
" Sebaiknya kamu segera keluar dari rumah ini dan tidak usah menginjakkan kakimu lagi di rumah ini!"
Rayya yang tersentak kaget karena pengusiran yang dilakukan oleh Gavin terhadap Ramadhan, membuatnya keluar dari persembunyian dan menampakkan dirinya di hadapan dua pria yang sama-sama punya tempat spesial di hatinya, yaitu Daddy nya dan juga pria yang sejak kecil begitu dikaguminya.
" Dad ...."
Baik Gavin dan Ramadhan sama-sama terkejut dengan kemunculan Rayya karena mereka tidak menyadari jika sedari tadi Rayya mencuri dengar perbincangan mereka walaupun tidak seutuhnya.
" Baby ... sedang apa Baby berdiri di situ?" tanya Gavin menyayangkan kemunculan putrinya saat ini.
" Rayya ..." Berbeda dengan Gavin yang nampak marah, Ramadhan justru merasa senang melihat kemunculan Rayya dari dalam rumah.
" Baby, sebaiknya kau masuk ke dalam!" Gavin yang menyadari Ramadhan masih berada di tengah mereka langsung menyuruh putrinya itu untuk kembali masuk ke dalam rumah.
" Om, tolong kasih kesempatan saya bicara dengan Rayya." Ramadhan kembali memohon, pikirnya dia sudah tanggung datang ke rumah itu dan sudah berhadapan langsung dengan Rayya, sayang sekali jika dia tidak dapat berbincang dengan wanita itu.
" Apa kau tidak memahami kata-kata saya tadi, Rama?!" ketus Gavin seolah tidak menyetujui keinginan Ramadhan. " Saya tidak ijinkan kamu menemui anak saya lagi!"
" Dad, biarkan Kak Rama bicara sama Rayya." Kali ini suara lembut Rayya yang memohon kepada Daddy nya.
" Baby, sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan lagi di antara kalian." Kali ini Gavin menangkup wajah cantik dan imut putrinya itu.
" Dad, please ... beri Kak Rama waktu untuk berbicara dengan Rayya, hanya sebentar tak akan lama. Biar masalahnya selesai dan tak berlarut-larut." Rayya menggenggam tangan Gavin yang sedang menangkup wajahnya.
Gavin mendengus kasar, mana mungkin dia menolak permintaan putri kesayangannya itu.
" Oke, baiklah ... cepat katakan apa yang ingin kau sampaikan kepada putriku?!" ucap Gavin masih dengan bahasa yang ketus, namun Gavin tak beranjak dari tempat dia berdiri, hingga membuat Ramadhan merasa canggung harus bicara dengan Rayya.
" Dad, sebaiknya Dad tinggalkan kami berdua. Mungkin Kak Rama merasa nggak nyaman dengan Daddy berdiri di sini." Rayya yang menyadari kecanggungan Ramadhan meminta Gavin untuk meninggalkan mereka.
" Baby, kau mengusir Daddy?" Gavin merasa tak suka seolah diusir oleh anaknya.
" Dad, bukan seperti itu. Mungkin Kak Rama akan canggung dengan Daddy mengawasi seperti ini."
" Baby, Daddy harus dengar apa yang akan dia sampaikan kepadamu. Daddy nggak mau kejadian seperti dulu terulang lagi. Membiarkan kalian pergi dan bicara berdua ternyata dia menyakiti perasaan Baby, Daddy trauma, Sayang." Gavin yang memang sangat posesif terhadap Rayya tentu tidak ingin jika apa yang dikatakan Ramadhan kepada Rayya kembali menyakiti hati putri kesayangannya itu.
" Saya hanya ingin menyampaikan permintaan maaf saya, Om." ucap Ramadhan.
" Ya sudah, cepat katakan saja!" Gavin berbicara dengan sedikit menyentak kepada Ramadhan. " Baby mau memaafkan dia atau tidak?! Sebaiknya kamu katakan sekarang agar dia cepat pergi dari sini." Gavin seolah geram karena kemunculan Ramadhan di rumah orang tuanya.
__ADS_1
" Dad, kasih Rayya waktu sebentar untuk bicara dengan Kak Rama. Rayya baik-baik saja kok, Dad. Rayya yakin kalau Kak Rama juga nggak akan menyakiti Rayya." Rayya mencoba meyakinkan Daddy nya itu agar memberinya waktu sebentar untuk berbicara dengan Ramadhan.
Gavin menghela nafas panjang kemudian menatap dengan sorot mata menghunus tajam ke arah Ramadhan.
" Okelah, Dad akan kasih waktu kalian bicara. Hanya ingin mengutarakan permintaan maaf, Dad beri waktu lima menit kalian untuk bicara. Tapi Dad tidak kasih ijin jika dia ingin membawa kamu pergi dari sini. Kalau kalian ingin bicara, kalian bicaralah di sini saja." Gavin lalu menoleh arloji di tangan kanannya. " Waktunya lima menit dari sekarang." Setelah mengucapkan kalimat tadi Gavin pun segera masuk ke dalam rumah Dad David.
Rayya menatap Ramadhan. Setelah pria itu tahu tentang perasaannya, sebenarnya dia merasa canggung dan malu untuk berhadapan dengan Ramadhan. Namun karena dia merasa masalah ini harus segera diselesaikan agar Ramadhan tidak terus menerus menghubunginya, saat ini Rayya harus menyingkirkan rasa malu itu.
" Silahkan duduk, Kak. Ada apa lagi Kak Rama ingin ketemu aku?" tanya Rayya kemudian duduk di kursi teras rumah.
" Rayya, Kakak benar-benar menyesali perbuatan Kakak terhadap kamu. Kakak benar-benar nggak tahu kalau kamu ...."
" Sudahlah, Kak! Rayya nggak menyalahkan Kak Rama untuk hal itu. Jadi Kak Rama nggak usah merasa bersalah seperti ini." Rayya memotong kalimat Ramadhan sebelum pria itu memperjelas kalimatnya, yang dia duga Ramadhan akan mengatakan jika dia menginginkan perjodohan itu. Sama seperti yang dituliskan dalam pesan Ramadhan yang dia baca jelang Shubuh pagi tadi.
" Kakak merasa nggak enak karena Kakak sudah menyakiti perasaan kamu."
" Itu hanya masa lalu, Kak. Rayya juga sudah tidak memikirkan hal itu lagi, kok!" Rayya mencoba mengembangkan senyuman seolah menegaskan jika dia baik-baik saja saat ini.
" Ya mungkin dulu pergaulan dan pemikiran Rayya terlalu sempit dan nggak bisa berkembang. Pertemanan Rayya hanya sebatas orang-orang itu saja, hingga Rayya mengagumi Kak Rama karena dulu pernah menolong Rayya. Tapi setelah Rayya kuliah dan tinggal jauh dari orang tua, Rayya kini merasa bisa berpikiran luas dengan menjalin hubungan petemanan dengan banyak orang. Jadi Kak Rama nggak perlu merasa bersalah dengan sikap Kak Rama saat itu, karena Rayya pun sudah melupakannya, kok."
" Rayya justru merasa bersyukur dengan gagalnya perjodohan kita dulu. Hidup Rayya kini lebih berwarna. Bisa menetap di negara yang punya banyak tempat indah yang bisa dikunjungi. Bisa mengenal banyak orang dari beberapa negara di belahan dunia. Mungkin pengalaman itu nggak akan Rayya dapatkan jika perjodohan kita terjadi."
" Sekarang ini Rayya justru merasa berterima kasih kepada Kak Rama, karena penolakan rencana perjodohan itu membuat hidup Rayya kini lebih bahagia." Rayya mengucapkan kalimat itu dengan lancar hingga membuat Ramadhan seolah tidak sanggup mengucapkan kata-kata.
" Ini sudah lima menit, Kak. Sebaiknya Kak Rama segera pulang sebelum Daddy ku mengusir Kak Rama lagi." Rayya meminta Ramadhan meninggalkan rumah Grandpa nya.
" Rayya masuk dulu ya, Kak. Assalamualikum ...."
" Waalaikumsalam ...."
Ramadhan sendiri bingung harus berkata apa, karena sebenarnya dia masih belum puas bicara dengan Rayya. Pembicaraan tadi seakan didominasi oleh Rayya yang menunjukkan jika wanita itu baik-baik saja. Semestinya hatinya merasa senang mengetahui jika Rayya merasa lebih baik dan bahagia menjalani hidupnya saat ini. Tapi entah mengapa dia tidak merasa senang mengetahui hal itu. Dia tidak mengharapkan Rayya menderita, namun dia merasa sedih saat mengetahui jika wanita itu seolah tak masalah dengan sikapnya dulu. Entahlah, Ramadhan sendiri pun bingung dengan perasaannya sekarang ini.
***
" Baby ...."
Rayya terperanjat saat mendapati Gavin berdiri di balik pintu, sama seperti yang dia lakukan saat mencuri dengar percakapan Daddy nya dan Ramadhan tadi.
" Daddy dari tadi berdiri di sini?" tanya Rayya.
__ADS_1
" Dad hanya ingin memastikan jika dia tidak lagi mengucapkan kalimat yang menyakiti hatimu, Baby."
" Rayya baik-baik saja, kan? Daddy bisa lihat sendiri ...."
" Tentu saja, Baby. Daddy bangga kepadamu. Memang seperti ini harusnya anak Daddy. Jangan mudah lemah terhadap pria yang sudah mengacuhkanmu." Gavin langsung memeluk tubuh putrinya itu dan mengecup kening Rayya.
" Iya, Dad." ucap Rayya, dia tidak ingin Daddy nya itu mengetahui jika dirinya itu harus mati-matian meredam gemuruh di hatinya saat mengucapkan kalimat-kalimat tadi.
" Eh, tunggu-tunggu ... Baby tadi bilang jika senang tinggal di luar negeri dan jauh dari orang tua." Gavin kini menatap wajah putrinya itu lekat-lekat. " Apa ini maksudnya Baby senang meninggalkan Daddy dan Mommy di sini?"
" Memang Rayya bilang seperti itu, Dad? Rayya nggak bilang seperti itu, kok!" Rayya menampik anggapan Gavin itu.
" Tadi Daddy sepintas dengar kamu bicara seperti itu."
" Bukan maksud Rayya seperti itu Dad! Lagipula itu Rayya ucapkan agar Kak Rama itu tahu jika Rayya baik-baik saja selama ini. Dan Dad lihat sendiri 'kan kalau Rayya selama ini baik-baik saja?"
" Tentu saja kau baik-baik saja, Baby. Daddy akan memastikan dan membuat kamu selalu bahagia, juga tidak merasakan sedih lagi karena hal apapun." Gavin kembali memeluk putrinya dengan erat.
" Terima kasih, Dad. Terima kasih karena sudah menyayangi Rayya selama ini. Terima kasih karena Dad sudah menjadi Daddy terbaik untuk Rayya." Rayya sangat terharu dengan perlakuan orang taunya itu. Walaupun Daddy nya memang posesif, namun dia tahu jika hal itu dilakukan Gavin karena Gavin sangat menyayangi dirinya.
" Eh, ini Daddy sama anaknya sedang apa berpelukan di sini? Mommy tunggu di meja makan nggak juga datang, sampai Mommy menghabiskan fettucini nya."
" Fettucini nya habis, Mam?" Rayya yang teringat dia membuatkan Fettucini untuk Gavin langsung membulatkan matanya saat mendengar Mommy nya mengtakan jika telah menghabiskan fettucini.
" Fettucini punya Daddy?" Gavin menoleh ke arah Rayya.
" Nggak habis semua, kok! Mommy habiskan yang punya Mommy saja. Yang punya Daddy sama Rayya masih ada. Sudah sana buruan dimakan."
" Ayo, Dad. Kita makan fettucini buatan Rayya." Rayya langsung menarik Gavin dan membawanya ke arah ruang makan meninggalkan Azzahra yang hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan suami dan juga putrinya itu.
*
*
*
Bersambung ....
Rayya dikelilingi 3 cogan 😁
__ADS_1
Happy Reading❤️