RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Gosip


__ADS_3

Rayya terlihat asyik berada di ruang lukisnya yang dia sediakan untuk tempat dia menuangkan segala ispirasinya dengan coretan-coretan warna ketika ada waktu senggang di apartemennya.



Ddrrtt ddrrtt


Rayya menoleh ke arah ponselnya saat ponselnya itu berbunyi. Rayya dengan cepat mengambil ponselnya itu dan terlihat nama Kayla lah yang melakukan panggilan terhadap nomer ponselnya.


" Assalamualaikum, ada apa Kak Kayla?" Dengan ramah Rayya menerima panggilan telepon dari Kayla.


" Waallaikumsalam. Ray, Kakak mau tanya, kamu punya karya lukisan yang sudah jadi, kan?" tanya Kayla menjawab Rayya.


" Ada, Kak. Kenapa memangnya, Kak?" tanya Rayya kemudian.


" Mau ikut dipamerkan dalam pameran lukisan yang nanti diadakan Kakak?" tanya Kayla menawarkan.


" Aduh, Rayya masih belum percaya diri kalau harus memajang hasil lukisanku untuk dipamerkan dan dilihat banyak orang, Kak." Rayya memang merasa jika dia bukanlah siapa-siapa dan dia masih merasa amatir untuk memamerkan karya lukisannya.


" Haha ... kenapa nggak percaya diri? Devi essere sicuro di te se vuoi essere un artista." ( Kamu harus percaya diri jika kamu ingin menjadi seorang seniman ) Kayla menyemangati.


" Coba kamu kirim hasil lukisan-lukisan kamu, Kakak mau lihat. Nanti Kakak pilih, kalau Kakak bilang menarik untuk dipamerkan kamu jangan menolak, ya!"


" Oke, Kak. Nanti Rayya coba kirim foto lukisannya ya, Kak." Rayya menyetujui apa yang diminta oleh Kayla.


" Oke, Kakak tunggu secepatnya. Assalamualaikum ..." Kayla ingin mengakhiri panggilan teleponnya.


" Waalaikumsalam ..." Rayya segera menaruh kembali ponselnya.


" Ya ampun, aku mesti kirim lukisan yang mana, ya?" Rayya mengetuk dagu dengan jarinya mencoba mencari-cari lukisan karya dia yang mana yang akan dia kirimkan sebagai contoh kepada Kayla.


" Kok aku deg-degan begini, sih? Tenang Rayya, tenang ... itu acaranya Kak Kayla, bukan kamu. Hmmm, tapi kalau ada yang mencibir lukisan aku gimana, ya?" gumam Rayya seraya berjalan mondar-mandir di ruang lukisnya itu. Namun seketika dia menjentikkan jarinya ketika dia teringat akan seseorang


" Ah, Simone. Aku minta pendapat dia saja, kira-kira lukisan yang mana yang pantas aku kirimkan ke Kak Kayla." Rayya kemudian kembali mengambil ponselnya dan segera menghubungi Simone.


" Pronto, perche, Rayya? Ti sono mancato?" ( Hallo, ada apa, Rayya? Apa kau merindukanku ) Ucapan Simone diakhiri dengan terkekeh.


" Simone, mi puoi aiutare per favore?" ( Simone, bisakah kamu menolongku )


" Cosa volete che faccia?" ( Kamu ingin aku bantu apa ) tanya Simone.

__ADS_1


" Kayla mi ha chiesto di partecipare alla sua mostra di pittura e mi ha chiesto di inviarle campioni dei dipinti che avevo realizzato. Puoi aiutare a scegliere?" ( Kak Kayla meminta aku untuk ikut berpartisipasi dalam pameran lukisannya. Dia meminta aku untuk mengirimkan contoh lukisanku. Apa kamu bisa bantu pilihkan ) Rayya berharap agar Simone bisa membantunya.


" Sì, prova ad inviare la foto, la scegliero piu tardi" ( Ya coba kamu kirimkan gambarnya nanti saya pilihkan ) Simone bersedia untuk membatu Rayya.


" Ho inviato la foto. Grazie, Simone." ( Aku kirim fotonya, makasih, Simone ) Rayya kemudian mematikan panggilan teleponnya dan mengirimkan beberapa hasil lukisannya kepada Simone sebelum dia kirimkan kepada Kayla.


***


Dua hari setelah acara makan malam bersama model dari iklan apartemen Angkasa Raya.


" Ma, Mama ...!" suara Talitha terdengar berteriak memanggil Anindita seraya berlari ke arah Mamanya yang sedang menganti bunga dari vas di ruangan tamu.


" Ada apa kamu teriak-teriak, Thalita?" tanya Anindita melihat anaknya itu berteriak memanggil namanya.


" Ma, ada gosip tentang Mas Rama." Thalita memberitahukan.


" Gosip tentang Mas mu? Gosip apa?" Anindita nampak penasaran dengan gosip yang disebutkan oleh putri bungsunya.


" Gosip kalau Mas Rama itu kencan dengan seorang model. Nih, Mama lihat beritanya ada di akun gosip Henpon Jadul." Thalita lalu menyodorkan poselnya kepada Anindita. " Lihat deh, fotonya juga ada." Thalita memperlihatkan sebuah foto yang memperlihatkan Ramadhan dan seorang wanita cantik berjalan di lobby hotel.


" Model cantik FRA kepergok keluar dari hotel bintang lima dengan seorang pria tampan yang diduga seorang eksekutif muda berinisial RSP."


" Habis ngapain tuh keluar dari hotel?"


" Hati-hati lho, nanti jadi keciduk, jangan-jangan itu model masuk daftar publik figure yang terlibat prosti tusi online lagi."


" Astaghfirullahal adzim ...!" Mata Anindita terbelalak membaca beberapa komentar dari netizen dari akun gosip itu.


" Benar-benar keterlaluan! Bikin berita yang nggak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Berita seperti ini 'kan menggiring opini publik jadi berpikiran negatif." Anindita terlihat kesal setelah membaca berita itu.


" Tapi ini benar Mas Rama 'kan, Ma? Mas Rama kok bisa sama model itu sih, Ma?" tanya Thalita penasaran.


" Iya, itu memang Mas kamu. Mas mu itu memang ada acara makan malam sama model itu karena model itu yang akan menjadi model iklan apartemen milik Angkasa Raya. Dan di acara dinner itu bukan hanya mereka berdua saja yang datang, tapi ada Arya Saluka juga yang jadi model iklannya." Anindita menjelaskan apa yang dia dengar dari putra sulungnya.


" Arya Saluka? Idola Mama, dong!" Thalita terkikik.


" Ya intinya, Mas mu itu tidak berdua saja di sana. Lagipula mereka di sana hanya untuk dinner bukan untuk hal-hal yang negatif."


" Kalau begitu mesti cepat diklarifikasi, dong! Kasihan Mas Rama kalau digosipkan yang jelek-jelek." sahut Thalita.

__ADS_1


" Sudah pasti itu! Nanti Mama bilang sama Papa dan Mas mu masalah ini. Kamu kirim saja berita itu ke Mama." Anindita menyuruh Thalita mengirimkan screeshot berita yang ada di ponsel Thalita.


" Oke, Ma." Thalita pun kemudian menuruti apa yang diminta Mamanya itu.


***


Ddrrtt ddrrtt


Ponsel di meja Ramadhan bergetar saat pria itu sedang serius menatap pekerjaan di laptopnya. Dan dengan segera Ramadhan meraih benda pipih itu. Dia mendapati nama Farah yang menghubunginya, karena dia dan Farah memang sempat bertukar nomer ponsel saat mereka selesai dinner malam itu.


Ramadhan mengeryitkan keningnya sejenak, dia tak segera mengangkat panggilan telepon dari Farah, namun setelah itu dia memutuskan mengangkat panggilan telepon tersebut.


" Assalamualaikum, ada apa, Farah?" tanya Ramadhan menyapa Farah.


" Waalaikumsalam, Mas Rama sedang sibuk?" tanya Farah dalam telepon Ramadhan.


" Iya sedang ada sedikit pekerjaan. Ada apa?" tanya Ramadhan kembali.


" Mas Rama sudah baca atau dengar gosip yang beredar di akun gosip?" tanya Farah.


" Gosip apa?" Ramadhan mengeryitkan keningnya, karena dia memang tidak pernah mengikuti akun gosip di akun sosial medianya.


" Gosip tentang kita. Ternyata ada yang melihat kita di hotel kemarin, lalu menjadikan berita di akun gosipnya." Farah menjelaskan perihal gosip tentang mereka berdua.


" Oh ya? Saya malah belum dengar apa-apa." Ramadhan terkekeh, sepertinya dia santai menanggapi gosip seputar dirinya. Walaupun di sendiri tidak tahu gosip tentang apa yang beredar di luaran sana.


*


*


*


Bersambung ...


Untuk Visual Rayya, dia aslinya memang pelukis muda Indonesia ( Zahra Zubaedah ) Aku pilih visual dia karena sepertinya pas aja keliatannya untuk karakter Rayya. Cantik, imut, kalem.



Oh ya udah akhir bulan, like dan komennya jangan kendor, ya. Bantu agar novel ini bisa naik level, makasih🙏

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2