RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Tidak Ingin Menangis Lagi


__ADS_3

Rayya menyeka air matanya saat nada dering dari ponselnya berbunyi. Dia lalu meraih ponselnya untuk mengetahui siapa yang menghubunginya. Dia mendesah saat mendapati Azkia lah yang meneleponnya saat itu.


Rayya memilih mengabaikan panggilan dari Azkia, karena kalau dia menerima telepon Azkia, sepupunya itu akan tahu jika saat ini dia sedang menangis.


Klik


Sebuah notif pesan masuk di ponsel Rayya. Rayya lalu membuka pesan yang akhirnya Azkia kirim karena dia tidak merespon panggilan masuk itu.


" Assalamualaikum, Ray. Gimana tadi diapelin Kak Rama? Ngobrol apa saja? Kalian pergi ngedate atau di rumah saja?"


Rayya sudah menduga jika Azkia akan penasaran dan mencari tahu soal kedatangan Ramadhan.


" Waalaikumsalam, nanti saja ceritanya ya, Kia. Jangan sekarang." Rayya langsung membalas dengan cepat pesan Azkia sebelum sepupunya itu kembali meneleponnya.


" ๐Ÿค”๐Ÿค” Rayya gitu, ya. Kalau sudah senang-senang sama Kak Rama lupa sama Kia.๐Ÿ˜"


" Apa yang terjadi nggak seperti yang Kia bayangkan. Nanti Rayya cerita kejadian yang sebenarnya."


" Oke, deh. Besok pagi Kia ke sana, ya."


" Jangan di sini, Kia. Nanti kita ngobrolnya di luar saja jangan di rumah."


" Memang kenapa, Ray? Tuh, kan. Rayya bikin Kia penasaran, deh."


Rayya tidak membalas pesan Azkia hingga akhirnya Azkia kembali mengirimkan pesan.


" Oke, deh. Kalau Rayya nggak bisa cerita sekarang. Gimana kalau besok pagi kita jogging ke Monas? Rayya nanti cerita semua ke Kia."


Rayya berpikir sejenak sebelum akhirnya dia menjawab ajakan Azkia.


" Oke, Kia. Assalamualaikum." Rayya memilih menyudahi obrolan via chat dengan Azkia.


" Oke, waalaikumsalam." Pesan terakhir yang dikirimkan oleh Azkia tidak dibaca oleh Rayya karena dia kembali menenggelamkan diri dalam tangisannya.


***


Keesokan paginya, Rayya terbangun lebih awal dari biasanya. Dia segera mengompres dengan air dingin daerah seputar matanya yang sembab kerena habis menangis. Rayya tidak ingin kedua orang tuanya sampai tahu jika telah menangis semalam.


Selepas membersihkan tubuhnya dan sholat shubuh, Rayya kemudian mencari pakaian untuk olah raga. Dia juga mencari sneakers dan juga memasang waist bag berbahan nilon di pinggangnya. Setelah dirasa sembab di matanya mulai samar, Rayya melangkah keluar dari kamar meminta ijin kedua orang tuanya.


" Mom, Rayya mau jogging keluar sama Kia, ya." Rayya yang melihat Azzahra berjalan menuju dapur langsung mencegat langkah Mommy nya itu.


Azzahra langsung menoleh ke arah Rayya. Dia memperhatikan anaknya yang sudah rapih dengan pakaian olah raga.


" Kamu mau jogging ke mana, Sayang? Sama siapa?" Azzahra memperhatikan wajah anaknya yang nampak biasanya saja dengan senyuman yang mengembang di bibir Rayya.


" Sama Kia, Mam. Kita mau ke Monas. Nanti minta diantar sama Pak Rudi saja, boleh 'kan, Mom?" tanya. Rayya kemudian.


" Hanya berdua saja? Maksud Mom, bertiga sama Pak Rudi? Kak Alden atau Kak Gibran ikut, nggak?" Azzahra mungkin merasa lebih tenang jika Alden atau Gibran ikut menemani putrinya.


" Kak Alden sama Kak Gibran nggak ikut, Mom. Mom nggak usah khawatir, ada Kia yang jago karate juga, kan?" Rayya yang melihat Mommy nya khawatir mencoba menenangkan.


" Rayya ijin sama Daddy dulu sana." Azzahra menyuruh putrinya untuk meminta ijin terlebih dahulu kepada Gavin.


" Daddy di mana, Mom?"


" Masih di kamar."


" Ya sudah, Rayya ke kamar Daddy dulu." Rayya kemudian melangkah menuju kamar orang tuanya.


Rayya mendapati Gavin masih terlelap dengan posisi tidur telungkup dengan memeluk bantal. Rayya berjalan mendekati lalu duduk di tepi tempat tidur Gavin dan Azzahra.


" Dad belum bangun? Sudah jam lima, Dad sudah Shubuh belum?" tanya Rayya membangunkan Gavin.


" Hmmm ..." Gavin menggeliat lalu memutar tubuhnya seraya membuka matanya menyipit.


" Dad, baru tidur lagi setelah Shubuh tadi, Baby." Gavin kemudian mengangkat punggungnya hingga dia terduduk saat dia melihat putrinya terlihat rapih dengan menggunakan hijab.


" Baby mau ke mana?" tanya Gavin kemudian.


" Rayya mau mau jogging bareng Kia, Dad. Kia mengajak Rayya ke Monas."

__ADS_1


" Kenapa mesti ke Monas? Jogging seputar komplek ini juga 'kan bisa." Gavin sepertinya keberatan dengan rencana Rayya dan Azkia yang ingin jogging di seputaran Monas.


" Biar bisa sekalian cuci mata mungkin, Dad." Rayya mencoba tetap ceria dengan melemparkan candaan agar Daddy nya tidak mengkhawatirkan dia yang sebenarnya masih bersedih karena penolakan Ramadhan.


" Baby, Dad tidak ijinkan kau berkenalan dengan sembarang laki-laki." Gavin langsung menatap serius putrinya.


" Rayya mau olah raga pagi kok, Dad. Bukan mau kenalan sama siapa-siapa." Rayya memeluk tubuh Daddy nya. Selalu rasa nyaman yang dia dapatkan setiap kali memeluk tubuh yang masih tetap terlihat kekar walau usianya sudah hampir setengah abad.


Ddrrtt ddrrtt


Ponsel di dalam waist bag Rayya pun berbunyi. membuat Rayya segera mengambil benda pipih itu dari dalam tas pinggangnya.


" Assalamualaikum, Kia. Kia sudah siap? Rayya lagi minta ijin Daddy dulu." Rayya melirik ke arah Daddy nya.


" Kemarikan ..." Gavin meminta Rayya memberikan ponsel di tangannya itu hingga Rayya menyerahkan ponsel miliknya ke Gavin.


" Waalaikumsalam, Kia sudah siap, kita berangkat sekarang saja, yuk!"


" Kia mau ajak Baby ke mana?" Gavin yang menjawab Azkia.


" Eh, Uncle ... Kia mau ajak Rayya ke Monas, Uncle. Mumpung mingguan. Uncle."


" Siapa yang menjaga Kalian? Gibran ikut?"


" Nggak, Uncle. Kalau Kak Gibran ikut kita nggak bisa cuci-cuci mata, dong." Azkia terkekeh.


" Kia, Uncle minta kamu jaga Baby. Jangan kasih kesempatan kalau ada anak laki-laki yang mengganggu dia." Gavin langsung memberi amanat kepada anak dari adik sepupunya itu.


" Siap, Uncle!" tegas Azkia. " Jadi Uncle kasih ijin Rayya ikut, kan? Makasih, Uncle. Assalamualaikum." Azkia langsung mengakhiri panggilan teleponnya.


" Waalaikumsalam ..." Gavin lalu menyerahkan benda pipih milik putrinya itu.


" Dad kasih ijin, tapi setelah selesai kalian cepat pulang jangan keluyuran, oke?!"


" Oke, Dad. Makasih ..." Rayya kembali memeluk Gavin dan mengecup pipi Daddy nya sebelum akhirnya meninggalkan kamar orang tuanya itu.


***


Azkia mendengarkan semua cerita Rayya tentang apa yang dibahas dengan Ramadhan semalam. Termasuk pengakuan Ramadhan yang mengatakan jika pria itu ternyata sudah mempunyai wanita pujaan lain.


" Kia nggak boleh membenci Kak Rama. Kak Rama nggak salah, kok. Semua ini 'kan rencana dari Daddy yang tidak konfirmasi terlebih dahulu ke Rayya tentang rencana ini." Rayya mencoba bersikap bijak. Dia berpendapat apa yang dirasakan oleh Ramadhan adalah hal yang wajar.


" Tapi 'kan Rayya jadi patah hati karena penolakan Kak Rama." Azkia langsung merangkul Azkia dan menyandarkan kepalanya di bahu sepupunya itu.


" Rayya nggak apa-apa kok, Kia." Suara Rayya sedikit bergetar.


" Rayya kalau ingin menangis, menangis saja nggak apa-apa biar Rayya bisa sedikit plong." Kali ini Azkia menegakkan kepalanya lalu membawa kepala Rayya agar bersandar di bahunya.


" Nanti Rayya akan jadi tontonan orang-orang kalau Rayya menangis di sini, Kia." Rayya mencoba mengusap air mata di sudut matanya. Dia tidak ingin cairan bening itu kembali menetes di pipinya.


" Rayya yang sabar ya. Kia doakan Kak Rama balik bucin sama Rayya."


Rayya langsung menoleh ke arah Azkia karena ucapan Azkia yang menyumpahi Ramadhan.


" Jangan bicara begitu, Kia! Nggak baik. Lagipula Kak Rama sudah mempunyai kekasih, jangan berharap yang aneh-aneh, deh."


" Kia benar-benar nggak sangka Kak Rama seperti itu, Kia." Azkia masih belum bisa mempercayai kenyataan bahwa Ramadhan menolak Rayya.


" Ray, apa wanita yang disukai oleh Kak Rama itu Kak Kayla, ya?" Seketika Azkia teringat pada moment pesta perayaan ulang tahun Rayya kemarin.


Rayya mendesah. Dia tidak ingin menduga-duga. Dia juga tidak ingin memikirkan tentang Ramadhan lagi.


" Rayya nggak tahu, Kia. Siapapun wanita yang disukai oleh Kak Rama, tidaklah penting untuk Rayya saat ini," lirih Rayya.


" Rayya, wah nggak sangka kita ketemu di sini."


Suara seorang pria seketika membuat Rayya dan Azkia menoleh ke arah asal suara tadi.


" Dia sejenis mahluk halus kali ya? Di mana-mana ada dan muncul secara tiba-tiba," bisik Azkia saat mendapati kehadiran Raffasya di hadapan mereka berdua.


" Kak Raffa?" Rayya pun nampak kaget dengan kemunculan Raffasya.

__ADS_1


" Rayya kenapa? Rayya menangis ya?" Raffasya melihat bola mata Rayya yang nampak mengembun. Matanya langsung menatap tajam ke arah Azkia. " Lu yang buat Rayya menangis?" tuding Raffasya kepada Azkia.


" Iiishh, sembarangan main tuduh-tuduh saja!" Azkia dengan cepat menangkis tudingan Raffasya. " Lagian ngapain Kak Raffa ada di sini? Kak Raffa membuntuti kami, ya?!" Kali ini Azkia yang nampak menyerang Raffasya dengan tuduhan.


" Siapa yang mengikuti? Nggak usah kegeeran lu!" Raffasya menampik. Dia lalu mendekati Rayya. " Kamu kenapa, Rayya? Kamu sedang sedih? Ada masalah?" tanya Raffasya.


" Nggak usah caper, deh! Nggak usah sok akrab juga!" sindir Azkia.


" Mulut lu bisa diam nggak, sih? Mau gue gantung di tugu Monas?!" ancam Raffasya.


" Cih, silahkan saja kalau berani? Mau Kia tendang lagi?" Azkia langsung bangkit sambil berkacak pinggang.


" Kia, sudah-sudah jangan berantem! Malu dilihat orang." Rayya mencoba melerai kedua orang yang sedang berdebat di hadapannya.


" Ray, kita pindah saja, yuk! Males kalau ada cowok rese kaya dia!" Azkia menunjuk ke arah wajah Raffasya yang dengan cepat tangan Azkia itu ditepis oleh Raffasya.


" Heh, yang sopan sama orang yang lebih tua!" hardik Raffasya.


" Cih, memangnya Kak Raffa sendiri punya sopan santun sama orang yang lebih tua?! Ngaca dong, sebelum ngomong!" Azkia menjulurkan lidahnya seolah mengejek Raffasya.


" Kia, sudah ... kita pulang saja, yuk!" Rayya lalu merangkul lengan Azkia mengajak sepupunya itu pergi.


" Nah, kan. Rayya saja langsung ilfil ngeliat Kak Raffa. Bikin jogging kita berantakan saja! Huuuuhhh ..." Azkia mencibir Raffasya dan mengikuti langkah Rayya yang bergegas meninggalkan Raffasya.


" Heran deh, di dunia ada gitu cowok model Kak Raffa." Azkia masih saja menggerutu. " Nggak kebayang kalau Rayya mau jadi pacar Kak Raffa. Hiiiiiii ..." Azkia mengedikkan bahunya.


" Jangan menghina Kak Raffa seperti itu, Kia. Sejauh ini Kak Raffa selalu bersikap baik kok sama Rayya." Rayya memang menyadari sejauh ini Raffasya tidak pernah berkata apalagi berbuat kasar kepadanya, berbeda jika kepada Azkia, pria itu nampak selalu memusuhi.


" Itu karena dia sedang berusaha menarik perhatian Rayya. Rayya bayangin saja, deh. Kak Rama yang terlihat baik saja tega-tega nya menyakiti hati Rayya, apalagi cowok berandalan. seperti Kak Raffa itu, bisa-bisa bikin Rayya makan hati, deh!" Azkia memutar bola matanya.


" Don't judge a book by its cover, Kia."


" Iya, sih ... tapi kata-kata itu nggak cocok untuk Kak Raffa. Sekali bad boy tetap saja bad boy." Rayya kembali mengedikkan bahunya.


" Apes saja tuh nanti yang jadi ceweknya dia, apalagi kalau jadi istrinya. Rayya jangan sampai kena tipu Kak Raffa, ya."


" Kia gitu banget sama Kak Raffa. Kata Enin Hesti, jangan membenci orang terlalu berlebihan, nantinya malah bisa berbalik jadi cinta."


Azkia tergelak mendengar ucapan Rayya.


" Mending Kia pilih Kak Gibran ke mana-mana, deh. Sudah ganteng, baik, nggak neko-neko, dapat dukungan juga dari Papa sama Mama Kia."


" Tapi kita nggak tahu siapa yang kelak jadi pendamping kita, Kia. Siapa tahu nanti Kia malah mendadak jatuh cinta sama Kak Raffa. Enin Hesti pernah cerita ke Rayya kalau dulu Dad Gavin sama Mom Rara itu seperti Tom and Jerry. Selalu saja berdebat seperti Kia dan Kak Raffa begini. Sekarang Mom sama Dad justru saling cinta dan harmonis. Siapa tahu nanti Kia juga nanti sama Kak Raffa berjodoh." Rayya terkekeh.


" Jangan samakan Uncle sama Kak Raffa. Mama bilang Uncle itu orang baik, pantaslah dapatnya Auntie Rara yang baik juga. Kalau Kak Raffa itu nggak ada baik-baiknya sama sekali, Ray." Azkia memprotes Rayya yang membandingkan Gavin dengan Raffasya.


" Dan Kia juga nggak akan mungkin suka sama Kak Raffa, titik!" tegas Azkia.


" Kalau Allah berkehendak, apa yang tidak mungkin bisa saja terjadi. Allah itu maha membolak-balikkan hati manusia, Kia."


Azkia menghentikan langkahnya hingga Rayya ikut berhenti.


" Kenapa, Kia?"


" Seandainya Allah ingin membolak-balikkan hati manusia, Kia berharap itu akan dialami oleh Kak Rama. Kia berharap, suatu saat nanti, Kak Rama akan merasakan apa yang Rayya rasakan saat ini. Rasa kecewa, rasa patah hati. Kia harap suatu hari nanti Kak Rama akan menyesal telah menolak wanita sebaik Rayya."


Seketika bola mata Rayya dipenuhi oleh cairan bening yang siap tumpah di wajah cantiknya mendengar ucapan Azkia.


" Kia nggak rela lihat Rayya sedih dan patah hati." Azkia lalu mengusap air mata yang tak terasa menetes di pipi Rayya.


" Kia jangan bikin Rayya malah mau nangis lagi, deh." Rayya mengibas tangannya di dekat mata seraya mendonggakan kepala ke atas.


" Rayya kalau mau nangis jangan ditahan." Azkia mengusap punggung Rayya.


" Nggak, Kia! Rayya nggak ingin menangis lagi untuk Kak Rama," ucap Rayya dengan dada yang bergemuruh. Dia pun segera menyeka air matanya kembali. " Kita pulang sekarang, yuk!" Rayya kembali menggandeng tangan Azkia dan melanjutkan langkahnya menuju mobil di mana Pak Rudi sedari tadi menunggu mereka berdua.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ....


Happy Readingโค๏ธ


__ADS_2