
Rayya memperhatikan Natasha yang masih terisak di kamar Auntie nya itu. Rayya bisa merasakan sedih, kecewa dan marahnya Natasha dengan kejadian yang menimpa putri pertamanya itu.
" Rayya, bantu Auntie ... bujuk Kia agar mau memberitahu siapa pelakunya." Natasha menggenggam tangan Rayya memohon agar Rayya mau membantu untuk membujuk sepupunya itu agar terbuka dengan persoalan yang terjadi.
" Iya, Auntie. Nanti Rayya akan coba bujuk Kia. Sekarang Auntie mesti sabar, ya. Percaya semua pasti akan ada jalan keluarnya." Rayya mengusap punggung Natasha, dia berusaha menyalurkan kekuatan agar Natasha bisa bersabar dan tabah menerima cobaan hidup yang tidak pernah mereka duga sebelumnya
" Sekarang Auntie makan dulu." Rayya melihat piring dan lauk di nampan yang diletakan di atas nakas belum disentuh oleh Natasha.
" Auntie nggak mungkin bisa menyantap makanan sementara hati Auntie masih belum tenang Rayya." Natasha berasalasan kenapa dia masih belum menyentuh makanan.
" Auntie, Auntie harus tetap makan! Kalau Auntie nggak makan, nanti Auntie sakit. Kasihan Uncle Yoga. Nggak ada yang mendampingi Uncle untuk melewati semua persoalan ini." Rayya lalu mengambil nampan yang berisi sepiring nasi dan lauknya.
" Auntie sayang sama Uncle Yoga, kan? Kasihan Uncle harus mengurus pekerjaan, memikirkan masalah Kia dan harus mengurus Auntie yang sakit. Sekarang Auntie harus makan, mau Rayya suapi?" lanjut Rayya mencoba terus membujuk Natasha agar mau menyantap makanannya, hingga akhirnya Natasha pun mau menghabiskan makanannya.
Setelah Rayya menyuruh Natasha beristirahat, Rayya kemudian memilih untuk kembali ke rumahnya.
" Permisi!"
Terdengar seseorang berteriak dari luar rumah Yoga, membuat Rayya yang kebetulan hendak keluar rumah Yoga menghampiri orang itu.
" Ada apa ya, Pak?" tanya Rayya.
" Maaf, Mbak. Ini rumahnya Pak Yoga dan Ibu Natasha? Saya mau mengantarkan undangan untuk Pak Yoga dan Ibu Natasha." Orang itu kemudian menyodorkan kartu undangan itu kepada Rayya.
" Oh iya benar, Pak. Saya keponakan mereka." Rayya menerima kartu undangan tersebut. " Undangan dari siapa ini, Pak? Nanti saya sampaikan ke Om dan Tante saya."
" Dari Pak Ricky Pratama dan Ibu Anindita."
Deg
Seketika jantung Rayya berdebar-debar saat mengetahui undangan yang ada di tangannya itu ternyata berasal dari orang tua Ramadhan. Hatinya langsung menduga-duga jika undangan itu berisikan undangan pernikahan Ramadhan.
" Saya permisi dulu, Mbak."
Suara orang yang mengantarkan undangan tadi seketika menyadarkan Rayya yang tadi sempat termangu.
" Oh, i-iya, Pak. Terima kasih, Pak." Setelah mempersilahkan orang itu pergi. Rayya membaca tulisan yang berada di amplop undangan yang dipegangnya.
Rayya menarik nafas yang seketika terasa sulit untuk dihirupnya saat membaca nama Ramadhan Syahrizky yang terlihat jelas di kartu undangan itu. Dan nama Farah Noer di bawahnya membuat dia menghempaskan nafas secara perlahan. Artinya selama kurang lebih dua tahun berlalu hubungan Ramadhan dan Farah ternyata semakin akrab hingga akhirnya mereka memutuskan untuk bertunangan.
" Ya Allah." Rayya mencoba menarik nafas dalam-dalam. Tidak, ini tidak benar! Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri jika dia sudah mengikhlaskan Ramadhan. Dia sudah menutup lembaran kisah cintanya kepada pria itu. Dan dia juga sedang berusaha untuk belajar menerima dan mencintai Luigi. Dia tidak boleh seperti. Rayya seolah sedang bergelut dengan hati nuraninya sendiri.
" Bi, tolong antarkan ini ke kamarnya Auntie Tata, ya!" Rayya lalu meminta bantuan ART di rumah Yoga untuk menyerahkan undangan itu kepada Natasha.
" Baik, Non." ART itu kemudian mengambil kartu undangan lalu berjalan ke arah kamar Natasha sementara Rayya pun berjalan menuju rumahnya.
***
Azzahra membaca kartu undangan yang baru saja dia terima dari orang suruhan Anindita untuknya. Azzahra menarik nafas perlahan. Entah mengapa? Membaca undangan pertunangan Ramadhan dan Farah, dia seakan terlempar ke masa sekitar dua puluh empat tahun lalu saat dia membaca kartu undangan pernikahan Yoga dan Natasha. Rasa sakit, kecewa dan patah hati Azzahra saat itu dia harap tidak akan menimpa putrinya sekarang ini.
" Assalamualaikum, Mom."
" Waalaikumsalam ..." Azzahra tersentak kaget saat melihat kemunculan Rayya di dalam ruangan tamu rumahnya, karena tadi Rayya memang meminta ijin untuk menemani Natasha.
Azzahra segera menyembunyikan kartu undangan itu ke belakang tangannya.
" Hmmm, Rayya sudah menemani Auntie Tata nya?" Azzahra mencoba menyembunyikan rasa gugupnya.
" Sudah, Mom." Rayya merasakan jika Mommy nya itu menyembunyikan sesuatu di tangannya.
" Mommy menyembunyikan apa?" tanya Rayya.
" Ah, bukan apa-apa, Rayya. Ini hanya undangan dari tetangga sekitar sini." Azzhara mencoba berbohong kepada Rayya.
Rayya mengeryitkan keningnya, dia tahu jika Mommy nya itu sedang berbohong kepadanya.
" Dari tetangga? Bukannya itu undangan pertunangannya Kak Rama ya, Mom?"
Azzahra langsung terbelalak saat mengetahui jika Rayya ternyata tahu soal rencana pertunangan Ramadhan dan Farah.
" R-Rayya tahu dari mana?" tanya Azzahra kaget.
" Tadi ada yang antar undangan itu ke tempatnya Auntie, Mom. Katanya dari Tante Anin. Rayya sudah baca sepintas ternyata undangan pertunangan Kak Rama dan Kak Farah." Rayya mencoba tersenyum, tak ingin menunjukkan rasa sedih yang seketika muncul di hatinya saat membaca undangan itu.
" Rayya, Sayang ..." Azzahra lalu memeluk Rayya. Pelukan seorang Ibu diharapkan akan membawa ketenangan untuk hati putrinya itu.
" It's OK, Mom. Rayya nggak apa-apa, kok! Rayya 'kan sudah menutup segala hal tentang Kak Rama. Bukankah Mommy begitu ingin mempunyai menantu seperti Kak Luigi?" Rayya berusaha menghibur Azzahra dengan mengajaknya bercanda. Padahal sebenarnya dia sedang berusaha menghibur dirinya sendiri.
" Benar Rayya nggak apa-apa, Sayang?" Azzahra kini mengusap wajah Rayya.
" Iya, Mom. Rayya baik-baik saja, kok! Apa Mommy lihat Rayya sedih atau menangis? Nggak kan, Mom?" tanya Rayya menunjukkan wajah cerianya.
" Syukurlah kalau Rayya tidak apa-apa. Mommy khawatir kalau kamu masih menyimpan perasaan sama Rama."
" Itu hanya masa lalu, Mom. Apa Mommy juga masih menyimpan perasaan kepada Uncle Yoga?" Rayya berseloroh.
" Iihh, kamu ini bicara apa, sih?" Azzahra mendelik membuat Rayya terkekeh.
" Ya sudah, Rayya mau ke kamar dulu ya, Mom." Rayya meminta ijin untuk masuk ke dalam kamarnya.
" Iya sudah."
Rayya lalu menaiki anak tangga dengan perasaan yang campur aduk. Namun dia bersyukur jika dia bisa menutupi perasaan yang sebenarnya sedang berkecamuk di dalam hatinya dari Mommy nya.
***
__ADS_1
" By, sudah baca undangan dari Pak Ricky dan Mbak Anin?" tanya Azzahra saat melihat suaminya sedang berbaring dengan berlipat tangan di bawah kepala.
" Hmmm ..." Hanya jawaban itu yang keluar dari mulut Gavin.
" Kita nanti akan datang 'kan, By?" tanya Azzahra seraya duduk di tepi tempat tidurnya.
" Aku malas bertemu anak itu!" Gavin terlihat tidak berminat hadir di pesta pertunangan Ramadhan dan Farah.
" Nggak bisa begitu dong, By. Nggak enak sama Pak Ricky dan Mbak Anin. Apa yang terjadi dengan anak-anak kita jangan sampai membuat silaturahmi kita terputus, Aku sama Mbak Anin sudah kenal sejak aku belum menikah dengan Hubby. Hubby juga kenal Pak Ricky sudah lama sebelum kenal sama aku, kan? Masa hanya gara-gara rencana perjodohan Rayya dan Rama gagal, hubungan kekerabatan kita jadi renggang?" Azzahra menasehati suaminya agar tidak menyimpan dendam.
" Lagipula sebentar lagi juga kita akan menikahkan Rayya dengan Luigi. Kalau kita menghadiri undangan mereka, kita juga enak jika akan mengundang mereka," lanjut Azzahra.
" Honey, apa Baby tahu dengan rencana pertunangan Rama?" tanya Gavin.
" Rayya sudah tahu, By."
" Lalu Baby bagaimana, Honey?"
" Dia baik-baik saja kok, By. Sekarang 'kan dia sudah ada Luigi."
" Apa kita harus memanggil Luigi ke sini untuk menemani Rayya datang ke acara itu, Honey?' tanya Gavin langsung merubah posisinya hingga terduduk di samping Azzahra.
" Untuk apa, By? Dia 'kan sedang di Italia, kenapa harus jauh-jauh memanggil Luigi?" Azzahra tidak setuju dengan rencana suaminya.
" Kalau kita suruh dia datang kemari, aku yakin dia pasti akan bersedia, Honey."
" Ck, jangan begitu dong, By! Masa hanya untuk menghadapi pertunangan Rama kita harus memanggil Luigi?" protes Azzahra dengan memutar bola matanya, menganggap suaminya itu tidak pernah berubah jika mengambil keputusan selalu berlebihan. Sedangkan Gavin langsung terkekeh menanggapi protes dari istrinya itu.
***
Rayya memandang bangunan kosong yang merupakan galeri seni yang dibuat oleh Daddy nya itu. Dia sudah menyuruh orang untuk memajang lukisan-lukisannya.
" Bagaimana, Mbak Rayya? Apa Mbak Rayya suka dengan galerinya?" tanya Pak Nico, yang ditugaskan untuk mengurus galeri seni milik Rayya.
" Iya, saya suka sekali, Pak. Tempatnya nyaman untuk para pengunjung."
" Syukurlah jika Mbak Rayya suka dengan desain galeri ini," sahut Pak Nico.
" Oh ya, Pak Nico ... di samping bangunan ini masih ada lahan kosong, kan?"
" Iya, Mbak. Memangnya kenapa, Mbak?"
" Saya ingin di samping sana dibuat tempat semacam cafe gitu, untuk para pengunjung yang sudah melihat-lihat lukisan di galeri ini, mereka bisa bersantai di sana. Bisa nggak ya, Pak?" tanya Rayya menyampaikan idenya.
" Boleh saja, Mbak. Nanti Mbak Rayya tinggal bicara dengan Tuan Gavin, saya hanya menunggu perintah dari Tuan Gavin."
" Oke, Pak Nico. Nanti saya coba bicara sama Daddy soal itu. Kalau begitu saya permisi dulu ya, Pak. Saya mesti ke Bandung sekarang." Rayya berpamitan kepada Pak Nico karena dia memang ingin mengunjungi Azkia di Bandung.
" Baik, Mbak Rayya."
" Assalamualikum ...."
Rayya pun akhirnya meninggalkan galeri seni itu.
***
Sekitar pukul dua siang Rayya sampai di kota Bandung dengan diantar oleh Pak Zainal, supir pribadi Gavin selain Pak Rudy.
" Assalamualaikum, Nek." sapa Rayya saat memasuki Rumah Mama Nabilla. Mama dari Natasha.
" Waalaikumsalam. Rayya? Kamu dengan siapa kemari, Nak?" Mama Nabilla langsung menyambut cucu dari kakaknya, yaitu Amanda, Mommy dari Gavin.
" Rayya ke sini diantar Pak Zainal, Nek." ucap Rayya kemudian memeluk dan mencium punggung tangan neneknya itu.
" Ayo masuk, Nak." Mama Nabilla menyuruh Rayya untuk masuk ke dalam rumah.
" Nenek bagaimana kabarnya? Sehat-sehat saja 'kan, Nek?"
" Alhamdulillah, ya seperti inilah, Nak. Daddy sama Mommy kamu bagaimana?"
" Alhamdulillah baik juga, Nek. Oh ya, Kia mana, Nek?" tanya Rayya kemudian.
Mama Nabilla terlihat menghela nafas yang terasa berat.
" Kia ada di kamarnya," lirih Mama Nabilla.
Rayya langsung mengusap punggung Mama Nabilla.
" Sabar ya, Nek. Rayya ikut prihatin atas apa yang terjadi dengan Kia."
" Ya sudah sana kalau Rayya mau menemui Kia."
" Rayya ke atas dulu ya, Nek." Rayya akhirnya melangkah menuju kamar Azkia di kamar atas.
Tok tok tok
" Assalamualaikum, Kia. Ini Rayya, apa Rayya boleh masuk ke dalam?" Saat berada di depan pintu kamar Azkia, Rayya mengetuk pintu terlebih dahulu.
" Kia ..." Rayya kembali mengetuk pintu seraya memanggil nama Azkia.
Tak berapa lama pintu kamar Azkia pun terbuka.
" Kia ..." Rayya langsung memeluk tubuh Azkia dan menangis tersedu.
" Kamu kenapa menangis, Ray?"
Rayya membulatkan matanya saat mendengar suara Azkia yang terdengar sangat santai seolah tidak menunjukkan jika dia sedang ditimpa masalah. Rayya lalu merenggangkan pelukannya dan menarik tubuhnya sedikit menjauh dari tubuh Azkia.
__ADS_1
" Kia? Kamu ..." Rayya menatap heran Azkia.
" Rayya sama siapa ke sini? Kok nggak kasih tahu kalau Rayya mau datang kemari?" tanya Azkia.
" Rayya ke sini sama Pak Zainal," sahut Rayya. " Kia, apa benar masalah yang terjadi sama Kia itu?" tanya Rayya penasaran.
" Masalah itu? Iya benar."
" Tapi kok Kia kelihatan santai-santai saja?"
" Terus Kia mesti gimana, Ray? Sudah terjadi, ibarat kata nasi sudah menjadi bubur."
" Terus siapa yang melakukannya, Kia?"
Azkia menatap Rayya. " Apa Papa Mama aku yang suruh Rayya kemari? Atau Uncle Gavin?"
" Rayya ke sini karena keinginan Rayya sendiri, Kia! Rayya ikut prihatin dengan masalah yang menimpa Kia. Sekarang Kita cerita sama Rayya siapa yang melakukan itu?"
" Nggak perlu bahas itu deh, Ray!"
" Tapi, Kia ...."
" Kalau Rayya ke sini hanya ingin mendesak aku supaya aku kasih tahu Rayya tentang siapa pelakunya, lebih baik Rayya pulang saja ke Jakarta!" ketus Azkia seraya berjalan meninggalkan Rayya kembali masuk ke dalam kamarnya.
***
Rayya memoles lipstik berwarna natural ke bibir tipisnya. Malam ini dia akan menemani Azzahra yang akan menghadiri pesta pertunangan Ramadhan dan Farah karena Gavin bersikukuh tidak ingin hadir di acara itu. Tentu saja Azzahra tidak mungkin datang ke pesta itu sendirian, karena itulah Rayya menemani Mommy nya pergi ke acara yang sebenarnya tidak ingin dia hadiri jika menuruti hati nuraninya.
" Rayya, apa kamu sudah siap?" Suara Azzahra terdengar dari luar pintu kamar Rayya.
" I-iya, Mom. Sebentar lagi ..." sahut Rayya. Dia menarik nafas dalam-dalam dan meminta agar diberi ketenangan dalam menghadapi acara yang akan dihadirinya. Setelah dia menyampirkan sling bag nya, Rayya pun keluar dari kamarnya.
Sekitar empat puluh lima menit kemudian, Azzahra dan Rayya sampai di gedung tempat diadakan acara pertunangan Ramadhan dan Farah.
Rayya berjalan memasuki gedung dengan hati yang berdebar-debar namun dia berusaha untuk menetralisir rasa gugup di hatinya.
" Rara ...."
Terdengar suara Anindita yang menyapa Azzahra saat Azzahra dan Rayya memasuki ruangan gedung.
" Eh, Mbak Anin ..." Azzahra langsung memeluk Anindita. " Selamat atas pertunangan Rama ya, Mbak Anin ..." sambungnya kemudian.
" Terima kasih, Ra. Kamu sama. siapa? Mana suami kamu, Ra?" tanya Anindita karena tidak melihat keberadaan Gavin di samping Azzahra.
" Suami aku berhalangan hadir, Mbak Anin. Teh Tata dan suaminya juga nggak bisa hadir, Mbak. Tadi Teh Tata titip pesan ke aku, minta maaf karena nggak bisa hadir di acara ini." Azzahra menyampaikan permintaan maaf dari Natasha.
" Ya sudah nggak apa-apa." Anindita kemudian menoleh ke arah Rayya yang tadi terlihat sedang menerima telepon.
" Lho, kamu diantar Rayya toh rupanya?" Anindita terlihat surprise dengan kehadiran Rayya di sana.
" Tante ..." Rayya langsung mencium punggung tangan Anindita.
" Rayya apa kabar? Kamu makin cantik sekarang." Anindita menatap sendu wajah Rayya karena sesungguhnya dia pun berharap jika Rayya lah yang akan mendampingi Ramadhan.
" Alhamdulillah baik-baik saja. Tante sendiri bagaimana?"
" Tante sehat juga, alhamdulillah ...."
" Lho, ada Rayya rupanya?" Ricky yang menghampiri istrinya pun terlihat kaget saat mendapati Rayya.
" Om, apa kabar?" Rayya dengan santunnya menyapa Ricky.
" Seperti yang kamu lihat, masih sehat, Rayya. Oh ya, Daddy kamu ke mana?"
" Daddy nggak bisa datang kemari, Om. Karena itu Rayya yang menemani Mommy ke sini."
" Oh ...."
" Pak Ricky, Ibu Anin, maaf ... diminta untuk ke depan karena acara akan segera dimulai." Seseorang meminta Ricky dan Anindita untuk berkumpul dengan keluarga Farah.
" Oh, baiklah ..." sahut Ricky.
" Ra, aku ke depan dulu ya?" Anindita meminta ijin meninggalkan Azzahra dan Rayya.
" Silahkan, Mbak." Azzahra mempersilahkan.
" Mom, Rayya mau ke toilet dulu, ya!" Mungkin karena rasa grogi Rayya tiba-tiba ingin buang air kecil sehingga dia meminta ijin ke Azzahra untuk ke toilet.
" Rayya tahu toiletnya di mana?" tanya Azzahra.
" Nanti Rayya tanya sama petugas gedung ini." Rayya pun akhirnya meninggalkan Mommy nya dan mencari petugas gedung itu.
" Mas, maaf ... toiletnya di mana, ya?" tanya Rayya saat mendapati salah seorang pegawai gedung yang melintas di depannya.
" Toiletnya ada di pojok kanan sama kiri. Tapi yang sebelah kiri sedang ada perbaikan, pakai yang sebelah kanan saja, Mbak." sahut petugas itu.
" Oh, terima kasih ya, Mas." Rayya pun kemudian bergegas menuju arah toilet yang dimaksud petugas tadi. Namun langkah Rayya tiba-tiba terhenti saat dia melihat seorang pria tampan yang terlihat baru saja keluar dari arah toilet pria.
Tak beda jauh dengan Rayya, pria yang tak lain adalah Ramadhan pun langsung terperanjat saat dia keluar dari toilet dan mendapati Rayya yang baru memasuki pintu toilet. Hingga dua insan berbeda jenis itu tertegun beberapa saat dan saling menatap seolah melepaskan rasa rindu masing-masing yang tidak bisa disalurkan lewat kata dan perbuatan.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️