RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Menutup Lembaran Cinta


__ADS_3

" Kayla? Kayla kau ada di sini?"


Farah mengeryitkan keningnya saat Ramadhan. menyebutnya dengan nama Kayla.


" Kayla?" Farah masih dalam keterkejutannya menatap Ramadhan yang terlihat aura wajahnya sangat kacau dan terlihat frustasi.


" Sedang apa kau di sini, Kay? Kau ingin mengolokku? Ingin menertawakanku?" Ramadhan tersenyum getir. " Kau pasti senang melihat aku seperti ini 'kan, Kay?" Ramadhan kini mengetuk kening Farah dengan telunjuknya.


" Maksud Mas Rama apa? Aku nggak mengerti, aku ini Farah bukan Kayla, Mas!" Farah yang melihat Ramadhan masih saja mengoceh hingga Farah semakin dibuat bingung dengan perkataan Ramadhan yang terus meracau.


Ramadhan menarik satu sudut bibirnya ke atas dan terkekeh. " Kau pasti bahagia aku jadi begini, kan? Kalau saja aku tidak mencintaimu, mungkin saat ini aku sudah bersama dia, Kay. Kalau saja aku tidak terus mengejarmu, aku pasti bisa membuka hatiku untuk dia yang benar-benar tulus menyanyangiku sejak dulu." Ramadhan masih saja meracau dan menyalahkan Kayla atas apa yang terjadi dengannya saat ini.


Farah yang mendengar pengakuan Ramadhan jika pria itu menyukai Kayla langsung membelalakkan matanya.


" Mas Rama mencintai Kayla?"


" Aku benar-benar lelaki bodoh, Kay. Aku lelaki to lol yang buta hati hingga tidak peka pada seseorang wanita yang sungguh-sungguh mencintaiku." Ramadhan memijat pelipisnya karena saat ini dunia terasa berputar-putar dalam pandangan matanya.


" Maksud Mas Rama?"


" Sekarang kau sedang bersenang-senang dengan kekasihmu. Dan dia pun kini sudah mempunyai pria lain yang mencintainya. Sedangkan aku? Aku benar-benar sangat menyedihkan, memprihatinkan, hahahaha ..." Ramadhan tertawa kencang seolah menertawakan kebodohannya sendiri.


" Dia itu siapa, Mas? Siapa yang Mas Rama maksud dengan dia?" Farah kini merasa penasaran dengan sosok 'dia' yang dimaksud oleh Ramadhan.


" Dia itu yang mencintai aku, Kay! Dia itu wanita yang tulus menyayangiku dan selalu aku acuhkan selama ini! Dia itu orang sudah berkali-kali aku sakiti hatinya!" Ramadhan mencengkram bahu Farah hingga mengguncangnya kuat.


" Dia siapa, Mas? Aku benar-benar nggak tahu!" Farah benar-benar ingin tahu.


" Dia itu ... dia itu ... huweekk ..." Ramadhan mengeluarkan apa yang membuat mual perutnya dan membuat pusing kepalanya ke arah baju yang dikenakan oleh Farah.


" Ya ampun, Mas Rama ..." Farah mendengus melihat baju yang dipakai terkena kotoran yang keluar dari mulut Ramadhan akibat mabuk minum minuman beralkohol. Sementara Ramadhan yang tidak terbiasa mabuk dan tidak tahan menahan kepalanya yang berat langsung terlelap dengan tubuh bersandar pada sandaran sofa dan kepala menegadah ke atas.


Farah segera mengganti pakaiannya dan membersihkan tubuhnya. Setelah itu dia kembali menemui Ramadhan yang sudah benar-benat tertidur. Farah membuka blazer milik Ramadhan yang juga terkena kotoran dan membersihkan wajah Ramadhan dengan handuk kecil. Lalu dia menyusun bantal di atas sofa dan berusaha merubah posisi tubuh Ramadhan hingga saat ini tertidur dengan posisi berbaring di sofa.


Farah melepas sepatu yang dikenakan Ramadhan dan menaikkan kaki Ramadhan hingga kini berada di sofa. Farah kemudian mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Ramadhan dari leher hingga kaki pria itu.


Farah lalu terduduk di bawah sambil memandangi wajah tampan Ramadhan yang terlihat sangat lelah. Jemari lentik Farah mengusap wajah tampan pria itu.


" Jadi ini yang membuat kamu pusing, Mas? Aku nggak menyangka kalau kamu mencintai Kayla dan ternyata Kayla menolak kamu, ya? Lalu siapa dia itu, Mas? Siapa dia yang Mas Rama maksud? Mas begitu menyesali telah mencampakkan dia. Apa dia begitu berarti untuk Mas Rama hingga Mas Rama serapuh ini?" gumam Farah seolah merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Ramadhan.


" Mas, kalau Mas butuh teman berkeluh kesah, aku siap untukmu, Mas. Mas Rama nggak sendiri, ada aku yang akan menemani Mas Rama. Aku janji, aku akan ada untuk Mas Rama." Farah lalu mengecup pipi Ramadhan.


Ddrrtt ddrrtt


Farah mendengar suara ponsel Ramadhan berbunyi dari dalam saku blazernya membuat dia langsung mengambil ponsel itu. Farah mendapati nama 'Mama' yang muncul di layar ponsel milik Ramadhan itu. Farah melirik jam dinding yang sudah menunjukkan waktu hampir setengah dua belas malam.


" Halo, Assalamualaikum ..." Walau awalnya ragu untuk menerima, akhirnya Farah pun mengangkat panggilan ponsel milik Ramadhan.


" Waalaikumsalam, i-ini siapa? Ini nomer Ramadhan, kan?" Terdengar nada cemas dari suara Anindita yang tertangkap di telinga Farah


" Jni Farah, Tante."


" Farah? Kamu sedang bersama Rama? Rama mana? Kenapa ponsel Rama ada sama kamu?" Anindita yang mengetahui jika selama ini ponsel anaknya tidak pernah dipegang oleh orang lain apalagi wanita langsung bertanya heran.


" I-iya Farah sedang bersama Mas Rama, Tante."


" Di mana Rama? Tolong berikan ponselnya kepada Rama! Tante ingin bicara dengannya." Anindita benar-benar merasa tak tenang karena mengetahui saat ini Ramadhan bersama Farah.


" Mas Rama sedang di apartemen Farah, tapi Mas Rama nya sedang tidur, Tante."


" Di apartemen kamu? Rama tidur? Apa maksud kamu mengatakan jika Rama sedang tidur? Jangan bilang kalau kalian ... Ya Allah." Suara Anindita kini terdengar senewen.


" Oh, nggak, Tante! Kami tidak seperti yang Tante pikirkan." Farah menyangkal pikiran buruk seperti yang Anindita duga.


Kini Anindita merubah panggilannya menjadi video call.


" Mana Rama, Farah?" Wajah Anindita nampak serius dan seperti sudah dipenuhi oleh emosi.


" Ini, Tante ..." Farah lalu mengarahkan kamera ponselnya ke arah Ramadhan. yang terlelap dengan bergelung selimut.


" Rama kenapa? Kenapa dia bisa ada di sana dan kenapa dia tidur di tempat kamu, Farah?!" Walaupun sudah dijelaskan jika terjadi apa-apa antara Farah dengan Ramadhan, nampaknya Anindita masih belum cukup tenang.

__ADS_1


" Mas Rama habis curhat sama Farah, Tante. Mas Rama bilang sekarang ini Mas Rama sedang pusing dengan permasalahan yang ada. Tapi Tante tenang saja, saya tidak berbuat apa-apa kepada Mas Rama, kok! Tante lihat sendiri,kan? Mas Rama saat ini tidur di sofa tamu? Kalau saya bangunkan sekarang dan disuruh pulang, takutnya Mas Rama nggak konsentrasi membawa kendaraan dan itu sangat berbahaya, Tante. Sebaiknya Mas Rama di tempat saya saja dulu, Tante. Biar besok pagi Mas Rama pulang ke rumah." Farah mencoba meyakinkan Anindita agar tidak mengkhawatirkan Ramadhan dan tidak berburuk sangka terhadapnya.


Terdengar suara dengusan nafas Anindita di ponsel milik Ramadhan itu.


" Tante percaya sama Farah, deh! Farah nggak akan berbuat macam-macam kok, Tan."


" Baiklah, Tante pegang omongan kamu, Farah!"


" Iya, Tante."


" Titip, Rama. Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam ..." Farah mengakhiri percakapannya dengan Anindita saat Anindita menyudahi panggilan video callnya.


Farah menghembus nafas panjang seraya menatap ke arah Ramadhan. Dia ingin menaruh kembali ponsel milik Ramadhan namun foto wallpaper di ponsel Ramadhan membuat matanya terbuka lebar-lebar.


" Rayya? Ini 'kan foto Rayya?" Farah lalu menoleh ke arah Ramadhan lalu kembali menatap ponsel pria itu. " Apa dia yang dimaksud Mas Rama itu adalah Rayya?" hati Farah bertanya-tanya.


***


Setelah sampai di rumahnya, Rayya segera masuk ke dalam kamarnya. Sepanjang perjalanan pulang menuju rumahnya Rayya hanya terdiam, bahkan beberapa kali Gavin bertanya pun tidak dijawab olehnya.


" Dasar laki-laki plin-plan! Begitu minta aku memberi kesempatan, nyatanya nempel-nempel wanita lain! Dasar menyebalkan!" Rayya menggerutu karena rasa kecewanya kepada Ramadhan karena laki-laki itu telah kembali membuat hatinya sakit.


" Ya Allah, kenapa harus dipertemukan lagi dengan dia lagi dan dia lagi?" keluh Rayya seraya menyeka air mata yang sedari tadi ditahan untuk tidak menetes di pipinya.


Sementara itu di kamarnya, Farah nampak serius mencari info tentang hubungan Rayya dan Ranadhan di ponsel Ramadhan yang tidak terkunci. Karena saat ini Ramadhan sedang mabuk berat dia menduga jika Ramadhan tidak akan cepat sadar.


Sebelumnya dia mencari nomer Kayla. Ternyata Kayla dan Ramadhan sudah lama tidak melakukan chating, dia menduga jika Kayla memblokir nomer Ramadhan, karena semua pesan yang terakhir Ramadhan kirim hanya bertanda ceklis satu sedangkan nomer telepon Kayla masih sama dengan yang dia simpan dan pakai untuk berkomunikasi dengan Kayla. Setelah itu dia mencari nomer Rayya, yang ternyata nasibnya pun tak beda jauh dengan nomer Kayla. Karena nomer Ramadhan pun sepertinya diblokir juga oleh Rayya.


" Hmmm, jadi Rayya itu suka dengan Mas Rama, sedangkan Mas Rama sukanya sama Kayla," Farah menggelengkan kepalanya. " Ya ampun, rumit sekali kisah cintamu, Mas." Farah kemudian berjalan kembali ke ruang tamu di mana Ramadhan tertidur. Dia lalu menaruh ponsel Ramadhan kembali ke saku blazer. Dia kembali berjalan mendekati Ramadhan dan mengusap wajah Ramadhan kembali.


" Mas, kalau hatimu saat ini terluka, aku siap membalut luka hati kamu, Mas. Aku ingin melihat kamu sebagai pria yang kuat dan tidak lemah seperti sekarang ini," tekad Farah. Dia lalu mengambil bantal dan meletakkan di kursi sebelah sofa yang digunakan Ramadhan untuk tertidur. Dia menarik kedua kakinya ke atas kursi hingga saat ini berposisi meringkuk. Dia memandangi Ramadhan sampai rasa kantuk pun menjemputnya dan akhirnya membuatnya terlelap dengan posisi duduk meringkuk.


***


Selepas Shubuh Anindita kembali menghubungi ponsel Ramadhan dengan melakukan panggilan video call. Semalaman dia dibuat tak tenang dengan ulah putranya itu. Lebih dari lima menit yang diperlukan Anindita hingga panggilan video call nya terhubung.


Anindita nampak kecewa karena yang mengangkat panggilan teleponnya bukan Ramadhan tetapi Farah.


" Waalaikumsalam, mana Rama?" tanya Anindita dengan nada masih kesal.


Sedetik kemudian Anindita dapat melihat dari layar ponselnya sosok putranya yang masih tidur terlelap.


" Astaghfirullahal adzim! Farah, tolong cepat kamu bangunkan Rama dan suruh dia pulang ke rumah!"


" I-iya, Tante."


" Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam ...."


Farah langsung mengambil air mineral dan susu beruang di dari dalam kulkas.


" Mas, bangun ... ini sudah Shubuh. Mama Mas Rama tadi telepon menyuruh Mas Rama untuk cepat pulang." Farah mencoba membangunkan Ramadhan.


" Mas, ayo bangun ...!" Walaupun sudah berusaha dibangungkan namun Ramadhan tak juga terbangun.


" Mas, cepat bangun! Nanti Papa sama Mama Mas Rama akan marah kalau Mas nggak juga bangun."


" Hmmm ..." Ramadhan malah berganti posisi tidur dengan menghadap sandaran sofa.


" Ya Ampun, Mas. Benaran hangover kamu, ya?" Farah sampai menggelengkan kepalanya. Akhirnya dia mencoba mengambil air di gayung lalu menyipratkan sedikit demi sedikit air itu ke wajah Ramadhan.


Setelah beberapa kali Farah melakukan hal itu akhirnya Ramadhan mulai terbagun dari tidurnya.


" Aku di mana?" tanya Ramadhan masih nampak linglung.


" Mas Rama di apartemenku."


" Di apartemenmu? Kenapa aku di sini?"

__ADS_1


" Mas semalam mabuk kerena kebanyakan minum Vodka." Farah lalu menyodorkan air mineral dan susu beruang kepada Ramadhan. " Minumlah, semoga ini masih bisa meredakan hangovernya. Aku akan antar Mas pulang, karena dari semalam Mama Mas Rama telepon terus. Aku ganti baju dulu sebentar." Farah kemudian beranjak menuju kamarnya untuk berganti pakaian karena dia ingin mengantar Ramadhan pulang ke rumahnya.


***


Rayya beberapa kali merobek kertas yang dia pakai untuk menggambar siang ini di taman belakang rumahnya. Entahlah, rasanya sejak semalam bertemu Ramadhan dan Farah berduaan, mood nya tidak juga membaik. hingga dia pun kehilangan konsentrasi dalam melukis objek di hadapannya.


Ddrrtt ddrrtt


Rayya menoleh ponsel di kursi taman. Dia melihat Azkia lah yang mengirim pesan ke ponselnya.


" Assalamualaikum. Ray, semalam kamu jadi pergi ke pesta ultah model itu ya?"


" Waalaikumsalam. Iya, Kia ... kenapa?"


" Semalam di sana kamu ketemu Kak Rama? Dia ada di pesta itu lho, ternyata."


" Iya aku juga tahu." Sebenarnya agak malas Rayya membahas soal pesta semalam.


" *Jadi kamu juga tahu gosip yang beredar hari ini*?" tanya Azkia kemudian.


" Gosip apa?" Walaupun Rayya sudah menduga jika gosip yang beredar adalah kedekatan Ramadhan dan juga Farah namun dia tetap bertanya.


" Kia kirim link nya deh!" Azkia kemudian mengirimkan link gosip yang seperti dimaksudnya tadi.


Rayya membuka link berita gosip yang dikirim oleh Azkia kepadanya.


" Model Farah Noer 'kabur' dari pesta ulang tahunnya semalam bersama pria berinisial RSP." Itu judul dari artikel gosip itu


" Model Farah Noer dikabarkan kabur dari pesta ulang tahun yang diadakan di ballroom sebuah hotel bintang lima di kawasan Jakarta bersama seorang eksecutive muda berinisial RSP. Gosip tentang kedekatan mereka bukan pertama kalinya beredar. Jika sebelumnya mereka selalu menepis gosip kalau mereka berdua memiliki hubungan spesial, lalu bagaimana dengan kali ini? Setelah menghilang dari acara pesta dan cukup mengecewakan tamu undangan. Pagi harinya wartawan yang memburu sampai ke apartemen Farah mendapati Farah dan pria yang berinisial RSP itu keluar dari bangunan apartemen Farah dengan berjalan dengan tangan saling berangkulan. Ada apa dengan mereka berdua? Keluar dari apartemen Farah dengan saling berpelukan sekitar jam lima pagi, apa pria itu menginap di apartemen Farah? Belum ada klarifikasi tentang gosip ini. Tapi asisten dari Farah bilang jika semalam Farah terpaksa meninggalkan pesta kerena ada keperluan mendesak. Kira-kira keperluan apa yang membuat Farah meninggalkan pestanya bersama pria tampan itu?"


Dada Rayya rasanya seketika bergolak, letupan-letupan cemburu kembali menguasai hatinya, hingga dia tidak mampu lagi membendung cairan bening yang menetes dan membuatnya seketika terisak dengan menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Lagi dan lagi Ramadhan telah membuat hatinya kecewa. Berita mengenai Ramadhan dan Farah terutama saat ketahuan mereka keluar dari bangunan apartemen di mana Farah tinggal telah membuat hatinya merasa tercabik-cabik.


***


Hari ini Rayya memutuskan kembali ke Roma bersama Luigi. Walau liburan kuliahnya belum selesai namun Rayya memilih menghabiskan sisa liburan di Italia, karena jika dia terlalu lama di Jakarta dan selalu bertemu Ramadhan akan membuatnya semakin tak pernah bisa bangkit dari belenggu rasa cintanya kepada Ramadhan.


Rayya sudah bertekad jika dia ingin menutup lembaran cintanya kepada Ramadhan. Dia harus iklhlas jika dia ingin mencapai kebahagiannya. Dia berpikir mungkin ini saatnya untuk dia membuka hati dan memberi kesempatan kepada Luigi untuk benar-benar memasuki hatinya.


Tak beda jauh dengan Rayya, Ramadhan pun yang mengetahui jika Rayya sudah memilih Luigi memilih mengikhlaskan wanita itu untuk pria lain. Dia menikmati kekecewaannya karena gagal mendapat cinta Kayla dan juga gagal mendapatkan hati Rayya dengan penyesalan.


Sementara itu sesuai dengan janjinya, Farah yang memang berusaha menggantikan posisi Kayla dan Rayya dia hati Ramadhan semakin gencar memberikan perhatian-perhatian kepada Ramadhan. Tak jarang wanita itu membatalkan acaranya hanya untuk menemani Ramadhan. Farah pun selalu berusaha meluangkan waktu untuk mengakrabkan diri dengan keluarga Ramdhan hingga kini hubungan mereka semakin dekat.


Hari terus berganti hingga Rayya sebentar lagi akan mengakhiri masa kuliahnya di Roma dan akan melakukan wisuda bulan depan.



Rayya menatap ke arah luar dari bangunan kampusnya, karena tak akan lama lagi dia akan meninggalkan bangunan yang hampir tiap hari dia datangi selama tiga tahun ini.


" Ci mancherà questo campus più tardi, Rayya." ( Kita pasti akan merindukan kampus ini nanti, Rayya )


Rayya menoleh ke arah Simone yang berdiri di belakangnya.


" Si, Simone."


" Tornerai in Indonesia?" ( Apa kamu akan kembali ke Indonesia )


" Fuori rotta." ( Tentu saja )


" Non hai paura di incontrare di nuovo qualcuno lì?" ( Sudah tidak takut bertemu seseorang lagi di sana ) Simone tergelak menggoda Rayya membuat Rayya melirik ke arah pemuda yang pernah menyukainya itu.


" Ovviamente Rayya non avrà paura, perché io sono con lei." ( Tentu saja Rayya tidak akan takut, karena aku bersamanya )


Suara di belakang Rayya dan Simone membuat dua mahasiswa itu menolehkan wajahnya ke belakang dan mendapati Luigi yang sudah berdiri di belakang mereka berdua.


*


*


*


Bersambung ..

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2