RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Memperbaiki Keturunan


__ADS_3

" Rama, setelah Maghrib kita akan ke rumah Tuan David untuk mengikuti acara tahlilan." Ricky memasuki ruang kerja anaknya, Ramadhan yang terlihat masih sibuk dengan pekerjaannya. Setelah kembali dari pemakaman Dad David, Semua personil Angkasa Raya Group seperti Dirga, Ricky dan juga Ramadhan kembali ke kantor masing-masing.


" Baik, Pa." Ramadhan dengan cepat menyahuti apa yang diperintahkan oleh Papanya itu.


" Ya sudah, Papa pulang lebih dulu." Ricky berpamitan kepada Ramadhan.


" Iya, Pa. Rama sebentar lagi selesai." Ramadhan yang memang belum menyelesaikan tugasnya mempersilahkan Papanya untuk terlebih dahulu pulang.


Setengah jam kemudian Ramadhan mulai membereskan meja kerjanya, namun ponselnya tiba-tiba saja berbunyi hingga membuat pria itu meraih benda pipih itu.


" Assalamualaikum ..." sapa Ramadhan menjawab panggilan masuk di teleponnya.


" Waalaikumsalam. hai Mas Rama apa kabar?" Ternyata Farah lah yang menghubunginya.


" Ada apa Farah?" tanya Ramadhan.


" Mas Rama sedang sibuk kah?"


" Aku masih di kantor. Ada apa?" Untuk kedua kalinya Ramadhan menanyakan keperluan Farah yang sore ini tiba-tiba menghubunginya.


" Mas, besok malam ada acara nggak? Aku diundang untuk acara gala dinner salah suatu bank swasta besok malam. Aku mau ajak Mas Rama kalau Mas Rama ada waktu " Farah berencana mengajak Ramadhan menjadi pendampingnya di acara gala dinner tersebut.


" Maaf, Farah. Sepertinya aku nggak bisa." Ramadhan menolak ajakan Farah.


" Memangnya Mas Rama ada acara ya?" tanya Farah penasaran akan alasan Ramadhan menolaknya.


Tok tok tok


Sementara itu terdengar suara pintu ruangan kerja Ramadhan diketuk hingga membuat Ramadhan menolehkan wajahnya ke arah pintu.


" Maaf Mas Rama, tadi Pak Ricky telepon saya suruh mengingatkan Mas Rama agar pulang segera sebelum Maghrib." Susan, sekretaris Dirga yang ruangan kerjanya tepat di depan ruang kerja Ramadhan terlihat muncul dari balik pintu menyampaikan pesan yang dititipkan Ricky kepadanya.


" Oh, makasih. Mbak Susan." Ramadhan dengan cepat menyahuti.


" Mas Rama bicara dengan siapa?" tanya Farah yang mendengar suara wanita dan dia juga merasa Ramadhan menyebut nama seorang wanita.


" Oh itu sekretaris Om Dirga," sahut Ramadhan menjelaskan posisi Susan di perusahaan itu.


" Jadi gimana, Mas Rama bisa nggak?" Farah nampak penuh harap.


" Hmmm, maaf Farah. Besok aku harus menghadiri acara tahlil keluarga Opa David Richard." Ramadhan memang diajak untuk datang di acara tahlil Dad David oleh Papanya malam ini, tapi dia tidak berencana untuk menghadiri acara itu di malam kedua. Namun dia memakai alasan itu untuk menolak Farah.

__ADS_1


" Mas Rama nggak suka ya kalau pergi-pergi sama aku? Setiap aku ajak pergi, Mas Rama selalu saja menolak." Farah merasa jika Ramadhan selalu menghindar jika dia mengajaknya pergi.


" Kenapa kamu berpikiran seperti itu, Farah? Aku menolak karena aku punya alasan yang kuat." Ramadhan berkelit dikatakan sengaja menghindar.


" Opa David Richard itu konglomerat yang kemarin sore meninggal, kan? Mas Rama kenal sama Opa David Richard?"


" Iya, beliau salah satu relasi bisnis Angkasa Raya sejak Angkasa Raya dipegang oleh Kakek Poetra."


" Relasi bisnis Angkasa Raya? Berarti Om Ricky juga kenal sama Opa David Richard?


" Iya, kenapa?"


" Om Ricky datang ke acara tahlil juga?"


" Iya."


" Kalau Om Ricky hadir kenapa nggak diwakilkan saja dengan Om Ricky? Kenapa harus hadir dua-duanya sih, Mas?" protes Farah.


" Farah, kedekatan dengan keluarga Opa David bukan hanya sekedar relasi bisnis semata. Keluarga aku sama keluarga Om Gavin, anak dari Opa David bersahabat dekat, bahkan sampai ke cucunya pun bersahabat. Anak-anak Papa dan Mama berteman baik dengan cucu dari Opa David. Kamu ingat Rayya? Teman Kayla yang ikut pameran lukisan waktu itu kamu jumpa di Milan? Rayya itu cucu dari Opa David. Jadi bagaimana mungkin aku tidak ikut berempati dengan musibah yang sedang mereka hadapi?" Ramadhan merasa tidak setuju dengan pendapat dari Farah yang seolah menyepelekan hubungan kekeluargaan yang menurutnya pun sangat penting. Nama besar David Richard dan juga Poetra Laksmana sama-sama berpengaruh kuat dalam sektor bisnis di negara ini.


" Aku nggak bermaksud menyuruh kamu nggak berempati, Mas. Aku hanya meminta untuk besok biar Om Ricky saja yang mewakili." Farah bersikukuh dengan pendapatnya.


" Farah, maaf. Aku harus pulang karena aku harus sampai rumah sebelum Maghrib. Assalamualaikum ..." Ramadhan segera mematikan hubungan teleponnya tanpa menunggu Farah menyetujui dan membalas ucapan salamnya.


***


Gavin mendapati Rayya yang melamun di atas balkon kamarnya di rumah utama milik Dad David.


" Baby ..." Gavin kemudian melingkarkan tangannya ke pinggang ramping putrinya dan mengecup pucuk kepala putrinya yang tertutup hijab itu.


" Dad ..." Rayya langsung memutar tubuhnya dan memeluk tubuh Gavin. " Rayya kangen Grandpa ..." Rayya langsung terisak di pelukan Daddy nya itu.


" Bukan hanya Baby yang kangen Grandpa, semuanya juga merasa kangen. Semua juga merasa kehilangan Grandpa." Gavin pun memeluk erat tubuh putrinya.


" Kenapa Grandpa meninggal, Dad? Seminggu lalu Rayya masih sempat video call sama Grandpa dan Grandpa masih nampak sehat, Dad."


" Grandpa mu itu sudah waktunya istirahat, Baby. Sejak muda Grandpa selalu bekerja hingga berhasil seperti sekarang ini yang dapat dinikmati oleh anak dan cucu Grandpa. Jadi sekarang ini Grandpa sudah saatnya beristirahat dengan tenang."


" Dad, Rayya menyesal memutuskan kuliah di luar negeri. Rayya nggak bisa menghabiskan waktu bersama Grandpa di akhir usia Grandpa, Dad. Hiks ..." Rayya memang terus menyalahi dirinya dan keputusannya meninggalkan Jakarta hingga dia melewatkan waktu yang mestinya bisa dia lewatkan bersama Dad David.


" Kenapa Baby bicara seperti itu? Grandpa bangga lho, kemarin itu Baby ikut mengadakan pameran lukisan dan dilihat banyak orang." Gavin terus berusaha membesarkan hati Rayya.

__ADS_1


" Tapi waktu berharga Rayya bersama Gradpa hilang, Dad. Rayya nggak mau lanjut kuliah di sana, Dad. Rayya mau di sini saja biar tiap saat bisa mengunjungi makam Grandpa." Semangat Rayya melanjutkan kuliah seolah memudar, bahkan keindahan pesona Italia yang membuatnya jatuh cinta seolah hilang karena dia telah kehilangan seseorang yang sangat disayanginya.


" Kenapa begitu? Grandpa tidak akan senang jika kamu putus asa seperti ini, Baby."


" By, Rayya ... kalian sedang apa?" Azzahra tiba-tiba sudah berada di kamar Rayya di rumah Dad David itu. " Kalian sedang apa? Sebentar lagi masuk waktu Maghrib, ayo kita siap-siap sholat berjamaah. Sudah ditunggu sama Eyang di bawah." Azzahra lalu menghampiri putrinya dan masih melihat wajah sendu Rayya dengan mata sembabnya " Anak Mama jangan menangis terus. Yang sudah pergi jangan ditangisi, tapi harus didoakan agar jalannya semakin lapang di sana." Azzahra kini ikut menasehati Rayya.


" Mommy, Rayya sedih ..." Kini Rayya berpindah memeluk Mommy nya.


" Semua juga sedih Rayya, tapi kita sebagai orang yang beriman harus mengikhlaskan apa yang menjadi ketetapan Allah SWT." nasehat Azzahra kembali.


" Grandpa sudah pergi, tapi Eyang Abdullah masih ada, kan? Jadi Baby masih punya Grandpa." Gavin kini memeluk dua wanita paling berharga dalam hidupnya itu.


" Daddy mu benar Rayya. Sekarang Rayya harus semakin sayang dengan Eyang." Azzahra ikut menimpali. " Sudah ayo kita turun ke bawah." Azzahra pun mengajak suami dan anaknya itu turun untuk menunggu waktu Maghrib dan melakukan sholat berjamaah.


***


Acara tahlilan hari pertama Dad David berjalan dengan khidmat. Ramadhan duduk di barisan berjejer dengan Ricky, Dirga dan juga Yoga. Sedangkan Gavin, Willy dan kedua suami dari adik Gavin beserta Andra berada di sisi kanan dan kiri Pak Kyai yang memimpin tahlil.


Setelah mereka membaca doa-doa, para tamu berbincang santai sembari menikmati hidangan Snack yang disuguhkan. Sementara Ricky, Dirga dan Yoga berbincang. Mata Ramadhan mengedar ke arah bagian dalam ruangan, di mana terlihat para wanita dari yang muda dan paruh baya hingga usia lanjut yang sedang berbincang. Pandangannya kini bertumpu pada seorang wanita yang sedang duduk dengan menunduknya wajahnya ke bawah dan menyadarkan tubuhnya ke dinding. Sesekali wanita itu menghapus air mata dengan sapu tangannya, dan Ramadhan mengenali siapa wanita yang sedang menangis itu.


Sedangkan yang diperhatikan tidak menyadari jika saat itu sepasang mata sedang serius mengawasinya dengan lekat. Dia justru sibuk larut dalam kedukaannya.


" Cucu Enin jangan menangis saja atuh, Geulis." Umi Rara yang melihat cucunya itu nampak sedih langsung mengusap pundak Rayya.


Rayya menoleh ke arah Umi Rara, dia lalu merangkulkan lengannya ke pundak wanita yang sudah berusia di atas tujuh puluh tahun namun masih nampak sehat.


" Rayya sedih, Nin." Rayya bermanja pada Umi Rara.


" Banyak memanjatkan doa kalau Rayya sedih dan kangen sama Grandpa kamu." Siapapun akan memberikan nasehat seperti itu kepada Rayya.


" Lihat ini wajah cucu Eyang yang cantik begini. Matanya sampai sembab, nggak kelihatan bola matanya. Nanti nggak bisa lihat pria-pria ganteng kalau matanya tertutup gitu. Kata Mommy kamu, Di sana Rayya teman pria nya ganteng-ganteng. Sok atuh kenalin ke Enin. Siapa tahu kita bisa memperbaiki keturunan. Dulu Mommy kamu sudah memperbaiki keturunan dengan mendapatkan suami kaya raya. Kalau kamu sama pria bule, Enin nanti bisa punya cicit blasteran bule, pasti gantengnya nggak ketulungan." Umi Rara terkikik seraya menutup mulutnya membuat Rayya mau tidak mau ikut menarik sudut bibirnya ke atas mendengar ucapan Neneknya itu. Dia pun langsung melempar pandangan sembarang dan tanpa terduga kini tatapannya mengarah kepada Ramadhan yang saat itu pun masih terus mengamatinya, hingga kini kedua insan itu saling pandang dengan jarak yang kurang dari sepuluh meter.


*


*


*


Bersambung ...


Mohon maaf karena belum fit dan juga di RL masih agak riweh sama pekerjaan jadi up nya telat2 terus. Makasih 🙏

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2