RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Bantu Kakak


__ADS_3

Ramadhan nampak jenuh karena sedari tadi hanya terdiam sambil memperhatikan orang yang keluar masuk dari gallery.


Kayla yang mendadak ada keperluan, mengharuskan dia agak telat datang ke gallery sehingga membuat Rayya sibuk menerima dan meladeni tamu-tamu yang berdatangan. Untung saja Simone dengan sigap membantu Rayya. Setidaknya sebagai seorang pelukis juga, dia bisa membantu Rayya.


Ramadhan memperhatikan sosok Rayya tanpa berkedip. Sejujurnya, menemukan Rayya di Italia ini adalah suatu kejutan untuknya.


Penampilan Rayya yang sangat berbeda nampak begitu menarik perhatiannya. Rayya yang dikenalnya sebagai gadis lugu dengan penampilan dengan gamis kini terlihat semakin fashionable. Tidak hanya dari penampilan luarnya saja, sikap Rayya yang nampak luwes dan nampak santai melayani para tamu yang datang di gallery semakin membuatnya terkagum pada wanita itu.


Ramadhan kini mengarahkan pandangan ke arah Simone. Pria berkebangsaan Italia itu nampak begitu cekatan membantu Rayya. Tidak jarang terlihat olehnya interaksi antara Simone dan Rayya yang tertangkap oleh matanya. Simone dan Rayya kadang terlihat saling melempar pandangan, tak jarang juga dia melihat mereka berdua saling melempar senyuman.


Tentu saja Ramadhan merasa sangat heran dengan kedekatan Rayya dan Ramadhan. Apalagi saat dia teringat jika Gavin begitu sangat posesif terhadap Rayya. Lalu bagaimana mungkin kini Simone, pria asing yang mungkin baru dikenal Rayya di Italia bisa mudah akrab dengan Rayya.


Ramadhan sendiri sekarang benar-benar merasa seperti orang asing. Dia tidak bisa bahasa Italia dan mungkin tamu-tamu yang ada di gallery pun tidak menguasai bahasa Inggris.


" Rayya, se sei stanco dovresti riposare." ( Rayya, kalau kamu lelah sebaiknya istirahat )


Ramadhan mendengus kesal saat Simone berbicara dengan Rayya menggunakan bahasa Italia. Dia curiga jika mereka berdua tidak ingin dia tahu apa yang sedang dibicarakan oleh mereka. Ramadhan tidak tahu jika keseharian mereka berkomunikasi menggunakan bahasa Italia.


" No, Simone. non sono stanco." ( Nggak, Simone. Aku nggak lelah ) tepis Rayya membantah. Rayya melirik arloji di tangannya.


" Vuoi pregare?" ( Apa kamu ingin sholat )


" Si. Simone, puoi aiutare a mantenere la mostra?" ( Ya. Simone, apa kamu bisa bantu menjaga pameran )


" Certo che posso." ( Tentu saja aku bisa )


" Grazie mille, Simone." ( Terima kasih banyak, Simone )


Rayya pun segera mengambil tote bag nya, lalu dia berjalan menghampiri Ramadhan.


" Kak aku tinggal sholat dulu, ya." Rayya berpamitan kepada Ramadhan. Dia tidak ingin dianggap tidak sopan karena mengabaikan pria itu.


" Kamu mau sholat di mana? Aku ikut." Ramadhan langsung bangkit dari duduknya.


" Aku sholat di masjid dekat sini, Kak." Rayya segera menyahuti.


" Dekat sini ada masjid?" tanya Ramadhan.


" Ada."


" Naik apa kita ke sana?"


" Naik taxi sekitar sepuluh menit, Kak."


" Ya sudah, aku ikut kamu."

__ADS_1


Rayya menganggukkan kepalanya. Dia pun bersama Ramadhan berjalan mencari taxi di kawasan dekat gallery.


" Kamu suka tinggal di Italia, Rayya?" tanya Rama saat mereka berdua sudah berada di dalam taxi.


" Iya, Alhamdulillah."


" Tentu saja kamu suka, pria di sini tampan-tampan. Pantas saja kamu juga menolak keinginan Daddy kamu untuk dijodohkan, karena negara tujuan kamu kuliah ini gudangnya pria-pria tampan, kan?" Ramadhan terkekeh mengajak Rayya bercanda.


Rayya menelan salivanya mendengar ucapan Ramadhan. Rasanya dia ingin berubah menjadi Azkia yang punya keberanian untuk melawan orang yang sudah membuatnya kesal. Namun apa daya dia bukanlah sepupunya itu.


Rayya hanya menghela nafas panjang mencoba untuk tetap bisa tenang tanpa harus terprovokasi dengan ucapan Ramadhan tadi.


" Termasuk Simone itu." Ramadhan kembali melanjutkan ucapannya. " Dia itu pacar kamu, ya? Kalian kelihatannya dekat sekali."


" Kami hanya berteman saja, Kak." Rayya dengan cepat menyanggah dugaan Ramadhan tentang hubungannya dengan Simone.


" Kalau Kakak nggak salah ingat, dulu Om Gavin pernah bilang kamu nggak pernah ke luar bareng pria selain Kakak. Tapi kayaknya sekarang kamu terlihat begitu akrab dengan pria, bule lagi. Om Gavin tahu kamu dekat dengan Simone?"


Entah kenapa Rayya merasa jika Ramadhan yang ada di sampingnya bagaikan tukang gosip yang kepo akan urusan orang lain.


" Daddy tahu, kalau Daddy datang kemari, Daddy juga sering berbincang dengan Simone." jawab Rayya dengan nada sedikit ketus.


" Oh, gitu ... berarti Simone dengan Om Gavin akrab juga, ya?"


" Kita sudah sampai." Rayya bersyukur karena taxi yang mengantar mereka ke masjid sudah sampai ke tujuan, sehingga dia tidak perlu meladeni ucapan-ucapan Ramadhan yang ingin tahu kehidupan pribadinya.


" Dekat sini ada restoran nggak? Bagaimana kalau kita makan siang dulu? Ada yang ingin Kakak bicarakan dengan kamu. Kalau di gallery sepertinya kamu sibuk dengan pengunjung, belum lagi Simone pasti nggak akan kasih kesempatan Kakak mengobrol banyak sama kamu." Ramadhan berniat mengajak Rayya ke restoran karena ada sesuatu hal yang ingin dia sampaikan kepada Rayya.


" Kak Rama mau bicara apa? Aku harus segera kembali ke gallery, Kak. Kasihan Simone jika aku terlalu lama meninggalkannya." Rayya menolak permintaan Ramadhan.


" Oh, gitu, ya?"


" Nanti kita mengobrol di taxi saja." Rayya kemudian menyetop taxi yang lewat di depan jalan bangunan masjid.


" Kak Rama mau bicara apa?" tanya Rayya saat mereka sudah berada di dalam taxi menuju arah gallery.


" Kamu sama Kayla sekarang akrab, ya? Kakak bisa minta bantuan kamu?"


Rayya langsung menolehkan wajahnya ke arah Ramadhan yang juga sedang mengarahkan pandangan kepadanya.


" Kak Rama mau minta tolong apa ke Rayya?" Rayya mencurigai sesuatu. Dia merasa tidak nyaman dengan perkataan Ramadhan.


" Kakak minta bantuan kamu, agar kamu mendukung Kakak."


" Mendukung untuk apa?" Kening Rayya berkerut dengan hati-hati yang berdebar-bedar menunggu jawaban dari Ramadhan. Dia berharap apa yang diinginkan Ramadhan tidak seperti yang ada di pikirannya.

__ADS_1


" Bantu Kakak meyakinkan Kayla agar memberikan kesempatan kepada Kakak."


Deg


Serasa ditikam sembilu hati Rayya mendengar permintaan Ramadhan. Dadanya seketika ingin meledak saat mengetahui jika Ramadhan menginginkan dia membantu memuluskan jalan pria itu yang berambisi ingin memiliki Kayla.


" Kamu ingat waktu Kakak bilang jika Kakak mencintai wanita lain? Wanita itu Kayla. Tapi Kayla nggak kasih kesempatan kepada Kakak untuk membuktikan keseriusan Kakak dengan alasan yang terlalu dipaksakan."


" Karena itu Kakak minta bantuan Rayya. Kamu di sini pasti akan sering berkomunikasi dan bertemu dengan Kayla, kan? Apa Rayya bisa bantu Kakak?"


Rayya menarik nafas yang terasa berat. Sepertinya oksigen susah sekali didapatnya saat itu. Dan semua itu karena pria di sampingnya yang seolah tidak punya perasaan. Sejak kembali berjumpa kemarin sore, sepertinya tidak ada satu pun kalimat yang keluar dari mulut Ramadhan yang menyenangkan untuknya, yang ada justru menyakiti hatinya.


" Maaf, Kak. Bukan Rayya nggak mau. Tapi hubungan Rayya dan Kak Kayla baru saja akrab karena Rayya ikut pamerannya Kak Kayla. Aku dan Kak Kayla sedang menekuni dunia yang sama. Bukan tidak mungkin jika kami akan bekerja sama mengadakan pameran-pameran lainnya di masa mendatang. Kalau Kak Kayla tahu aku membantu Kak Rama, aku nggak ingin mengambil resiko Kak Kayla akan membenci aku." Dengan tegas Rayya menolak permintaan Ramadhan.


Rayya menyadari jika dia adalah manusia biasa. Dia sudah ikhlas menerima permintaan Ramadhan untuk menolak perjodohan. Tapi dia merasa tidak siap harus menjadi perantara yang akan menjembatani hubungan antara Ramadhan dan juga Kayla.


" Lagipula Kak Rama ini laki-laki, seharusnya Kak Rama berjuang sendiri tanpa harus meminta bantuan dari siapapun!" Sepertinya kekesalan Rayya sudah tidak terbendung hingga dia berani berkata seperti itu. Rayya pun segera bergegas keluar dari taxi karena mereka sudah sampai di depan gallery.


" Kalian sudah pulang?" Simone yang melihat kedatangan Rayya langsung mendekati wanita itu. Saat Rayya memberitahunya jika dia pergi bersama Ramadhan ke masjid, ada rasa khawatir di hati Simone, dia khawatir jika Ramadhan akan menyakiti hati Rayya kembali dengan ucapannya.


" Iya, Kak Kayla sudah datang?" tanya Rayya setelah menjawab pertanyaan Simone.


" Sudah, dia ada di dalam bersama temannya," sahut Simone.


Rayya pun akhirnya masuk ke dalam untuk menemui Kayla terlebih dahulu sementara Simone langsung berbincang dengan Ramadhan.


Rayya masuk ke ruangan gallery. Dia melihat Kayla bersama seorang wanita yang menatap lukisan seraya merangkul pundak wanita itu. Dia kemudian berjalan mendekat ke arah Kayla.


" Hai, Rayya. Baru selesai sholat ya?" tanya Kayla saat melihat kehadiran Rayya.


" Iya, Kak. Sudah selesai urusannya?"


" Sudah, ini jemput dia!" Kayla menunjuk ke arah wanita di sebelahnya. " Oh ya, Rayya. Kenalkan ini teman aku, dia juga dari Indonesia. Dia ini ...."


" Mas Rama? Ya ampun, Mas Rama ada di Milan juga?"


Wanita yang akan dikenalkan Kayla itu langsung menyapa Ramadhan yang berjalan di belakang Rayya bersama Simone. Seketika itu juga Rayya, Kayla dan Simone memutar pandangannya ke arah Ramadhan yang juga nampak terkejut melihat sosok wanita yang tak lain adalah Farah di gallery itu.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2