RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Memangnya Enak Merasakan Cinta Sendiri


__ADS_3

Untuk Rayya, bersama Umi dari Mommy nya adalah hal yang paling menyenangkan. Selalu saja ada tawa jika mereka berbincang bersama. Walau kadang Umi Rara terlalu berlebihan dalam bersikap, namun bagi Rayya hal itu sangat menyenangkan untuknya. Selalu menghiburnya seperti saat ini, walaupun hanya sebuah lengkungan tipis di bibirnya karena hatinya masih terlalu sedih karena dia masih berduka.


Rayya lalu mengalihkan pandangan ke arah depan hingga tanpa sadar tatapannya mengarah kepada seorang pria tampan yang ternyata sedang memperhatikannya. Rayya sempat tertegun beberapa saat ketika mendapati sosok pria itu menatapnya lekat, apalagi saat pria itu mengembangkan senyuman untuknya. Ibarat melihat pelangi setelah hujan mendapati Ramadhan sedang memperhatikannya seperti sekarang ini. Namun saat dia mengingat kata-kata Azkia yang mengatakan jika tadi di pemakaman dirinya pingsan dan Ramadhan juga yang telah menolong dan mengangkat tubuhnya yang terkulai pingsan, seketika rasa malu mulai melanda di hatinya. Setelah sebelumnya Ramadhan menolongnya saat dia hampir terjatuh ketika dia berlari menaiki anak tangga. Rayya beranggapan jika Ramadhan pasti akan menganggapnya sebagai wanita yang lemah.


Rayya langsung menurunkan pandangan dan menundukkan kepalanya. Dia terlalu malu bertatap mata dengan pria yang dia sukai itu.


Sebelumnya Ramadhan nampak asyik menatap Rayya, hingga tanpa terduga wanita itu pun mengarahkan pandangan ke arahnya sampai beberapa saat mereka berdua saling berpandangan. Wajah cantik dan lembut wanita itu nampak sendu dengan matanya yang masih nampak sembab.


Ramadhan mengulum senyuman seolah memberi sapaan kepada Rayya namun tak lama Rayya menundukkan kepalanya. Ramadhan seolah mendapatkan sosok Rayya seperti yang dia kenal sebelumnya. Bukan sosok Rayya yang dia temui di Italia beberapa waktu lalu.


***


Setelah acara tahlil selesai beberapa tamu pun satu persatu berpamitan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.


" Kia nggak menginap di sini?" tanya Rayya kepada Azkia yang juga akan pulang bersama Yoga dan Natasha.


" Nggak, Ray."


" Besok sore Kia ke sini lagi, kan?"


" Pasti, dong! Besok Kia sama Papa Mama pasti akan ke sini." Azkia menyahuti seraya memeluk sepupunya itu


" Sulit dibayangkan, kalian yang sejak kecil selalu bersama sekarang malah berpisah jarak dan tempat."


Rayya dan Azkia langsung mengurai pelukannya saat mendengar suara seseorang di dekat mereka.


" Eh, Kak Rama ..." Azkia yang menyahuti kata-kata Ramadhan.


Sementara Rayya langsung tertunduk malu saat Ramadhan menghampiri mereka berdua.


" Kamu gimana, Rayya? Sudah membaik? Pasti kelelahan setelah perjalanan jauh sampai akhirnya siang tadi jatuh pingsan."

__ADS_1


Rayya menggigit bibirnya saat diingatkan kejadian soal pingsan oleh Ramadhan.


" Hmmm, makasih atas pertolongan Kak Rama." Rayya buru-buru mengucapkan terima kasihnya karena tadi siang dia tidak sempat mengucapkannya setelah siuman.


" Sama-sama, Kakak turut belasungkawa ya, semoga Rayya dan keluarga diberikan keikhlasan kesabaran dan ketabahan."


" Terima kasih, Kak."


" Kak Rama makin ganteng saja, deh! Orang mana ceweknya, Kak?" tanya Azkia tanpa canggung.


" Kalau ganteng sih, sudah turunan." Ramadhan terkekeh memuji dirinya sendiri.


" Pacarnya orang mana?" Azkia nampak ingin tahu soal wanita yang sedang dekat dengan Ramadhan karena dia sendiri sempat mendengar gosip seputar Ramadhan dengan Farah.


Rayya sendiri nampak tidak ingin mendengar apa yang ditanyakan sepupunya itu. Dia sendiri tidak mengerti, bagaimana Azkia menanyakan hal itu di hadapannya.


" Belum punya. Cariin dong sama kamu, Kia." sahut Ramadhan kembali terkekeh.


" Cariin? Dulu mau dijodohkan sama cewek yang cantik, kalem, lembut seperti sepupuku ini, Kenapa Kak Rama menolak?"


" Coba Kak Rama lihat, nih! Sepupu aku ini sudah cantik, sholelah, kalem, sopan, calon bidadari surga ... eh malah ditolak sama Kak Rama. Rugi banget deh Kak Rama jadi cowok, melepas wanita istimewa kayak Rayya ini. Hmmm, memangnya seleranya Kak Rama itu yang kayak apa, sih? Yang senang pamer-pamer paha sama belahan dada ya, Kak?"


" Kia ...!" Rayya menegur Azkia dengan nada bicara pelan. Rayya sebenarnya semakin.malu dengan segala ucapan Azkia yang seolah sedang mempromosikannya di hadapan Ramadhan.


Sedang Ramadhan hanya sanggup menelan salivanya karena sindiran yang dilontarkan Azkia kepada dirinya. Tiga tahun lalu dia membatalkan rencana perjodohan dengan Rayya karena Kayla, namun ironisnya selama tiga tahun ini dia sama sekali tidak juga bisa menaklukan hati Kayla.


" Rama, kita pulang sekarang ..." Ricky terlihat berjalan dengan Dirga dan Gavin menghampiri Ramadhan, Rayya juga Azkia.


" Pantas kau tidak terlihat di dalam, ternyata kau malah asyik bersama kedua wanita cantik ini, Rama." Dirga langsung mengomentari keberadaan Ramadhan di antara Rayya dan Azkia.


" Putra Pak Ricky ini tampan, wajarlah jika dikelilingi wanita cantik, seperti kita saat muda dulu, Dirga." Gavin masih bisa ikut berseloroh walaupun masih dalam suasana berkabung.

__ADS_1


" Rama, kamu itu sudah layak untuk berumah tangga. Jangan mengikuti Papamu yang kelamaan menjomblo. Segeralah cari calon istri. Dua wanita di hadapanmu ini semua cantik dan baik. Dua-duanya pantas dijadikan istri. Tapi pilih satu saja jangan dua-duanya ingin kau jadikan istri." Dirga mulai kebiasaannya menjodoh-jodohkan orang.


" Iiihh, Kia sudah punya pacar ya, Om! Nggak mau kalau suruh jadi istri Kak Rama!" Azkia memutar bola matanya.


" Kalau Kia sudah ada pacar, lalu putrinya Daddy Gavin ini sudah punya pacar belum?" tanya Dirga kemudian.


Rayya hanya tersipu dan menggelengkan kepala seraya menundukkan kepalanya.


" Putri cantikmu ini belum punya pacar, Vin?" Kini Dirga bertanya kepada Gavin.


" Belum ...."


" Sayang sekali Daffa masih kecil. Kalau dia sudah dewasa, aku ingin jadikan putri cantikmu ini sebagai menantuku. Sepertinya dia terlihat cocok dengan Rania dan Fa." Dirga lalu melirik ke arah Ramadhan dan Ricky. " Kau sendiri bagaimana Rick? Apa kau tidak ingin berbesan dengan Gavin?" Dirga memang tidak tahu dengan rencana perjodohan antara Rayya dan Ramadhan beberapa tahun silam.


" Sebenarnya aku dan Pak Ricky sudah pernah mempunyai niat ke sana, Ga. Tapi ternyata anak-anak menolak rencana aku dan Pak Ricky." Gavin yang menyahuti pertanyaan Dirga.


" Menolak? Kalian berdua menolak?" Dirga memandang Rayya dan Ramadhan bergantian. " Kau menolak wanita secantik ini untuk kau jadikan istri, Rama? Kau anak Ricky atau bukan sih, Rama? Walaupun hanya gadis desa tapi Papamu pintar memilih wanita untuk dijadikan pendamping hidupnya. Lalu kamu? Gadis seperti Rayya kamu tolak? Memang kau ingin wanita seperti Farah yang ingin kau jadikan istrimu? Kau benar-banar bodoh, Rama!" Dirga menyesali dengan keputusan Ramadhan yang menolak dijodohkan dengan Rayya.


Untuk kedua kalinya Ramadhan menelan salivanya. Setelah disindir oleh Azkia, kini giliran Dirga yang menyindirnya


" Sebenarnya itu bukan keputusan saya sendiri kok, Om. Rayya juga sama-sama menolak karena dia ingin menggapai cita-citanya." Ramadhan seolah tidak ingin disalahkan sendirian karena gagalnya rencana perjodohan itu, sehingga dia menyebutkan jika Rayya pun sebenarnya tidak menginginkan perjodohan mereka.


" Ya iyalah Rayya nolak! Orang Kak Rama sendiri yang bilang ke Rayya kalau Kak Rama nggak akan bisa memberi cinta Kak Rama untuk Rayya kalau kalian meneruskan perjodohan. Memangnya enak merasakan cinta sendiri? Mending dibatalkan saja perjodohannya," celetuk Azkia lantang. Sepertinya rasa kesal Azkia karena Ramadhan menolak sepupunya itu masih membekas di hatinya, hingga tanpa sadar dia menceritakan hal yang sebenarnya menjadi rahasia.


Dan ucapan Azkia tadi tentu saja membuat para orang tua juga Ramadhan dan Rayya membulatkan matanya lebar-lebar.


*


*


*

__ADS_1


.Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2