ke dalam penderitaan terkecuali orang tua yang tidak mempunyai rasa tanggung jawab. Tapi Rama tahu, kan? Kalau Papa kamu itu orang yang punya rasa tanggung jawab yang tinggi terutama terhadap keluarga."
" Sekarang istirahatlah ..." Anindita lalu berjalan ke luar kamar meninggalkan Ramadhan yang hanya terdiam tak membantah sedikitpun apa yang diucapkan olehnya.
***
Haru ini aktivitas sekolah sudah dimulai setelah para murid menghabiskan liburan semester ganjil jelang akhir tahun lalu.
__ADS_1
" Ray, Rayya ..."
Rayya dan Azkia yang baru saja turun dari mobil lalu menoleh ke asal suara yang memanggil Rayya.
" Mau apa sih dia kemari?" Azkia yang mendapati kehadiran Raffasya langsung memperlihatkan wajah tak bersahabatnya.
" Ray, selamat ulang tahun ya." Raffasya mengulurkan tangannya ingin menyalami Rayya. " Kok Rayya nggak undang Kak Raffa di party kemarin?" lanjutnya.
" Nggak usah pegang-pegang deh, bukan mahram.." Azkia menyindir seraya melipat kedua tangan di dadanya.
" Eh, cewek rese! Mulut lu bisa diam, nggak?! Apa perlu gue lakban? Gue itu lagi ngomong sama Rayya bukan sama lu!" hardik Raffasya yang merasa kesal karena Azkia mengganggunya.
" Lu mending masuk sana! Gue nggak ada kepentingan sama lu!" usir Raffasya.
" Ayo Ray, kita masuk saja jangan meladeni Kak Raffa!" Azkia menarik lengan Rayya namun tangga Raffasya reflek menahan lengan Rayya yang lainnya.
" Aduh ...!" Rayya mengaduh karena saat ini kedua tangannya ditarik dari sisi yang berlawanan.
" Eh, eh, eh ... berani pegang-pegang lagi. Dibilang bukan mahram nya juga. Lepasin!" Azkia langsung menangkis tangan Raffasya yang menyentuh lengan Rayya meskipun tidak secara langsung menyentuh kulit Rayya karena seragam lengan panjang yang dikenakan Rayya.
" Beda banget sih, kamu sama dia, Ray. Ibarat kamu itu seorang putri, kalau dia lebih mirip nenek sihir." Raffasya membandingkan sifat Rayya dan Azkia yang berbeda bagaikan langit dan bumi.
" Kak Raffa nggak boleh begitu. Kia cantik seperti ini masa disamakan sama nenek sihir?" Rayya memprotes Raffasya yang menyamai Azkia dengan peran antagonis di dogeng-dogeng.
" Cih, cantik? Nggak minat gue lirik dia!" Kalimat yang diucapkan Raffasya bernada mele cehkan.
" Nggak usah sok kecakepan deh, Kak! Kia juga nggak suka model cowok kayak Kak Raffa. Cowok tapi mulutnya kayak ibu-ibu yang suka nyinyir." Azkia membalas Raffasya.
" Sudah-sudah jangan bertengkar! Malu dilihat orang. Kak Raffa ada apa kemari? Rayya ingin ke kelas karena sebentar lagi waktu belajar dimulai." Rayya mencoba melerai berdebatan antara Azkia dan Raffasya yang tidak akan ada ujungnya jika tidak segera dilerai.
" Kak Raffa hanya mau mengucapkan selamat ulang tahun ke Rayya." Raffasya berkata dengan kalimat yang lembut terhadap Rayya, berbanding terbalik jika bicara dengan Azkia.
" Oh iya, makasih, Kak. Terima kasih kadonya sudah diterima." Rayya yang belum sempat berterimakasih kepada Raffasya langsung mengucapkan rasa terima kasihnya.
" Rayya suka nggak sama kado yang Kak Raffa kasih?" Raffasya melirik ke arah jemari gadis berhijab itu, berharap pemberiannya itu disematkan di jari-jari lentik Rayya.
" Hmmm, kadonya bagus, Kak. Makasih ya." Rayya melirik ke arah Azkia yang saat itu sempat mencoba cincin pemberian Raffasya.
__ADS_1
" Kok nggak dipakai cincinnya, Ray?" Raffasya nampak kecewa karena dia tidak melihat cincin pemberiannya itu melingkar di jari manis Rayya.
" Oh, kemarin itu sempat dicoba tapi terlalu longgar jadi nggak Rayya pakai, Kak." Rayya berbohong dengan memberi alasan yang masuk akal agar Raffasya tidak merasa tersinggung.
" Size nya kebesaran, ya? Kak Raffa nggak tahu ukuran yang biasa Rayya pakai sih." Raffasya nampaknya bisa menerima alasan yang diberikan oleh Rayya. " Mau Kak Raffa tukar cincinnya dengan ukuran yang pas sama jari Rayya?"
" Nggak usah, Kak. Nggak usah ... biarin saja. Siapa tahu nanti Rayya agak gemukan jadi bisa dipakai cincinnya." Rayya langsung menolak tawaran Raffasya.
" Kak Raffa, Kia kasih tahu, ya! Rayya itu nggak akan pakai cincin dari Kak Raffa, karena ... sebentar lagi cincin yang akan melingkar di jari manis Rayya itu adalah cincin pertunangan. Sekalian Kia kasih tahu Kak Raffa biar nggak mengejar-ngejar Rayya terus. Rayya itu sudah mau dijodohkan oleh Uncle Gavin dengan pria yang sudah lama disukai Rayya. Pria itu adalah ...."
" Kia ...!" Rayya langsung membekap mulut Azkia dengan tangannya hingga membuat perkataan Azkia terpotong.
" Kak, Rayya masuk dulu, ya! Assalamualaikum ..." Rayya lalu berjalan menjauh meninggalkan Raffasya yang wajahnya seketika menegang dengan rahangnya yang mengeras mendengar kabar yang disampaikan oleh Azkia tentang perjodohan Rayya.
***
Satu Minggu dilalui Rayya dengan hati yang berbunga-bunga. Tentu saja kabar tentang perjodohan dia yang direncanakan oleh Daddy nya lah yang dirasa sebagai penyemangatnya selama satu Minggu ini. Dan hal itu tak luput dari perhatian Azkia yang senang sekali menggoda sepupunya itu.
Azkia memperlambat langkahnya saat dia melihat mobil yang berhenti di depan rumah Gavin.
" Kenapa, Kia?" Gibran mengikuti arah pandang Azkia yang menoleh ke arah mobil yang terparkir di sebelah rumah Azkia itu.
" Mobil siapa itu, Kia? Kia kenal?" selidik Gibran masih menunggu orang yang belum turun dari dalam mobil.
" Itu seperti mobilnya Kak Rama, deh." Senyuman langsung mengembang saat sosok yang mengendarai mobil itu keluar dari dalam mobil hingga memperlihatkan siapa yang datang saat itu.
" Kak Rama ...!" Azkia langsung berlari ke arah Ramadhan karena dia merasa sangat surprise dengan kehadiran Ramadhan di rumah Gavin sampai dia melupakan keberadaan Gibran di sampingnya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1