
Sekitar jam 06.30 waktu Roma, pesawat yang membawa Rayya dan Gavin dari Jakarta mendarat di bandara udara Fiumicino, Roma.
Rayya dan Gavin langsung menuju apartemen Rayya dan William yang selama ini ditempati oleh kedua anak Gavin dari dua wanita berbeda itu.
" Dad, sebaiknya Dad istirahat dulu saja. Pasti Dad lelah sekali. Nanti Rayya rapihkan dulu tempat tidur Kak Willy, karena Kak Willy bilang hari akan bermalam di Turin." Rayya kemudian masuk ke dalam kamar Willian. Dia lalu mengganti lebih dahulu sprei milik William. Karena dia ingat sprei yang sekarang terpasang di tempat tidur William masih sama dengan sprei saat mereka pulang ke Indonesia.
" Kakakmu nggak pulang hari ini, Baby?" tanya Gavin yang mengekor langkah Rayya.
" Nggak, Dad. Kak Willy bilang besok pagi baru kembali. Semoga besok sebelum Daddy kembali ke Jakarta Kak Willy sudah pulang," ujar Rayya.
" Sekarang Dad istirahat saja dulu karena besok Dad akan melakukan perjalanan panjang lagi." Rayya mengusap lengan Gavin.
" Kau sendiri tidak istirahat?" tanya Gavin saat melihat Rayya memegang dompet juga ponsel di tangannya.
" Rayya mau ke mini market di seberang. Mau membeli persediaan makanan. Kebutuhan barang fresh juga sudah kosong di kulkas. Rayya nanti mau siapkan makan siang untuk Daddy." Rayya menyebutkan alasannya pergi ke mini market.
" Baby, kau tidak perlu masak untuk, Daddy. Nanti kita cari makan di luar saja. Baby juga 'kan capek habis perjalanan jauh. Sebaiknya Baby juga istirahat." Gavin membelai wajah Rayya.
" Sebantar saja kok, Dad. Setelah itu Rayya juga akan istirahat. Lagipula di pesawat tadi juga Rayya banyak tidurnya." Rayya terkekeh.
" Rayya tinggal sebentar ya, Dad. Dad istirahat saja. Assalamualaikum ..." Rayya berpamitan kepada Daddy nya.
" Waalaikumsalam ..." Setelah menjawab salam dari Rayya, Gavin pun segera membersihkan diri dan beristirahat.
***
Rayya segera membuka pintu apartemen saat bel apartemennya berbunyi.
" Ciao, Rayya. Come stai? Mi manchi tanto." ( Hai Rayya, apa kabar? Aku kangen banget sama kamu ) Ternyata Simone lah yang kini berdiri di depan pintu apartemennya.
" Simone? Prego entra." ( Simone? Silahkan masuk )
Walaupun Simone dan Rayya sangat akrab, namun Simone jarang sekali datang mengunjungi apartemen Rayya, terkecuali saat William ada di apartemen itu. Simone benar-benar sangat menjaga Rayya, karena dia tahu Rayya tidak seperti wanita kebanyakan yang dia kenal, bisa menerima teman pria datang ke apartemennya. Dan sekarang ini karena dia tahu jika Gavin ada bersama Rayya makanya dia memberanikan diri datang ke sana.
" Dov'è lo zio Gavin?" ( Mana Om Gavin ) tanya Simone.
" Apa Simone yang datang, Baby?" Gavin muncul dari arah dapur, karena selepas istirahat dia menemani putrinya memasak makanan untuk mereka jadikan makan siang. Sebelumnya Simone terlebih dahulu menghubungi Gavin dan meminta ijin kepada Gavin untuk berkunjung ke apartemen Rayya.
" Hai, Om. Senang bisa bertemu Om Gavin kembali." Simone langsung menyapa Gavin.
" Hai, Simone."
" Saya turut berduka atas meninggalnya Papa dari Om Gavin." Simone tak lupa menyampaikan ucapan berkabungnya.
" Terima kasih, Simone. Kau bawa apa?" tanya Gavin melihat sesuatu yang dibawa Simone di tangannya.
" Ini saya bawakan makanan untuk Om dan Rayya untuk makan siang." Simone lalu menyerahkan bungkusan makanan yang dia belikan untuk Rayya dan Gavin.
" Kalau kamu bilang akan ke sini dan membelikan kami makanan, aku nggak perlu repot-repot masak, deh." celetuk Rayya seraya menerima bungkusan makanan dari tangan Simone.
Simone tersenyum seraya melirik Gavin mendengar ucapan Rayya.
" Simone sudah bilang ke Daddy kalau dia akan kemari, tapi Daddy nggak tahu kalau dia membelikan kita makanan sebanyak ini." Gavin menyahuti perkataan Rayya.
" Ya sudah sebaiknya kita makan saja sekarang. Dad sudah lapar sekali. Kau juga ikut makan saja di sini, Simone. Kau pasti belum makan juga, kan?" Gavin lalu berjalan ke arah meja makan di depan ruang tamu yang tak bersekat.
" Baik, Om." Simone pun mengekor ke arah Gavin dan menarik satu kursi untuk dia duduki. Sementara Rayya menyiapkan makanan dan menaruh makan di atas piring sebelum dihidangkan kepada Daddy dan sahabatnya itu.
Selama Rayya menyajikan makanan di atas meja, Gavin dan Simone nampak akrab berbincang tentang banyak hal. Rayya sempat mencuri pandang Gavin dan Simone bergantian. Jika saja tidak ada perbedaan antara dirinya dan Simone, mungkin dia akan lebih mudah membuka hati untuk Simone sebagai pengganti sosok Ramadhan yang sejak lama dia idamkan. Apalagi saat terlihat keluarganya bisa menerima kehadiran Simone dengan baik, terutama Daddy nya yang super ketat menjaganya dari semua pria.
" Om nanti malam saya jemput, ya! Om mau makan apa malam nanti? Nanti saya traktir Om makan di luar." ujar Simone saat mereka selesai menyantap menu makanan siang ini.
" Kau tidak perlu repot-repot mentraktir Om, Simone." Gavin menolak secara halus tawaran Simone.
" Tidak apa-apa, Om. Jarang sekali saya bisa traktir Om Gavin. Jadi mumpung Om ada di Roma, nanti saya traktir, Om." Simone merasa tidak masalah mentraktir Gavin juga Rayya.
" Ya sudah, terserah kamu saja, tapi jangan sampai menyusahkan kamu, Simone." Gavin menyahuti.
__ADS_1
" Tidak menyusahkan, Om. Om ini tamu di sini, jadi saya berkewajiban menyambut Om dengan baik di sini," jawab Simone.
Gavin tersenyum mendengar jawab Simone.
" Om senang, di sini Rayya mempunyai sahabat seperti kamu, Simone."
Simone menarik tipis sudut bibirnya, tentu saja dia akan berusaha melakukan hal yang terbaik untuk Rayya hingga dia mendapatkan kepercayaan dari Gavin untuk menjadi sahabat putrinya. Ya, hanya sebatas sahabat, karena dia tidak berani berharap lebih dari itu.
" Oh ya, Rayya bilang kau sedang dekat dengan Michelle sekarang. Apa itu benar?"
Simone membulatkan matanya lalu melirik ke arah Rayya yang sedang menahan tawa. Dia kini menyipitkan matanya.
" Om juga menganggap Michelle itu seperti anak Om sendiri, karena dia adalah adik dari Kakaknya Rayya. Kalau kau benar-benar serius dengan dia, Om akan dukung hubungan kalian, Simone. Om merasa selama ini kau adalah pria yang baik, jadi Om akan membantu jika kamu kesulitan mendapatkan restu dari Jovanka juga Peter." Gavin menyampaikan tekatnya mendukung Simone dan Michelle.
" Hmmm, kami baru berteman saja, Om." Simone masih menatap tajam ke arah Rayya yang masih terlihat menahan tawanya tanpa berani menaikkan pandangan ke arahnya.
Selesai makan siang dan mengobrol sebentar, Simone pun berpamitan pulang kepada Gavin dan Rayya dan berjanji akan menjemput mereka untuk makan malam nanti setelah waktu Maghrib.
***
Diantar menggunakan taxi, Gavin mengantar Rayya ke kampusnya. Sementara dia sendiri akan kembali ke Jakarta menggunakan penerbangan jam 10.55 waktu Roma, sedangkan William sendiri menggunakan penerbangan pukul 07.45 dari Turin akan mendarat di Fiumicino, Roma sekitar pukul 09.00. Masih ada jeda waktu sekitar dua jam untuk William bisa menemani dan mengantar Gavin ke airport.
" Dad, hati-hati di jalan, ya." Rayya memeluk Gavin saat turun dari taxi, karena mereka akan berpisah jarak kembali Mungkin saat wisuda William sekitar tiga bulan mendatang, Gavin akan mengunjunginya lagi.
" Daddy pasti akan sangat kangen Baby." Gavin pun membalas pelukan Rayya, bahkan dia memeluk Rayya lebih erat. " Jaga dirimu baik-baik."
" Iya, Dad."
" Ciao Rayya, sei già a Roma. Quando verrai qui?" ( Hai Rayya, kau sudah tiba di Roma. Kapan kamu datang kemari )
Saat Rayya dan Gavin masih berpelukan, tiba-tiba seseorang menyapa Rayya hingga membuat Rayya dan Gavin mengurai pelukannya.
Rayya terkesiap saat mendapati orang yang menyapa dan berdiri berjarak sekitar tiga meter dari dirinya ternyata Luigi.
" Luigi ...."
" Jadi dia yang bernama Luigi?" bisik Gavin kepada Rayya.
" I-iya, Dad." Rayya menggigit bibirnya, dia rasa pertemuan Luigi dan Daddy nya saat ini tidak dia prediksi dan tidak dia harapkan sebelumnya.
" Are you Luigi?" tanya Gavin dengan tatapan mata menyelidik.
" Yes, Sir. I'm Luigi. Are you Rayya's Dad? Nice to meet you, Sir." Luigi langsung mengulurkan tangannya ingin menjabat tangan Gavin. Dan walaupun dengan agak ragu, Gavin menerima jabat tangan Luigi karena dia melihat pria itu sangat santun dan ramah menyapanya.
" Are you trying to get closer to my daughter?" Sepertinya tanpa perlu basa-basi Gavin langsung menanyakan apa benar jika Luigi sedang berusaha mendekati putrinya.
" Dad ..." Rayya memegang lengan Gavin karena sikap Gavin yang dia lihat saat ini mirip saat pertama kali Gavin berjumpa dengan Simone.
" Yes, Sir." Tanpa diduga Luigi mengiyakan apa yang dituduhkan Gavin kepadanya.
" What do you mean to get closer with my daughter?" tanya Gavin lagi penuh intimidasi.
" Because I like your daughter, Sir." Luigi menatap ke arah Rayya yang langsung terperangah dengan kenekatan Luigi yang berani secara terang-terangan mengatakan suka kepadanya di hadapan Daddy nya. Rayya langsung menoleh Gavin yang terlihat rahangnya mulai mengeras.
" Rayya, Om Gavin ..." Tiba-tiba Simone yang mengendarai motor Piaggio nya datang menghampiri. Simone langsung menatap tajam ke arah Luigi.
" Cosa stai facendo qui?" ( Apa yang kau lakukan di sini ) tanya Simone bernada ketus.
" Sto parlando con il padre di Rayya." ( Saya sedang berbincang dengan papanya Rayya ) jawab Luigi enteng.
Rayya yang melihat situasi nampak akan menegang antara Daddy nya, Simone dan Luigi langsung menggigit bibirnya. Daddy nya tentu saja tidak akan membiarkan pria yang mengatakan menyukai dirinya secara terang-terangan. Dan Simone yang dia tahu menyukai dirinya tentu saja tidak akan merelakan Luigi begitu saja dekat dengan dirinya.
" Simone, kau bawalah Rayya pergi dari sini!" Gavin memerintah Simone agar menjauh dari Luigi.
" Baik, Om." sahut Simone cepat.
" Dad ..." Rayya yang merasa khawatir Daddy nya akan berbuat nekat merasa khawatir meninggalkan Gavin dengan Luigi berdua.
__ADS_1
" Kau tenang saja, Baby. Daddy nggak akan melakukan kekerasan kepadanya." Gavin lalu menangkup wajah putrinya. " Sekarang kau ikutlah masuk ke dalam bersama Simone. Dia biar Daddy yang urus."
" Daddy mau langsung kembali ke apartemen, kan?" tanya Rayya. " Hati-hati di jalan ya, Dad." Rayya kembali memeluk tubuh Gavin.
" Iya, kamu juga harus jaga diri." Gavin kemudian mengecup kening Rayya dengan penuh kasih sayang.
" Selamat jalan, Om. Semoga selamat sampai tujuan. Salam untuk keluarga Om di Jakarta." Simone pun kemudian menjabat tangan Gavin dan memeluk tubuh Gavin karena dia tahu Gavin akan kembali ke Jakarta siang ini.
" Om titip Rayya, Simone."
" Saya akan jaga Rayya baik-baik, Om." tegas Simone seraya melirik ke arah Luigi dan memberikan seringai tipis kepada pria itu, seolah menunjukkan jika dia begitu dipercaya oleh Gavin. " Ayo, Rayya." Simone mengajak Rayya untuk segera naik ke atas motor maticnya.
" Rayya masuk dulu ya, Dad. Assalamualikum ..." Rayya berpamitan kepada Daddy nya.
" Waalaikumsalam ..." Bukan hanya Gavin yang membalas salam Rayya tapi Luigi juga membalas salam yang diucapkan oleh Rayya.
" How dare you say that in front of me!" ketus Gavin dengan gigi mengerat mendapati Luigi mengatakan jika pria itu menyukai putrinya di hadapannya langsung saat Rayya dan Simone sudah menjauh dari mereka berdua.
" I'm so sorry, Sir. I just answered your question. and I said according to my conscience," tegas Luigi, sepertinya dia berhasil lepas dari intimidasi yang dilakukan oleh Gavin dengan menjawab pertanyaan Gavin seseuai hati nuraninya.
" What made you so confident saying that to me?" Jujur saja, keberanian dan rasa percaya diri Luigi sesungguhnya membuat Gavin kagum. Anak muda seperti Luigi lah yang sebenarnya mempunyai karakter yang kuat. Sejujurnya dia mengharapkan pria seperti Luigi lah yang menjadi pendamping Rayya kelak. Tapi tentu saja dia tidak akan semudah itu memberikan Rayya kepada Luigi.
" Because I like your daughter and we are same faith, Sir." sahut Luigi tanpa rasa ragu menjawab pertanyaan Gavin dengan lugas.
Gavin mendengus mendegar jawaban Luigi yang tanpa rasa takut sedikitpun
" I won't easily give my daughter to just any man!" tegas Gavin memberi psywar kepada Luigi dengan mengatakan jika dia tidak akan dengan mudah menyerahkan putrinya kepada sembarang pria.
" Whatever you ask me, I'll do it as a form of my sincerity, Sir."
Gavin menghela nafas dalam-dalam. Anak muda di hadapannya itu benar-benar tak mempan diberikan ancaman. Bahkan Luigi mengatakan jika dia akan melakukan apapun yang diinginkan Gavin sebagai bentuk ketulusannya.
***
" Che cosa ha parlato tuo padre con Luigi?" ( Apa yang tadi dibicarakan Papamu dengan Luigi ) Simone tentu saja merasa kepikiran dengan keberadaan Luigi di antara Rayya dan Gavin tadi.
" Ha appena detto ciao." ( Hanya sekedar menyapa ) sahut Rayya.
Simone pun langsung terkekeh mendengar jawaban Rayya.
" Perché stai ridendo?" ( Kenapa kau tertawa ) tanya Rayya merasa aneh karena melihat Simone tertawa.
" Ricordo la prima volta che ho incontrato tuo padre." ( Aku ingat saat pertama kali bertemu dengan Papamu ) sahut Simone. " Si scopre che tuo padre è feroce con tutti gli uomini che vogliono avvicinarsi a te." ( Ternyata Papamu galak kepada semua pria yang ingin mendekatimu ) Simone tadi memang melihat wajah tak bersahabat Gavin saat menghadapi Luigi, sama persis saat pertama kali dia bertemu dengan Gavin.
" Perché mio padre mi ama così tanto." ( Karena Papaku begitu menyayangiku ) Rayya mencoba membela sikap posesif yang selalu ditunjukkan oleh Daddy nya saat ada pria yang mencoba mendekatinya. Walaupun Rayya sendiri merasa jengah dengan sikap Gavin yang terlalu berlebihan, namun dia tahu hal itu dilakukan Gavin karena pria itu ingin menjaga putrinya.
*
*
*
Bersambung ...
Yang belum mampir di kisahnya Azkia, silahkan mampir di MARRY YOU, MY ENEMY
Untuk yang baru gabung pertama kali baca novelku, yg penasaran sama kisah orang tuanya Rayya, bisa mampir di KISAH CINTA AZZAHRA
Dan yang belum tau bagaimana perjalanan kisah cinta orang tuanya Ramadhan, silahkan mampir di ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Terima kasih yang udah support, kasih terus jempol & komennya ya, Grazie mille 🙏
__ADS_1
Happy Reading❤️