
Di kota Jakarta yang begitu luas dengan jejeran Mall yang tak terhitung jumlahnya, Rayya sungguh tidak menyangka dirinya akan dipertemukan dengan Ramadhan kembali di mall yang sama.
" Kak Rama ... Tante Anin ... " Rayya langsung terperangah dengan kedua orang yang sedang berhadapan dengan Azzahra.
" Hai, Rayya. Apa kabar, Sayang?" Anindita langsung menghampiri lalu memeluk tubuh Rayya.
" Alhamdulillah baik, Tante." Rayya lalu mencium punggung tangan Anindita.
" Masya Allah, kamu itu sudah cantik, sopan, sholehah. Beruntung nanti pria yang akan jadi pendamping kamu, Rayya." Anindita mengusap pucuk kepala Rayya yang tertutup kerudung seraya melirik ke arah Ramadhan yang pandangannya kini terarah kepada putri sahabatnya itu.
Rayya hanya tersenyum samar menanggapi ucapan Anindita.
" Kamu bersyukur punya anak perempuan seperti Rayya, Ra." ucap Anindita kemudian.
" Ah, Mbak Anin terlalu berlebihan memuji Rayya." Azzahra mencoba bersikap merendah.
Sementara Rayya sengaja tidak ingin memandang ke arah Ramadhan.
" Kita cari apa lagi, Mom?" Rayya berusaha mengabaikan keberadaan Ramadhan.
" Sepertinya sudah semua," sahut Azzahra.
" Kalian sudah mau selesai belanjanya, ya? Aku juga kebetulan sudah mau selesai. Gimana kalau kita makan dulu setelah dari sini? Kita ke foodcourt, kita cari makan di sana dulu, Ra." Anindita sepertinya sengaja ingin terus menahan agar dia bisa lebih lama bersama Azzhara dan Rayya. " Nggak apa-apa 'kan kita ngobrol-ngobrol sebentar, Rayya?" Kini Anindita meminta persetujuan Rayya.
" Hmmm, Rayya terserah Mommy saja, Tante." Walaupun sebenarnya dia merasa kurang nyaman dengan keberadaan Ramadhan, namun dia tidak bisa menolak begitu saja apa yang diminta Anindita.
Dan akhirnya kini mereka berempat duduk saling berhadap-hadapan. Azzahra duduk di depan Anindita, sedangkan Rayya duduk persis di depan Ramadhan.
" Rayya, sebentar lagi lulus, ya? Mau lanjut kuliah di mana?" tanya Anindita saat mereka menunggu pesanan.
" Rayya rencananya mau melanjutkan kuliah di luar, Mbak." Azzahra yang menjawab pertanyaan Anindita karena dia menyadari jika anaknya saat itu merasa tidak nyaman dengan pertemuan mereka kali ini.
" Kuliah di luar? Yaaahh, Tante nanti jarang ketemu sama kamu dong, Rayya. Sayang sekali, coba kalau kamu sama Rama nggak membatalkan perjodohan pasti Rayya tetap di sini."
__ADS_1
" Ma ..." Ramadhan yang sedari tadi tidak banyak bicara langsung menegur Mamanya yang nampak cerewet kali ini.
" Rencana kuliah di luar sebenarnya sudah ada sejak lama sebelum rencana perjodohan kemarin kok, Tante. Cuma memang belum sempat Rayya diskusikan dengan Daddy dan Mommy. " Rayya kini memberanikan diri menatap ke arah Ramadhan di hadapannya.
" Karena itu Rayya sepakat menolak perjodohan itu, Tante. Karena Rayya tidak ingin membuat Kak Rama menunggu Rayya." Rayya lalu memutuskan pandangannya dari Ramadhan.
" Lagipula Rayya masih sangat muda. Kalaupun Rayya ingin mencari pendamping hidup, Rayya ingin memilih seseorang yang benar-benar menyayangi dan mencintai Rayya tanpa suatu paksaan," tegas Rayya.
Azzahra melirik ke arah putrinya saat mendengar putrinya itu berbicara begitu lugas tanpa rasa gugup. Azzahra sangat memahami jika selama ini putrinya itu pribadi yang sangat tertutup dan pemalu. Karena itu dia sempat terkejut melihat putrinya nampak terlihat tegar.
Sementara itu Ramadhan merasa jika kalimat yang terdengar dari mulut Rayya adalah sebuah sindiran halus terhadapnya. Dia menatap lekat gadis berkerudung di hadapannya yang nampak enggan sekali menatap ke arahnya.
" Kamu memangnya nggak khawatir anak kamu yang cantik ini tinggal sendirian di luar negeri, Ra?" tanya Anindita lagi.
" Kemungkinan Rayya akan ditemani Willy, Mbak." jawab Azzahra. Pertemanan yang terjalin akrab antara Anindita dan Azzahra memuat Anindita sedikit tahu tentang keberadaan William.
" Wah, tugas berat untuk Willy jagain adiknya. Pasti akan banyak pria-pria yang akan mengantri buat jadi pacar kamu, Rayya," ujar Anindita.
" Rayya mau fokus menuntut ilmu dulu, Tante." sahut Rayya.
Rayya tertawa kecil hingga memperlihatkan wajah cerianya.
" Memangnya Kak Arka mau dijodohkan dengan Rayya, Tante? Kak Arka pasti sudah mempunyai wanita pujaan lain, mana mau dijodoh-jodohkan." Kali ini giliran Rayya yang menyindir Ramadhan kembali.
" Jangan-jangan Rayya yang sebenarnya sudah mempunyai seseorang yang disukai atau dikagumi hingga menolak dijodohkan oleh Rama, ya?"
Rayya melirik Azzahra yang juga langsung melirik ke arahnya.
" Hmmm, nggak ada kok, Tante. Rayya nggak sedang menyukai atau mengagumi siapa-siapa. Sejauh ini Rayya benar-benar fokus sama sekolah dan nggak ingin dipusingkan dengan hal-hal nggak penting soal perasaan terhadap lawan jenis." Rayya berusaha menutupi perasaan yang sebenarnya dengan berkata yang bertentangan dengan hatinya.
" Rayya ingin mengejar cita-cita Rayya yang bisa membuat Daddy dan Mommy bangga terhadap Rayya." Rayya kemudian merangkulkan tangannya hingga kini dia memeluk tubuh Azzahra dari samping.
Dan lagi-lagi Ramadhan dibuat mengerutkan keningnya. Dia seketika teringat ucapan Azkia yang mengatakan jika Rayya itu begitu mengaguminya. Namun apa yang dikatakan Rayya sama sekali tidak menunjukkan apa yang disampaikan oleh Azkia kepadanya itu benar.
__ADS_1
" Oh ya, Tante. Kak Arka sendiri rencananya akan lanjut kuliah di mana?" Rayya sengaja mengalihkan pembicaraan dari soal perjodohan.
" Anak itu masih mencari-cari kampus yang cocok bilangnya." Anindita menyahuti.
Arka yang berbeda usia sekitar setengah tahun dengan Rayya memang seangkatan dengan Rayya.
" Hmmm, Ra. Toilet di sini di mana, ya? Antar aku sebentar, yuk." Anindita secara tiba-tiba menarik lengan Azzahra hingga membuat wanita berhijab itu kaget namun tak lama dia mengikuti langkah Anindita.
" Toiletnya di sebelah sana, Mbak." Azzahra menunjuk ke arah yang berbeda dengan arah yang dituju oleh Anindita.
" Aku tahu, Ra. Aku sebenarnya nggak ingin ke toilet. Aku ingin memberikan kesempatan Rama dan Rayya mengobrol. Siapa tahu setelah mengobrol mereka jadi berubah pikiran dan mau melanjutkan rencana perjodohan mereka.
" Tapi, Mbak."
" Aku dari tadi memperhatikan anakku itu nggak pernah lepas pandangannya dari Rayya. Lagipula aku lihat Rayya nampak dewasa dengan ucapan-ucapannya itu. Aku harap ini akan menjadi awal yang bagus untuk mereka." Anindita nampaknya masih bersemangat ingin menjodohkan Ramadhan dengan Rayya.
Sementara ini itu sepeninggal Anindita dan Azzahra, nampak kecanggungan di antara Ramadhan dan Rayya. Apalagi Rayya memilih diam seribu basa.
" Ehemmm, jadi Rayya benar ingin kuliah di luar?" Ramadhan yang dari tadi hanya diam kini mulai bersuara.
" Iya, rencananya seperti itu."
" Apa Rayya yakin keputusan Rayya pindah ke luar negeri itu nggak ada sangkut pautnya dengan gagalnya perjodohan kita?"
Kalimat yang diungkapkan Ramadhan sontak membuat Rayya memfokuskan pandangannya ke arah wajah pria dihadapannya saat ini. Tak lama seulas senyuman terukir di bibir tipis Rayya.
" Kegagalan perjodohan kita sudah berbulan-bulan yang lalu, untuk apa dibahas lagi?" sahut Rayya dengan santai.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading ❤️