RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Membuka Hati Untuk Yang Lain


__ADS_3

Malam harinya Rayya mengajak Michelle ke Trevi di Fontana. Walaupun sebenarnya Rayya sendiri lelah setelah mengikuti pameran lukisan, namun dia tidak menampakkan kelelahannya itu di hadapan Jovanka dan juga Michelle.


" Kau tahu, Rayya? Saat aku melempar koin tadi aku berharap apa?" tanya Michelle dengan terkikik. Sosok Michele yang periang mengingatkan akan sosok sepupunya, Azkia.


" Memang kamu mengharapkan apa?" tanya Rayya seraya berjalan meninggalkan air mancur itu.


" Berharap dapat pacar cowok Italia, dong!" Michelle tergelak membuat Rayya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Michelle.


" Rayya, benar kamu sama Simone itu tidak berpacaran?" tanya Michelle kembali.


" Iya, aku hanya berteman saja dengan dia," sahut Rayya. " Kamu beneran suka sama Simone?" Kini Rayya yang balik bertanya kepada Michelle karena saat bertemu dengan Simone siang tadi terlihat Michelle beberapa curi pandang.


" Hmmm, suka nggak, ya?" Michelle seolah sedang berpikir. " Kalau kamu suka sama dia, aku nggak mungkin ikut-ikutan suka dia, kan?"


" Aku suka dia sebagai seorang sahabat, nggak lebih," tepis Rayya menyangkal tuduhan Michelle.


" Dia sudah punya pacar atau belum?" Michelle penasaran.


" Setahuku sih, belum."


" Dia orangnya baik, ya?"


" Simone orang yang baik dan sangat menyenangkan. Kamu tahu, Michelle? Daddy ku jarang memperbolehkan aku berteman dengan pria tapi dengan Simone, Daddy kasih ijin. Artinya dia itu orang yang sangat bisa dipercaya." Rayya kemudian menoleh ke arah Michelle. " Kalau kamu pacaran sama Simone, aku yakin Kak Willy akan setuju."


" Serius?" Michelle nampak antusias menanggapi ucapan Rayya dan Rayya menganggukkan kepalanya cepat.


" Kalau begitu, kamu bantu aku biar aku bisa dekat Simone, Rayya." pinta Michelle memohon.


" Tentu saja aku akan bantu kamu, Michelle. Tapi kamu jangan kecentilan, lho! Simone itu nggak suka wanita yang centil."


" Oke, sip! Thanks, Rayya. Aku berharap kamu juga akan bisa mendapatkan cinta sejatimu kelak."


Rayya terdiam mendengar ucapan Michelle. Dia tidak tahu siapa cinta sejatinya kelak. Karena sampai kini nama Ramadhan masih mendominasi walaupun dia berusaha untuk singkirkan satu nama itu di hatinya.


***


Sementara itu di acara fashion show yang menampilkan beberapa model dari salah satu agensi di Paris, Ramadhan saat ini berada.


Kehadiran seorang pria yang bersama Kayla membuatnya tidak nyaman. Pria itu selalu bersama Kayla, dan Kayla sendiri nampak begitu dekat dengan pria bertampang bule itu.


Ramadhan terus menatap lekat ke arah pria itu dan Kayla. Apakah pria itu yang dimaksud Kayla sebagai pacarnya? Siapapun pria itu membuat Ramadhan tidak nyaman berada di sana.


Sedangkan kehadiran Ramadhan tentu saja membuat hati Farah bahagia. Bahkan saat di atas catwalk wanita cantik itu selalu melemparkan senyuman ke arah Ramadhan


" Mas Rama, makasih sudah datang di acara fashion show aku." Farah langsung mendekati Ramadhan saat acara fashion show itu berakhir.


Ramadhan hanya menganggukkan kepalanya merespon ucapan Farah.


" Oh ya, Mas. Nanti malam ikut dinner bareng teman-temanku, ya?" Farah mengajak Ramadhan untuk menghadiri acara dinner bareng bersama rekan-rekan modelnya.


" Sorry aku nggak bisa, Farah. Besok aku harus kembali ke Jakarta." Ramadhan menolak ajakan Farah.


" Ayolah, Mas. Mumpung Mas ada di Milan." Farah langsung merangkulkan tangannya di lengan Ramadhan berusaha membujuk pria itu.


" Farah, aku lelah. Tolong kamu mengerti! Kamu meminta aku untuk datang, sudah aku turuti. Aku harus istirahat karena besok akan melakukan perjalanan jauh ke Jakarta." Ramadhan berbicara agak sedikit tegas membuat wajah Farah memberengut.


" Aku harus kembali ke hotel. Assalamualaikum ..." Ramadhan segera berpamitan kepada Farah.


" Waalaikumsalam ..." Farah menjawab dengan tidak bersemangat. Apalagi saat Ramadhan berjalan menjauh pergi darinya.


" Aku harus bisa mendapatkan kamu, Mas," tekad Farah dalam hati.


***


Jakarta, dua hari kemudian ...


Drrtt ddrrtt


Anindita menghentikan aktivitasnya merapihkan tanaman hias saat ponsel di dalam sakunya berbunyi dan dengan cepat wanita paruh baya itu mengambil ponselnya.


" Assalamuailkum, Ibu Ida." sapa Anindita saat menerima panggilan masuk dari pemilik toko kue langganannya.


" Waalaikumsalam, Bu Ricky. Ini pesanan kue nya besok mau diantar jam berapa, ya?" tanya Bu Ida dari dalam ponsel Anindita.


" Sebelum Dzuhur saja deh, Bu."


" Oh ya sudah, jam sebelas saya antar ya, Bu Ricky."


" Terima kasih, Bu Ida."


" Eh iya, kalau anaknya Bu Ricky yang paling besar itu sama model ya, Bu?" Tiba-tiba Ibu Ida bertanya soal Ramadhan kepada Anindita.


" Ramadhan maksud Ibu?" tanya Anindita. Dia berpikir jika gosip yang lalu baru ditanyakan Bu Ida sekarang.


" Iya, Mas Rama."

__ADS_1


" Oh, itu hanya gosip, Bu Ida. Kebetulan perusahaan tempat Rama bekerja memakai wanita itu sebagai model untuk apartemen di Bali." Anindita menjelaskan soal gosip yang beredar beberapa waktu lalu.


" Oh gitu ya, Bu? Soalnya berita yang baru saya baca katanya mereka berdua jalan-jalan ke Italia."


Anindita melebarkan bola matanya mendengarkan ucapan Bu Ida soal Ramadhan dan Farah berlibur ke Italia.


" Rama itu sedang ada tugas ke Italia dari pihak kantor kok, Bu." Anindita menepis anggapan Ibu Ida soal Ramadhan dan Farah yang libur bersama.


" Oh begitu ...."


" Iya, Bu."


" Oh ya sudah, saya hanya mau tanyakan kapan kue mau diantar, Bu Ricky. Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam ..." Anindita buru-buru mengakhiri teleponnya karena dia merasa penasaran dengan gosip seputar Ramadhan dan Farah yang tadi disinggung Bu Ida.


" Ta, Thalita ...!" Anindita sengaja memanggil putrinya untuk mengetahui gosip apa yang beredar seputar putranya itu.


" Iya, Ma. Ada apa?" Setelah beberapa saat Thalita keluar dari kamarnya dan mendekat ke arah Anindita.


" Thalita, memang ada gosip apa lagi tentang Mas kamu itu?" tanya Anindita penasaran.


" Gosip apa, Ma?" Thalita balik bertanya.


" Tadi yang punya toko kue langganan Mama kasih tahu, katanya ada gosip Mas kamu sama model itu liburan ke Italia."


" Hah? Mas Rama sama Mbak Farah liburan ke Italia? Pantesan saja Thalita nggak boleh ikut ke sana, ternyata mereka pacaran rupanya." Thalita berkomentar.


" Hush, Mas kamu itu ada tugas di sana," bantah Anindita.


" Tugas sambil liburan, liburan sambil pacaran," celetuk Thalita terkekeh.


" Sudah cepat cari beritanya!" Anindita yang tidak sabar ingin tahu berita apa yang beredar langsung meminta Thalita untuk segera mencari berita itu.


Thalita pun kemudian mencari-cari berita tentang Kakaknya itu. Setelah beberapa akun gosip dijelajahi akhirnya ketemu juga berita yang dimaksud oleh Ibu Ida.


" RSP, salah seorang executive muda PT. Angkasa Raya Group dan model ternama Farah Rose sama-sama kepergok berada dalam satu even fashion week yang diadakan di kota Milan, Italia. Minggu sore waktu setempat. Di even itu terlihat Executive muda itu menghadiri acara pagelaran busana yang diikuti oleh sang model. Sebelumnya mereka berdua menepis anggapan jika mereka memiliki hubungan spesial beberapa waktu lalu. Apa sekarang mereka juga akan membantah kedekatan hubungan mereka setelah ketahuan berada di tempat yang sama secara bersamaan?"


Berita dari akun gosip itu disertai dengan dua buah foto. Satu foto saat Ramadhan dan Farah mengobrol setelah pagelaran acara di mana terlihat Farah merangkulkan tangannya di lengan Ramadhan. Dan satu foto lagi adalah foto ketika mereka berjalan saat mereka berdua hendak mencari restoran saat di gallery. Dua foto di dua tempat berbeda itu yang akhirnya menimbulkan gosip di antara mereka berdua.


***


Anindita mengetuk pintu kamar Ramadhan sebelum akhirnya membuka pintu kamar anaknya itu.


" Kamu belum istirahat, Rama?" tanya Anindita saat anaknya terlihat sedang berbaring dengan tangan berlipat di belakang kepala.


" Kamu belum cerita sama Mama tentang pengalaman kamu selama di Italia, Rama." Anindita menang tidak ingin langsung mengatakan soal Farah dan gosip itu.


" Di sana tempatnya menyenangkan, Ma. Banyak tempat-tempat indah juga," sahut Ramadhan.


" Kamu nggak kesulitan komunikasi di sana dengan arsitek itu?"


" Nggak, Ma. Kebetulan dia punya keponakan yang menguasai bahasa Indonesia jadi Rama nggak kesulitan komunikasi di sana.


" Syukurlah kalau begitu."


" Oh ya, Ma. Mama tahu nggak siapa yang Rama temui di sana?"


Anindita mengeryitkan keningnya, dia menduga jika Ramadhan akan bercerita tentang Farah.


" Siapa memangnya?" Anindita berpura-pura tidak tahu.


" Rayya "


Anindita terkesiap mendengar nama yang disebut oleh Ramadhan bukan orang yang dia duga.


" Rayya? Rayya anaknya ...."


" Om Gavin."


" Oh iya, Mama sempat dengar dari Tante Rara kalau Rayya kuliah di luar negeri. Tapi Mama nggak ingat di mana Rayya kuliah. Ternyata dia kuliah di Milan, ya?" Anindita nampak surprise mendengar Ramadhan bertemu dengan Rayya.


" Bukan di Milan tapi di Roma, Ma." ucap Ramadhan merevisi.


" Lalu kamu bertemu Rayya di Roma?"


" Rama ketemu Rayya di Milan kok, Ma. Di acara pameran lukisannya Kayla."


Wajah Anindita yang tadi nampak senang saat Ramadhan bercerita soal Rayya, kini berubah serius saat Ramadhan menyinggung nama Kayla.


" Kamu bertemu Kayla?"


" Iya, Ma. Om Dirga 'kan menyuruh Rama ketemu sama Om Edo."


Hening

__ADS_1


Beberapa saat mereka saling terdiam tak bersuara.


" Oh ya tadi kamu bilang bertemu Rayya di pameran lukisan ya? Bagaimana kabar dia? Apa dia masih pemalu?" tanya Anindita mencoba mengalihkan perhatian dari pembahasan soal Kayla.


Ramadhan menarik satu ujung bibirnya mengingat sosok Rayya yang dia jumpai di Milan kemarin.


" Kalau Mama lihat dia sekarang, Mama pasti nggak akan percaya."


" Memang kenapa?" tanya Anindita penasaran.


" Penampilannya beda banget sekarang, Ma. Tapi tetap terlihat cantik, sih."


" Berbeda gimana maksudnya? Dia masih berhijab, kan?"


" Masih, Ma. Tapi lebih fashionable dan terlihat sudah lebih percaya diri saat berinteraksi dengan banyak orang."


" Benarkah?"


" Iya benar, Ma."


" Ah, sayang sekali kalian membatalkan rencana perjodohan kalian. Padahal Mama senang sekali kalau punya menantu seperti Rayya." Anindita sepertinya masih menyesali keputusan Ramadhan dan Rayya yang membatalkan rencana perjodohan.


" Ma, sudahlah ... jangan bahas masalah itu lagi." Ramadhan enggan membahas masalah perjodohannya dengan Rayya.


" Oh ya, apa kamu di sana bertemu Farah? Atau kalian janjian pergi ke sana?" selidik Anindita mulai menanyakan tujuan awal dia menemui Ramadhan.


" Mama tahu dari mana Rama bertemu dengan Farah?" Ramadhan terkejut saat Mamanya menanyakan soal Farah.


" Ada gosip terbaru antara kamu dengan Farah." Anindita memberitahukan Ramadhan apa yang dia dengar dari Ibu Ida dan apa yang siang tadi Thalita bacakan dari akun gosip.


" Rama dengan Farah nggak sengaja ketemu di sana, Ma. Farah itu ternyata teman Kayla, dan Kayla mengundang Farah ke pameran lukisannya. Lalu Farah mengundang Rama untuk datang ke acara fashion show Farah. Semua itu nggak direncanakan sebelumnya kok, Ma. Itu hanya suatu kebetulan saja." Ramadhan menjelaskan jika pertemuannya dengan Farah memang tidak terencana olehnya.


" Rama, usia kamu sudah dewasa. Kamu sudah pantas memilih seorang wanita sebagai pendamping kamu. Kalau Kayla tidak menanggapi perasaan kamu, cobalah kamu cari wanita lain yang sreg di hati kamu dan juga bisa dekat dengan keluarga kamu. Tapi kalau Mama boleh meminta, sebaiknya cari wanita yang biasa saja tapi dia punya hati yang baik. Karena jujur saja, Mama kurang cocok kalau kamu dekat dengan Farah." Anindita menyampaikan pendapatnya. Dia secara tidak langsung melarang Ramadhan menjalin hubungan serius dengan putrinya.


" Ma, Rama dan Farah nggak ada hubungan apa-apa, kok!" tepis Ramadhan.


" Lalu apa kamu akan terus mengharapkan cinta Kayla? Sedangkan Kayla sendiri nggak merespon perasaan kamu?" tanya Anindita penasaran.


Ramadhan menghempas nafas kasar.


" Entahlah, Ma. Kemarin di sana Rama bertemu dengan pacar Kayla," ucap Ramadhan dengan nada sedih.


" Rama, Mama rasa kamu harus bisa membuka hati untuk wanita lain, yang juga bisa mencintai kamu." Anindita menasehati Ramadhan.


" Itu sulit, Ma."


" Tidak ada kata sulit, Rama. Kamu tahu? Dulu Mama begitu berkeras hati tidak ingin menikah dengan Papa kamu karena Mama merasa cinta Mama hanya untuk Papa Arya. Tapi berjalannya waktu, dengan ketulusan hati Papamu, semakin lama Mama semakin menyadari begitu besar cinta Papamu ke Mama, hingga akhirnya Mama juga bisa membalas cinta Papamu." Anindita menceritakan sedikit kisah cintanya dengan suaminya sekarang ini.


" Kisah Mama sama Papa itu beda, Ma. Mama bisa menerima dan membuka hati untuk Papa karena Papa Arya sudah nggak ada." Ramadhan bersikukuh jika apa yang dialaminya tidak sama dengan kisah orang tuanya dulu.


" Intinya tetap sama, Rama. Membuka hati untuk orang yang mencintai kita dengan tulus."


" Tapi siapa yang bisa mencintai Rama dengan tulus, Ma? Hampir semua wanita yang mendekati Rama itu lebih melihat fisik dan status ekonomi keluarga kita. Coba kalau kita tidak punya apa-apa, belum tentu mereka-mereka mau dekat dengan Rama," ujar Ramadhan berpendapat


" Karena itu kau carilah wanita seperti Mamamu, Rama!"


Ramadhan dan Anindita tersentak kaget saat mendapati Ricky sudah berdiri menyandar di pintu kamar Ramadhan dengan tangan terlipat di dada.


" Papa ...."


Anindita dan Ramadhan langsung menyapa bersamaan.


" Papa setuju apa yang Mamamu katakan, kamu harus membuka hati pada wanita yang benar-benar mencintai dengan tulus." Ricky lalu melangkah ikut bergabung dengan anak juga istrinya.


" Kalau kamu mau nanti Papa carikan anak teman Papa untuk kamu jadikan istri kamu, Rama." Ricky lalu memberikan usulan.


" Apa Papa berniat menjodohkan Rama lagi? Ayolah, Pa! Ini jaman modern, sudah nggak musim orang tua menjodoh-jodohkan anaknya." Ramadhan dengan cepat menolak rencana dari Papanya yang akan menjodohkan kembalinya kembali.


*


*


*


Bersambung ...


Mohon maaf, karena kemarin sibuk dengan pekerjaan dan sedikit ga enak body jadi ga bisa upšŸ™


Oh ya, kemarin ada yang merasa tidak cocok sama visualnya Michelle yang katanya terlalu dewasa. Sebenarnya dia masih muda 18 tahun, itu hanya make up nya saja mungkin. Aslinya dia imut banget kok. Visualnya itu Deva Cassel anak dari artis cantik Italy, Monica Bellucci



Untuk Visual Rayya pun imut, kalem dan kelihatan sederhana orangnya, makanya aku pakai visualnya Zahra Zubaidah, seorang pelukis muda Indonesia. Kalau ada yang nggak cocok sama Visual yang aku tampilkan itu hanya berdasarkan imajinasi yang ada di otakku dan aku rasa cocok dengan karakter masing². Jadi readers bebas berimajinasi ya😁


__ADS_1


Happy readingā¤ļø


__ADS_2