
Akhirnya Rayya harus pergi ke Milan sendiri karena kedatangan Jovanka dan Michele yang mendadak. Sebenarnya Jovanka mengijinkan William menemani Rayya, namun Rayya yang menolak karena dia yang merasa tidak enak jika William lebih mementingkan dirinya dari pada Jovanka dan adik dia yang lain.
Sekitar jam sembilan lebih sepuluh menit Rayya sampai di Linate, bandar udara kedua yang ada di kota Milan selain Malpesa. Karena gallery tempat diadakan pameran itu hanya berjarak sekitar Iima kilometer dari Linate, akhirnya William lebih memilihkan penerbangan dari Fiumicino, bandar udara terbesar di Italia atau lebih dikenal sebagai Bandar udara Leonardo da Vinci menuju Linate bukannya Malpesa. Rayya sendiri langsung dijemput oleh Kayla di Linate saat tahu jika William batal mengantar Rayya ke Milan karena Rayya baru pertama kalinya mengunjungi kota Milan.
" Maaf ya, Kak. Rayya jadi merepotkan Kak Kayla." Rayya mengucapkan permohonan maafnya karena harus membuat Kayla menjemputnya.
" Nggak apa-apa kok, Rayya. Justru Kakak yang berterima kasih karena kamu udah mau ikut berpartisipasi dalam acara yang Kakak selenggarakan." Kayla kemudian menjalankan mesin mobilnya. " Kita langsung ke gallery saja, ya. Hanya sekitar sepuluh menit dari sini," ujar Kayla.
" Iya terserah Kak Kayla saja," sahut Rayya.
" Hotel tempat kamu menginap juga dekat kok dari gallery. Kurang dari lima menit juga bisa sampai hotel." ucap Kayla kembali.
" Iya, Kak."
" Kalau tahu Kakakmu nggak jadi ikut sih, mending kamu menginap di tempat Kakak saja, ya?"
Rayya terkekeh mendengar kalimat yang diucapkan Kayla. " Iya, Kak. Habis Auntie Jo datangnya mendadak."
" Auntie Jo itu Tante kamu?" tanya Kayla.
" Beliau itu Mommy nya Kak Willy."
Kayla langsung menoleh ke arah Rayya. " Mamanya Willy? Maksud kamu, kalian itu tidak satu Ibu?"
" Iya, Kak." Rayya mengiyakan namun dia tak ingin menceritakan lebih banyak asal-usul William itu kepada Kayla.
" Oh, Kakak baru tahu. Tapi hubungan kamu akrab dengan keluarga dari Mamanya Willy?" tanya Kayla penasaran.
" Iya, karena Daddy dan Grandpa selalu berusaha mendekatkan kami dan mengajarkan Rayya untuk menghormati keluarga dari Mommy nya Kak Willy. Bagaimanapun juga Kak Willy dan Rayya tetap sedarah walaupun dilahirkan dari Mommy yang berbeda. Itu sebabnya kami bisa akrab apalagi Kak Willy juga punya adik perempuan yang sepantaran dengan Rayya juga." Rayya menjelaskan.
" Wah, kakak kagum dengan cara berpikir keluarga orang tua kamu. Meskipun sudah berpisah namun tidak membuat silaturahmi kalian terputus." Kayla mengganggap jika Jovanka adalah mantan istri Gavin.
Rayya hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Kayla. Dia tidak mungkin mengatakan jika Daddy nya itu tidak pernah menikah dengan Jovanka.
Sekitar sepuluh menit perjalanan yang ditempuh mereka, akhirnya mereka sampai juga di gedung yang akan disewa oleh Kayla untuk mengadakan acara pameran lukisannya. Setelah berbincang-bincang dengan petugas di bangunan itu, Rayya pun meminta beberapa petugas di sana untuk memasang karya seni lukisannya.
__ADS_1
" Besok jam berapa Kak Kayla datang ke sini?" tanya Rayya.
" Pembukaan jam sepuluh pagi, kemungkinan dari jam delapan Kakak ada di sini untuk memastikan lagi semuanya sudah oke," sahut Kayla. " Kita makan dulu, setelah itu Kakak antar kamu ke hotel." Kayla lalu mengajak Rayya untuk makan siang di salah satu restoran halal yang terletak di dekat gallery tersebut.
***
Rayya baru selesai melaksanakan sholat Dzuhur saat terdengar ponselnya berbunyi. Rayya dengan cepat meraih ponselnya itu.
" Proto, Rayya, sei arrivata a milano?" ( Halo, Rayya. Kamu sudah sampai di Milan ) Ternyata Simone lah yang meneleponnya.
" Ciao Simone. Sì, sono in hotel ora." ( Hai, Simone. Iya aku sudah di hotel sekarang )
" Hai avuto problemi lì? ( Apa kamu mengalami kesulitan di sana ) tanya Simone khawatir karena dia tahu jika William batal mengantar Rayya ke Milan, sedangkan dia juga tidak dapat menemani wanita itu.
" Io sto bene. Kayla è venuto a prendermi." ( Aku baik-baik saja, Kayla yang tadi menjempuku ) Rayya menjawab agar Simone tidak merasa khawatir.
" Dove sei ora?" ( Kamu di mana sekarang ) tanya Rayya kemudian.
" Sono stato a Firenze con mio zio e il suo cliente. Pensavo che il cliente di mio zio fosse vecchio, invece era giovane e bello." ( Aku sudah ada Florence menemani Om ku dan kliennya. Aku pikir klien pamanku itu sudah tua ternyata dia masih muda dan tampan ) Simone menjelaskan kepada Rayya bagaimana klien dari pamannya itu.
" Allora dovresti presentarmelo." ( Kalau begitu kamu harus memperkenalkannya kepadaku ) Rayya terkekeh sengaja menggoda Simone karena dia yakin jika Simone pasti akan menolak permintaannya.
" No! Non lo farò!" ( Tidak! Aku tidak akan melakukan itu ) tegas Simone membuat Rayya kembali tertawa.
" Devo accompagnare il cliente di mio zio. Richiamerò più tardi, prenditi cura di te stesso. Ciao Rayya." ( Aku harus menemani klien pamanku. Nanti aku telepon lagi, kau jaga diri baik-baik ) pamit Simone karena dia harus mengantar Ramadhan kembali.
" Grazie, Simone. Ciao ..." Rayya pun kemudian menutup panggilan telepon Simone.
***
Sekitar pukul 05.45 menit Rayya bangun pagi harinya. Dia langsung membersihkan diri sebelum melaksanakan sholat Shubuh yang akan dimulai pukul 06.03 waktu Milan pagi ini.
Setelah membersihkan diri dan menjalankan kewajiban dua rakaat dan menyantap sarapan yang disediakan oleh pihak hotel, Rayya pun bersiap-siap hendak menuju gallery. Di hari pertama ini dia menggunakan dress hitam dengan Coat panjang warna teracotta dan hijab warna putih dengan memakai ankle boots membuat penampilannya terlihat modis.
__ADS_1
Sekitar jam delapan lebih lima menit Rayya sampai di gallery, dan Kayla terlihat sudah tiba di sana bersama kedua orang tuanya.
" Assalamualaikum, Om, Tante." Rayya menyapa kedua orang tua Kayla lalu menyalami Nadia dan Edward.
" Waalaikumsalam." Edward dan Nadia menjawab salam yang diucapkan Rayya.
" Om Edo dan Tante Nadia apa kabar?" tanya Rayya kemudian.
" Alhamdulillah Om dan Tante baik, Rayya." Edward yang hari ini sengaja meluangkan waktunya untuk menemani Kayla menjawab pertanyaan Rayya.
" Kamu kok nggak kasih tahu Tante kalau kuliah di Roma sih, Rayya?" Nadia menepuk pundak Rayya.
" Iya maaf, Tante. Rayya nggak tahu nomer telepon Tante jadi nggak bisa hubungi Tante." Rayya beralasan.
" Kenapa nggak minta sama Mommy kamu?" tanya Nadia kembali.
" Rayya malu, Tante." Rayya tersipu.
" Ya ampun, kenapa harus malu? Tante sama Mommy kamu juga berteman, kan?" Nadia menggelengkan kepalanya melihat keluguan Rayya.
" Rayya kamu sudah sarapan? Kita sarapan dulu, yuk!" ajak Kayla kemudian.
" Rayya sudah sarapan kok, Kak." tolak Rayya halus.
" Ya sudah kalau begitu ikut saja, kamu ngopi saja dulu, yuk! Sekalian sama Mama dan Papaku." Kayla menarik tangan Rayya hingga wanita itu pun akhirnya mengikuti langkah kaki Kayla yang berjalan di belakang kedua orang tuanya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy bersambung ❤️
__ADS_1