RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Percikan Api Cemburu


__ADS_3

Setelah selesai dari cafe, Rayya langsung menghampiri Gavin di ruang kerjanya. Dia ingin meminta ijin Daddy nya itu karena dia diundang oleh Farah ke acara Birthday party Farah. Rayya tidak enak menolak permintaan Farah, dia berharap jika Daddy nya akan mengijinkan dia hadir karena acara itu diadakan di hotel milik Daddy itu. Sudah pasti dia akan aman berada di acara Farah meskipun diadakan malam hari.


" Dad, Rayya tadi bertemu teman Kak Kayla waktu mengadakan pameran lukisan beberapa bulan lalu. Dia mengadakan acara birthday party di ballroom hotel Daddy. dan dia ingin mengundang Rayya. Apa Rayya boleh datang, Dad?" tanya Rayya saat dia melihat Daddy nya itu sedang serius di meja kerjanya.


" Kapan acaranya, Baby?" tanya Gavin kemudian.


" Malam ini, Dad."


" Malam ini? Apa itu tidak terlalu mendadak, Baby?" tanya Gavin menatap serius ke arah Rayya.


" Tentu saja tidak, Dad. Dia pasti sudah menyiapkan acaranya itu jauh-jauh hari, cuma Rayya baru siang ini bertemu dia dan dia mengundang Rayya untuk datang." Rayya menjelaskan.


" Baby, kau itu tidak pernah datang ke acara pesta malam hari." Gavin tentu saja tidak dengan mudah memberikan ijin kepada Rayya untuk pergi.


" Dad, acaranya 'kan di hotel ini. Di sini banyak karyawan Daddy yang bisa mengawasi Rayya, kan?"


" Tumben sekali Baby setuju Daddy awasi.?" Gavin terkekeh kecil mendengar ucapan putrinya.


" Maksud Rayya, Rayya di kandang sendiri, apa yang perlu di khawatirkan, Dad?"


" Baby akan pergi denga siapa?"


" Dengan Kak Luigi, karena Rayya dan Kak Luigi yang diundang untuk datang."


" Hmmm, baiklah ... Baby boleh datang ke acara itu, tapi Daddy akan ikut mendampingi Baby ke sana."


Rayya membulatkan matanya saat mendengar Gavin akan ikut mengantar dia ke acara Farah.


" Daddy mau ikut ke acara party itu?"


" Tentu saja, kenapa tidak?" sahut Gavin enteng.


" Dad, Rayya bukan anak kecil yang mesti diantar Daddy nya ke pesta ulang tahun," protes Rayya.


" Daddy tidak akan membiarkan kalian berduaan begitu saja!" Kalimat berduan yang dimaksud Gavin tentu saja adalah Rayya dan Luigi.


" Dad, Rayya di acara pesta, nggak mungkin Rayya hanya berduaan. Lagipula ini 'kan hotel Daddy, kalau Daddy mengkhawatirkan Kak Luigi akan berbuat macam-macam, pegawai Daddy pasti akan menghalangi." Rayya terlihat tidak setuju dengan keputusan Daddy nya.


" Daddy tetap akan ikut dengan Baby!" tegas Gavin.


" Ya sudah, kalau begitu Rayya nggak akan datang! Biar semua teman Rayya berpikiran Rayya itu sombong, tidak mau bergaul sama teman! Biarkan orang menilai Rayya itu nggak punya teman! Assalamualaikum ..." Rayya langsung berpamitan sambil merajuk meninggalkan Gavin di ruang kerjanya.


" Baby, kamu mau ke mana?" Gavin mencoba menghalangi putrinya itu yang pergi keluar ruangannya dengan merajuk.


" Kenapa dia jadi mengambek seperti ini?" tanya Gavin dalam hati merasa heran.


Sementara Rayya langsung menemui supir pribadi dan memintanya untuk mengantar pulang ke rumahnya.


***


Ramadhan baru turun dari mobil saat sampai di rumahnya. Dia meraskan ponselnya bergetar di saku bajunya. Dia mengambil ponselnya dan mengintip siapa yang menghubungi. Namun dia memasukan kembali ponsel itu karena dia mendapati nama Farah lah yang saat itu menghubunginya. Rasanya dia bosan menghadapi wanita itu. Dia menduga jika Farah masih akan berusaha membujuknya terus seperti sebelum-sebekumnya.


" Assalamualaikum." Ramadhan masuk ke dalam rumahnya.


" Waalaikumsalam ..." sahut Ibu ART di rumah orang tua Ramadhan.


" Mama mana, Bi?" tanya Ramadhan.


" Ibu pergi sama Non Talitha, Mas Rama." sahut Ibu ART tadi. " Belanja bulanan." Sebelum Ramadhan menanyakan ke mana Anindita dan Thalita pergi, Ibu ART memberitahukan terlebih dahulu.


" Oh ya sudah, saya ke kamar dulu, Bi." Ramadhan berpamitan kepada Ibu ART.


" Silahkan, Mas."'Ibu ART mempersilahkan.


Ramadhan langsung melepas blazer dan melempar ke atas sofa setelah dia mengeluarkan ponselnya terlebih dahulu. Dia langsung menghempaskan tubuhnya dan memejamkan matanya walaupun dia tidak segera membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


Sementara itu di dalam kamarnya, Rayya sedang berbaring dengan posisi menelungkup. Sejak sampai ke rumahnya sepulang dari hotel Daddy nya, Rayya memilih menyendiri di kamarnya.


" Aku kesal karena selalu diawasi seperti anak kecil begitu oleh Daddy, Kak." curhat Rayya kepada Luigi, saat Luigi mengubungi lewat pesan chat.


" Itu karena Daddy mu terlalu menyayangimu, Rayya. Kamu seharusnya merasa bersyukur. Ada anak yang tidak mendapatkan perhatian dari Daddy nya karena Daddy nya itu sibuk dengan pekerjaan. Daddy mu, biarpun sibuk dengan pekerjaannya, dia masih ingat dan memperhatikanmu, Rayya. Kau tidak boleh merasa kesal atau benci terhadap Daddy mu itu." Luigi mencoba menasehati Rayya agar Rayya tidak berburuk sangka terhadap Gavin.


" Tapi rasanya aku seperti anak kalau diperlakukan seperti ini terus, Kak."


" Sebelum kamu mendapatkan pria yang tepat untuk menjagamu, Daddy mu pasti akan bersikap seperti itu, Rayya. Jika kau tidak ingin terus-terusan diawasi oleh Daddy mu, menikahlah denganku. aku akan menjamin memberikan perlindungan kepadamu, Rayya." Luigi tak melewatkan kesempatan untuk merayu dan membujuk Rayya agar mau menerimanya.

__ADS_1


" Kak, aku masih muda. Aku belum ingin menikah lebih dahulu." Rayya menyahuti apa yang diucapkan Luigi hingga membuat Luigi terkekeh.


" Aku hanya bercanda Rayya."


" Maksud Kak Luigi?"


" Hmmm, maksud aku ... aku hanya bercanda mengajakmu menikah sekarang ini. Aku tahu kamu belum siap untuk melangkah ke arah sana. Tapi percayalah, niat aku untuk menikah denganmu adalah benar-benar serius dan bukan main-main." Luigi mencoba mengklarifikasi ucapannya agar Rayya tidak salah paham dengan ucapannya tadi.


Tok tok tok


" Baby, apa Daddy boleh masuk?"


Suara ketukan pintu dan suara Gavin terdengar dari luar kamar Rayya.


" Kak, sudah dulu, ya! Ada Daddy ku, assalamualaikum ..." Rayya buru-buru menyudahi chatnya dengan Luigi dan dia kembali merebahkan kepalanya di atas bantal karena dia ingin Gavin menganggapnya sedang tidur.


" Baby, kau sudah tidur?" tanya Gavin setelah dia masuk ke dalam kamar Rayya saat melihat putrinya itu berbaring dengan posisi tengkurap.


" Katanya Baby ingin menghadiri birthday party teman Baby, kenapa ini malah tidur?" Gavin duduk di tepi tempat tidur Rayya seraya mengusap kepala Rayya yang pura-pura tidur.


Rayya terdiam tak menjawab pertanyaan Gavin


" Baby marah sama Daddy, ya? Baiklah, kali ini Daddy ijinkan Baby pergi ke party itu dengan Luigi. Kalau acaranya sampai malam, Baby tidur saja di hotel, nanti Daddy suruh pegawai untuk siapkan kamar untukmu. Daddy takut jika kau harus pulang malam-malam, Daddy tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu, Sayang." Gavin terus mengusap kepala Rayya, karena dia menyadari jika putrinya itu marah terhadapnya.


Rayya yang mendengar Gavin memberikannya ijin untuk pergi langsung bangkit dari posisi tidurnya.


" Daddy benar kasih ijin Rayya untuk datang ke party?"


" Tentu saja, Baby. Daddy sudah suruh orang untuk mengawasi kalian di sana."


" Thanks, Dad." Rayya langsung memeluk tubuh Gavin.


" Bersiaplah, Daddy akan mengantarmu hingga hotel."


Rayya mengeryitkan keningnya saat Gavin mengatakan akan mengantarnya.


" Daddy yang mengantar?"


" Tentu saja, kan Daddy sudah katakan jika Daddy khawatir membiarkan Baby sendirian malam-malam. Hanya mengantar saja, tidak akan masuk ke dalam party itu. Ayo bersiaplah! Daddy tunggu di luar." Gavin kemudian bangkit dan keluar dari kamar Rayya.


***


" Ingat yang Daddy katakan, jika terlalu malam sebaiknya kau menginap di sini saja! Tapi jangan ajak Luigi masuk ke kamarmu!" Gavin langsung memberi ultimatum seraya melirik ke arah Luigi di hadapannya.


" Dad ... "


" Tentu saja saya tidak akan melakukan hal itu, Om!" sanggah Luigi cepat.


" Saya titip Rayya, jangan kau apa-apakan dia!" ancam Gavin mengertak.


" Tentu saja, Om. Saya akan menjaga Rayya!" tegas Luigi.


" Dad, Rayya ke ballroom dulu." Rayya langsung berpamitan kepada Gavin.


" Saya permisi dulu, Om. Assalamualaikum ..." pamit Luigi.


." Waalaikumsalam ..." sahut Gavin memperhatikan Rayya dan Luigi yang akhirnya berjalan menjauh.


***


Ramadhan merasa jika suara bunyi telepon berdering dari ponsel yang berasal dari panggilan telepon Farah membuatnya benar-benar merasa terganggu.


Dia ingin menonaktifkan ponselnya namun dia sepintas membaca potongan pesan yang baru saja dikirim Farah kepadanya yang membuat dia tertarik.


" Ada teman Kayla yang pelukis ...."


Ramadhan mengeryitkan keningnya saat membaca sepenggal isi pesan Farah terbaru yang muncul di ponselnya itu. Hingga akhirnya dia penasaran untuk membuka isi pesan keseluruhan yang Farah kirimkan kepadanya


" Ada teman Kayla yang pelukis itu, aku undang ke pestaku, Mas."


" Mas Rama masih ingat nggak? Namanya Rayya, tadi siang aku ketemu dia di rooftop cafe."


" Mas Rama datang dong kemari, please ...."


Ramadhan langsung bangkit mencari kartu undangan yang diletakan Anindita di nakas kamarnya. Ramadhan mencari di mana party itu diadakan. Tentu saja kehadiran Rayya yang membuatnya berubah pikiran, yang awalnya tidak ingin hadir di pesta Farah, menjadi bersemangat hadir di acara itu. Dan Ramadhan baru menyadari jika acara party itu diadakan di hotel milik dari Gavin.

__ADS_1


Ramadhan segera mencuci muka dan mengganti pakaiannya tanpa mandi terlebih dahulu. Secepatnya dia ingin segera sampai di acara party milik Farah.


***


" Hai, Rayya ... terima kasih kamu sudah mau datang ke pesta aku ini." Farah langsung menyambut Rayya saat melihat kehadiran Rayya dan Luigi.


" Happy Birthday ya, Kak. Semoga panjang umur dan sukses selalu." Rayya pun langsung mengucapkan selamat ulang tahun kepada Farah.


" Thanks, Rayya."


" Happy Birthday ..." Kini Luigi yang memberi ucapan selamat.


" Thanks, Luigi."


" Kita nanti harus foto bersama lalu kirim ke Kayla, biar dia iri tidak hadir di sini, Rayya." ucap Farah terkekeh.


" Oh iya, Kak."


" Rayya, sorry ... aku mau menyambut tamu yang lain. Nggak apa-apa 'kan aku tinggal?" Farah berpamitan kepada Rayya dan Luigi, dan Rayya mempersilahkannya.


Waktu sudah hampir jam sembilan. Farah pun sudah melakukan sesi tiup lilin dan pemotongan kue ulang tahun. Walau dia sangat kecewa karena ketidakhadiran Ramadhan, tapi wanita itu tetap berusaha menunjukkan wajah bahagianya di hadapan para tamu undangan.


Sementara sekitar jam sembilan kurang sepuluh menit Ramadhan sampai di hotel milik Gavin. Dengan sedikit berlari dia menuju ke arah ballroom setelah sebelumnya dia menanyakan kepada pegawai hotel di mana letak ballroomnya.


Ramadhan mengedar pandangan saat masuk pintu ballroom. Tentu saja yang dia cari adalah wanita yang mengenakan hijab di antara banyaknya tamu yang hadir di sana.


" Mas Rama? Mas Rama akhirnya datang juga ..." Farah yang melihat kehadiran Ramadhan langsung berjalan mendekati Ramadhan. Sudah pasti Farah yang menjadi tokoh central dalam acara itu tak pernah lepas dari jepretan sang pencari berita, termasuk saat dia berjalan menghampiri Ramadhan.


Rayya yang sedang berbincang dengan Luigi hampir saja terjatuh saat beberapa wartawan berlari mengikuti langkah Farah hingga menabrak Rayya hingga Rayya kehilangan keseimbangan.


" Hei, hati-hati jika berjalan!" Luigi yang sempat menahan tubuh Rayya agar tidak terjatuh langsung memarahi para pencari berita itu.


" Oh, maaf-maaf, Mbak." sahut wartawan itu.


" Sudah tidak apa-apa, Kak." Rayya mencoba menenangkan Luigi yang nampak emosi. Dia lalu menoleh ke arah wartawan itu berlari, mencari tahu apa yang membuat para wartawan itu terburu-buru. Dan bola matanya seketika membulat saat dia melihat Farah berjalan dengan menggandeng lengan sosok pria yang sangat dia kenal layaknya sepasang pengantin yang sedang berjalan menuju altar di bawah kilatan blitz kamera wartawan.


Pemandangan di hadapan Rayya itu seketika membuat dadanya bergemuruh. Sikap Farah yang terlihat melingkarkan tangannya di lengan Ramadhan menandakan jika hubungan dua orang itu tidaklah biasa-biasa saja. Apalagi saat dia melihat senyum merekah di bibir Farah yang nampak begitu bahagia atas kehadiran Ramadhan, membuat hatinya seakan terpercik api cemburu.


" Wah, Mbak Farah sama Mas ini, sepertinya bukan hanya sekedar gosip-gosip saja seperti yang beritakan kemarin, deh." Salah seorang wartawan berkomentar melihat kedekatan Farah dan Ramadhan.


" Kami memang berteman baik, permisi." jawab Farah seraya terus menarik Ramadhan agar mengikuti langkahnya. Farah tidak memperdulikan Ramadhan yang nampak tidak nyaman dengan sikapnya itu.


" Hai, Rayya. Kamu masih ingat Mas Rama, nggak? Dulu kalian pernah bertemu di Milan juga, kan? Mas Rama ini teman Kayla juga."


Ramadhan terperanjat saat Farah membawa dia ke arah Rayya, dan dia pun semakin membelalakkan matanya saat mendapati Luigi yang berdiri di samping Rayya.


" Mas Rama masih ingat Rayya, kan? Teman pelukisnya Kayla." Farah kini bertanya kepada Ramadhan yang langsung serba salah di hadapan Rayya.


" Rayya?"


" Hai, Kak Rama ..." Rayya mencoba bersikap normal di hadapan Ramadhan. Dia sama sekali tidak ingin menunjukkan jika saat ini dia merasa kecewa, sakit hati dan cemburu di hadapan semua orang.


" Hai, Ramadhan. Kita bertemu lagi." Luigi kini menyapa Ramadhan, membuat Ramadhan menoleh ke arah Luigi.


" Lho, kalian sudah saling kenal?" tanya Farah heran karena Luigi menyapa Ramadhan.


" Tentu saja, kemarin kami bertemu di mall." Luigi menyahuti.


" Lho, Mas Rama sudah bertemu dengan Rayya sebelumnya?" tanya Farah terkejut.


Ramadhan tak berminat membalas ucapan Farah, dia lebih terfokus menatap wajah Rayya yang terlihat enggan menatap lama ke arahnya.


" Hmmm, Kak Farah, sepertinya aku nggak bisa lama di sini. Aku pamit pulang saja, ya." Rayya memilih pergi dari acara Farah, karena dia rasanya tidak sanggup melihat Farah yang menempel seperti itu terhadap Ramadhan.


Entahlah seperti apa rasanya hati Rayya terhadap Ramadhan saat ini. Pria itu memintanya diberi kesempatan, namun malam ini dia melihat jika Ramadhan terlihat sangat akrab bahkan Farah bersikap sangat mesra terhadap Ramadhan. Lantas bagaimana Ramadhan bisa memintanya untuk memberi kesempatan kepada pria itu agar bisa mencintai dirinya?


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2