RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Bonchap 1 -- Assalamualaikum, Rayya. Bagaimana Kabarmu?


__ADS_3

" Sayang, apa kamu tidak menginginkan sesuatu dariku?" tanya Ramadhan dengan tangan mengusap perut istrinya itu yang kini sedang berbaring dengan kepala berbantalkan pahanya.


" Maksud Mas Rama?" Rayya menatap ke atas ke arah wajah suaminya.


" Maksudku, apa kau tidak mengidam menginginkan sesuatu? Kalau kamu manginginkan aku melakukan sesuatu untukmu, kamu bilang saja, aku pasti akan lakukan untukmu dan juga calon anakku ini." sahut Ramadhan.


" Tapi aku nggak menginginkan apa-apa, Mas. Aku juga heran kenapa aku nggak merasakan mengidam? Padahal kehamilan aku ini sudah masuk trimester kedua. Mungkin karena anak ini pintar jadi nggak ingin merepotkan Papanya." Rayya terkekeh menjawab perkataan suaminya.


" Tapi aku rela jika harus memenuhi permintaan anakku ini, Sayang. Kau bilang saja, biar aku merasakan jadi calon Papa siaga demi sang bayi," ucap Ramadhan.


" Mas Rama sudah menjadi suami siaga untuk aku, aku rasa itu sudah cukup, Mas." sahut Rayya.


" Tentu saja aku akan menjadi suami yang siaga agar aku tidak kalah dengan Raffa yang selalu siaga kepada Kia." Ramadhan kembali membandingkan dirinya dengan suami dari sepupu istrinya itu.


Rayya bangkit dan mendudukkan tubuhnya berhadapan dengan Ramadhan. " Kenapa Mas Rama selalu membandingkan dengan Kak Raffa, sih? Mas Rama itu bukan Kak Raffa, jadi jangan pernah membandingkan Mas Rama dengan Kak Raffa. Kak Raffa adalah suami dan calon Papa yang baik untuk Kia dan bayinya. Sedangkan Mas Rama adalah suami dan calon Papa yang baik untuk aku dan anak kita ini." Kalimat yang diucapkan Rayya terdengar sangat bijak menasehati suaminya.


" Iya, Sayang." Ramadhan mengusap wajah istrinya.


" Mulai sekarang jangan lagi bawa-bawa nama Kak Raffa di antara kita. Kak Raffa sudah bahagia dengan Kia, jangan cemburu pada hal yang tidak penting, Kak." pinta Rayya kepada suaminya.


" Iya, istriku, Sayang. Aku mau buatkan su su dulu sebelum kamu tidur." Ramadhan turun dari tempat tidurnya kemudian dia berjalan ke luar kamarnya untuk membuatkan su su hamil untuk Rayya.


***


" Assalamualaikum, ada apa, Kia?" tanya Rayya saat menjawab panggilan masuk sepupunya itu.


" Ray, kamu jadi mau cek kehamilan sekarang? Kita bareng saja, yuk!" ajak Azkia.


" Hmmm, aku nanti saja, Kia. Kalau Kia mau periksa ke Tante Dessy, Kia duluan saja." Rayya berpikir pasti Azkia akan diantar oleh Raffasya, dia takut jika suaminya masih saja cemburu terhadap suami dari Azkia.


" Lho, memang kenapa kita nggak pergi bersama saja, Ray?"


" Kia tahu 'kan bagaimana suamiku terhadap suamimu?"


" Ya ampun, Kak Rama masih saja cemburu sama suamiku?"


" Aku hanya berjaga-jaga agar suamiku nggak cemburu dengan suamimu, Kia."


" Ray, kamu bilang dong sama Kak Rama kalau suamiku itu sudah tidak menyukaimu lagi. Suami aku itu sudah cinta dan sayang sekali sama aku. Lagipula kalian ini sudah mau punya anak, Kak Rama masih saja cemburu sama suamiku."


" Kau tahu sendiri bagaimana Kak Rama, Kia."


" Jadi kita nggak bareng nih check up nya?" tanya Azkia memastikan.


" Iya, Kia."


" Ya sudah deh kalau begitu, Assalamualaikum ...."

__ADS_1


" Waalaikumsalam ..." Rayya segera mengakhiri percakapan teleponnya dengan Azkia.


" Siapa yang menelepon, Sayang?" tanya Ramadhan saat terlihat istrinya itu tadi sedang menelepon.


" Tadi Kia mengajak check up ke Tante Dessy bareng, Mas." ujar Rayya tak menutupi alasan Azkia meneleponnya.


" Pasti suaminya itu akan ikut mengantar, kan?" Ramadhan langsung menatap curiga.


" Aku sudah menolak kok, Mas. Aku nggak mau melihat Mas Rama mempermalukan diri Mas Rama sendiri karena sikap cemburu yang berlebihan," sindir Rayya.


" Kau menyindirku, Sayang?" Ramadhan memeluk istrinya.


" Karena Mas Rama itu cemburunya nggak pada tempatnya. Mas Rama nggak lihat kalau Kak Raffa itu sekarang sudah bahagia dengan Kia?" Rayya memutar bola matanya.


" Hehehe, karena aku sangat mencintaimu, Sayang." Ramadhan menciumi pipi istrinya dengan sangat gemas.


" Sudah, Mas. Cepat buruan berangkat. Nanti telat ke kantornya." Rayya kemudian mengurai pelukan suaminya lalu mengambil tas kerja suaminya kemudian mengantar suaminya itu turun ke bawah untuk berangkat ke tempat kerjanya.


***


" Mas, Mas Rama, aku kepingin pizza." Rayya membangunkan suaminya yang sedang terlelap tidur.


" Jam berapa sekarang, Sayang?" Ramadhan meraih ponselnya untuk melihat waktu karena lampu kamar mati hingga dia tidak bisa melihat jam di dinding.


" Sudah jam dua belas malam. Ada pizza yang buka dua puluh empat jam, ya?" Ramadhan kemudian terduduk dan menyalakan lampu kamar. " Kamu mau pizza yang apa? Nanti aku pesankan."


" Di sini juga ada yang jual pizza Italia, kan? Tapi apa masih buka sekarang, Sayang?"


" Aku mau pizza asli dari Italia langsung, Mas?" Rayya menyeringai.


" Dari Italia?? Bagaimana bisa pesan pizza dari Italia, Sayang? Sampai sini pasti sudah basi pizzanya."


" Bukan Pizzanya yang dibawa ke sini, Mas."


" Lalu?"


" Kita yang ke sana. Aku kangen suasana Italia. Bagaimana kalau kita pergi babymoon ke Italia, Mas? Dulu kita nggak sempat jalan-jalan ke sana waktu honeymoon, kan?" pinta Rayya.


" Babymoon?? Hmmm, boleh juga idemu, Sayang. Kita pergi berbulan madu lagi bersama calon bayi kita di sana." Ramadan setuju dengan ide istrinya itu.


" Ya sudah, besok kita berangkat ke Italia ya, Mas?" pinta Rayya.


" Besok? Nggak mungkin bisa secepat itu dong, Sayang. Aku mesti mengajukan cuti dulu ke perusahaan."


" Kalau mengajukan cuti terlebih dahulu, kapan bisa berangkat ke Italia nya, Mas? Ya sudah, kalau Mas Rama nggak bisa pergi, biar aku saja sama Mommy yang berangkat ke Italia." Rayya mengancam suaminya akan pergi dengan Azzahra jika suaminya itu tidak bisa pergi bersamanya.


" Sayang, jangan seperti itu, dong. Oke nanti aku bilang ke Om Dirga agar bisa kasih cuti aku secepatnya." janji Ramadhan, agar istrinya itu tidak merajuk dan memaksa pergi bersama Mama mertuanya.

__ADS_1


***


Ramadhan memperhatikan Rayya yang sedang menyantap beberapa potong pizza di hadapannya. Akhirnya Ramadhan memang berhasil mendapatkan ijin dari Dirga untuk pergi ke Italia. Dan saat ini mereka berdua sedang berada di sebuah kedai pizza di kota Venice.


" Sayang, pelan-pelan makannya. Aku nggak akan mengambil makananmu itu, jadi jangan buru-buru makannya." Ramadhan menasehati istrinya itu agar makan dengan santai.


" Ini enak sekali, Mas. Aku sudah lama nggak merasakan pizza asli Italia ini." Dengan mulut penuh dengan makanan Rayya menjawab ucapan Ramadhan. Dan Ramadhan hanya menggelengkan kepala melihat pipi istrinya yang menggelembung karena mulutnya penuh dengan pizza.


Ddrrtt ddrrtt


Ponsel Rayya tiba-tiba saja berbunyi. Dia lalu melihat panggilan video call yang berasal dari Kayla.


" Kak Kayla telepon, Mas." Rayya langsung memperlihatkan layar ponselnya kepada suaminya itu.


" Angkat saja teleponnya." Ramadhan mengijinkan Rayya menjawab panggilan dari Kayla.


" Assalamualaikum, Kak Kayla." Sapa Rayya saat panggilan video call bersama Kayla tersambung.


" Waalaikumsalam, bumil ... apa kabar kamu, Rayya? Sedang ada di Italia ya sekarang? Wah, sayang sekali aku lagi nggak di Italia saat ini." sahut Kayla. Karena Kayla melihat story' dari sosial media Rayya tentang keberadaan Rayya di Italia.


" Lho, Kak Kayla sedang ada di mana sekarang ini?" tanya Rayya kemudian.


" Aku sedang di Kopenhagen, Rayya. Sedang mengikuti pameran lukisan di sini," ucap Kayla.


" Wah, asyik dong, Kak. Bisa ikut pameran." Rayya pun sebenarnya rindu bisa mengadakan pameran lukisan di luar negeri.


" Oh ya, Rayya. Ada yang mau ngomong sama kamu, nih."


Rayya mengeryitkan keningnya mendengar Kayla menyebutkan ada seseorang yang ingin berbicara dengannya.


" Siapa, Kak?"


" Kamu akan tahu sendiri." Kayla terlihat tersenyum lalu mengarahkan kamera ponsel ke orang di sampingnya.


" Assalamualikum, Rayya. Bagaimana kabarmu?"


Rayya terbelalak lebar mengetahui seorang pria yang menyapanya saat ini dari ponsel Kayla.


" Kak Luigi??"


*


*


*


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2