
Pagi ini setelah keluarga Gavin selesai menyantap sarapan, Gavin masih menyempatkan diri berbincang dengan Azzahra dan Rayya.
" Dad, Rayya mau minta ijin membantu Azkia di butik." Rayya meminta ijin kepada Gavin atas ajakan sepupunya itu untuk bantu mengelola butik milik Natasha selama dia liburan di Jakarta.
" Memang kenapa Kia minta bantuan Baby? Apa dia kesulitan menghandle usahanya sendiri?" tanya Gavin. " Daripada Baby ikut Kia, mending Baby ikut Daddy ke hotel. Biar Dad bisa ajarkan Baby bagaimana caranya mengelola bisnis perhotelan. Karena kalau Daddy sudah tua nanti, kamu juga harus bantu ikut mengelola bisnis Daddy."
" Kenapa harus Rayya, Dad? Kan ada Kak Willy, Rahsya sama Raihan. Mereka itu laki-laki, mereka yang lebih pantas mengelola usaha Daddy," sahut Rayya.
" Bisnis yang Daddy pegang juga milikmu, Baby. Daddy akan memberikan semua bisnis yang Daddy punya untuk kalian berempat. Jadi baik Willy, Baby dan kedua adikmu, semuanya akan mengelola usaha Daddy masing-masing." Gavin menjelaskan jika dia akan memperlakukan semua anak-anaknya termasuk anak dia dari Jovanka tanpa pilih kasih. Tentu Gavin sudah mempersiapkan asset-asset yang akan dia limpahkan kepada anak-anaknya itu.
" Tapi Rayya nggak bisa berbisnis, Dad. Pasti nantinya akan kacau kalau Rayya ikut terjun langsung mengelola usaha Daddy." Rayya merasa tidak mempunyai keahlian dalam hal bisnis. Karena jurusan yang dia ambil adalah bidang seni.
" Makanya nanti Baby ikut sama Daddy, agar Baby paham. Kalau bukan Baby yang handle siapa lagi? Kak Willy, Rahsya dan Raihan akan mengelola usahanya masing-masing." Gavin berharap putrinya itu bisa menangani salah satu usahanya.
" Kalau Rayya nggak mau jangan dipaksa dong, By. Rayya itu 'kan perempuan, kalau sudah menikah dia juga pasti akan ikut suaminya. Jadi biarkan saja suaminya yang cari nafkah. Rayya biar kaya Mommy saja, menunggu suami pulang dari kantor. Atau biar saja suami Rayya nanti yang pegang usaha Hubby. Kalau yang jadi suami Rayya itu Luigi, Mommy yakin dia akan bisa membantu mengelola usaha yang Hubby beri untuk Rayya." Azzahra yang tadi hanya mendengarkan langsung menyampaikan pendapatnya. Dan kembali dia menyinggung sosok pria yang menyukai putrinya itu.
" Mom, kenapa bawa-bawa dia?" Rayya memutar bola matanya saat Mommy nya menyinggung soal Luigi.
" Honey, kenapa kau ini semangat sekali ingin punya menantu Luigi?" Gavin heran karena istrinya memang selalu bersemangat jika membicarakan soal Luigi. Seolah sosok Luigi adalah pria paling sempurna untuk putri mereka.
" Ya sekarang Hubby pikir saja, apa yang kurang dari Luigi? Secara fisik dan karir dia oke. Seiman dengan kita juga serius menginginkan Rayya untuk menjadi pasangannya. Sebagai orang tua yang sayang terhadap anaknya, apa lagi yang kita harapkan selain mendapatkan menantu idaman seperti Luigi itu, By?" Azzahra tak pernah ragu untuk meyakinkan suaminya agar bisa membuka hatinya untuk menerima Luigi agar bisa lebih dekat dengan putri mereka.
" Honey, apa seperti ini dulu Umimu saat mengharapkanmu berjodoh dengan dosen tetangga kita?" Gavin justru kini menyindir Azzahra sambil menyeringai.
" Ck, kenapa selalu membicarakan itu sih, By? Memangnya nggak ada topik pembicaraan yang lain? Malu sama anak-anak kalau hal ini sampai diketahui mereka semua. Untung saja hanya Rayya yang tahu." Azzahra langsung memberengut kesal dan langsung meninggalkan suami dan putrinya itu.
" Honey, kau mau ke mana?" Gavin justru tergelak melihat istrinya itu merajuk.
" Dad, kenapa menggoda Mommy seperti itu? Jadi ngambek itu Mommy ..." Rayya memprotes Gavin yang nampak menikmati kemarahan istrinya.
" Mommy mu marah Daddy sindir seperti itu. Sedangkan waktu kemarin Mommy sindir Daddy, Daddy nggak sampai ngambek seperti Mommy kamu tadi." Gavin menganggap apa yang dilakukannya sebagai balasan atas sindiran yang dilakukan Azzahra kepada dirinya saat makan bersama Luigi beberapa hari lalu.
***
" Assalamualikum, Auntie." Rayya menyapa Natasha yang terlihat serius menatap laptop di pangkuannya saat Rayya masuk ke dalam rumah Yoga.
" Waalaikumsalam, masuk, Rayya." sahut Natasha langsung menaruh laptop di atas meja dan melepas kacamatanya.
" Kia sudah berangkat ya, Auntie?" tanya Rayya kemudian duduk di samping Natasha.
" Kia sudah ke butik, kenapa? Ada janji sama Kia? Rayya mau minum apa?" tanya Natasha.
" Nggak usah repot-repot, Auntie. Nanti Rayya ambil sendiri saja," tolak Rayya. " Rayya nggak ada janji kok, Auntie. Cuma ingin menengok Auntie saja." Rayya menatap laptop Natasha yang masih menyala. Sepertinya Tantenya itu sedang membuka website butik miliknya.
" Lagi sibuk ya, Auntie?" tanya Rayya menganggap Natasha sedang bekerja walaupun sedang di rumah.
" Nggak, kok. Hanya memantau orderan via online saja," sahut Natasha. " Kamu bagaimana di Italia sana, Rayya? Betah, ya?"
__ADS_1
" Alhamdulillah, Auntie."
" Di sana 'kan cowoknya ganteng-ganteng. Ada yang nyangkut satu nggak di hati kamu? Mommy kamu cerita ke Auntie katanya ada dosen yang suka sama kamu? Benar begitu?" Natasha penasaran karena Azzahra sempat bercerita kepada dirinya tentang seorang dosen muda yang menyatakan ketertarikannya kepada Rayya.
" Mommy cerita begitu ke Auntie?" Rayya sungguh merasa malu karena hal-hal pribadinya diceritakan Mommy nya kepada Natasha.
" Iya, Mommy kamu bilang itu sama Auntie. Mana coba Auntie mau lihat foto dosen ganteng itu. Ganteng mana sama dosen punya Auntie?" Natasha terkikik ingin membandingkan Luigi dengan suaminya.
" Rayya nggak punya fotonya, Auntie. Paling juga dari profil foto akun sosial media dia, tapi ponsel Rayya nggak dibawa Auntie." Rayya menjelaskan.
" Oh ya sudah, tapi beneran dia suka sama Rayya?" Natasha penasaran.
" Sepertinya begitu, Auntie."
" Terus Rayya nya gimana? Suka juga sama dia?"
Rayya mengedikkan bahunya. " Rayya belum tahu, Auntie." Rayya sendiri masih bingung antara mau menerima Luigi atau bertahan dengan kesendiriannya.
" Kalau Auntie boleh kasih saran, jika ada orang yang mau serius dengan kita, apalagi orangnya recommended banget, kenapa nggak dicoba dijalanin? Apalagi seiman, itu hal paling utama yang mendukung suatu hubungan." Natasha mencoba memberi pandangan kepada Rayya.
" Iya, nanti Rayya pertimbangkan lagi, deh. Sekarang ini Rayya mau fokus menamatkan kuliah dulu," tekad Rayya.
" Oh ya, Rayya. Beberapa bulan lalu apa Tante Anin ada menghubungi Rayya?"
Pertanyaan Natasha sontak membuat Rayya menyipitkan matanya.
" Soalnya waktu itu Tante Anin pernah minta nomer telepon Rayya ke Auntie."
Rayya kini membelalakkan matanya mengetahui jika Anindita meminta nomer teleponnya kepada Natasha.
" Minta nomer Rayya? Terus Auntie kasih?"
" Iya, karena Auntie pikir ada hal yang ingin dibicarakan dengan kamu. Tapi Auntie heran juga sih, kenapa Tante Anin minta nomer Rayya ke Auntie, ya? Kenapa nggak langsung tanya ke Mommy kamu saja, kamu 'kan anaknya."
Rayya menghela nafas panjang. Akhirnya dia tahu dari mana Ramadhan mendapatkan nomer ponselnya. Dan ternyata Mama dari Azkia lah pelakunya. Namun Rayya tentu tidak bisa menyalahkan Natasha begitu saja. Natasha dan Anindita bersahabat dekat seperti dengan Mommy nya. Mungkin Natasha tidak punya pikiran macam-macam karena Natasha memang tidak tahu soal kisah dia dan Ramadhan walaupun Azkia mengetahuinya. Sementara Anindita tidak langsung menanyakan nomer teleponnya kepada Azzahra, yang pasti mungkin karena Anindita merasa tak enak hati karena apa yang diperbuat oleh Ramadhan dianggapnya membuat malu keluarga dari Ricky.
***
" Pa, Ma, Rama ingin bicara sebentar." ujar Ramadhan saat kedua orangnya hendak masuk ke dalam kamarnya.
" Ada apa, Rama?" tanya Anindita kepada Ramadhan.
" Masuklah!" Sementara Ricky langsung mempersilahkan putranya itu masuk ke dalam kamar.
" Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Ricky setelah Ricky dan Anindita duduk di sofa kamarnya.
" Rama mau ijin pergi ke Italia besok sore, Pa, Ma."
__ADS_1
Baik Ricky maupun Anindita sama-sama terkesiap saat mendengar penuturan Ramadhan yang menyatakan keinginannya pergi ke salah satu negara di benua biru itu.
" Mau apa kamu ke sana, Rama?" Anindita yang masih merasa khawatir Ramadhan masih berharap akan Kayla langsung merasa cemas jika tujuan anaknya ke sana adalah untuk menemui Kayla.
" Rama ingin bertemu Rayya, Ma." ujar Ramadhan mengatakan tujuannya dia pergi ke Italia.
Ricky dan Anindita saling berpandangan mendengar alasan Ramadhan pergi ke Italia.
" Rayya? Memangnya ada urusan apa lagi kamu ingin bertemu dengan Rayya? Apa kamu mau bikin malu Papa lagi?" Ricky berbicara dengan nada bicara ketus.
" Rama ingin meminta maaf, Pa. Dan Rama ingin mencoba menjalin kembali tali silaturahmi seperti semula lagi dengan Rayya, bahkan lebih baik dari sebelumnya. Rama ingin diberi kesempatan untuk mendapatkan hati Rayya, juga bisa mencintai Rayya dan melanjutkan rencana perjodohan yang pernah Papa rencanakan dengan Om Gavin dulu." Ramadhan menyatakan jika dia bersungguh-sungguh dengan niatnya.
" Tapi apa Tuan Gavin masih mau menerima kamu? Setelah kamu sudah sangat mengecewakannya." Ricky ragu jika putranya itu akan dengan mudah mendapatkan restu dari Gavin.
" Karena itu Rama ingin menunjukkan keseriusan. Rama, Pa." tekad Ramadhan.
" Kalau kau besok berangkat, lalu kau akan kembali ke sini kapan?" tanya Ricky.
" Kalau segala sesuatunya lancar, Insya Allah Senin siang Rama sudah kembali ke Jakarta, Pa."
" Berarti kamu nggak akan bekerja hari senin nanti. Apa Pak Dirga mengijinkan kamu, Rama?" tanya Anindita karena jika Rama akan kembali Senin, anaknya itu tidak akan bisa berangkat bekerja hari itu.
" Iya, Ma. Tapi Om Dirga sudah kasih ijin ke Rama untuk berangkat ke Italia." Ramadhan mengatakan jika kepergiannya ke Italia sudah mendapat persetujuan dari Dirga.
" Pak Dirga memberi kamu ijin pergi dan membiarkanmu tidak ke kantor hari Senin?" Ricky nampak terkejut mengetahui bosnya itu seakan memberi keringanan kepada putranya hingga membiarkan Ramadhan tidak masuk ke kantor di hari Senin yang dianggapnya sebagai hari sibuk setelah weekend.
" Iya, Pa. Om Dirga kasih ijin Rama libur sehari untuk menemui Rayya di Roma."
" Pak Dirga tahu kau ke sana untuk urusan pribadi dan tetap memberimu ijin?" Ricky masih nampak tidak percaya dengan kebijakkan yang ditetapkan oleh bosnya itu. Membiarkan karyawannya mengurus kepentingan pribadi yang sifatnya bukanlah suatu hal yang urgen.
" Benar, Pa."
" Memangnya Pak Dirga tahu kalau kamu sedang berusaha mendekati Rayya kembali?" selidik Ricky.
" Om Dirga tahu kok, Pa. Bahkan Om Dirga sendiri yang memberi ide supaya Rama menyusul Rayya ke Roma."
Ricky mendengus kasar mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh putranya. Saat dia mengetahui Ramadhan ingin menyusul Rayya ke Roma dan mengatakan ingin mendapatkan hati wanita itu, sejujurnya hatinya merasa senang walaupun tidak dia perlihatkan. Setidaknya Ramadhan bisa seperti dirinya yang tak pantang menyerah mendapatkan hati Anindita walaupun berbagai rintangan harus dihadapinya. Namun saat dia tahu jika ide menyusul Rayya ke Roma adalah ide dari Dirga, seketika hatinya kecewa. Dia merasa jika Ramadhan tidaklah setangguh dirinya. Karena kepergian putranya ke Italia itu bukan berasal dari inisiatif sendiri namun usulan dari orang lain.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1