RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Sebenarnya Patah Hati


__ADS_3

" Dari mana, Ma?"


Anindita yang sedang membantu ART nya menaruh kebutuhan bulanan yang dia beli ke dalam kitchen set langsung menoleh ke arah Ricky yang tiba-tiba masuk ke ruangan dapur.


" Habis belanja bulanan, Pa." Anindita lalu meletakan kembali beberapa bahan makanan di tangannya ke atas meja. " Mbak, tolong diselesaikan ditata ke tempatnya masing-masing, ya!" Anindita menyuruh ART nya itu melanjutkan pekerjaannya.


" Baik, Bu." sahut ART Anindita, sementara Anindita langsung mendekati suaminya.


" Papa sudah makan?" tanya Anindita seraya merangkulkan lengannya ke pinggang Ricky


" Sudah tadi menemani Thalita makan. Tadinya mau nunggu Mama takutnya Mama sudah makan duluan di luar," sahut Ricky kini melingkarkan lengannya di pundak Anindita.


" Mama belum makan kok, Pa." sahut Anindita tersenyum karena dia teringat tadi kabur bersama Azzahra meninggalkan Ramadhan dan Rayya.


" Ya sudah makan dulu kalau Mama belum makan. Mau Papa temani?"


" Nanti saja, Pa."


" Jangan telat makan nanti sakit."


Anindita tersenyum menanggapi perhatian suaminya yang semakin lama bukannya berkurang justru makin bertambah.


Ricky kini mengarahkan Anindita untuk duduk di kursi makan. Dia lalu mengambil piring dan mengambilkan nasi juga beberapa lauk yang tersedia di atas meja makan.


" Makanlah dulu." Ricky pun menuangkan segelas orange juice dengan beberapa potong es batu.


" Makasih, Pa." Setelah membaca doa Anindita pun menyantap makanan yang telah disediakan oleh suaminya.


" Kenapa Mama nggak ajak Papa belanja?" tanya Ricky kemudian sambil memandangi istrinya yang masih tetap cantik itu.


" Tadi Mama lihat Papa sedang tertidur jadi nggak tega banguninnya." Anindita memberikan alasan kenapa dia tidak membangunkan suaminya.


" Iya tadi Papa sedang baca sambil berbaring malah ketiduran. Mestinya Mama bangunkan Papa saja jadi Papa nggak tidur. Tidur di jam-jam segitu 'kan nggak baik untuk kesehatan," komplain Ricky. " Lalu Mama sama siapa tadi belanjanya? Kok nggak lihat Mama pulang sama Rama?"

__ADS_1


" Rama sedang menemani Rayya, Pa."


Ricky menyipitkan matanya mendengar nama Rayya disebut.


" Maksud, Mama?" tanya Ricky kemudian.


" Tadi waktu belanja Mama ketemu sama Rara dan Rayya. Mama sengaja ajak mereka makan di resto di mall itu. Terus Mama sama Rara kabur deh, meninggalkan Rama dan Rayya berdua. Papa tahu nggak? Mama lihat kalau Rama itu memperhatikan Rayya terus. Mama masih berharap mereka bisa berjodoh, Pa." Anindita mengutarakan harapannya.


" Papa nggak mau berharap banyak, Ma." Berbanding terbalik dengan istrinya yang antusias, Ricky justru nampak kurang semangat menanggapinya. " Papa nggak enak sama Tuan Gavin. Papa nggak ingin bikin beliau kecewa untuk kedua kalinya. Karena Papa yakin batalnya rencana perjodohan ini karena Rama lah penyebab utamanya." Ricky memang mencurigai jika putranya lah yang menjadi dalang rencana perjodohan Ramadhan dan Rayya batal.


" Semoga dengan pertemuan ini Rama bisa membuka pintu hatinya untuk Rayya. Rayya itu gadis baik, Pa. Mama suka, anak sopan, kalem, lemah lembut. Pokoknya cocok untuk Rama, Pa."


" Untuk pria seperti Rama memang cocok dapat wanita seperti Rayya yang kalem dan tidak galak seperti Mama."


Anindita seketika menghentikan kunyahannya dengan mata melotot saat mendengar suaminya mengatakan dirinya galak.


" Memang Mama galak, Pa?" Anindita seolah tidak terima disebut galak oleh suaminya.


" Sekarang memang nggak, tapi dulu? Nggak ingat kalau dulu Mama selalu ketus kalau ketemu Papa?" sindir Ricky mencoba mengingatkan kenangan masa lalu mereka. " Lagi honeymoon pun masih ketus saja sama Papa,"


" Sudah deh, Pa. Nggak usah ungkit yang lalu. Lagipula salah sendiri kenapa dulu Papa begituin Mama?" Anindita kembali melanjutkan makannya.


" Kalau nggak begitu mungkin kita nggak akan jodoh seperti ini, Ma."


" Iya juga ya, Pa? Tapi ya sudahlah. yang penting sekarang Mama 'kan nggak galak nggak jutek lagi sama Papa."


" Mana mungkin sekarang Mama jutek sama Papa." Ricky langsung menyahuti seraya terkekeh dan langsung disambut juga oleh tawa Anindita. Tawa kebahagiaan sepasang suami istri yang mesti melalui lika-liku hingga akhirnya bisa hidup bersama.


***


Setelah menemui Ramadan. yang ingin berpamitan pulang, Azzahra kini melangkah menuju kamar anaknya. Rasanya dia ingin segera menjelaskan kepada putrinya itu agar tidak menjadi salah paham karena dia tadi meninggalkan Rayya dengan Ramadhan. Sesungguhnya dia sendiri merasa khawatir anaknya itu akan merasa sedih atau terbawa perasaan karena harus berhadapan dengan pria yang dikaguminya namun gagal dijodohkan dengannya.


Azzahra membuka pintu kamar Rayya. Dia melihat putrinya itu belum selesai dengan ibadah empat rakaatnya. Azzahra memilih duduk di sofa menunggu Rayya menyelesaikan sholat Dzuhur nya.

__ADS_1


" Assalamualaikum warahmatullah ...."


Setelah beberapa saat Azzahra melihat anaknya sudah mengakhiri sholatnya. Namun dia tidak buru-buru mengajak bicara karena dia memberikan kesempatan kepada anaknya untuk memanjatkan doa-doa.


" Shodaqollahul adzim ..." Rayya mengakhiri doanya seraya mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.


" Sudah sholatnya, Rayya?"


" Asataghfirullahal adzim ...!" Rayya nampak terperanjat saat mendengar suara Azzahra. Dia sama sekali tidak menyadari kehadiran Mommy nya di kamarnya itu.


" Mommy bikin Rayya kaget, ya?" Azzahra kini menghampiri putrinya.


" Rayya nggak tahu ada Mommy di sini. Nggak dengar Mommy masuk juga." Rayya kemudian membuka dan melipat mukenah juga sajadahnya.


" Rayya, kamu nggak apa-apa 'kan, Sayang?" Azzahra yang merasa khawatir akan putrinya langsung menanyakan apakah anaknya baik-baik saja selama dia tinggal bersama Ramadhan di mall tadi.


" Mommy minta maaf ya, tadi itu Tante Anin yang meminta supaya meninggalkan kalian berdua." Azzahra tidak bermaksud melempar kesalahan kepada Anindita, tapi kenyataan Anindita lah yang memaksanya melakukan hal itu. Azzahra pun tidak ingin Rayya menyalahkan atau mungkin marah kepadanya.


" Mommy kenapa ikutin ide Tante Anin segala? Nggak baik lho, Mom. Memaksakan kehendak. Kak Rama itu sudah mempunyai pujaan hati, wanita yang dia inginkan. Memangnya Mommy mau menjodohkan Rayya dengan pria yang justru menginginkan wanita lain sebagai kekasihnya? Memangnya Mommy mau melihat Rayya hidup bersama pria yang justru mencintai wanita lain dan bukan mencintai Rayya?"


" Rayya masih muda, Mom. Rayya bisa mencari laki-laki yang bisa menyanyangi dan mencintai Rayya sepenuh hati tanpa bersaing dengan wanita lain. Rayya ingin seperti Mommy yang mendapatkan pria sebaik Daddy. Yang hanya memikirkan Mommy seorang di dalam pernikahannya," ucap Rayya penuh harap.


" Rayya ...."


" It's okay, Mom. I'm fine. Kak Rama meminta Rayya untuk menentukan pilihan. Dan Rayya sudah mengambil keputusan untuk tidak menerima perjodohan itu. Jadi Rayya mohon sama Mommy, jangan bahas hal itu lagi apalagi dengan Tante Anin. Rayya ingin menentukan sendiri kehidupan yang terbaik untuk Rayya ke depannya." Rayya kemudian melingkarkan lengannya ke pundak Azzahra seraya menyandarkan kepalanya di bahu Mommy nya itu. Walaupun dia ingin menangis tapi sebisa mungkin dia harus menutupi perasaannya dari Azzahra agar kedua orang tuanya tidak mengkhawatirkan dia yang sebenarnya merasa patah hati


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2