RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Membatalkan Rencana Perjodohon


__ADS_3

Azzahra menatap wajah anaknya yang terlihat cantik walau hanya menggunakan make up ringan ditambah polesan liptint warna nude hingga nampak natural untuk anak seusianya. Sementara Azzahra memilihkan gamis warna pink blossom untuk dikenakan Rayya.


" Mom, Rayya deg-degan, deh."


Azzahra tersenyum mendengar ucapan Rayya, dia bisa mengerti apa yang dirasakan Rayya saat ini.


" Itu biasa, Sayang. Karena ini pertama kali kamu akan pergi bersama Rama." Azzahra kemudian menggenggam tangan putrinya. " Ayo, kita ke bawah sekarang." Azzahra mengajak Rayya turun menemui Ramadhan.


" Rayya malu, Mom."


" Kenapa harus malu? Anak Mommy cantik seperti ini, kok. Ayo ..." Azzahra sedikit memaksa Rayya agar mengikuti langkahnya.


Sepanjang langkah menuju arah ruang tamu Rayya nampak menundukkan wajahnya. Tangannya terasa dingin sedangkan detak jantungnya tak beraturan dengan ritme yang cepat.


" Baby, kemarilah, Sayang ..." Gavin yang melihat anaknya berjalan bergandengan tangan dengan istrinya langsung meminta putrinya itu untuk duduk di sampingnya.


Rayya tertunduk malu, tak sedikit pun berani menatap Ramadhan yang sedang memperhatikannya sejak melihat Rayya menuruni anak tangga.


" Baby, Rama ingin mengajak kau keluar malam ini. Baby tahu? Dad selama ini tidak pernah mengijinkan Baby pergi malam hari apalagi dengan laki-laki. Tapi malam ini Dad ijinkan, karena laki-laki yang akan membawamu adalah Rama," ujar Gavin.


Rayya melirik Ramadhan yang sedang menatap lekat ke arahnya membuat Rayya langsung menundukkan kepalanya kembali karena dia tidak bisa mengontrol debaran kuat di hatinya.


" Saya pamit ijin sekarang saja, Om, Tante. Takut kemalaman pulangnya." Ramadhan meminta ijin Gavin.


" Baiklah, kalian pergilah." Gavin memberikan ijin.


Dan akhirnya Gavin dan Azzahra pun mengantar Ramadhan dan Rayya yang pergi berjalan menuju arah mobil.


" Rayya ingin makan di mana?" tanya Ramadhan saat mulai menyalakan mesin mobilnya.


" Hmmm, Rayya sudah makan kok, Kak."


Rayya memang tidak pernah berkencan dengan siapa pun jadi dia menjawab dengan jujur.


Ramadhan mengulum senyuman mendengar jawaban polos Rayya. Dia kemudian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Sementara Rayya lebih banyak membuang pandangan ke luar jendela dengan tangan yang terus meremas gamis yang dipakainya.


Ramadhan mengarahkan mobilnya ke basement salah satu hotel milik David Richard hingga dia mengeryitkan keningnya.


" Kita mau apa ke sini, Kak?" Rayya yang awalnya hanya diam kini tergerak untuk bertanya kenapa Ramadhan membawa ke hotel milik Grandpa nya.


" Kita mengobrol di resto rooftop hotel ini saja." Ramadhan memberikan alasannya kenapa dia membawa Rayya ke hotel Dad David.


Kini mereka berdua sudah berada di restoran yang berada di atas bangunan hotel Dad David.


" Selamat malam, silahkan ..." Seorang pelayan restoran menghampiri seraya memberikan buku menu makanan.

__ADS_1


" Kamu mau pesan apa?" tanya Ramadhan kepada Rayya.


" Saya minta iced matcha latte saja, Mbak." Rayya menyebutkan pesanannya.


" Hanya itu saja? Lainnya?" tanya Ramadhan karena Rayyak hanya memesan menu beverage saja.


" Rayya sudah kenyang, Kak." sahut Rayya.


" Nggak mau makanan apa-apa?"


Rayya menggelengkan kepalanya. Mungkin kalau dia memesan makanan pun dia tidak akan mungkin bisa menelan makanan itu karena saking groginya.


" Saya pesan lemonade mocktail dan choco lava cake dua." Ramadhan tetap memesan makanan untuk Rayya.


" Baik, Mas." Pelayan itu mencatat menu yang dipesan Ramadhan.


" Mereka tidak kenal kamu, ya?" tanya Ramadhan karena pelayan di restoran itu seolah tak mengenali Rayya yang merupakan cucu dari pemilik hotel itu.


" Rayya jarang ke sini. Kak." sahut Rayya.


" Oh, gitu." Ramadhan menganggukkan kepala tanda mengerti alasan Rayya yang masuk akal.


" Om Gavin bilang kalau kamu tidak pernah ke luar malam tanpa ada saudara yang menemani, benar begitu?"


" Iya, Kak."


" Berarti ini pertama kali kamu keluar dengan laki-laki diluar keluarga kamu?"


" Hmmm, Kakak sengaja ajak kamu keluar karena Kakak ingin membicarakan sesuatu dengan kamu, Rayya."


Degup jantung Rayya berdetak semakin kencang saat Ramadhan mengatakan ingin membicarakan sesuatu yang dia duga adalah perihal perjodohan mereka.


" Rayya tahu 'kan kalau Om Gavin dan Papa Kak Rama ingin menjodohkan kita?"


Rayya menelan salivanya, dugaannya ternyata benar jika Ramadhan ingin membahas masalah perjodohan.


Rayya hanya mengangguk pelan seraya menggigit bibirnya.


" Apa Rayya setuju dengan perjodohan itu?"


Rayya memberanikan diri menatap Ramadhan, dia merasakan sesuatu dari pertanyaan Ramadhan itu.


" Umur kamu masih muda, kamu pasti punya keinginan untuk mencapai cita-cita kamu. Dengan perjodohan ini apa kamu tidak merasa akan menghalangi apa yang ingin kamu capai?"


" Kakak tidak ingin menghalangi cita-cita kamu dengan adanya perjodohan ini."


" Kakak juga tidak menginginkan perjodohan ini. Tapi Papa dan Mama meminta Kakak menerima perjodohan dan tidak mengecewakan Om Gavin."

__ADS_1


" Permisi ..." Pelayan restoran kembali dengan membawa pesanan Ramadhan dan Rayya.


" Terima kasih, Mbak." sahut Ramadhan. " Dimakan cake nya, Rayya."


Rayya hanya terdiam sementara tangannya terus memilin tepi hijab syar'i nya.


" Kakak sudah menganggap kamu seperti adik Kakak sendiri, seperti juga Azkia dan Falisha."


" Sekarang Kakak ingin tanya keinginan Rayya sendiri seperti apa? Apa kamu ingin tetap meneruskan perjodohan ini tanpa ada cinta? Jujur saja, Kakak tidak bisa memberikan rasa cinta kepada kamu karena sebenarnya Kakak sendiri mencintai wanita lain."


Deg


Hati Rayya seketika mencelos mendengar kejujuran Ramadhan jika pria itu mencintai wanita lain. Dadanya pun seakan terasa sesak.


Rayya menarik nafas dalam-dalam lalu dengan nada yang tercekat di tenggorokan dia memberanikan diri untuk bertanya.


" Jadi maksud Kak Rama mengajak Rayya ke sini untuk apa?"


" Kakak hanya ingin menjelaskan ke kamu jika kamu tetap ingin meneruskan rencana perjodohan ini Kakak tidak bisa menjanjikan kebahagiaan untuk kamu. Kakak rasa kamu ingin hidup bahagia dengan orang yang kamu cintai dan mencintai kamu, kan?"


Hati Rayya semakin terasa tercubit dengan kejujuran Ramadhan yang sebenarnya terhadap dirinya.


" Rayya, mengerti, Kak. Rayya nanti akan bicara kepada Daddy untuk membatalkan rencana perjodohan ini." Rayya berusaha sekuat hati mengucapkan kalimat itu.


" Jadi Rayya setuju jika kita menolak perjodohan ini?"


" Bukankah itu yang Kakak inginkan?"


" Iya, tentu saja. Terima kasih jika Rayya bisa mengerti. Nanti Kakak akan bicara dengan Om Gavin ...."


" Tidak usah, Kak. Biar Rayya saja yang bicara dengan Daddy." Rayya memotong ucapan Gavin dengan menolak rencana Ramadhan yang ingin bicara dengan Daddy nya.


" Oke kalau Rayya mau nya seperti itu."


" Apa kita bisa pulang sekarang?" tanya Rayya kemudian.


" Tapi minuman sama makanan kamu belum disentuh sama sekali." Ramadhan melihat minuman dan cake belum sempat disentuh oleh Rayya.


" Nggak apa-apa, Kak. Rayya hanya nggak ingin Daddy salah paham karena kita pergi sekarang ini. Lebih cepat mengatakan kepada Daddy itu akan lebih baik," tegas Rayya. Rayya sendiri tidak tahu dari mana dia mendapat kekuatan untuk berbicara tanpa rasa gugup sedikit pun saat itu.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Rama, oh Rama ... tau kah dirimu? Emak² readers di sini begitu mengidolakan Papamu tanpa cela sedikit pun. Sikap Ricky yang gentle bagaikan pesona tersendiri untuk Readers. Kenapa dirimu seperti itu, Nak?


Happy Reading ❤️


__ADS_2