RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
When Rayya Meet Rama


__ADS_3

" Grazie per essere venuti, signore e signori. per favore se vuoi vedere altri dipinti." ( Terima kasih atas kehadiran Tuan dan Nyonya di sini, silahkan jika ingin melihat lukisan lainnya ) Rayya menangkup kedua telapak tangan di dekat dadanya.


" Buon fotuna, Signorina." ( Semoga sukses, Nona ) Salah seorang pengunjung memberikan doanya kepada Rayya.


" Grazie mille, Signora." ( Terima kasih banyak, Nyonya ) Rayya tersenyum dengan sedikit membungkukkan tubuhnya. Lalu setelah orang-orang yang tadi dia temani untuk menjelaskan hasil lukisannya itu pergi, Rayya pun memilih untuk kembali ke depan karena waktu hampir menjelang Maghrib.


Rayya berjalan menuju ruangan bagian depan. Dia mendapati Kayla sedang berbincang dengan dua orang pria dan salah satunya adalah Simone. Satu pria lagi tidak dia ketahui siapa, karena berdiri membelakanginya. Tapi Rayya tidak memperdulikan siapa pria itu karena yang dia harapkan adalah kehadiran Simone sore itu.


Rayya bergegas menghampiri Simone apalagi saat Kayla menunjuk ke arahnya.


" Ciao, Simone ...!" Rayya menyapa Simone dengan senyum merekah di bibirnya. Karena jujur saja, hampir setiap hari bersua dengan pria itu, ada rasa kangen di hatinya karena beberapa hari ini tidak bertemu dengan sosok sahabatnya itu.


Namun saat sosok pria yang tadi membelakanginya membalikkan badan ke arahnya, Rayya langsung terperanjat dengan mata membulat sempurna. Seketika itu juga senyum yang tadi melebar di bibirnya kini mulai memudar saat mendapati keberadaan pria yang sejak kecil dikaguminya kini ada di hadapannya bersama Kayla. Rayya merasa selama ini dugaannya atas hubungan antara Kayla dan Ramadhan ternyata benar rasanya.


Seketika itu juga oksigen seakan terasa sulit untuk dihirupnya, hingga yang dia rasakan adalah sesak di dadanya.


" Ciao, Rayya ..." Bahkan balasan sapaan dari Simone seolah tidak terdengar di telinganya.


" Rayya?" Tak beda jauh dengan Rayya, Ramadhan pun nampak terkejut dengan mata terbelalak saat melihat Rayya keluar dari dalam ruangan.


Dia sempat tak mempercayai pandangannya karena penampilan wanita yang dia kenal sebagai gadis lugu anak Daddy itu berpenampilan sangat modis namun tetap terlihat feminim.


" Kak Rama ..." Dengan nada suara tercekat di tenggorokan Rayya pun menyapa Ramadhan.


" Kalian sudah saling kenal?" Simone yang melihat Rayya dan Ramadhan saling sapa langsung beranggapan seperti itu.


" Iya." Rayya menjawab pelan.


" Kamu kok ada di sini?" Ramadhan merasa penasaran dengan keberadaan Rayya bersama dengan Kayla.


" Rayya itu kuliah di Roma dan sekarang sedang ikut berpartisipasi dalam pameran lukisanku." Kayla yang menjelaskan alasan Rayya bisa bersamanya.


" Kamu kuliah di sini? Sama siapa kamu di sini?" Ramadhan benar-benar tidak menyangka jika Rayya yang dikenalnya pemalu bisa ikut tampil dengan karya lukisannya. Dia memang mendengar jika Rayya ingin menjadi pelukis namun jika dilihat dari tenggang waktu yang dia rasa cukup singkat, dia benar-benar terkejut melihat sosok Rayya sekarang ini.


Sementara Rayya sendiri sedang sibuk menetralisir gejolak di hatinya. Bahkan untuk mengeluarkan kata-kata pun seolah susah untuk dilakukannya. Sampai menjauh puluhan ribu kilometer dari Jakarta agar bisa menata hatinya dan melupakan pria yang sudah menolak dijodohkan dengannya itu, namun secara tak terduga dia justru dipertemukan lagi oleh pria yang sudah menolak perjodohannya itu.

__ADS_1


" Hei, kenapa aku seperti tidak dianggap di sini?" Simone yang merasa dirinya diacuhkan langsung memprotes.


" Oh maaf, Simone. Terima kasih banyak sudah datang kemari." Rayya bersyukur dengan keberadaan Simone saat itu, hingga membuatnya bisa berkata-kata kembali.


" Untuk Tuan Putri apapun akan aku lakukan," sahut Simone seraya menyilang satu tangan di dadanya dan membungkukkan sedikit badannya.


" Kalian berdua romantis banget, sih? Sudah deh, resmikan saja hubungan kalian." Kayla yang melihat bagaimana sikap romantis Simone kepada Rayya langsung berkomentar.


Rayya tersipu menanggapi ucapan Kayla sedang Simone hanya terkekeh seraya mengusap tengkuknya. Kini mereka seolah mengacuhkan keberadaan Ramadhan.


" Kamu akan menginap di mana, Simone?" tanya Rayya kemudian. Rayya memilih berbincang dengan Simone daripada dia harus salah tingkah saat bicara dengan Ramadhan.


" Aku menginap di hotel yang sama denganmu," jawab Simone. " Kamu sudah makan? Aku bawakan roti untukmu." Simone lalu menyodorkan roti yang tadi sempat dia beli saat turun dari stasiun kereta.


" Terima kasih " Rayya menerima roti yang disodorkan Simone kepadanya.


" Hanya untuk Rayya? Aku nggak dibelikan juga, Simone?" Kayla mencebik.


" Roti itu banyak, tidak akan mungkin bisa dihabiskan oleh mulutnya yang kecil." Simone berseloroh membuat Rayya dan Kayla terkekeh. Hanya Ramadhan saja yang hanya diam tak bereaksi menatap bergantian Rayya, Simone dan Kayla.


" Ide bagus itu. Aku setuju." Simone menyetujui usulan dari Ramadhan, sementara Rayya dan Kayla sepertinya nampak keberatan dengan permintaan Ramadhan.


" Aku, pameran baru tutup jam tujuh. Kalian kalau makan bertiga silahkan saja." Kayla lebih dulu beralasan.


" Aku, aku mau sholat Maghrib." Rayya kini menyebutkan alasannya.


" Ayolah, Rama ini klien pamanku dan ternyata kalian berdua kenal dengan Rama. Jadi tidak ada salahnya jika kita makan bersama, kan? Kamu cepat sholat dulu, setelah itu kita pergi makan bersama." Simone nampak bersemangat ingin mereka makan bersama.


***


Akhirnya setelah pameran hari pertama ditutup, mereka berempat pun pergi ke restoran untuk makan malam bersama. Bagi Ramadhan dan Simone rasanya seperti double date kepergian mereka bersama ini.


" Kamu kuliah sendirian saja di Roma, Ray?" Ramadhan yang sedari tadi tidak mempunyai kesempatan bertanya kepada Rayya akhirnya menanyakan apa yang membuatnya penasaran.


" Aku dengan Kak Willy, Kak." sahut Rayya tak ingin menatap wajah Ramadhan.

__ADS_1


" Willy juga sebenarnya ingin kemari tapi karena Mommy nya datang jadi tidak bisa ke sini." Simone sudah seperti juru bicara Rayya yang menjawab pertanyaan Ramadhan.


" Kakak kaget banget waktu lihat kamu tadi, Rayya. Kakak nggak sangka kamu akan kuliah sejauh ini, karena Kakak pikir kamu selalu bersama-sama Kia," ucap Ramadhan masih dengan keherannya.


" Dan ternyata Om Gavin memberikan ijin kamu kuliah di sini, ya?" lanjutnya.


" Ada Kak Willy yang menemani," jawab Rayya.


" Dan ada aku juga yang menemani." Simone memnambahkan.


" Jadi Rayya ini wanita yang kamu ceritakan dari kemarin, Simone?" tanya Ramadhan menoleh ke arah Simone.


" Ya, benar sekali. Aku juga sempat cerita ke Rayya kalau klien paman aku orang Indonesia, masih muda dan sangat tampan. Dan ternyata kalian berdua saling mengenal." Simone terkekeh.


" Kenapa aku tidak curiga saat kau bilang berteman dengan Kayla, kenapa aku tidak terpikir kau juga kenal dengan Rayya, ya?" lanjut Simone dengan kening berkerut.


" Iya, kami sejak kecil sudah saling kenal. Mommy nya Rayya dan Mama aku bersahabat sudah puluhan tahun. Papa aku dan Daddy nya Rayya juga rekan bisnis. Bahkan orang tua kami sempat ingin menjodohkan kami berdua, tapi untungnya bisa cepat kami tolak."


Ucapan Ramadhan membuat ketiga orang yang sedang bersamanya tersentak kaget. Bahkan Rayya sendiri hampir tersedak saat Ramadhan menceritakan suatu hal yang menurutnya telah mematahkan hatinya kala itu.


*


*


*


Bersambung ...


Jangan lupa baca novel aku yg ini juga ya🙏



Oh ya, besok itu tepat setahun aku jadi penulis di NT, dan akan dimulai give away pulsa 500K untuk 10 readers yg dukung di 2 karyaku RAMADHAN DI HATI RAYYA dan MARRY YOU, MY ENEMY. mau ikutan? jangan lupa kasih jempol dan komentarnya selalu ya, makasih🙏🙏🙏


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2