RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Kau Menyindirku, Honey?


__ADS_3

Hari ini Graduation day dilaksanakan oleh salah satu universitas terbaik di kota Roma dan William termasuk salah satu wisudawan yang akan mengikuti acara wisuda itu.


Gavin dan Azzahra serta Jovanka ikut hadir menyaksikan momen bahagia putra mereka. Sementara Rayya dan Michelle memilih tempat terpisah dari orang tua mereka.


" Apa Rayya nanti akan melanjutkan magister di sini, Ra?" tanya Jovanka kepada Azzahra saat menunggu acara dimulai.


" Aku belum tahu, Kak. Rayya masih satu tahun lagi di sini. Aku berharap sih, dia pulang kembali ke Indonesia," harap Azzahra. " Oh ya, Kak. Terima kasih sudah mengijinkan William menemani Rayya kuliah di sini," ucap Azzahra tak lupa menyampaikan rasa terima kasihnya. Karena menurutnya William sudah berkorban meninggalkan keluarga dan pekerjaannya di Singapura hanya untuk menemani Rayya atas permintaan Gavin.


" Tidak apa-apa, Ra. Rayya itu juga 'kan adik William, sama seperti Michelle. Aku juga tidak akan tega membiarkan Michelle sendirian di negeri orang dan jauh dari orang tua." Jovanka memaklumi kecemasan Azzahra dan Gavin sebagai orang tua.


" Lagipula Willy sepertinya senang tinggal di sini, Honey. Dia sepertinya menikmati pekerjaannya di sini." Gavin yang sedari tadi ikut mendengar istri dan mantan kekasihnya itu berbincang ikut berkomentar.


" Iya, benar. Sepertinya Willy akan memantapkan karirnya di sini. Apalagi sekarang sudah tidak kuliah. Bisa fokus dalam bekerja," timpal Jovanka.


" Oh ya, Michelle sekarang dekat dengan Simone ya, Kak?" Azzahra sempat memperhatikan kedekatan Simone dengan adik perempuan William itu.


" Iya, itu ulah anakmu, Ra. Dia yang menjodohkan mereka." Jovanka terkekeh. " Tapi Michelle sepertinya memang menyukai Simone. Untung saja Rayya juga tidak menyukai Simone, bisa-bisa kedua adik William itu akan berebut pria," lanjutnya.


" Simone pria yang baik, Jo. Aku ikut senang jika mereka benar-benar serius menjalin hubungan." Kembali Gavin ikut mengomentari.


" Iya, aku rasa juga seperti itu. Aku juga bersyukur Michelle bisa dekat dengan pria seperti Simone," ujar Jovanka.


" Apa Michelle tidak ingin kuliah di sini juga, Jo? Pasti Baby akan senang jadi banyak teman di sini," tanya Gavin kemudian.


" Michelle memang kepingin seperti itu, tapi aku nggak beri dia ijin," sahut Jovanka.


" Kenapa? Kalau Michelle mau nanti aku yang akan tanggung biaya kuliah dia di sini, Jo." Gavin dengan cepat menawarkan akan membiayai kuliah Michelle. Karena bagi Gavin, semakin banyak teman Rayya di Italia dari pihak sanak saudara akan membuatnya semakin tenang.


" Apa kau berniat menjauhkan aku dengan semua anak-anakku, Gavin?" Jovanka langsung mendelik dan berbicara sedikit ketus mendengar ucapan Gavin. Sedangkan Gavin hanya menyeringai seraya menggaruk tengkuknya mendapat sorot mata tajam dari orang yang dulu pernah dia cintai.


" Maafkan suamiku ya, Kak." Azzahra yang tidak enak melihat Jovanka seolah kesal dengan ucapan Gavin langsung mengutarakan permintaan maafnya seraya menepuk lengan Jovanka.


" It's oke, Ra." Jovanka yang melihat Azzahra merasa bersalah karena ulah suaminya, langsung membalas ucapan Azzahra dengan mengatakan jika dia baik-baik saja dan tidak terlalu serius menanggapi perkataan Gavin.


Sementara di sudut yang berbeda, Rayya yang duduk bersama Michelle dan Simone sedang asyik mengobrol.


" Kalian mau minum apa? Aku pesankan di kantin." Simone menawarkan.


" Aku mau caffè freddo." Rayya menyebutkan minuman kopi yang biasa disajikan dingin dan berasa manis itu.


" Oke, kau apa, Michelle?" Kini Michelle yang ditanya oleh Simone.


" Aku sama seperti Rayya saja," sahut Michelle.


" Oke, aku ke kantin dulu."


" Grazie mille, Simone." Rayya mengucapkan terima kasih kepada Simone.


" Wuih, ganteng-ganteng ya teman Kak Willy." Michelle yang melihat beberapa pria tampan yang hilir mudik di hadapannya langsung berkomentar setelah Simone menjauh. " Pantas kau betah di sini, Rayya."


" Tentu saja, di sini gudangnya cowok-cowok ganteng," Rayya menyahuti. " Dan kau sudah mendapatkan salah satunya." Rayya terkekeh menggoda Michelle.


" Dan kau pun juga akan menyusul dengan Pak Dosen." Michelle langsung menimpali yang hanya ditanggapi senyuman oleh Rayya.


Setelah beberapa waktu berlalu, akhirnya acara wisuda para wisudawan pun selesai digelar. Suka cita mewarnai para wisudawan dan keluarga menyambut kelulusan mereka setelah bertahun-tahun kuliah, tak terkecuali William.


" Kak Willy, selamat ya ..." Rayya dan Michelle langsung berhambur memeluk William memberikan selamat kepada kakak mereka.


" Makasih, Rayya, Michelle." William pun merangkulkan kedua tangannya ke pundak Rayya dan juga Michelle.


" Kak Willy akan mengambil foto di mana?" tanya Rayya.


" Foto apa?" tanya Michelle.


" Tradisi Graduation day di sini selain memakai Laurel Wreith, para wisudawan melakukan selebrasi dan mengabadikan diri di landmark yang ada di kota tempat mereka menuntut ilmu." Rayya menjelaskan tradisi kelulusan yang ada di Italia.


" Oh gitu, di Roma ini 'kan banyak landmark nya. Kak Willy mau pilih yang mana?" tanya Michelle.


" Aku ingin di Colloseo saja." William memilih bangunan colloseum sebagai landmark yang akan dia gunakan sebagai tempat selebrasi dengan beberapa temannya.


" Willy, Rayya, Michelle, Simone... ayo kita cari makan dulu." Gavin yang melihat keempat anak muda di hadapannya itu masih berbincang langsung mengajak mereka untuk makan siang.


" Nanti dulu, Dad. Kak Willy mau foto-foto di Colloseum," ujar Rayya.


" Untuk apa foto-foto di sana? Kalian bisa setiap saat mengunjungi bangunan itu, kan?" tanya Gavin, karena posisi apartemen yang ditempati Rayya dan William sangat dekat dengan bangunan bersejarah itu.


" Itu sebagai salah satu tradisi selebrasi kelulusan di sini, Dad. Beberapa teman Kak Willy juga akan melakukan foto di sana." Kini Rayya menerangkan kepada Gavin.

__ADS_1


" Oh, ya sudah. Ayo kita ke sana. Setelah itu kita cari makan siang," ajak Gavin.


" Assalamualikum, Paman."


Saat mereka hendak meninggalkan area kampus, tiba-tiba terdengar suara seseorang menyapa menggunakan bahasa Indonesia, membuat mereka menoleh ke arah suara yang Rayya sendiri sangat hapal milik siapa.


" Waalaikumsalam ..." mereka serempak menjawab salam yang diucapkan Luigi.


" William, congratulazioni per il tuo master." ( William, selamat atas gelar masternya ) Kini Luigi memberikan selamat kepada William atas wisudanya.


" Grazie mille, Signore." William mengucapkan terima kasih atas ucapan selamat yang diberikan Luigi kepadanya.


" Paman apa kabar?" Kini Luigi kembali berbicara kepada Gavin seraya mengulurkan tangannya menjabat tangan Gavin.


" Baik." Singkat balasan yang diucapkan oleh Gavin.


" Rayya, apakah dia Luigi?" Michelle berbisik kepada Rayya yang dibalas dengan anggukan kepala Rayya.


" Oh my, God. He's so handsome." Michelle langsung terbelalak mendapati pria yang beberapa hari ini selalu menjadi topik pembicaraannya bersama Rayya.


" Senang bisa bertemu dengan Anda lagi, Paman." Kata-kata Luigi tentu saja membuat Gavin kaget, karena pria itu bisa menggunakan bahasa Indonesia.


Sementara Azzhara yang sedang menggandeng lengan Gavin terus memperhatikan pria muda yang berbicara dengan suaminya. Azzahra mencoba mengingat wajah tampan pria itu.


" Kamu Luigi?" Tanpa disadari bibir Azzahra mengucapkan kalimat tanya itu.


" Honey!" Gavin langsung menegur istrinya yang keceplosan.


" Benar, Nyonya. Saya Luigi." Luigi menjawab pertanyaan Azzahra tanpa menghiraukan teguran Gavin.


" Ya Allah, kamu teh bisa ngomong Indonesia?" Azzahra nampak exited mengetahui Luigi bisa berbahasa Indonesia.


" Honey, kau ini apa-apaan?!" Gavin melotot ke arah Azzahra namun Azzahra nampak tidak memperdulikan ekspresi wajah suaminya itu.


" Iya, Nyonya. Saya sedikit belajar bahasa Indonesia," sahut Luigi sambil mengembangkan senyuman.


" Masya Allah, sudah ganteng, pintar, seiman, bisa bahasa Indonesia." Azzahra lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Gavin. " By, aku setuju kalau Rayya sama dia," bisik Azzahra di telinga suaminya, membuat Gavin semakin menghunus tatapan tajam kepada istrinya yang seakan lupa dengan keberadaannya karena begitu memuji Luigi.


Sementara Rayya dan Michelle hanya bisa menahan tawa melihat berdebatan kecil antara Gavin dan Azzahra.


" Jangan lama-lama bersalamannya!" Simone langsung berbisik menegur Michelle.


" Dad, aku ke Colloseo lebih dulu, ya! Teman-temanku sudah menunggu di sana." William berpamitan lebih dahulu karena dia menduga jika akan menjadi perbincangan yang akan panjang setelah kemunculan Luigi.


" Aku ikut, Kak." Michelle memilih ikut bersama William ditemani Jovanka dan juga Simone.


" Ya sudah, hati-hati." sahut Gavin.


" Assalamualikum ..." William berpamitan.


" Waalaikumsalam ..." ucapan salam William dibalas bersamaan.


" Kenapa kau tidak ikut dengan Kakakmu, Baby?" tanya Gavin karena Rayya tidak ikut bersama yang lainnya pergi.


" Aku menemani Daddy dan Mommy saja." Rayya menoleh ke arah Luigi yang tersenyum kepadanya.


" Oh ya, kalian akan ke mana setelah dari sini?" Luigi berusaha sekarang mungkin dengan keluarga Rayya.


" Kami akan makan bersama, Pak." sahut Rayya.


" Hmmm, bagaimana kalau saya yang traktir kalian?" Luigi menawarkan ajakan makan bersama.


" Tidak perlu! Kami bisa bayar sendiri!" ketus Gavin cepat menanggapi tawaran Luigi.


" By, jangan galak-galak seperti itu! Kalau Hubby selalu bersikap seperti ini, nggak akan ada pria yang berani mendekati putri kita!" Azzahra menegur sikap suaminya yang masih terlihat jutek terhadap Luigi.


" Tidak apa-apa, Nyonya. Saya mengerti dengan sikap Paman." Luigi sepertinya memahami sikap Gavin.


" Maaf ya, Luigi." ucap Azzahra lagi karena melihat pemuda itu tidak marah dengan sikap suaminya yang tidak bersahabat.


" Bagaimana, Paman? Apa Paman mau menerima tawaran makan bersama?" tanya Luigi ingin mendapatkan jawaban.


" Aku akan mentraktir mereka semua yang tadi di sini," ucap Gavin menunjuk arah William dan yang lainnya tadi pergi, berharap Luigi akan keberatan jika harus mentraktir banyak orang.


" Tidak masalah, Paman." Luigi justru tidak mempermasalahkan hal itu.


" Ayolah, By. Sekali-sekali dia traktir kita nggak apa-apa, kan? Siapa tahu dia itu memang jodohnya Rayya." Azzahra terkikik berbisik kepada suaminya.

__ADS_1


" Mom ..." Rayya yang mendengar ucapan yang dikatakan Azzahra langsung menegur Mommy nya itu. Karena sekarang ini Luigi sudah memahami bahasa Indonesia, dia pasti sangat malu mendengar kejujuran Azzahra yang memang sudah terpesona oleh Luigi sejak pertama kali melihat foto pria itu.


" Baiklah, untuk kali ini saya akan terima tawaranmu." Setelah berpikir, akhirnya Gavin menyetujui ajakan Luigi untuk makan bersama.


***


" Usia kamu sekarang berapa Luigi?" tanya Azzahra kepada Luigi saat mereka menyantap hidangan makan siang mereka di sebuah restoran dekat unversitas Rayya kuliah.


" Tahun ini saya menginjak usia


tiga puluh tahun." Luigi menjawab pertanyaan Azzahra dengan bahasa yang santun.


" Wah, hebat ya, masih muda sudah menjadi dosen." Azzahra terus memuji Luigi.


" Terima kasih, Nyonya."


" Luigi ini muslim sejak kecil atau bagaimana?" tanya Azzahra lagi.


" Iya, saya terlahir sebagai muslim, karena ayah saya masih ada darah Turki, Nyonya." Luigi menjelaskan.


" Oh begitu." Azzahra menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


" Luigi ini sudah punya pacar apa belum?"


Pertanyaan Azzahra selanjutnya membuat Gavin, Rayya dan Luigi yang berada di satu meja langsung menghentikan kunyahannya seraya menolehkan pandangan ke arah Azzahra.


" Saya belum mempunyai kekasih." Luigi kini melirik ke arah Rayya. " Jika diijinkan, saya ingin menjadi kekasih putri Anda, Bu."


Hati Rayya berdebar saat Luigi mengatakan hal itu kepada kedua orang tuanya, ditambah lagi dengan tatapan mata Luigi yang begitu lekat menatapnya.


" Aku sudah katakan kepadamu jika aku tidak akan dengan mudah menyerahkan putriku kepada sembarang pria." Gavin menegaskan kembali kata-katanya yang pernah diucapkan di awal pertemuannya dengan Luigi.


" Seperti yang saya katakan juga kepada Paman, saya akan melakukan apa yang akan menjadi syarat supaya saya mendapat ijin Paman agar bisa dekat dengan Rayya."


" Rayya, Luigi ini benar-benar gentle. Mommy suka pria yang seperti ini, pria seperti Luigi, Mommy jamin tidak akan menyakiti hati kamu." Azzahra seolah mempromosikan Luigi kepada Rayya.


" Mommy kenapa bicara seperti itu, sih? Rayya mau fokus kuliah dulu." Rayya berbicara sangat pelan agar tidak terdengar oleh Luigi.


" Kau tahu? Setelah menyelesaikan kuliahnya di sini, saya tidak akan mengijinkan Rayya tinggal di luar negeri. Saya akan menyuruh Rayya kembali ke Indonesia." Gavin sengaja mengatakan hal itu. Karena dia menduga Luigi akan keberatan jika pria itu diminta menetap di Indonesia. Tentu saja dengan karir sebagai dosen muda di salah satu universitas terpopuler di Italia, kemungkinan Luigi akan berpikir dua kali jika harus meninggalkan Italia.


" Jika itu yang Paman inginkan, saya akan bersedia untuk pindah ke Indonesia. Mungkin dengan profesi saya sebagai pengajar, saya bisa mencari pekerjaan di sana. Kakek dari ayah saya orang Turki. Beliau memutuskan pindah ke Italia karena menikah dengan wanita Italia. Jadi saya rasa, saya juga bisa melakukan apa yang Kakek saya lakukan." Tanpa diduga Luigi justru menyetujui syarat yang Gavin berikan.


" Saya tidak ingin anak saya mempunyai suami yang sudah berusia." Kini Gavin mengucapkan syarat lainnya.


" By, Luigi ini masih muda, kok!" Azzahra memprotes ucapan Gavin.


" Honey, dia sudah berusia tiga puluh tahun dan belum menikah. Aku saja seusia dia sudah mempunyai Baby." Gavin membandingkan dirinya dengan Luigi.


" Aku rasa usia tiga puluh tahun masih belum terlalu tua." Azzahra berusaha membela Luigi.


" Dia memang belum tua tapi diusia yang sudah memasuki usia tiga puluh pasti akan ada tuntutan menikah dari keluarganya. Dan aku, aku nggak ingin Baby menikah diusia muda, Honey."


Rayya yang mendengar perdebatan antara kedua orang tuanya langsung memijat pelipisnya. Dia benar-benar tidak enak terhadap Luigi karena Daddy nya seolah menyindir Luigi yang belum berumah tangga.


" Kalau memang mereka berjodoh dan harus menikah muda, nggak ada salahnya 'kan, By? Justru usia Luigi yang dewasa bisa membimbing Rayya."


" Honey, usia mereka terpaut jauh."


" Mereka hanya berbeda usia sepuluh tahun. Aku rasa itu adalah hal yang wajar jika seorang wanita yang mempunyai pasangan yang usianya sepuluh tahun lebih tua. Yang nggak wajar itu jika ada laki-laki yang menikahi wanita yang lebih tua sampai delapan belas tahun," ketus Azzahra menyindir suaminya.


" Kau menyindirku, Honey?!" Gavin yang merasa disindir oleh Azzahra langsung mendelik ke arah Azzahra. Tentu cerita masa lalu Gavin yang pernah menikah dengan Agatha tidak akan hilang begitu saja.


" Aku nggak menyindir, By. Aku hanya menyampaikan pendapatku saja," balas Azzahra tak ingin disalahkan oleh suaminya.


" Mom, Dad, jangan berdebat di depan orang, malu!" Rayya menegur kedua orang tuanya yang seperti tidak mengindahkan keberadaan orang lain di antara mereka.


" Signor Luigi, perdoni i miei genitori." ( Pak Luigi, tolong maafkan kedua orang tuaku ) Rayya meminta maaf kepada Luigi atas sikap orang tuanya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2