
Anindita mengerjapkan matanya saat mendengar anaknya berniat ingin melamar Rayya. Rasanya seperti mimpi saat kalimat itu terucap dari mulut putranya. Sebenarnya inilah yang dia ingin akan sejak lama. Mungkin jika dulu Rama tidak menolak perjodohan dengan Rayya, saat ini dia sudah menimang seorang cucu dari putranya itu. Anindita langsung mengembangkan senyuman saat membayangkan tentang hal itu.
" Ma, kok malah melamun?" Suara Ramadhan membuat Anindita tersadar dari lamunannya.
" Rama, kamu nggak sedang bercanda 'kan, Nak?" tanya Anindita masih tidak percaya.
" Tentu saja nggak, Ma! Rama serius, Rama ingin melamar Rayya besok malam."
Anindita kembali terperanjat mendengar waktu yang ditentukan putranya untuk melamar Rayya.
" Besok malam? Ya ampun, Rama. Kamu jangan bikin Mama jantungan, deh!"
Ramadhan terkekeh melihat Mamanya yang mendadak senewen dengan rencananya itu.
" Mama jangan jantungan, dong! Mama memangnya tidak ingin melihat Rama menikah dan punya anak memangnya?" ledek Ramadhan menggoda Mamanya.
" Kamu nggak bilang ke Mama tentang rencana kamu ini sebelumnya, Rama. Apa Papa kamu sudah tahu? Dan apa Om Gavin. juga akan setuju dengan niat kamu ini, Nak? Rama jangan bikin Mama deg-degan seperti ini. Daddy nya Rayya itu sekarang ini sangat membenci kamu, bagaimana mungkin kamu berani mau melamar, Rayya?"
" Ma, Rayya sudah bilang ke Rama kalau Daddy nya itu sekarang sudah menyerahkan keputusan kepada Rayya. Dan Rayya juga sudah mau menerima Rama jadi tidak ada alasan Rama untuk menunda hal ini, sebelum orang lain mendahului Rama," ungkap Ramadhan yang memang tidak ingin kedahuluan dengan Luigi dalam melamar Rayya.
" Ya sudah, kalau itu sudah jadi keputusan kamu. Mama akan dukung kamu, Rama. Tapi tolong jangan bikin Mama kecewa lagi."
" Iya, Ma. Rama janji nggak akan mengecewakan Papa dan Mama lagi." janji Ramadhan.
***
Setelah membaca ayat suci Al'quran selepas sholat Isya, Rayya lalu meraih ponselnya untuk mengecek pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Tentu saja dia sangat berharap ada pesan yang masuk dari Ramadhan. Namun Rayya mendengus saat tidak dia temukan pesan dari pria itu.
Rayya lalu menghempaskan tubuhnya karena merasa kecewa karena Ramadhan tidak mengirimkan pesan kepadanya malam ini. Rasanya saat ini Rayya merasakan seperti abege yang sedang jatuh cinta.
Ddrrtt ddrrtt
Rayya langsung meraih ponselnya saat ponselnya itu berbunyi. Dan senyum langsung mengembang di bibirnya saat ini ketika dia melihat Ramadhan yang menghubunginya.
" Assalamualaikum, Kak." Dengan hati berdebar Rayya menjawab panggilan masuk dari Ramadhan.
" Waalaikumsalam, Rayya. Kamu belum tidur?" tanya Ramadhan.
" Aku baru selesai sholat isya, Kak."
Kini Ramadhan mengalihkan panggilannya menjadi video call membuat Rayya langsung mengambil hijab dan memakaikan di kepalanya.
" Kenapa lama sekali mengangkat video call nya?" protes Ramadhan saat Rayya tidak cepat merespon panggilan video call nya.
" Maaf, Kak. Aku tadi pakai hijab dulu."
Namun tiba-tiba Ramadhan tertawa seraya menutup mulutnya seraya menatap Rayya.
__ADS_1
" Kenapa Kak Rama tertawa begitu?" tanya Rayya heran.
" Kamu buru-buru ya tadi?" tanya Ramadhan masih belum menghentikan tawa kecilnya.
" Kenapa memangnya, Kak?" Rayya kembali mengeryitkan keningnya.
" Hijab kamu terbalik."
Rayya membulatkan matanya seraya menurunkan pandangannya ke arah hijab yang dia pakai. Ternyata benar apa yang dikatakan Ramadhan, jika hijab yang dia pakai terbaik memasangnya.
" Astaghfirullahal adzim ... sebentar, Kak!" Rayya langsung berlari ke arah cermin dan membenarkan posisi hijabnya kini.
" Maaf, Kak. Aku tadi buru-buru. Aku nggak tahu kalau Kak Rama akan video call." Rayya tersipu malu akan tindakan konyol yang dilakukannya tadi.
" Soalnya aku kangen, aku ingin melihat wajah cantik kamu, Rayya."
Wajah Rayya seketika bersemu mendengar ucapan Ramadhan. Dan sudah bisa dipastikan. hati Rayya saat ini seperti ditumbuhi ratusan bunga yang bermekaran.
" Kak Rama jangan menggoda, dong!" Rayya menutup wajah dengan telapak tangannya karena saat ini hatinya sangat berdebar.
" Kenapa ditutup Rayya? Aku jadi nggak bisa melihat wajah kamu kalau kamu tutupi seperti itu!" protes Ramadhan kembali.
" Sudah ah, Kak. Jangan godain aku terus ..." Rayya meminta Ramadhan berhenti meledeknya namun pria itu justru tertawa senang. Karena Ramadhan juga sepertinya baru merasakan benar-benar bahagia mencintai seorang wanita. Mungkin kalau dulu dia tidak berkeras hati dan mau menerima perjodohannya dengan Rayya, kebahagiaan seperti ini sudah sejak lama dia dapatkan.
" Rayya, besok aku dan Papa Mama aku akan menemui orang tuamu." Kali ini Ramadhan lebih serius dengan ucapannya.
" Kak Rama akan ke sini dengan orang tua Kakak? Memangnya ada apa, Kak?" tanya Rayya heran.
" Kak, jangan buat aku penasaran, kenapa Om Ricky dan Tante Anin ikut datang kemari?"
" Rayya nggak akan sesak nafas 'kan kalau aku kasih tahu sekarang?" tanya Ramadhan meledek.
" Kak ...!"
Ramadhan terkekeh melihat Rayya yang kini mencebikkan bibirnya.
" Oke, oke ... aku kasih tahu sekarang. Tapi Rayya jangan sampai pingsan ya dengarnya?"
" Iya, Kak."
" Aku akan melamarmu, Rayya."
Bola mata Rayya membulat sempurna mendengar ucapan Ramadhan.
" Kak ..." Rayya seolah tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
" Tuh 'kan ... aku bilang juga apa? Kamu mau pingsan, kan?" Ramadhan kembali terkekeh.
__ADS_1
" Kak, jangan bercanda!"
" Aku nggak bercanda, aku tadi habis cari cincin diantar sama Mama," sahut Ramadhan.
" Kak, apa ini tidak terlalu mendadak?" Tiba-tiba Rayya teringat akan Luigi.
" Kenapa? Rayya nggak suka aku melamar kamu?"
" Bukan begitu, Kak! Aku hanya ... menurutku apa nggak sebaiknya kita selesaikan dulu urusan dengan Kak Luigi. Setelah itu baru kita memikirkan soal lamaran Kak Rama." Rayya memang ingin menyelesaikan masalahnya dengan Luigi sebelum dia tenang menggapai harapannya bersama Ramadhan.
***
Setelah selesai melakukan video call dengan Ramadhan, Rayya langsung keluar menuju kamar orang tuanya, karena bagaimanapun dia harus mengabarkan tentang rencana Ramadhan yang ingin melamarnya.
Tok tok tok
" Mom, Dad ... apa Rayya boleh bicara?"
Tak lama setelah Rayya mengetuk pintu kamar orang tuanya.
" Ada apa, Rayya?" tanya Azzahra yang membukakan pintu untuk Rayya.
" Mom, Rayya ingin bicara dengan Mommy sama Daddy," ucap Rayya dengan hati berdebar, dia berharap kedua orang tuanya akan merespoen dengan baik apa yang ingin dia katakan nanti.
" Masuklah, Rayya. Apa yang ingin Rayya bicarakan?" Azzahra membuka lebar daun pintu kamarnya.
" Baby? Ada apa?" tanya Gavin yang baru selesai dari kamar mandi.
" Rayya ingin bicara dengan kita, By." Azzahra yang menjawab pertanyaan suaminya..
" Bicara apa, Baby? Kemarilah ..." Gavin meminta Rayya mendekat ke arahnya.
" Begini, Dad, Mom ... Rayya sudah bicara dengan Kak Rama ..." Rayya menghentikan ucapannya seraya melirik ke arah Daddy nya karena dia ingin tahu bagaimana ekspresi Daddy nya itu saat dia menyinggung soal Ramadhan. Dan dia hanya melihat wajah datar Gavin saat dia menyebut nama pria yang belakangan ini dibenci oleh Daddy nya itu.
" Lalu apa yang Rayya bicarakan dengan Rama?" tanya Azzahra menyahuti perkataan Rayya.
" Hmmm, Kak Rama berniat datang kemari bersama Om Ricky dan Tante Anin, karena Kak Rama berencana ingin melamar Rayya, Mom ...."
Berita yang disampaikan oleh Rayya sontak membuat Azzahra dan Gavin terperanjat dengan bola mata melebar seketika.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Mohon maaf ya, sampai akhir bulan ini masih fokus di Kisahnya Kia dan Raffa, karena memang mengejar target 60K di sana. Bulan depan moga bisa update rutin 22 nya, makasih🙏
Happy Reading❤️