
Tok tok tok
Rayya menoleh ke arah pintu saat pintu ruang lukisnya diketuk seseorang yang tak lain adalah William.
" Kak Willy?"
Willy langsung menghampiri adiknya itu.
" Bagaimana persiapanmu menghadapi even yang akan digelar Kayla?" tanya William seraya melihat hasil lukisan adiknya kemudian bersandar di dinding kamar seraya melihat tangannya di dada.
" Entahlah, Kak. Yang pasti sekarang ini rasanya deg-degan dan sedikit nervous juga, Kak." ungkap Rayya mengatakan perasaannya karena harus menghadapi pameran lukisan itu.
" Masih tiga Minggu lagi, kan? Sebaiknya kamu berlibur dulu agar hatimu menjadi tenang."
" Berlibur ke mana, Kak?" Rayya mengeryitkan keningnya.
" Kamu cepat packing, Kakak mau mengajak kamu berlibur ke daerah pesisir pantai."
" Kak Willy mau ajak aku liburan ke mana?" Rayya nampak bersemangat saat mendengar Willy akan mengajaknya berlibur. Selama di Italia bersama William, Rayya jarang sekali berlibur bersama William karena William mulai fokus dengan pekerjaannya.
" Amalfi Coast."
" Amalfi Coast?" Rayya langsung bangkit dari duduknya.
" Iya, makanya kamu cepat packing! Besok pagi kita berangkat, karena harus menempuh perjalanan beberapa jam dari sini." William kemudian melangkah keluar ruang lukis Rayya. Sementara Rayya langsung menghentikan kegiatannya di ruang lukis itu karena akan bersiap-siap untuk berkemas.
***
" Buongiorno, Rayya."
Rayya membulatkan matanya saat melihat Simone berdiri di samping mobil William.
" Simone?"
" Sono la tua guida turistica." ( Saya tour guide mu ) Simone tersenyum seraya membukakan pintu untuk Rayya.
" Kak Willy nggak bilang kalau akan mengajak Simone." Rayya langsung berkata kepada Kakaknya karena Kakaknya itu tidak bercerita apa-apa tentang keikutsertaan Simone bersama mereka.
" Apa kamu keberatan?" tanya William yang duduk di kursi di depannya.
" Nggak, kok! Aku justru senang dia ikut biar kita nggak kesasar." Rayya terkikik menimpali membuat Simone dan William pun ikut tertawa.
Setelah lebih dari tiga jam waktu yang ditempuh mereka melewati jalan tol, akhirnya mereka sampai juga di kota Pasitano, kita yang terletak di Italia bagian barat daya provisi Salerno.
Mereka berhenti sejenak sebelum menuju hotel dan mengambil beberapa foto dengan view yang sangat indah, terutama Rayya yang paling antusias.
Setelah mereka beristirahat sebentar mereka langsung menuju hotel yang sudah Simone dan William pesan untuk mereka menginap.
Mereka benar-benar tak menyia-nyiakan pemandangan indah yang begitu memanjakan mata mereka. Sementara William dan Simone langsung menikmati berenang di fasilitas kolam yang ada di hotel mereka menginap. Rayya memilih mengambil beberapa foto yang bisa dia jadikan objek lukisannya.
Malam harinya saat Rayya memilih beristirahat di kamar hotelnya, William milih bersantai menikmati indahnya kota kota di malam hari sambil berbincang dengan Simone.
" Simone, ti piace la mia sorella?" ( Simone, apa kau menyukai adikku ) tanya William kepada Simone.
" È una donna bella e gentile, solo agli uomini stupidi non piace." ( Dia wanita yang cantik dan baik hati, hanya pria bodoh yang tidak menyukainya )
__ADS_1
" Ti aspetti di più dalla vicinanza di voi due?" ( Apa kamu berharap lebih pada kedekatan kalian berdua ) Sebagai sesama pria tentu saja William paham apa yang sedang diharapkan oleh Simone. " Voi due avete differenze." ( Kalian berdua mempunyai perbedaan )
Simone tak langsung menjawab pertanyaan William, dia hanya menghela nafas sejenak. Ungkapan perasaannya secara spontan beberapa waktu lalu saja tidak direspon serius oleh Rayya.
" Lo so. Lascia segnare. Non voglio che tua sorella stia lontana da me perché sono troppo invadeente." ( Aku tahu. Biarkan mengalir saja. Aku nggak ingin adikmu itu menjauhiku karena aku terlalu memaksa ) sahut Simone kemudian.
" Qualunque cosa accada dopo, spero che tu non faccia del male a mia sorella." ( Apapun yang terjadi nanti, aku harap kau jangan sampai menyakiti adikku ) tegas William.
" Ovviamente no! Non posso fare del male a Rayya!" ( Tentu saja tidak! Aku nggak mungkin menyakiti Rayya ) Simone menepis anggapan jika dia akan menyakiti Rayya suatu saat nanti.
Setelah puas berbincang, mereka berdua pun kembali ke kamar hotel untuk beristirahat, sementara Rayya sudah lebih dahulu terlelap dalam tidurnya.
***
Keesokan harinya setelah menikmati sarapan, mereka pun berjalan-jalan menikmati indahnya pemandangan kota Pasitano, yang merupakan salah satu kota indah dari tiga belas kota yang dilintasi garis pantai Amalfi Coast sepanjang 50 kilo meter di laut Mediterania.
Salah satu yang menjadi daya tarik dari Pasitano selain pemandangan laut lepas Mediterania adalah jajaran rumah berwarna-warni yang seakan menempel di tebing curam dengan jalan sempit dan ribuan anak tangga yang menghubungi satu tempat ke tempat lainnya.
" Sembra in una fiaba." ( Seperti berada di dalam negeri dongeng ) Rayya benar-benar merasa bahagia dengan kunjungan mereka ke sana.
" E tu sei la principessa in quella fiaba." ( Dan kau adalah putri dalam dogeng itu ) Simone menyahuti Rayya saat mereka sedang berjalan mencari tempat makan.
" Vuoi essere un principe per lei?" ( Apa kau berharap menjadi pangerannya ) Rayya tertawa lalu berjalan mendahului Simone.
Ucapan Rayya seketika membuat Simone memperlambat langkahnya, tentu saja ucapan Rayya membuat gadis itu semakin menggemaskan di matanya.
" Che cosa?" ( Apa ) Simone tidak mengerti ucapan William.
" Dimenticalo!" ( Lupakan saja ) William tertawa mengibas tangannya kemudian berlari menyusul langkah Rayya yang sudah berada jauh di depannya.
" Lui e sua sorella sono gli stessi." ( Dia dan adiknya sama saja ) umpat Simone kemudian.
Setelah puas melakukan perjalanan keliling kota Pasitano, jelang sore hari mereka pun kembali ke Roma karena besok mereka harus kembali dengan aktivitas mereka masing-masing.
" Kak, makasih untuk pikniknya. Aku suka banget deh." Rayya memeluk William sebagai ungkapan rasa terima kasihnya.
" Kakak juga senang kamu terlihat menikmati liburan tadi."
" Kita harus mempunyai waktu untuk berpetualang ke tempat lain lagi, Kak. Kak Willy sibuk kerja saja, sih! Jadi kita jarang melakukan seperti ini. Simone bilang, banyak tempat indah seperti itu di Italia." Rayya benar-benar excited.
" Oh ya, Kakak ingin bertanya sama kamu, Rayya." Kini William nampak serius berkata pada Rayya.
" Tanya apa, Kak?"
" Bagaimana hubunganmu dengan Simone? Apa kamu merasa jika dia menyukaimu?" tanya William kemudian.
Rayya menghela nafas sejenak.
" Memangnya kenapa, Kak?"
" Kakak tahu dia selama ini sangat baik terhadap kamu. Tapi kamu mesti ingat ada banyak perbedaan antara kamu dan Simone. Kakak hanya nggak ingin kamu memberi harapan kepada Simone dan membuat dia kecewa pada akhirnya. Kamu harus bersikap tegas agar Simone mengerti dan tidak berharap terlalu banyak dengan hubungan kalian." William mencoba memberikan nasehatnya kepada Rayya.
" Apa selama ini dia pernah mengutarakan perasaannya ke kamu?" tanya William kemudian.
" Secara tidak langsung sih iya," sahut Rayya.
" Berarti belum secara lisan?"
__ADS_1
" Sudah, tapi ... tapi Rayya tidak ingin menanggapi itu serius dan hanya menganggapnya bercanda."
" Apa kau juga menyukai Simone?"
" Iya tentu saja, dia baik. Tapi Rayya hanya menyukainya sebatas teman saja, Kak. Kak Willy tahu jika Rayya tidak mudah bisa akrab dengan teman laki-laki. Bersama Simone, Rayya merasa justru sangat akrab sejak pertama bertemu." Rayya memang sempat heran karena bisa mudah menerima Simone sebagai teman.
" Ya sudah sebaiknya kau istirahat karena dua hari ini kamu pasti lelah setelah berpergian jauh." William. menyuruh adiknya itu segera beristirahat.
***
" Permisi, Om. Om panggil Rama?" tanya Ramadhan saat memasuki ruang kerja Dirga.
" Ah, iya Rama. Masuklah." perintah Dirga saat mendapati Ramadhan masuk ke ruangannya.
" Ada apa, Om?" tanya Ramadhan kemudian duduk di depan meja kerja Dirga.
" Kamu ada rencana cuti, kan?" tanya Dirga seraya menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kebesarannya.
" Iya, Om. Dua Minggu mendatang. Memangnya kenapa, Om?" Ramadhan berharap tidak ada penundaan cuti yang diajukannya. Apalagi kalau harus menjalankan tugas saat dia menjalani masa cutinya.
" Ada rencana cuti ke mana kau, Rama?" tanya Dirga kembali.
" Belum tahu sih, Om. Masih pikir-pikir. Tapi kemungkinan mau mengajak Mama, Arka dan Thalita ke Labuan Bajo."
" Oh jadi sudah ada acara, ya?" Dirga mengusap rahangnya. " Sayang sekali."
" Memangnya kenapa, Om?"
" Om tadinya mau tugaskan kamu ke Italia," sahut Dirga.
" Italia??" Ramadhan langsung membulatkan matanya saat Dirga mengatakan akan menugaskan dirinya ke Italia.
" Iya, Italia. Angkasa Raya ingin mencoba membuat cluster baru perumahan bergaya Renaissance. Karena itu Om ingin kamu ke sana bertemu langsung dengan arsitek di sana. Sekalian kamu juga lihat contoh bangunan bergaya Renaissance yang bisa kita adaptasi untuk perumahan kita." Dirga menjelaskan tujuannya ingin mengirim Ramadhan ke Italia.
" Tapi karena kamu sudah ada acara bersama keluarga ya sudah, nanti Om tugaskan yang lain untuk berangkat ke Italia," lanjutnya.
" Jangan, Om! Biar Rama saja yang pergi ke sana!" sergah Ramadhan cepat.
" Lho, bukannya kamu tadi bilang akan berlibur dengan Mama dan adik-adikmu ke Labuan Bajo?" tanya Dirga heran. " Om nggak mau kamu mengecewakan keluarga kamu karena kamu sudah menjanjikan liburan bersama mereka, loh!"
" Nggak, Om! Tadi itu baru rencana, belum Rama obrolkan juga dengan Mama dan adik-adik. Jadi mereka belum tahu tentang rencana liburan itu." Ramadhan mencoba meyakinkan Dirga agar Dirga tetap memilihnya pergi ke Italia.
Tentu saja itu kesempatan untuk Ramadhan bisa bertemu dengan Kayla jika dia ke Italia. Dan yang pasti keluarganya pun tidak akan curiga dan akan mengijinkan dia pergi ke sana karena alasan tugas yang diberikan oleh bosnya.
" Ya sudah kalau kamu memang setuju Om tugaskan di sana, kau harus siapkan dari sekarang. Kau suruh Susan pesankan tiket dan akomodasi selama di sana, semua yang tanggung perusahaan."
" Baik, Om."
" Nanti Om akan hubungi Om Edo kalau kau mau ke Italia, jadi dia juga bisa membantu selama di sana."
" Jangan, Om! Jangan kasih tahu Om Edo dulu. Biar ini jadi kejutan untuk Om Edo. Nanti kalau sudah sampai di Bandara, Rama saja yang hubungi Om Edo." Ramadhan nampak sekali dengan tugas yang diberikan kepadanya itu.
" Ya sudah kalau begitu. Kau siapkan dari sekarang dokumennya. Om juga nanti akan menghubungi Mr. Graziano dan mengatur janji pertemuan kalian di sana. Sekarang kau kembalilah ke tempatmu."
" Baik, Om. Permisi." Dan dengan langkah tegap Ramadhan keluar dari ruang kerja Dirga dengan hati senang.
*
*
*
Bersambung ..
Maafkan kalau banyak foto² beredar karena Othor nya yang lagi butuh piknik 😂😂😂
Bantu naikan level karya ini dengan like juga komen kalian ya, makasih🙏
__ADS_1
Happy Reading❤️