RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Alasan Menolak


__ADS_3

Rayya segera mengambil air mineral dan meneguknya untuk meghindarkan dia dari tersedak karena perkataan Ramadhan tadi.


" Bahkan orang tua kami sempat ingin menjodohkan kami berdua, tapi untungnya bisa cepat kami tolak."


Perkataan Ramadhan yang diucapkan tadi seolah mengatakan jika mereka mereka berjodoh bagaikan petaka untuk pria itu. Benarkah seperti itu anggapan Ramadhan? Yang pasti gejolak di dada Rayya kini kembali bergemuruh. Tidak sadarkah pria dihadapannya itu telah kembali membuka luka hatinya?


" Kalian sempat mau dijodohkan?" Tak beda jauh dengan Rayya, Kayla pun nampak terkejut saat mengetahui jika Rayya dan Ramadhan sempat hampir dijodohkan.


Kayla menatap Ramadhan dan Rayya secara bergantian. Ramadhan masih terus berusaha mengejarnya dan menolak dijodohkan dengan Rayya? Apa alasan Ramadhan menolak perjodohan itu karena dirinya? Seketika perasaan bersalah menyeruak di hati Kayla apalagi saat mendapati sikap tak nyaman Rayya saat bertemu Ramadhan tadi.


" Iya tapi kami nggak menyetujui perjodohan itu. Rayya bilang jika dia ingin menjadi pelukis sedangkan aku, kau tahu sendiri siapa wanita yang aku sukai, Kay!" Ramadhan menatap wajah Kayla penuh arti membuat Kayla langsung memalingkan wajahnya.


Dan gerakan mata Ramadhan yang menatap penuh cinta kepada Kayla tertangkap ekor mata Rayya, membuat wanita itu langsung menurunkan pandangannya dengan tangannya yang terus memilin ujung Coat panjangnya.


Sementara Simone yang memperhatikan gerak-gerik Rayya, dia sepertinya tahu apa yang sedang dirasakan Rayya saat ini. Saat berbincang malam hari bersama William ketika di Positano, William sempat bercerita kepadanya jika Rayya pernah dijodohkan dengan pria yang disukai sejak kecil. Namun perjodohannya itu gagal karena sang pria menolak. Dan itulah salah satu alasan yang menyebabkan Rayya kuliah jauh dari Indonesia.


Simone kemudian melirik ke arah Ramadhan. yang masih memandang Kayla. Dia tidak pernah menyangka jika pria yang bersamanya beberapa hari ini adalah pria yang pernah membuat wanita yang sukanya patah hati.


" Rayya, apa kau ingin kembali ke hotel sekarang? Besok kamu akan ke gallery lagi, kan? Aku rasa kamu harus beristirahat karena besok akan bertemu dengan banyak orang lagi. Karena besok hari libur, pasti akan lebih banyak pengunjung yang hadir di gallery." Simone yang menyadari situasi yang tidak menguntungkan untuk Rayya langsung mengajak Rayya untuk segera kembali ke hotel. Sebenarnya ada rasa penyesalan di hati Simone karena dia telah memaksa Rayya ikut makan bersama. Kalau dia tahu akan seperti ini, mungkin dia tidak akan memaksa Rayya untuk ikut. Bahkan jika dia tahu dari awal jika Ramadhan adalah pria yang sudah menyakiti hati Rayya, rasanya dia ingin menolak permintaan pamannya untuk menjadi penerjemahnya.


" Aku juga harus pulang." Kayla pun segera menyampirkan tasnya lalu berdiri.


" Aku antar kamu, Kay." Ramadhan pun ikut berdiri dan hendak ikut mengantar Kayla. Setidaknya dia yang akan membawa mobil Kayla dan mengantar wanita itu sampai rumah Edward, setelah itu dia akan memesan taksi menuju hotelnya.


" Tidak usah!" tolak Kayla cepat. " Simone, tolong kamu antar Rama ke tempat hotel dia menginap. Rayya biar aku saja yang mengantar. Ayo, Rayya!" Kayla dengan cepat menarik lengan Rayya dan tidak memberi kesempatan kepada ketiga orang yang bersamanya itu memprotes keputusannya.


Akhirnya mau tidak mau semua menuruti keputusan Kayla. Simone mengantar Ramadhan ke hotel tempat dia menginap, sedangkan Kayla yang akan mengantar Rayya.


" Kakak nggak tahu kalau kalian pernah dijodohkan oleh Om Ricky dan Om Gavin." Kayla masih agak terkejut dengan fakta soal perjodohan Ramadhan dan Rayya.


Rayya berusaha menarik senyumnya.


" Ya, biasalah, Kak. Namanya juga orang tua. Ingin persahabatan dan silaturahmi mereka tetap terjaga dengan memaksa perjodohan untuk anak mereka." Rayya berusaha senormal mungkin menjawab pertanyaan Kayla. Dia tidak ingin memperlihatkan kepada wanita itu jika sebenarnya saat ini hatinya seakan terasa diiris-iris.

__ADS_1


" Kalau Kakak boleh tahu, sebenarnya apa yang membuat Rayya memilih menolak dijodohkan dengan Rama?" Kayla nampak penasaran dengan alasan Rayya, karena dia masih menduga jika dialah yang menjadi alasan Ramadhan. menolak dijodohkan kedua orang tuannya dengan Rayya.


Rayya menarik nafas yang terasa berat dihirupnya. Tidak mungkin jika dia harus mengatakan jika Ramadhan lah yang secara tidak langsung menyuruhnya menolak perjodohan ini.


" Seperti yang Kak Kayla dengar tadi dari Kak Rama, karena Rayya ingin mengejar cita-cita Rayya. " Rayya membuang pandangan ke luar jendela. " Kalau Rayya mengikuti keinginan Daddy ku, mungkin Rayya nggak bisa kuliah seni seperti sekarang ini dan Rayya nggak bisa mengembangkan hobiku di dunia seni lukis." Rayya benar-benar memberikan alasan yang dirasanya cukup masuk akal.


" Hanya itu?" Kayla masih penasaran.


" Iya, Kak." sahut Rayya.


" Dan kamu tahu alasan Rama menolak perjodohan kalian?"


" Rayya nggak perduli apa alasan Kak Rama juga menolak dijodohkan, karena Rayya sendiri memang tidak menginginkan perjodohan itu." Rayya mendustai hati nuraninya sendiri dengan mengatakan jika dia memang tidak ingin perjodohan ini terjadi.


Kayla menghempas nafas lega, setidaknya dia tahu jika penolakan perjodohan Ramadhan dan Rayya bukan karena dia penyebabnya. Penjelasan Rayya soal keinginannya menjadi pelukis bisa dia terima sehingga dia beranggapan penolakan perjodohan itu bukan atas tekanan dari Ramadhan yang mempertahankan perasaannya terhadap dirinya.


" Kamu tahu, Rayya? Kakak tadi sempat tidak enak hati waktu Rama bilang jika kalian pernah dijodohkan. Kakak takut jika Rama lah yang sebenarnya menolak dan kamu terpaksa mengikuti kemauan dia."


" Kenapa Kak Kayla berpikiran seperti itu?" tanya Rayya karena sejujurnya dugaan Kayla memang benar adanya.


" Kamu bisa jaga rahasia ini, kan? Kakak minta kamu jangan cerita pada siapa-siapa tentang hal ini."


Entah kenapa hati Rayya semakin berdebar kencang mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Kayla.


" Apa, Kak?" Rayya semakin penasaran.


" Sebenarnya Rama itu pernah menyatakan kalau dia itu suka sama Kakak. Kamu ingat waktu kami datang ke ultah kamu dulu? Sepulang dari sana dia menyatakan cintanya ke Kakak."


Seketika hati Rayya mencelos mengetahui jika dugaan dia selama ini ternyata benar dan malam ini pengakuan itu keluar langsung dari bibir Kayla.


" Tapi Kakak tolak karena Kakak memang nggak punya perasaan apa-apa ke dia. Kakak hanya menganggap dia saudara, nggak lebih! Kemarin pun Rama masih berusaha mendekati Kakak dan meminta supaya Kakak menerimanya, namun tetap Kakak tolak."


" Itulah yang Kakak takutkan jadi alasan Rama menolak dijodohkan sama kamu."

__ADS_1


Rayya menggelengkan kepala seraya menyunggingkan senyuman walaupun hatinya seperti teriris.


" Bukan kok, Kak." tepis Rayya kembali.


" Syukurlah kalau memang bukan." Kayla kembali menarik nafas lega.


" Kak Kayla sendiri kenapa menolak Kak Rama?" Rayya tiba-tiba merasa penasaran dengan alasan Kayla mengacuhkan Ramadhan.


" Seperti yang Kakak bilang tadi jika Kakak hanya menganggap dia saudara. Lagipula Kakak sudah ilfil sama sikapnya."


" Maksudnya, Kak?" Rayya tidak mengerti maksud ucapan Kayla mengatakan ilfil kepada Ramadhan.


" Jangan bilang siapa-siapa, ya?"


Rayya menganggukkan kepala memastikan jika dia adalah orang yang amanat menjaga suatu rahasia.


" Jadi waktu pertama kali Kakak tolak dia, dia itu maksa Kakak supaya terima cinta dia, Dia sampai nekat cium Kakak dan itu kejadiannya di lift di kantor Papa Dirga. Gi*la, kan?!"


Deg


Rayya seakan kehabisan pasokan oksigen hingga dadanya terasa sesak dan sulit untuk bernafas.


*


*


*


Bersambung ...


Mak² readers kemarin minta Rayya dibikin ketemu sama Rama. Giliran ketemu bikin sakit hati Baby lagi kan tuh😁


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2