
Hari ini Rayya bersama teman-temannya melaksanakan graduation day setelah tiga tahun menimba ilmu di Italia. Rasa bahagia, haru dan sedih bercampur menjadi satu yang terpancar di wajah para wisudawan. Bahagia dan haru karena akhirnya mereka bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu selama tiga tahun namun mereka juga sedih karena harus berpisah dengan teman-teman, dosen dan juga lingkungan yang mereka anggap sebagai keluarga kedua.
Setelah acara wisuda selesai, Rayya, Simone, Donna dan Monica memilih berfoto di Colloseum sebagai salah satu tradisi dari acara wisuda di Italia karena mereka kuliah di kota Roma.
" Mi mancherete tutti voi, raggazi." ( Aku akan merindukan kalian semua ) ucap Simone saat mereka berempat saling merangkul hingga membentuk lingkaran. Sementara ketiga wanita yang lain menangis tersedu sewajarnya para wanita jika harus berpisah dengan sahabat-sahabatnya.
" Con Simone e Donna posso ancora incontrarmi. Ma con Rayya, sarà difficile incontrarsi." ( Dengan Simone dan Donna aku masih bisa bertemu. Tapi dengan Rayya, aku akan sulit untuk bertemu ) ucap Monica terbata karena masih tersedu-sedu.
" Dobbiamo risparmiare per andare in Indonesia." ( Kita harus menabung agar bisa ke Indonesia ) Donna menimpali.
" Se vuoi visitare l'Indonesia, dillo e basta. Più tardi dirò a mio padre di preparare i biglietti e l'alloggio per voi ragazzi." ( Kalau kalian ingin berkunjung ke Indonesia, katakan saja. Nanti aku akan suruh ayahku untuk menyiapkan tiket dan akomodasi untuk kalian )
" Sei serio?" ( Kamu serius ) tanya Donna dan Monica bersamaan dengan bola mata membulat.
" Si sono serio." ( Iya aku serius ) sahut Rayya
" Tuo padre è davvero ricco, Rayya!" ( Ayahmu benar-benar kaya raya, Rayya ) Donna berdecak kagum saat Rayya mengatakan jika akan menyiapkan tiket dan akomodasi untuk mereka jika dia, Monica dan Simone akan berkunjung ke Indonesia.
" Questo è certo, lo zio Gavin ha diversi hotel famosi in Indonesia." ( Yang pasti, Om Gavin punya beberapa hotel ternama di Indonesia ) Simone yang menjelaskan siapa ayah dari Rayya.
" Rayya, ayo kita makan! Ajak temanmu sekalian." Gavin yang melihat keempat sahabat itu masih asyik dengan obrolan mereka lalu memanggil Rayya untuk makan bersama.
***
Malam harinya, Luigi mengundang keluarga Gavin untuk makan malam bersama keluarganya di salah satu restoran. Ini bukan pertama kalinya Gavin bertemu dengan keluarga Luigi, karena setengah tahun lalu saat Gavin mengunjungi Rayya di Roma, Luigi sempat mengenalkan orang tuanya kepada Gavin.
" Congratulazioni per la tua laurea, Rayya." ( Selamat atas kelulusanmu, Rayya ) ucap Clarissa, Mama dari Luigi.
" Grazie, Zia Clarissa." sahut Rayya.
" Ci auguriamo che dopo questo il rapporto tra Luigi e Rayya possa continuare a un livello più serio." ( Kami berharap setelah ini hubungan antara Luigi dan Rayya dapat berlanjut ke tingkat yang lebih serius ) ucap Aldo, Ayah dari Luigi.
Deg
Perkataan Aldo membuat Rayya harus menelan salivanya. Dia lalu melirik ke arah Luigi yang juga menoleh ke arahnya.
" Papà, ti prego, non parlarne adesso!" ( Papa, jangan bicarakan hal itu sekarang ) Luigi langsung menegur Aldo yang mulai membicarakan soal hubungan Rayya dan Luigi.
" Come mai? Per inciso, ci sono i genitori di Rayya. Papà pensa che questo sia un buon momento per parlarne. Non vuoi sposare velocemente Rayya?" ( Mengapa? Kebetulan di sini ada orang tua Rayya. Papa rasa ini waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini. Bukanlah kau ingin cepat menikah dengan Rayya ) tanya Aldo yang merasa tidak ada yang salah dengan pernyataannya tadi.
Rayya menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan mendengar perdebatan antara Luigi dan Papanya. Inilah yang sebenarnya masih dia takutkan. Saat ini usianya baru melewati dua puluh satu tahun sementara Luigi sudah menginjak tiga puluh satu tahun. Pastilah kedua orang tua Luigi ingin segera melihat Luigi menikah.
Sementara Gavin yang tak mengerti apa yang dibicarakan antara Luigi dan orang tuanya hanya mengamati ekspresi wajah-wajah mereka. Dan saat dia melirik ekspresi wajah Rayya yang nampak seperti tidak nyaman membuat dia menduga jika yang dibicarakan oleh Luigi dan Papanya adalah hal yang mengganggu pikiran putrinya itu.
***
" Baby, sebenarnya apa yang dibicarakan oleh Luigi dan Papanya tadi?" Dalam perjalanan kembali ke hotel, Gavin yang merasa penasaran dengan obrolan Luigi dan orang tuanya langsung bertanya kepada Rayya.
" Bukan apa-apa, Dad." Rayya mencoba menyembunyikan apa yang membuat hatinya gelisah.
" Baby, kau tidak bisa membohongi Daddy. Hal itu pasti sedang mengganggu pikiranmu saat ini, kan?" Gavin meminta Rayya untuk terbuka kepadanya.
" Memangnya apa yang dibicarakan Luigi dan Papannya sih, By?" Azzahra ikut penasaran.
" Kalau aku tahu apa yang tadi dibicarakan mereka, aku tidak mungkin bertanya kepada Baby sekarang ini, Honey."
" Oh, iya ..." Azzahra terkikik seraya menutup mulutnya. " Ya sudah, kamu ceritakan kepada Daddy dan Mommy, apa yang dibicarakan tadi sampai membuat Rayya gelisah?" Kini Azzahra yang meminta Rayya untuk berkata sejujurnya
Rayya menarik nafas lebih dahulu sebelum dia mengatakan apa yang membuat hatinya merasa tak tenang.
" Orang tua Kak Luigi tadi bicara soal rencana pernikahan Rayya dengan Kak Luigi, Mam. Om Aldo ingin secepatnya pernikahan itu dilaksanakan." Akhirnya Rayya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dalam percakapan antara Luigi dan Papanya.
" Daddy tidak setuju kamu cepat-cepat menikah, Baby." Gavin pun menentang keinginan Papa Luigi.
" Memang kenapa, By? Kalau Rayya memang sudah siap tidak ada salahnya, By. Usia Rayya sudah dua puluh satu tahun. Usia yang sudah cukup untuk menikah. Lagipula Luigi itu pria yang baik kenapa Hubby mesti menghalangi mereka?" Azzahra berbeda pendapat dengan Gavin dalam hal ini.
__ADS_1
" Honey, aku belum puas menikmati kebersamaan dengan putri kita. Tiga tahun dia berpisah dari kita karena harus sekolah di Italia. Kalau dia menikah cepat, artinya kita akan berpisah lagi dengan putri kita, Honey."
" Tapi Luigi sudah janji tidak akan membawa Rayya ke Italia 'kan, By? Luigi yang berjanji akan pindah ke Jakarta ini."
" Walaupun Luigi pindah ke Jakarta ini, jika mereka menikah belum tentu mereka mau tinggal bersama kita. Kau sendiri sejak menikah denganku tidak tinggal serumah lagi dengan orang tuamu 'kan, Honey?" Gavin menjelaskan kepada Azzahra kenapa tidak menyetujui Rayya menikah cepat.
" Setidaknya tunggulah dua atau tiga tahun lagi baru aku akan menyetujui Baby untuk menikah," lanjut Gavin.
" Tapi kalau Luigi nggak mau menunggu selama itu gimana, By? Kalau akhirnya dia meninggalkan Rayya dan memilih wanita lain yang siap menikah dengannya, kan sayang harus melepas calon menantu seperti Luigi." Azzahra yang sudah terlanjur menyukai sosok Luigi merasa khawatir Luigi akan berpaling dari Rayya.
" Jika Luigi benar-benar menginginkan Baby, dia pasti akan bersedia menunggu, Honey. Jika dia menyerah, berarti dia memang bukan jodoh putri kita," ujar Gavin.
Sementara kedua orang tuanya berdebat, Rayya lebih banyak terdiam. Karena seperti yang dikatakan Gavin jika dia merasa tak tenang dengan permintaan orang tua Luigi tadi.
***
" Rayya, aku minta maaf atas perkataan papaku semalam." Keesokan harinya saat mengajak Rayya berbicara di luar Luigi menyampaikan permohonan maafnya.
" Kak Luigi nggak perlu meminta maaf. Aku yang sebenarnya yang harus minta maaf karena belum bisa memenuhi keinginan orang tua Kak Luigi itu." Rayya merasa jika dialah yang bersalah di sini.
" Kak, jika ada wanita lain yang orang tua Kak Luigi persiapkan untuk menjadi pendamping Kak Luigi, aku bisa menerima itu, Kak. Aku nggak ingin menjadi penghalang untuk kebahagian Kak Luigi dan keluarga Kak Luigi." Rayya seperti patah semangat dengan hubungan bersama Luigi karena orang tua Luigi yang mendesak untuk segera menikah.
" Kamu bicara apa, Rayya?" Luigi nampak terkejut dengan ucapan Rayya.
" Aku belum siap untuk menikah sekarang, Daddy aku juga tidak mengijinkan aku menikah dalam waktu dekat ini. Mungkin sekitar dua atau tiga tahun ke depan restu Daddy baru bisa didapat dan aku siap melangkah ke arah sana." Rayya tidak ingin bersikap egois dengan memaksa Luigi untuk menunggunya.
" Aku akan siap menunggumu, Rayya. Kapanpun kau bersedia, aku akan tetap menunggumu."
" Lalu orang tua Kak Luigi bagaimana?"
" Kau tak perlu khawatirkan tentang itu. Yang akan menjalani itu aku bukan mereka. Jadi kamu tidak usah memikirkan apa yang dikatakan Papaku semalam." Luigi meyakinkan Rayya agar percaya kepadanya bahwa dia akan setia menunggu Rayya sampai wanita itu siap dinikahi olehnya.
" Terima kasih atas pengertian Kak Luigi." Sesungguhnya Rayya benar-benar merasa beruntung dicintai pria seperti Luigi yang nampak dewasa dalam bertindak dan berpikir.
" Kak Luigi masih bisa video call kalau Kak Luigi kangen aku." Rayya mengusap lengan Luigi yang saat itu mengenakan kemeja lengan panjang.
" Atau aku bisa ke Jakarta menemuimu."
" Jangan terlalu sering membuang uang untuk pulang pergi ke Jakarta, Kak!" Biaya tiket pesawat yang harus dikeluarkan yang dikhawatirkan oleh Rayya jika Luigi terlalu sering menemuinya di Jakarta.
" Demi untuk bertemu dengan pujaan hatiku, aku rasa itu tidaklah masalah."
" Tapi aku lebih suka Kak Luigi menyimpannya untuk keperluan di masa mendatang."
" Keperluan di masa mendatang saat kita sudah menjadi suami istri?"
Rona merah langsung membias di pipi Rayya saat Luigi mengatakan jika mereka kelak menjadi suami istri.
***
Sejak kepulangan ke Indonesia, Rayya banyak menghabiskan waktu untuk mengeksplore keindahan alam Indonesia untuk menjadi objek lukisannya. Dan tanpa sepengetahuan Rayya, Gavin telah membuatkan sebuah gallery seni untuk Rayya selama kepergian Rayya melintasi Nusantara.
Di lahan yang cukup luas, Gavin mendirikan bangunan itu untuk wadah bagi Rayya memamerkan hasil karyanya yang bisa dinikmati semua orang peminat seni lukis. Bagi seorang Gavin Richard, hanya sekedar membuat galeri seni bukanlah perkara sulit. Galeri seni yang dibangun senyaman mungkin bagi pengunjung diharap akan menyerap banyak peminat seni yang akan datang ke galeri itu. Apalagi galeri itu rencananya akan dibuka untuk umum setiap hari.
Satu tahun berlalu tanpa terasa. Waktu Rayya di Indonesia lebih banyak berada di luar Jakarta. Finansial Gavin yang cukup kuat menunjang keinginan Rayya untuk mengunjungi setiap belahan bumi Nusantara dari ujung barat sampai ke ujung timur. Hingga kini sudah ratusan lukisan yang dia hasilkan selama perjalanan setahun di Indonesia ini setelah lulus dari kuliah di luar negeri.
" Assalamualaikum, Mom." Rayya berlari memeluk Azzahra yang sudah menyambutnya di depan pintu karena Rayya akhirnya pulang kembali ke Jakarta setelah perjalanan berkeliling Indonesia.
" Waalaikumsalam, akhirnya kamu pulang juga, Rayya. Mommy harap kamu jangan pergi-pergi lagi meninggalkan Mommy dan Daddy. Mommy kangen sama kamu, Rayya." Azzahra mencium seluruh bagian wajah putrinya itu.
" Rayya juga kangen Mommy dan Daddy. Rayya janji setelah ini, Rayya tidak akan pergi jauh dan lama meninggalkan Mommy dan Daddy." Rayya kembali memeluk tubuh Azzahra untuk melepas rasa kangen itu.
" Daddy di kantor ya, Mom?" tanya Rayya kemudian.
" Iya, sekarang ini kamu istirahat dulu. Nanti malam Daddy akan mengajak kita makan malam di luar untuk menyambut kedatangan kamu."
__ADS_1
" Rayya ingin menemui Kia dulu, Mom." Rayya menatap sedih ke arah Azzahra. " Rayya nggak sangka Kia akan mengalami hal itu." Rayya memang diberi kabar oleh Azzahra tentang sesuatu yang menimpa Azkia.
" Kia nggak ada di sini, Rayya."
" Lalu di mana, Mom? Apa Kia kabur?" Rayya seketika cemas saat Azzhara mengatakan Azkia tidak berada di rumahnya.
" Sekarang ini Kia sedang di rumah Neneknya di Bandung." Azzahra menjelaskan.
" Lalu siapa yang melakukan hal itu kepada Kita , Mom? Apa orangnya belum diketemukan? Apa Daddy nggak bisa minta bantuan orang untuk menyelidikinya, Mom?" Rayya yang tahu jika Gavin mempunyai orang kepercayaan yang bisa menyelidiki kasus-kasus merasa heran jika Daddy nya itu tidak dapat membantu Azkia.
" Masalahnya Azkia tutup mulut dan dia tidak ingin orang itu bertanggung jawab atas perbuatannya, Rayya."
" Kenapa bisa begitu, Mom? Orang itu sudah berbuat, harusnya dia mau bertanggung jawab." Rayya merasa kesal, dia semakin penasaran tentang siapa orang yang telah berbuat sesuatu hal yang buruk kepada sepupunya itu.
" Lalu hubungan Rayya dengan Kak Gibran bagaimana, Mom? Kak Gibran pasti kecewa dengan apa yang terjadi pada Kia, ya?"
" Gibran ingin membantu, tapi Kia menolak."
" Ya ampun, kenapa jadi rumit sekali masalah Kia ya, Mom? Uncle Yoga sama Auntie Tata masih sedih sekali."
" Itu sudah pasti, Rayya. Apalagi Auntie kamu, nangis terus setelah tahu apa yang terjadi dengan Kia. Makanya Daddy menyuruh kamu cepat-cepat pulang, karena Daddy khawatir terhadap kamu, Rayya."
" Iya Rayya mengerti, Mom."
" Ya sudah sekarang kamu istirahat dulu ke atas."
" Iya, Mom." Rayya pun akhirnya berjalan menuju arah kamarnya. Rasa senang bertemu keluarganya sedikit terusik dengan hal yang menimpa sepupunya itu.
Sementara itu di kantor Angkasa Raya ...
" Kau benar-benar akan memutuskan bertunangan dengan Farah, Rama?" tanya Dirga saat Ramadhan berada di ruangan kerja bos dari Angkasa Raya itu.
Ramadhan menghela nafas panjang terlebih dahulu.
" Ya, Farah menginginkan itu, Om. Selama ini Farah baik sama Rama. Hampir dua tahun ini dia menunjukkan keseriusannya jika dia mencintai Rama, Om. Aku rasa tidak adil jika aku tidak memberi kesempatan kepada dia. Lagipula sejauh ini, hanya Farah yang bisa bertahan denganku," ucap Ramadhan menjelaskan keputusan untuk bertunangan dengan Farah.
" Om hanya bisa mendoakan semoga kamu bahagia dengan keputusan dan pilihan kamu ini." Dirga menyahuti.
" Terima kasih, Om."
" Oh ya kapan rencananya pertunangan kalian dilaksanakan?"
" Minggu depan, Om."
" Oke, apa yang bisa Om bantu untuk kalian?"
" Tidak usah, Om. Semua sudah kami handle."
" Okelah kalau begitu, kau boleh keluar sekarang."
" Baik, Om. Permisi ..." Ramadhan pun berpamitan keluar dari ruangan kerja Dirga.
*
*
*
Bersambung ...
Teruntuk readers harap bersabar, di bab awal udah dijelasin siapa Farah. Jadi aku ga mungkin melewatkan begitu saja acara pertunangan Farah dan Rama, Ga mungkin dirubah apa yang yang sudah diplanning dari awal. Kalau ada readers yang merasa jenuh, bosan dengan kisah yang berliku Rayya dan Rama dan ingin meninggalkan kisah ini, itu hak masing² readers dan aku nggak bisa memaksa readers untuk tetap terus membaca. Mungkin aku hanya bisa bilang menulis cerita itu tidak semudah membaca cerita. Butuh ide, butuh waktu, butuh mood yang baik. Dua hari kemarin aku ga up karena benar-benar merasa jenuh dan sedikit kecewa dengan pihak PF, tapi aku tetap berusaha melanjutkan cerita dan tidak meninggalkan kisah begitu saja dengan menggantung. Jadi mohon pengertiannya.
Terima kasih untuk Readers yang tetap bertahan dan selalu memberi dukungan 🙏
Happy Reading ♥️
__ADS_1