
Ramadhan turun di lounge hotel dia menginap karena dia mengatur pertemuan dengan arsitek yang sudah disewa oleh Angkasa Raya di sana. Dia melihat beberapa orang yang sedang duduk berbincang di lounge itu dan mencari Mr. Graziano.
Ramadhan lalu mendekati salah seorang pegawai hotel di sana.
" Excuse me, I have an appointment with Mr. Emilio Graziano."
" Are you Mr. Pratama?" pegawai hotel itu langsung dengan cepat menanggapi
" Yes, it's me."
" He's over there. Let me take you there, Sir." Pegawai hotel itu dengan ramah mengatar Ramadhan kepada orang yang dituju Ramadhan.
" Thank you." Ramadhan pun mengikuti langkah pegawai hotel itu menuju Mr. Gragiano.
" Buongiorno, signor Graziano. Questo è il Signor Pratama che stavate aspettando è arrivato." ( Selamat pagi, Tuan Graziano. Ini Tuan Pratama yang anda tunggu sudah datang ) Pegawai hotel itu menyapa salah satu dari dua orang yang duduk di kursi dengan meja yang sama.
Orang yang diajak bicara dengan pegawai hotel langsung menoleh ke arah Ramadhan.
" Buongiorno, Signor Pratama." ( Selamat pagi, Tuan Pratama ) Mr. Graziano langsung mengulurkan tangannya menyapa Ramadhan. " Grazie, Signorina. ( Terima kasih, Nona ) Tak lupa Mr. Graziano mengucapkan terima kasih kepada pegawai hotel yang mengantar Ramadhan tadi. Dan pegawai hotel itu berpamitan untuk meninggalkan mereka.
" Buongiorno, Signor Graziano." Walaupun Ramadhan tidak menguasai bahasa Italia tapi dia tahu sedikit ucapan-ucapan salam dalam bahasa Italia yang familiar di telinganya.
" Halo, Tuan Pratama. Saya Simone keponakan dari Paman Graziano. Saya yang akan menjadi membantu komikasi Paman saya dan Anda, Tuan." Simone yang ternyata keponakan Mr. Graziano memperkenalkan dirinya kepada Ramadhan seraya mengulurkan tangannya.
" Oh, hallo Tuan, Simone. Senang bertemu dengan Anda." Ramadhan menyambut sapaan dan uluran tangan Simone.
" Silahkan duduk, Tuan Pratama." Simone mempersilahkan Ramadhan untuk duduk.
" Terima kasih." Ramadhan kemudian duduk yang dikursi yang ditunjuk oleh Simone. " Anda bisa bahasa Indonesia, Tuan Simone. Apa Anda belajar bahasa Indonesia sebelumnya?' tanya Ramadhan berbasa-basi.
" Mama saya kebetulan asli Yogyakarta dan saya sempat tinggal di sana sampai umur sepuluh tahun." Simone mengatakan alasannya bisa berbicara bahasa Indonesia
" Oh ya? Wah, senang sekali saya bisa bertemu dengan orang Italia yang punya darah Indonesia juga." Ramadhan nampak senang saat mengetahui jika Simone juga berdarah Indonesia.
" Sama-sama, Tuan Pratama. Saya juga senang bisa banyak berkenalan dengan orang Indonesia. Kebetulan teman dekat saya juga asli Indonesia."
" Benarkah?"
" Iya, dia wanita Indonesia yang sangat baik dan juga cantik." Seketika Simone teringat akan Rayya, dan dia sangat merindukan sosok wanita itu.
" Apa dia pacar Anda?"
" Saya belum berani berkata seperti itu, biarkan mengalir saja." Simone memang belum berani berkata banyak tentang hubungannya dengan Rayya.
__ADS_1
" Cosa ha detto?" ( Apa yang dia katakan ) tanya Mr. Graziano karena melihat Ramadhan dan Simone hanya berbicara berdua saja.
" Scusa, zio. In precedenza, il signor Pratama mi ha chiesto come potevo padroneggiare l'indonesiano." ( Maaf, paman. Tadi Pak Pratama bertanya bagaimana saya bisa menguasai bahasa Indonesia ) Simone mengatakan apa yang ditanyakan Ramadhan kepadanya.
" È già stato in Italia, signore?" tanya Mr. Graziano kepada Ramadhan. Membuat Ramadhan langsung menoleh ke arah Simone.
" Apakah Anda pernah ke Italia sebelumya, Tuan?" Simone mulai menerjemahkan ucapan Pamannya.
" Ini pertama kalinya untuk saya datang ke Italia," sahut Ramadhan .
" Questa è la prima volta che viene in Italia." ( Ini pertama kalinya dia datang kemari ) Simone berkata kepada Mr. Graziano.
" Cosa ne pensa dell'Italia, signore?" tanya Graziano kembali.
" Bagaimana pendapat Anda tentang Italia, Tuan?'' Simone meneruskan pertanyaan Mr. Graziano kembali.
" Italia negara yang sangat luar biasa, terutama sepak bolanya. Saya juga penggemar timnas Italia dan salah satu klub sepak bola di kota Milan ini." Ramadhan tersenyum mengakui kalau dia pun penggemar salah satu tim kota Milan.
" Per lui l'Italia è un Paese straordinario. È anche tifoso della squadra azzurra e anche di una delle società di calcio della città di Milano." ( Baginya Italia adalah negara luar biasa, dan dia adalah penggemar tim Azzurri dan salah satu klub di Milan )
" Grazie mille, ami il calcio italiano, signore." Mr. Graziano terkekeh.
" Terima kasih Anda sudah menyukai sepakbola Italia, Tuan."
" Terima kasih kembali, Tuan Graziano, Tuan Simone." balas Ramadhan.
" Terima kasih juga karena Tuan Laksmana telah mempercayakan Paman saya untuk mendesain proyek yang akan dikerjakan oleh Angkasa Raya, Tuan."
" Sama-sama, Tuan. Saya rasa perusahaan kami juga tidak meragukan kemampuan Tuan Graziano."
Dan percakapan mereka pun sudah mengarah kepada tujuan utama yaitu membahas soal proyek dari Angkasa Raya Group yang ingin membangun perumahan cluster bergaya Renaissance dengan menggunakan jasa arsitek dari Italia langsung.
***
Rayya sedang packing beberapa lukisannya yang akan dipajang di pameran lukisan nanti. Meskipun pamerannya akan diselenggarakan lusa, namun besok pagi Rayya sudah harus ke Milan dan harus cuti kuliah.
Rayya dan William akan berangkat dengan pesawat pukul delapan pagi. Perjalanan menggunakan pesawat terbang hanya memakan waktu sekitar satu jam lebih saja. Sedangkan jika memakai kendaraan sendiri akan memakan waktu sampai enam jam.
Teettt
Rayya menghentikan aktivitasnya saat dia mendengar suara bel apartemennya berbunyi. Dia mengeryitkan keningnya karena kakaknya bilang kalau akan pulang lewat jam delapan malam, sedangkan ini baru jam tiga lewat saja.
Rayya kemudian berjalan ke arah pintu depan apartemennya untuk membuka pintu apartemennya.
" Auntie?" Rayya terkesiap saat mendapati seorang wanita dan seorang gadis sebaya dengannya sudah berada di depannya saat ini.
__ADS_1
" Hai, Rayya." sapa wanita yang disapanya tadi.
" Auntie kok ada di sini? Kenapa nggak bilang kalau mau kemari?" tanya Rayya yang masih terkejut dengan kedatangan kedua orang wanita ibu dan anak itu.
" Karena kami ingin memberi kejutan untukmu, Rayya,." sahut wanita sebaya nya itu.
" Dan berhasil." Rayya terkekeh lalu menyalami dan memeluk tubuh wanita yang berusia hampir setengah baya tapi tetap cantik dan menarik itu. Tidak heran jika Daddy nya dulu sempat mencintai wanita itu.
" Ayo masuk, Auntie." Rayya akhirnya mempersilahkan Jovanka untuk masuk ke dalam apartemennya.
" Hei, Rayya. Kenapa hanya Mommy aku yang kau peluk?" Michelle, adik William dari pernikahan Jovanka dan Peter itu kemudian memutar bola matanya.
" Bawel kamu!" Rayya mencibir Michelle, namun dia pun akhirnya tetap melakukan apa yang Michelle minta.
Dan setelah mereka berdua masuk, Rayya pun menutup pintu apartemennya.
" Willy belum pulang, Rayya?" tanya Jovanka.
" Belum, Auntie. Tadi sih bilangnya jam delapan baru akan pulang. Memang Kak Willy juga nggak tahu Auntie akan kemari, ya? Soalnya Kak Willy nggak cerita apa-apa ke Rayya."
" Iya, Auntie memang belum kasih tahu Willy soal kedatangan kami ke sini," jawab Jovanka. " Michelle ini yang merengek ingin jalan-jalan ke Italia."
" Tante menginap di mana? Sudah pesan hotel?" tanya Rayya lagi.
" Belum, sih. Nanti mau minta tolong Willy saja yang mencarikan penginapan," sahut Jovanka.
" Tante tinggal di sini saja. Biar Michelle tidur sama Rayya, nanti Auntie tidur di kamar Kak Willy dan Kak Willy sementara tidur di sofa ini saja." Rayya menawarkan pilihan kepada Jovanka.
" Michelle setuju, Mommy!" Michele dengan cepat menyahuti.
" Apa nggak merepotkan kamu, Rayya?" tanya Jovanka karena dia tidak ingin merepotkan Rayya.
" Nggak kok, Auntie, Rayya justru senang bisa ada teman di sini."
" Nanti tunggu keputusan dari Willy saja ya, Rayya." Jovanka memilih menunggu keputusan dari saudara laki-laki Rayya itu.
" Ya sudah, sekarang Tante dan Michelle istirahat saja dulu." Rayya pun mengajak Jovanka dan Michelle beristirahat di kamarnya karena dia tahu jika mereka telah melakukan perjalanan jauh.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️