RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Rencana Kedatangan Luigi


__ADS_3

Ramadhan berbaring dengan melipat telapak tangan di bawah kepalanya dengan mata terpejam walaupun dia belum tertidur. Apa yang telah dia lakukan hari ini benar-benar mengecewakan, tidak saja untuk Rayya dan keluarganya, tapi juga untuk dirinya sendiri. Dia yang sama sekali tidak bermaksud membuat Rayya bersedih, tetapi malah akhirnya membuat wanita itu menangis dan kecewa.


" Kenapa Kak Rama ingin melakukan itu? Apa karena Kakak merasa bersalah? Atau karena Kak Rama sudah menyerah mengejar cinta Kak Kayla?"


" Sekarang Kak Rama meminta aku memberi kesempatan ke Kakak karena apa? Karena Kak Kayla menolak cinta Kak Rama?"


" Rayya nggak mau dijadikan pelarian oleh Kak Rama. Rayya ingin dicintai oleh pria yang benar-benar tulus mencintai Rayya. Bukan karena rasa bersalah atau sekedar pelarian saja!"


Kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Rayya siang tadi seolah terus saja berputar di benaknya.


" Astaga, kenapa aku ini? Kenapa jadi seperti ini?" Ramadhan sungguh menyesali kesalahan yang telah dia buat kembali.


Tok tok tok


" Rama, apa kamu sudah tidur, Nak? Apa Mama boleh masuk ke dalam?" Suara Anindita terdengar dari luar kamar Ramadhan, membuat pria itu bangkit dari tidurnya.


" Masuk saja, Ma. Pintunya nggak Rama kunci, kok." Ramadhan menyahuti kata-kata Mamanya.


" Kamu belum tidur, Rama?" tanya Anindita kepada putranya setelah masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi tempat tidur di samping Ramadhan


Ramadhan menarik nafasnya yang terasa berat lalu mengeluarkannya dengan kasar.


" Belum, Ma." sahut Ramadhan.


" Papamu bilang Om Dirga menyuruh kamu pulang untuk beristirahat, tapi kamu sampai rumah sore. Memangnya kamu ke mana, Rama?" Anindita yang mengetahui dari Ricky jika Dirga menyuruh Ramadhan pulang untuk beristirahat langsung bertanya kepada Ramadhan, karena putranya itu baru kembali ke rumah hampir mendekati jam lima sore.


" Rama habis dari Bogor, Ma." jawab Ramadhan lagi.


" Dari Bogor? Memang ada apa di Bogor? Kamu itu disuruh Om Dirga beristirahat lho, Rama. Kamu baru pulang dari Italia, kamu pasti lelah sekali. Sekarang malah pergi ke Bogor." Anindita yang sangat mengkhawatirkan kondisi kesehatan Ramadhan langsung menasehati putranya itu.


" Rama habis menemui Rayya di rumah orang tuanya Tante Rara, Ma." Ramadhan menerangkan alasan dia pergi ke Bogor, dan itu membuat Anindita terkesiap.


" Kamu menemui Rayya di sana? Lalu apa kamu ketemu sama Rayya? Bagaimana Rayya? Apa dia masih marah sama kamu? Apa dia mau menerima kamu?" Anindita memberikan beberapa pertanyaan kepada Ramadhan secara bersamaan. Tentu saja Anindita merasa penasaran apakah putranya itu berhasil dengan niatnya yang ingin memulai suatu hubungan ke arah yang lebih serius dengan Rayya.


" Rama justru semakin mengecewakan Rayya, Ma." lirih Ramadhan.


" Ya ampun, apalagi yang sudah kamu lakukan sampai membuat Rayya kecewa Rama?" Bukan hanya Rayya yang kecewa, Anindita yang mendengar putranya kembali membuat Rayya kecewa juga akhirnya ikut merasa kecewa walaupun dia sendiri tidak tahu apa yang sudah dilakukan putranya itu.


" Rama mengatakan kepada Rayya jika Rama ingin diberi kesempatan oleh Rayya. Tapi ternyata Rayya tahu soal Kayla, Ma."


Anindita membulatkan bola matanya, wanita itu terkejut dengan kalimat yang disampaikan oleh Ramadhan.


" Rayya tahu tentang Kayla? Maksudnya dia tahu kalau kamu menyukai Kayla?" Anindita menarik kesimpulan seperti itu.


" Benar, Ma. Dan Rayya menduga jika Rama menginginkan bersama Rayya hanya sebagai pelarian Rama karena Rama tidak bisa mendapatkan Kayla." Ramadhan tertunduk.


" Kamu nggak bilang kalau itu hanya masa lalu?"


Ramadhan terdiam sesaat tak langsung menjawab pertanyaan Mamanya itu.


" Kayla mengatakan pada Rayya, saat di Italia kemarin, bahwa Rama masih mengharapkan cinta Kayla."


Anindita mendengus mendengar jawaban dari Ramadhan.


" Dan itu benar? Kamu masih mengharapkan Kayla saat kamu ke Italia sebelumnya?"


Ramadhan hanya menganggukkan kepala menanggapi pertanyaan Mamanya itu.


" Ya ampun, Rama. Terang saja Rayya akan kecewa kalau seperti ini ceritanya. Mama sudah katakan dari dulu agar kamu terima Rayya. Dia itu gadis yang baik, tidak sepantasnya kamu menyakiti dan mengecewakannya. Kalau begini, masalahnya malah semakin runyam. Mama nggak bisa bayangkan gimana kalau Papa kamu sampai tahu kamu sudah menyakiti hati Rayya lagi, Rama!" Anindita justru memojokkan Ramadhan. Jika suaminya dan Gavin tahu, bisa dibayangkan akan seperti apa reaksi kedua sosok ayah tersebut.


***


Ini adalah hari kelima Rayya berlibur di rumah Eyang dan Eninnya. Dia tidak ingin berlarut dalam kesedihannya, apalagi Abi dan Umi Rara yang akhirnya mengetahui perasaan cinta yang tak berbalas cucunya itu selalu menghiburnya, sehingga Rayya seakan tidak mempunyai waktu untuk melamun sendiri terkecuali jelang tidur malam hari.


" Sudah belum atuh, Neng? Enin capek disuruh duduk jangan bergerak begini!" Umi Rara memprotes, karena saat ini Rayya sedang melukis Eyang dan Eninnya itu.


" Sebentar lagi, Nin. Sebentar lagi juga selesai, kok." Rayya terkekeh menyahuti protes dari Umi Rara.


" Bagus nggak Neng hasilnya? Enin harus terlihat cantik di lukisan itu ya, Neng."


" Enin jangan ribut saja! Kalau Enin ribut terus, Neng Rayya nggak konsentrasi melukisnya." Abi Rara menegur istrinya yang masih saja cerewet.


" Nah, tuh yang dikata Eyang benar, Nin." Rayya kembali tertawa kecil.


Setelah beberapa menit kemudian lukisan kedua orang tua Mommy nya itu selesai dikerjakan oleh Rayya.


" Masya Allah, indah sekali lukisannya, Neng. Ini bisa dipajang, Neng?" tanya Abi Rara saat melihat hasil lukisan cucunya.

__ADS_1


" Terima kasih, Eyang. Nanti ini dikasih figura yang bagus dulu, terus bisa dipajang di mana yang Eyang mau," sahut Rayya.


" Neng, kalau tetangga di sini ada yang mau dilukis seperti ini terus mereka tanya bayarnya berapa? Enin jawab apa?" tanya Umi Rara kemudian.


" Nggak usah bayar, Nin. Tapi selama Rayya nya masih ada di sini." Rayya menjawab pertanyaan Umi Rara. " Kalau Rayya sudah pulang ke Jakarta 'kan repot mesti balik ke sini, apalagi kalau Rayya sudah kembali Roma." Rayya kembali terkekeh.


Untuk Abi dan Umi Rara, melihat cucunya itu bisa tersenyum dan tertawa membuat hati mereka senang, walaupun mereka tahu jika hati cucu kesayangan mereka itu sedang terluka.


Ddrrtt ddrrtt


" Sebentar ya, Eyang, Enin. Rayya mau angkat telepon dulu." Rayya yang mendengar suara ponselnya berbunyi di saku bajunya langsung meminta ijin untuk menerima panggilan masuk telepon itu.


" Silahkan, Neng." Abi dan Umi Rara pun mempersilahkan cucunya itu mengangkat panggilan telepon.


Rayya melihat nama Luigi di layar ponselnya. Rayya lalu menoleh ke arah Eyang dan Eninnya sebelum mengangkat panggilan telepon tersebut.


" Assalamualaikum ..." sapa Rayya saat panggilan telepon Luigi dijawab olehnya.


" Waalaikumsalam, Rayya. Come stai?" Luigi pun membalas salam yang diucapkan Rayya.


" Alhamdulillah, Io sto bene."


" Rayya, aku kangen sama kamu."


Walau ucapan itu tidak diucapkan di hadapan Rayya langsung tapi kalimat tadi sukses membuat pipi Rayya bersemu.


Rayya menurunkan posel dari dekat telinganya


" Eyang, Enin, Rayya permisi ke kamar dulu, ya." Rayya berpamitan kepada Abi dan Umi Rara karena takut ketahuan kalau dia tidak bisa mengontrol semu merah yang begitu cepat mewarnai warna putih pipinya itu.


" Rayya, apa kamu mendengar suara aku?" tanya Luigi karena Rayya tidak menjawab ucapannya tadi.


" I-iya, Kak."


" Coba tadi aku tadi bilang apa kalau kamu memang dengar?"


" Aku kangen kamu ...."


" Terima kasih sudah kangen aku, Rayya." Luigi terkekeh karena berhasil menjebak Rayya dengan kata-katanya.


Rayya yang menyadari jika dijebak Luigi langsung membelalakkan matanya.


" Memang kamu tidak kangen sama aku?"


" Aku? Aku biasa saja ..." jawaban Rayya kembali membuat Luigi tertawa kecil. Kalau saja Luigi berhadapan langsung dengan Rayya pasti dia bisa melihat pipi Rayya yang bersemu.


" Oh ya, kamu bisa tebak sekarang ini aku ada di mana?" tanya Luigi kemudian.


Rayya diam sejenak sembari memusatkan pendengarannya. Dia mendengar suara kebisingan mobil di jalanan.


" Kak Luigi sedang berkendaraan?" tebak Rayya.


" Iya, kau benar sekali," sahut Luigi.


" Jangan menelepon saat berkendaraan, Kak! Itu bisa berbahaya." Rayya mencoba menasehati, walaupun dia tahu pria itu pasti meggunakan headseat bluetooth untuk menunjang komunikasinya saat berkomukasi.


" Terima kasih kamu sudah mencemaskan aku Rayya." Suara Luigi terdengar lembut di telinga Rayya membuat Rayya salah tingkah.


" Oh ya, Kak Luigi sedang berkendaraan ke mana?" Rayya kembali bertanya untuk mengalihkan kegugupannya dengan ucapan Luigi tadi.


" Aku sedang menuju ke arah bandara Fuimicino."


" Kak Luigi ingin pergi ke luar kota?"


" Aku ingin pergi ke Jakarta."


Rayya terbelalak saat Luigi berkata jika pria itu akan ke Jakarta, dan sudah dipastikan jika tujuan Luigi ke Jakarta adakan ingin bertemu dirinya.


" Kak Luigi ingin ke Jakarta?"


" Iya, aku bilang aku kangen sama kamu, karena itu aku datang ke sana untuk bertemu denganmu, Rayya."


Rayya menarik nafas, soal kenekatan, Luigi memang tidak diragukan lagi. Apa yang dia ucapkan itulah yang akan dia lakukan. Apalagi Luigi juga sudah terang-terangan berkata kepada Daddy nya ingin memiliki dirinya dan berniat berkunjung ke Indonesia saat liburan ini.


" Kapan Kak Luigi berangkat?"


" Penerbangannya sekitar setengah jam lagi. Dan aku sudah tidak sabar untuk segera bertemu denganmu, Rayya."

__ADS_1


Lagi dan lagi Luigi berusaha menunjukkan keahliannya membuat hati seorang wanita berbunga-bunga. Dirayu oleh pria setampan dan sebaik Luigi, siapa juga yang tidak membuat hatinya berdesir? Begitu juga dengan Rayya. Semakin hari pesona dosen muda itu semakin menguat.


" Hmmm, di Jakarta nanti Kak Luigi akan menginap di mana? Apa Kak Luigi sudah booking hotel? Kalau Kak Luigi belum cari penginapan, nanti aku akan bilang ke Mommy agar bicara sama Daddy untuk menyediakan kamar untuk Kak Luigi." Saat di Roma beberapa waktu lalu, Azzahra menyuruh Rayya memberikan nama hotel milik Gavin, jika sewaktu-waktu Luigi benar akan datang ke Jakarta.


" Tidak perlu, Rayya! Aku sudah pesan hotel di hotel milik keluargamu juga. Tapi jangan bilang Daddy mu, nanti Daddy kamu berpikir jika aku mengharapkan sesuatu yang gratis dari calon mertua." Luigi tertawa kembali.


" Apa kamu masih berada di rumah kakekmu?" tanya Luigi. Karena saat hari pertama Rayya sampai di Bogor, Luigi pernah menghubunginya dan Rayya pun sempat memberitahu keberadaannya saat itu.


" Iya, rencananya dua hari lagi aku akan kembali ke Jakarta, tapi kalau Kak Luigi mau ke Jakarta, sore ini aku kembali ke Jakarta." Rayya tidak mungkin membiarkan Luigi sendirian karena tujuan pria itu ke Jakarta adalah untuk menemuinya.


" Apa dari Jakarta ke tempat kakekmu itu jauh?" tanya Luigi.


" Kalau jalanan nggak terlalu macet, dari rumahku ke rumah orang tua Mommy ku ini sekitar dua jam, Kak."


" Maaf jika aku mengganggu waktu liburanmu, Rayya."


" Tidak apa-apa, Kak."


" Ya sudah, ini aku sudah sampai di bandara. Nanti aku kabari kamu kalau sudah sampai di Jakarta."


" Hati-hati di jalan, Kak. Semoga selamat sampai tujuan."


" Aamiin, grazie mille, Rayya. Assalamualaikum ..."


" Waalaikumsalam ..." Rayya akhirnya menutup panggilan telepon dari Luigi.


" Kak Luigi akan ke Jakarta? Aku harus kasih tahu Mommy lebih dulu, biar Mommy bisa mengatasi Daddy." Rayya pun segera menekan nomer ponsel Azzahra. Karena dia ingin memberi informasi kepada Mommy nya tentang rencana kedatangan Luigi ke Jakarta. Karena dia yakin, hanya Mommy nya lah yang sanggup menaklukan kekerasan hati Daddy nya. Sekali saja Mommy nya mengancam, Daddy nya pasti langsung kalang kabut. Kadang dia pun berharap bisa mendapatkan suami seperti Daddy nya yang begitu menyanyangi dan menuruti apa yang diinginkan Mommy nya itu.


" Assalamualaikum, Mom." Rayya memberi salam kepada Azzahra saat panggilan teleponnya tersambung dengan Mommy nya itu.


" Waalaikumsalam, Rayya. Ada apa, Sayang? Enin tadi kirim pesan ke Mommy, katanya kamu habis melukis Eyang dan Enin, ya?" tanya Azzahra.


Azzahra tidak tahu jika kedatangan Ramadhan kemarin menimbulkan konflik kembali di antara Rayya dan Ramadhan. Karena Rayya sudah meminta Eyang dan Eninnya untuk tutup mulut, walaupun Azzahra sendiri sempat bertanya apa Ramadhan datang menemuinya. Dan Rayya pun akhirnya harus kembali berbohong dengan mengatakan tidak ada kedatangan Ramadhan ke tempat Eyangnya itu, daripada Mommy nya akan bertanya macam-macam.


" Iya, Mom. Rayya baru saja selesai melukis Eyang juga Enin."


" Enin senang sekali lihat hasil lukisan kamu, Rayya."


" Iya, Mom. Tapi Enin nggak bisa diam. Ribut saja kapan selesai? Dan juga mengeluh capek." Rayya terkekeh mengingat bagaimana Umi Rara tadi saat dia lukis.


" Ya maklumlah, Enin kamu itu 'kan sudah sepuh."


" Iya, Mom. Hmmm, Mom ... tadi Kak Luigi telepon Rayya."


" Luigi? Dia telepon kamu? Ada apa? Bukankah dia memang sering telepon kamu? Atau jangan-jangan ... dia benar akan datang ke Jakarta ini?" tebak Azzahra menduga-duga.


" Iya, Mom."


" Maksud kamu, Luigi benar-benar akan ke sini?"


" Iya, Mom. Kak Luigi sedang ada di Bandara Roma sekarang ini dan akan terbang ke Jakarta setengah jam lagi."


" Masya Allah, benar-benar serius dia sama kamu itu, Rayya." Azzahra langsung bersemangat saat mengetahui rencana kedatangan Luigi ke Jakarta. " Eh, tapi Rayya 'kan masih di Bogor sekarang."


" Iya, makanya Rayya telepon Mommy. Rayya ingin pulang sore ini, Mom."


" Kamu pulang sama siapa, Rayya? Apa Mommy suruh Pak Rudy jemput Rayya ke sana?'


" Nggak usah, Mom. Nanti Rayya minta antar Pak Dullah saja, Rayya menyebut nama supir pribadi keluarga Abi Rara yang menggantikan Mang Ucup jika berpergian jarak jauh.


" Ya sudah kamu hati-hati kalau begitu. Bilang sama Pak Dullah, jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya.


" Iya, Mom. Oh ya, Mom. Daddy akan bagaimana kalau tahu Kak Luigi akan datang ke Jakarta?" Rayya masih agak sedikit cemas, takut Gavin akan tetap bersikap ketus terhadap Luigi walaupun dia yakin Daddy nya itu tidak akan mungkin mengusir Luigi.


" Daddy kamu biar Mommy yang urus."


" Terima kasih, Mom. Ya sudah, Rayya tutup dulu teleponnya. Rayya mau prepare packing dulu. Assalamualaikum, Mom."


" Waalaikumsalam ...."


Setelah sambungan telepon berakhir, Rayya langsung berjalan ke luar kamarnya untuk menemui Eyang dan Eninnya, karena dia harus berpamitan jika dia akan mempercepat rencana liburannya di Bogor dan akan kembali ke Jakarta sore ini.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2