RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Dinner


__ADS_3

Ramadhan memasuki restoran di salah satu hotel berbintang dengan langkah tegapnya. Dan seseorang langsung menyambut kedatangan Ramadhan.


" Selamat malam, Mas Rama." sapa Pak Rusli, yang kini menjabat sebagai manager marketing di Angkasa Raya yang juga ikut datang dalam acara dinner tersebut.


" Selamat malam, Pak Rusli." Ramadhan membalas sapaan Pak Rusli seraya melebarkan senyuman kepada dua orang tamu istimewa mereka.


" Mas Arya, Nona Farah, perkenalkan ini adalah Executive Assistant dari Pak Dirga, Mas Ramadhan." Pak Rusli memperkenalkan Ramadhan kepada kedua model iklannya itu.


" Selamat malam, Pak Arya, Nona Farah. Terima kasih sudah mau hadir dalam jamuan makan malam dengan Angkasa Rayya." Ramadhan menyalami Arya dan Farah bergantian.


" Selamat malam Mas Ramadhan, suatu kehormatan juga untuk kami diundang dalam acara dinner ini." Farah menyahuti perkataan Ramadhan seraya mengembangkan senyuman manisnya.


" Benar seperti yang Farah katakan, kami senang bisa diundang makan malam oleh petinggi dari PT. Angkasa Raya langsung." Arya menambahkan.


" Mari silahkan duduk ..." Ramadhan pun mempersilahkan mereka untuk kembali duduk.


" Saya berharap dengan memakai model seperti Pak Arya dan Nona Farah, konsumen akan menjadi tahu produk apartemen yang akan kita tawarkan." Ramadhan mengungkapkan harapannya.


" Semoga saja, Mas Ramadhan." Arya menyahuti.


" Mas Arya ini sinetronnya sedang jadi sinetron unggulan dan digemari banyak orang, sedangkan Nona Farah ini model yang sedang melejit karirnya. Sudah pasti kehadiran mereka nanti di iklan kita akan menyita perhatian publik." Pak Rusli menjelaskan.


" Saya rasa Pak Rusli benar. Banyak pengagum Pak Arya Saluka dan Nona Farah Rose, Mama saya sendiri begitu mengidolakan Pak Arya, semoga saya bisa meminta foto Pak Arya dan tanda tangannya agar Mama saya senang." Ramadhan berkelakar hingga membuat orang-orang disekitar meja itu tertawa kecil.


" Mas Ramadhan sendiri masih muda tapi sudah menjabat di posisi penting perusahaan. Tidak banyak orang yang tahu, coba jika sering muncul di televisi pasti banyak yang mengidolakan Mas Ramadhan terutama wanita-wanita cantik." Kini gantian Arya yang berseloroh.


Ramadhan tertawa kecil menanggapi ucapan Arya. " Saya bukan artis, Pak Arya. Jadi tidak usahlah masuk-masuk televisi." Ramadhan menjawab dengan merendah.


" Dan kalaupun masuk di televisi pasti di segmen berita tentang bisnis bukan tentang entertaiment jadi yang mengikuti ya ... pelaku bisnis." Pak Rusli ikut menimpali.


Sementara Farah hanya ikut menikmati obrolan dengan tiga orang pria yang saat ini berada satu meja dengannya. Dia pun diam-diam memperhatikan Ramadhan. Tentu saja wajah tampan Ramadhan dan tubuh atletis pria itu tidak akan bisa diabaikan begitu saja untuk wanita normal seperti dirinya.


Setelah acara makan malam usai, Arya langsung berpamitan terlebih dahulu karena dia harus menjemput istrinya yang juga seorang artis dan baru selesai syuting. Sementara Farah masih berbincang bersama Ramadhan dan Pak Rusli.


" Mas Rama, saya mau berpamitan juga. Tidak apa-apa kan kalau saya tinggal lebih dahulu?" ujar Pak Rusli yang tak lama ikut berpamitan.


" Oh silahkan, Pak Rusli. Hati-hati di jalan." Ramadhan pun mempersilahkan Pak Rusli yang ingin pergi.

__ADS_1


" Saya permisi dulu, Nona Farah. Terima kasih untuk kehadirannya. Semoga iklannya sukses membuat apartemen kami diminati konsumen," ucap Pak Rusli.


" Aamiin, Pak Rusli. Terima kasih juga undangannya," sahut Farah dengan suara yang lembut.


" Apa Nona Farah juga akan pulang sekarang?" tanya Ramadhan saat Pak Rusli sudah pergi menjauh.


" Ah, tidak ... apa Mas Ramadhan akan pulang juga?" Farah balik bertanya.


" Mana mungkin saya meninggalkan tamu saya. Jika Nona Farah masih ingin di sini tentu saja saya akan menemani Nona Farah," jawab Ramadhan.


" Aduh, apa saya jadi merepotkan Mas Ramadhan?" tanya Farah merasa tidak enak hati.


" Oh, tidak. Santai saja, Nona." Ramadhan menampik prasangka yang dilontarkan Farah kepadanya.


" Syukurlah kalau begitu." Farah tersenyum senang.


" Sudah lama Nona Farah menggeluti dunia model?" tanya Ramadhan.


" Sejak SMA, sekitar delapan tahun lalu."


" Iya, benar. Cuma saya lebih banyak berkiprah di luar karena kebetulan saya melanjutkan kuliah di Perancis. Dan baru setahun ini kembali ke Jakarta." Farah menjelaskan.


" Jam terbangnya banyak di luar apalagi di Perancis, pasti akan menjadikan Anda model profesional di sini, Nona." Ramadhan berpendapat.


" Ya semoga saja seperti itu."


" Apa Anda juga ingin terjun ke dunia di luar model? Tidak jarang model yang mencoba berakting atau menyanyi."


" Saya rasa saya cukup di dunia modeling saja, Mas Ramadhan. Saya tidak bisa berakting apalagi bernyanyi." Farah tertawa kecil seraya menutup mulutnya dengan jari-jari tangannya yang ramping dengan kuku menggunakan nail polish warna marron.


" Panggil saja saya Rama, Nona." Ramadhan meminta Farah memanggilnya dengan sebutan Rama saja.


" Kalau begitu Mas Rama juga panggil saya Farah saja kalau begitu." Farah pun meminta Ramadhan manggilnya tanpa embel-embel Nona.


" Baiklah, deal." Ramadhan menarik satu sudut bibirnya ke atas.


" Apa Mas Rama sudah lama bekerja di Angkasa Raya?" tanya Farah ingin tahu.

__ADS_1


" Sejak empat tahun lalu. Kebetulan Papa saya memang salah satu petinggi di Angkasa Raya, dan Om Dirga meminta saya meneruskan tempat yang awalnya digeluti Papa, karena sekarang Papa saya menjabat Vice President di Angkasa Raya." Ramadhan menjelaskan pekerjaannya.


" Ternyata memang turun temurun ya?"


" Iya, Angkasa Raya memang milik Kakek Poetra Laksmana, menurun ke Om Dirga dan Papa saya. Sekarang dilanjutkan ke saya dan anak Om Dirga mungkin jika sudah cukup usia nanti." Ramadhan kembali menjawab.


" Oh begitu, hmmm ... Mas Rama sudah menikah?" Farah tak menampik jika pria mapan apalagi tampan seperti Ramadhan adalah yang banyak diinginkan oleh wanita termasuk dirinya.


Ramadhan menarik satu sudut bibirnya ke atas.


" Belum ..." sahutnya.


" Masa, sih? Dengan wajah dan pekerjaan Mas Rama saya rasa tidak sulit untuk Mas Rama menaklukan hati wanita, kan?"


" Tidak semua yang terlihat mudah itu bisa didapat," ucap Ramadhan, tentu saja yang terlintas dibenaknya saat ini adalah sosok Kayla, wanita yang dipujanya sejak dia remaja.


" Saya yakin wanita itu akan menyesal karena telah mengabaikan Mas Rama."


Ramadhan langsung menoleh ke arah Farah.


" Maaf kalau saya salah menebak. Saya hanya menduga saja, karena mendengar perkataan Mas Rama tadi." Farah mengklarifikasi perkataannya.


Ramadhan kembali tersenyum samar tak membalas perkataan Farah. Apakah Kayla memang menyesal karena menolaknya? Yang pasti saat ini dia sudah kehilangan akses dengan wanita itu. Kayla memang menjauhinya sejak ungkapan perasaan Ramadhan kepada Kayla. Bahkan kini semua nomer wanita itu sudah tidak bisa dihubungi lagi olehnya. Akun sosial media wanita itu juga sudah diprivasi bahkan akun miliknya sepertinya sudah diblokir oleh Kayla hingga dia tidak bisa lagi mengikuti aktivitas yang dilakukan Kayla di negara Italia sana.


*


*


*


Bersambung ...


Yang bertanya apa visual Rama ganti? Untuk semua visual di novel aku terkecuali visualnya Gavin, lainnya ga ada perubahan ya, visual cowok dan cewek itu sama seperti visual yg dikenalkan di awal cerita.


Happy Reading❤️


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2