
Rayya berjalan menembus rintik hujan yang masih membasahi kota Roma, karena restoran tempat dia janji bertemu dengan Luigi hanya berjarak seratus meter dari apartemennya.
" Rayya, maafkan aku. Aku tahu apa yang dilakukan oleh Om Dirga salah, tapi aku benar-benar tidak terlibat dengan rencana Om Dirga, Rayya." Ramadhan yang berjalan mengikuti langkah Rayya berusaha memberi pengertian kepada Rayya jika dia benar-benar bersih. Dia lalu melepas coatnya dan menutupi kepala Rayya agar tidak basah terkena rintik hujan.
" Kenapa Kak Rama nggak menceritakan hal ini dari awal?" Ada nada kecewa dalam pertanyaan Rayya.
" Maafkan aku, Rayya. Aku hanya nggak ingin kamu menjadi salah paham dengan tindakan Om Dirga." Sebenarnya Ramadhan takut Rayya akan menganggapnya licik hingga membuat Rayya justru tidak mau menerimanya. " Rayya, apapun yang telah dilakukan oleh Om Dirga, kau harus percaya jika niat Om Dirga untuk kita adalah baik. Om Dirga ingin kita bisa bersama."
" Tapi aku sedih melihat Kak Luigi marah seperti tadi, Kak." Wajah Rayya tidak dapat menyembunyikan kesedihannya apalagi tadi Rayya baru saja menangis saat melihat Luigi memukul Ramadhan.
" Mungkin ini memang menyakitkan untuk Luigi tapi seiring berjalannya waktu dia pasti akan bisa menerima." Ramadhan mencoba menenangkan Rayya dan menyakinkan jika Luigi akan bisa menerima keputusan Rayya.
" Sebaiknya kamu segera masuk ke dalam apartemenmu," ucap Ramadhan setelah Rayya sampai ke bangunan apartemen tempat dia tinggal saat masih kuliah di Roma dulu.
" Apa wajah Kak Rama masih terasa sakit?" Rayya menatap wajah Ramadhan yang beberapa kali ini terkena hajar.
" Aku rasa sakit yang aku rasa tidak seberapa dengan rasa sakit kamu atas sikapku dulu, Rayya."
Ucapan Ramadhan membuat pandangan Rayya beralih menatap mata Ramadhan yang juga menatap lekat kepadanya.
" Hmmm, sebaiknya Kak Rama cepat kembali ke hotel." Rayya sengaja mengalihkan pembicaraan karena saat ini wajahnya seketika bersemu karena ucapan Ramadhan tadi.
" Ya sudah, kau tidurlah. Jangan sampai kita ketinggalan pesawat, katanya kamu ingin menghadiri acara akad nikah Kia dan Raffa."
" Iya, Kak."
" Kau masuklah dulu ke dalam."
" Iya, Kak. Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam ...."
Setelah mendengar jawaban salam Ramadhan, Rayya kemudian masuk ke dalam bangunan apartemennya yang berada di lantai delapan. Dan Ramadhan pun kembali ke hotelnya yang tidak jauh dari apartemen yang kini hanya ditempati William.
***
Rayya memperhatikan ponselnya. Beberapa pesan yang berisikan permintaan maafnya kepada Luigi tak juga dibaca oleh pria itu. Padahal biasanya pria itu paling cepat jika membalas pesan darinya terkecuali saat dia sedang mengajar.
Rayya bisa merasakan kekecewaan Luigi hingga akhirnya pria itu sepertinya enggan merespon pesannya. Dia menyesal karena dia tidak bisa memenuhi permintaan Daddy nya untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik.
" Semua ini salah aku. Seandainya aku tidak pernah memberikan harapan kepada Kak Luigi mungkin Kak Luigi tidak akan sekecewa ini," sesal Rayya yang merasa bersalah telah membuat Luigi terluka seperti ini.
Ddrrtt ddrrtt
Rayya segera menyentuh ponselnya saat terdengar notif ponselnya berbunyi. Dia mengharapkan balasan dari Luigi atas pesan permintaan maafnya.
" Kenapa belum tidur juga?"
Ternyata pesan dari Ramadhan yang masuk ke dalam ponselnya. Rayya tersenyum membaca pesan masuk dari Ramadhan.
" Ini baru mau tidur, Kak." Rayya segera membalas pesan Ramadhan.
" Cepatlah tidur, atau aku akan kembali ke sana dan membuatmu begadang semalaman!" Pesan dari Ramadhan kali ini bernada mengancam.
__ADS_1
Rayya kembali tersenyum sambil mengetik balasan.
" Iya, Kak."
Tak lama pesan balasan dari Ramadhan berbentuk voice note masuk ke dalam ponselnya. Dan Rayya membuka pesan suara itu.
" Tidurlah, sudah malam ... sweet dream. I love you. Assalamualaikum ...."
Hati Rayya seketika berdesir mendengar kalimat I love you yang diucapkan Ramadhan hingga dia susah menahan senyuman untuk mengembang di bibirnya.
" Waalaikumsalam ..." Rayya segera membalas salam yang diucapkan Ramadhan mengakhiri percakapannya dengan Ramadhan.
***
Sekitar pukul 07.45 pesawat yang membawa Rayya dan Ramadhan mendarat di Bandara Soekarna-Hatta.
" Apa Kak Rama akan langsung ke kantor?" tanya Rayya saat mereka berada di dalam mobil.
" Mungkin nanti akan mampir sebentar," sahut Ramadhan yang saat ini berada di belakang kemudi.
" Apa Kak Rama nggak merasa capek? Karena habis melakukan perjalanan jauh?" tanya Rayya khawatir.
" Aku pernah pulang pergi Jakarta-Roma tanpa jeda, dan itu tidak masalah untukku, apalagi sekarang ada kamu yang menemani."
" Kak Rama senang ngegombal sekarang," cibir Rayya melempar pandangan ke luar jendela karena rona merah sekarang sudah nampak di wajahnya.
Ramadhan tertawa kecil menanggapi ucapan Rayya. " Aku sedang menyenangkan hati kekasih aku sendiri. Apa itu salah?"
" Memangnya kenapa? Nggak kepingin jadi kekasihku? Inginnya langsung jadi istriku?" Ramadhan kembali menggoda Rayya.
" Sudah, ah ... jangan ngegombal terus!" Rayya kini menutup telinga dengan kedua tangannya dan hal itu membuat Ramadhan kembali terkekeh.
" Oh ya, Rayya. Aku benar-benar penasaran kenapa Kia justru menikah dengan pria yang bukan pacarnya itu." Ramadhan teringat kembali rencana pernikahan Azkia dengan Raffasya.
" Hmmm, tapi Kak Rama janji nggak akan mengatakan ini pada siapapun, kan?" Rayya meminta Ramadhan menyimpan rahasia soal Azkia.
" Oke, aku janji."
" Kia kemarin terkena musibah, Kak."
" Musibah? Musibah apa?"
" Kia hamil. Beberapa waktu lalu ada orang-orang yang menjebak Kia dengan memasukan obat penambah ga irah ke dalam minuman Kia."
" Astaghfirullahal adzim ..." Ramadhan tersentak mendengar cerita tentang Azkia. Dia sudah bisa menebak akhirnya akan seperti apa. Karena dia pun terlahir ke dunia ini karena ulah seseorang yang menjebak Papanya hingga akhirnya menghamili wanita desa bernama Anindita.
" Dan Raffa itu yang menjebak Kia?"
" Bukan Kak Raffa yang menjebak Kia, tapi Kak Raffa yang menolong Kia lolos dari mereka yang berniat jahat kepada Kia. Dan akhirnya justru Kak Raffa lah yang melakukan itu kepada Kia." Rayya menjelaskan semua kejadiannya secara detail seperti yang dia dengar dari Mommy nya.
" Ya ampun, kasihan sekali Kia. Aku nggak menyangka dia akan seperti ini nasibnya."
" Iya, masih bersyukur saat itu ada Kak Raffa yang menemukan Kia, kalau saja orang lain yang nggak kami kenal atau Kia berhasil kena jebakan mereka, nggak bisa dibayangkan akan seperti apa Kia sekarang ini."
__ADS_1
" Aku tidak bisa menyalahkan Raffa dalam hal ini. Papa aku juga dulu melakukan hal yang sama, terjebak karena orang yang berniat jahat kepadanya."
" Iya, Kak. Karena itu Uncle memutuskan untuk segera menikahkan Kia dengan Raffa secepatnya sebelum perut Kia semakin membesar."
" Ya syukurlah semua bisa diselesaikan dengan baik dan Raffa mau bertanggung jawab."
" Iya, walaupun Kia sampai sekarang masih saja menolak Kak Raffa. Bahkan sempat tidak mengaku jika yang menghamilinya itu adalah Kak Raffa."
" Apa Raffa awalnya tidak mau bertanggung jawab?"
" Bukan begitu, Kak Raffa justru yang mengaku kepada Uncle Yoga kalau dia yang sudah menghamili Kia. Tapi Kia nya yang menolak Kak Raffa."
" Karena Kia sudah punya pacar, kan?"
" Salah satunya itu, dan mungkin karena selama ini Kia sama Kak Raffa itu selalu bermusuhan sejak kecil."
" Oh ya?" Ramadhan merasa tertarik dengan cerita tentang Azkia dan Raffasya. " Kenapa mereka bermusuhan?"
" Karena waktu kecil Kak Raffa itu senang membully anak-anak lain. Termasuk Kak Gibran pernah juga menjadi korban Kak Raffa."
" Tunggu dulu, berarti Gibran dengan Kia itu sejak kecil ...." Ramadhan menjeda kalimatnya.
" Mereka dekat sejak kecil." Rayya melanjutkan kalimat Ramadhan.
" Tak heran akhirnya mereka pacaran, kan?"
" Iya."
" Hmmm, bisa dibayangkan bagaimana perasaan Gibran sekarang ini."
" Ya, begitulah ...."
" Jadi karena itu Kia dan Raffa bermusuhan?"
" Banyak hal yang membuat mereka selalu berdebat. Mungkin juga salah satunya karena Kia selama ini selalu menghalangi Kak Raffa yang selalu berusaha mendekati aku ...."
Ramadhan menghentikan mobilnya secara mendadak saat mendengar ucapan Rayya.
" Astaghfirullahal adzim, kenapa mendadak berhenti, Kak?" Rayya sampai memegangi dadanya karena kaget.
" Apa katamu tadi?"
Rayya langsung terbelalak saat menyadari jika dia kelepasan mengatakan kalau Raffa dulu pernah berusaha mendekatinya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1