
Ramadhan berjalan memasuki ruangan kerja Papanya di bawah pengawasan dua pasang mata yang menatapnya tajam seakan penuh amarah. Bahkan Mamanya yang dia kenal selama ini tak pernah marah kepadanya, malam ini memasang tatapan mata penuh emosi yang berkobar.
Ramadhan kemudian memilih duduk di kursi di sebelah kanan sofa yang ditempati kedua orang tuanya yang sedang duduk dengan berlipat tangan di dada.
" Rama, Mama benar-benar nggak habis pikir kamu tega melakukan hal itu ke Rayya! Kalau kamu memang tidak menyetujui perjodohan itu, kenapa harus berbuat suatu kebodohan dengan mengatakan tidak akan bisa memberikan cinta kepada Rayya? Memangnya kamu pikir kamu ini siapa? Kamu pikir keluarga kita ini siapa sampai kamu berani berbicara seperti itu pada Rayya, hah?! Keluarga orang tua Rayya itu keluarga terpandang, dan kita itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan mereka. Bagaimana jika mereka berpikir kalau kamu sudah menghina mereka? Mama malu kalau harus bertemu dengan Tante Rara setelah apa yang kamu yang lakukan terhadap putrinya. Kenapa kamu jadi orang yang tidak punya perasaan seperti ini, Rama? Mama nggak pernah mengajari kamu jadi orang yang tega menyakiti perasaan orang lain!" Belum sempat Ramadhan menjelaskan dan belum juga Ricky sempat menanyakan alasan Ramadhan, Anindita lebih dahulu meluapkan emosinya dengan memarahi putra sulungnya itu.
" Apa kamu memikirkan efek dari perbuatan kamu ini, Rama? Untuk hubungan keluarga kita dengan keluarga Rayya? Untuk hubungan kerjasama perusahaan Angkasa Raya dengan perusahaan Papanya Rayya? Kenapa kamu mengambil tindakan gegabah seperti ini, Rama?" Anindita masih mencecar Ramadhan dengan pertanyaan yang menyudutkan putranya.
" Apa kamu juga bilang ke Rayya kalau alasan kamu menolak adalah karena kamu menyukai Kayla? Kamu menolak dijodohkan dengan Rayya, lalu tiga tahun berlalu, apa kamu bisa mendapatkan Kayla? Kamu bahkan tidak mempunyai kekasih sampai saat ini, Rama."
" Maafkan Rama, Ma." Ramadhan memang tidak tahu harus bagaimana menjelaskan atas masalah yang telah diperbuatnya. Dia sudah menolak tegas perjodohan itu, namun orang tuanya memaksanya. Dia merasa tidak salah untuk hal itu, namun memang penegasan jika dia tidak bisa memberikan cinta pada Rayya dan itu diucapkan secara langsung di hadapan Rayya, mungkin itulah kesalahan fatal yang telah dia lakukan dan membuat kedua orang tuanya sangat emosi.
" Papa nggak tahu bagaimana harus bertemu Tuan Gavin setelah peristiwa ini?" Ricky pun sepertinya sudah kehilangan kata-kata saking kecewanya terhadap Ramadhan.
" Mama selalu berharap kamu bisa seperti Papamu, Rama. Papamu itu pria yang penuh tanggung jawab, dan tidak pernah menyakiti hati seorang wanita." Anindita sampai membandingkan Ramadhan dengan suaminya.
" Rama benar-benar menyesal, Ma." Hanya kata-kata maaf dan menyesal yang bisa Ramadhan ucapkan, karena dia memang tidak mempunyai cukup kata-kata untuk menyampaikan pembelaannya. Dia benar-benar merasa bersalah telah berkata seperti itu kepada Rayya.
***
Selepas sidang yang lebih banyak diisi dengan omelan Anindita, Ramadhan kembali ke kamarnya. Dia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.
" Aaarrrgghh, si*al ...!" umpat Ramadhan kesal.
" Biarkan saja, biar yang lain juga tahu terutama Uncle Gavin dan juga Om Ricky. Kalau Kak Rama itu memberikan dua pilihan kepada Rayya. Tetap melanjutkan perjodohan namun nggak akan memberikan cinta atau sama-sama membatalkan perjodohan. Begitu 'kan yang Kak Rama bilang ke kamu malam itu sampai bikin kamu menangis?!"
Ramadhan tiba-tiba teringat kata-kata Azkia soal kondisi Rayya setelah dirinya meminta Rayya menentukan pilihan soal nasib perjodohan mereka.
" Rayya menangis? Malam itu Rayya menangis?" Ramadhan mencoba mengingat kejadian malam itu. Malam itu dia merasa jika Rayya terlihat tegar, dia bahkan tidak melihat wanita itu menitikkan air matanya.
" Kak Rama sadar nggak, sih? Kalau sikap Kak Rama malam itu sudah bikin Rayya patah hati."
" Aku sudah membuat Rayya menangis dan patah hati? Tapi kenapa? Bukankah Rayya baik-baik saja malam itu? Apa Rayya menyukaiku?" Ramadhan dibuat bingung dengan sikap Rayya yang dia hadapi malam itu dengan yang diceritakan oleh Azkia tadi berbeda.
" Rayya menyukai aku?" Ramadhan bertanya-tanya dalam hati.
" Tapi Rayya sangat mengharapkan kehadiran Kak Rama di sana. Kehadiran Kak Rama itu ibaratnya sebagai kado terindah di acara ulang tahun Rayya."
" Karena Rayya itu sejak kecil sudah mengagumi Kak Rama."
" Dulu itu waktu Kia sama Rayya masih SD, Kak Rama pernah tolong Rayya waktu dia terjatuh, kan? Dari situ Rayya itu mengagumi Kak Rama."
" Kak Rama nggak ingat tapi itu sangat berkesan untuk Rayya lho, Kak."
Ramadhan teringat penggalan obrolan dengan Azkia saat wanita yang sudah membeberkan rahasianya itu datang ke rumahnya dan meminta dirinya hadir di acara birthday party Rayya yang ke tujuh belas tahun. Saat itu Azkia mengatakan jika Rayya sejak kecil sangat mengaguminya.
" Apa karena Rayya mengagumiku jadi dia merasa sedih, menangis dan patah hati?" Seketika Ramadhan dihinggapi rasa bersalah.
Dia benar-benar masih ingat sikap Rayya malam itu yang tidak menampakkan kesedihan, namun ternyata wanita itu memendam rasa sakit hati atas ucapannya. Dan selama ini Rayya justru menutupi apa yang sudah diperbuat oleh Ramadhan selama ini dari orang tua mereka.
" Ya Tuhan, aku sudah melukai hati Rayya ..." Ramadhan mengusap kasar wajahnya.
Ramadhan kemudian mengambil ponselnya. Dia ingin meminta maaf kepada Rayya, namun dia tidak memiliki nomer telepon wanita itu. Ramadhan teringat akan Azkia. Dia ingin meminta nomer Rayya, tapi mengingat betapa emosinya wanita itu saat membocorkan rahasianya, dia tidak yakin jika Azkia akan memberikan nomer Rayya.
Ramadhan masih berpikir siapa yang memiliki nomer Rayya.
" Thalita, dia pasti punya nomer Rayya." Ramadhan lalu mengirim pesan kepada adiknya itu. Dan sekitar satu menit menunggu, akhirnya pesan balasan dari Thalita masuk ke dalam ponselnya.
__ADS_1
" Nomer Kak Rayya 081x xxxx xxxx, tapi nggak tahu deh, Mas. Nomernya masih aktif nggak." Itu isi balasan pesan dari Thalita.
Ramadhan segera menghubungi nomer ponsel Rayya yang diberikan adiknya itu, namun ternyata nomer teleponnya itu tidak bisa dihubungi.
Ramadhan mendengus kasar. Dia berikir siapa lagi yang mempunyai nomer Rayya selain Azkia.
" Kayla, Simone ..." Ramadhan mendapati dua nama itu sebagai orang yang mempunyai nomer Rayya. Karena Simone adalah orang terdekat Rayya dan Kayla, karena belakangan ini wanita itu pasti banyak berkomunikasi dengan Rayya. Namun untuk Simone, dia tidak yakin jika pria itu akan memberikan nomer Rayya kepadanya.
" Assalamualaikum, Kay. Kay aku bisa minta nomer ponsel Rayya?" Akhirnya Ramadhan memilih meminta nomer ponsel milik Rayya kepada Kayla.
Butuh sekitar setengah jam bagi Ramadhan mendapatkan balasan dari Kayla.
" Waalaikumsalam, memangnya kamu nggak punya nomer ponsel Rayya?" Bukannya jawaban atas pertanyaan Ramadhan, pria itu justru mendapatkan pertanyaan dari Kayla.
" Iya, aku nggak punya. Kamu bisa tolong aku kasih nomer Rayya?" Sekali lagi Ramadhan memohon kepada Kayla.
" Memangnya kenapa minta nomer Rayya? Mau menyesali kalau kamu pernah menolak perjodohan dengan dia?"
Ramadhan terkesiap mendapat balasan pesan dari Kayla seperti itu. Apa masalah kemarin sudah sampai ke telinga Kayla? Kalau benar Kayla tahu masalah itu, sudah dipastikan wanita itu akan semakin menjauhinya.
" Nanti aku konfirm ke Rayya dulu, boleh atau nggak nomernya aku kasih ke kamu, Ram."
Lanjutan pesan yang masuk dari Kayla semakin membuatnya mendengus kasar.
" Oh, nggak usah, Kay." Ramadhan tidak ingin sampai Kayla meminta ijin Rayya terlebih dahulu demi mendapatkan nomer putri kesayangan dari Gavin dan Azzahra.
" Oke." jawaban singkat dari Kayla membuat Ramadhan menghela nafas yang terasa berat.
Ramadhan melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Nomer ponsel Rayya saja dia tidak menyimpannya. Benar-benar menyedihkan sekali dirinya saat ini.
Sementara itu di kamar Rayya setelah Daddy dan Mommy nya keluar dari kamarnya, Rayya memilih mengistirahatkan tubuhnya yang benar-benar terasa penat. Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama dari Roma ke Jakarta, melintasi benua, syok mendengar berita duka tentang kepergian Grandpa nya, kini rahasia yang selama ini tersimpan rapih justru terkuak karena ulah Azkia..
Rayya mencoba memejamkan matanya, puluhan pesan dan panggilan masuk pun tak digubrisnya. Dia benar-benar butuh istirahat karena tubuh, hati dan pikirannya benar-benar sangat penat saat ini.
***
Keesokkan paginya Rayya terbangun sebelum Shubuh. Setelah membersihkan tubuhnya dan melaksanakan sholat Shubuh, dia mengambil ponselnya yang seharian kemarin tidak sempat dilihatnya.
Rayya mendapati banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari beberapa temannya terutama Simone, Michelle, Donna dan Monica. Juga ada satu nomer namun tidak dia beri nama, mengirim pesan dan menghubunginya beberapa kali. Rayya memilih membuka pesan dari Simone, karena pria itulah yang selama ini dekat dengannya.
" Rayya, cosa è successo? Perché sei tornato improvvisamente in Indonesia?" ( Rayya, apa yang terjadi? Kenapa kamu mendadak pulang ke Indonesia )
" Rayya, stai bene?" ( Rayya, apa kamu baik-baik saja )
" Rayya, ho sentito da William che tuo nonno è morto. Le mie condoglianze, Rayya." ( Rayya, aku dengar dari William kalau kakek kalian meninggal. Aku turut belasungkawa, Rayya )
" Rayya, sei arrivata a Jakarta?" ( Rayya, apa kamu sudah sampai di Jakarta )
" Grazie mille, Simone ..." Rayya pun akhirnya membalas pesan dari Simone walaupun dia tahu di Roma waktu sedang tengah malam.
Dia pun kemudian membaca pesan-pesan dari yang lainnya sampai akhirnya dia membuka pesan tak bernama yang dia ternyata adalah Luigi.
" Assalamualikum, Rayya. Sono Luigi, ho sentito che tuo nonno è morto. Porgo le mie più sentite condoglianze." ( Assalamualaikum, Rayya. Aku Luigi, aku dengar jika kakekmu meninggal. Aku turut belasungkawa yang sedalam-dalamnya )
" Waalaikumsalam. Grazie mille, Luigi...." Rayya pun membalas pesan dari Luigi lalu menaruh kembali ponselnya.
Namun tak sampai satu menit ponselnya tiba-tiba berbunyi.
__ADS_1
" Come stai adesso, Rayya? Posso chiamarti?" ( Bagaimana kabarmu sekarang, Rayya? Apa aku boleh menghubungimu )
Rayya membelalakkan matanya saat membaca pesan balasan dari Luigi yang begitu cepat, belum lagi dengan keinginan pria itu yang meminta ijin untuk meneleponnya.
" Scusa, Luigi. Non riesco ancora a ricevere telefonate." ( Maaf, Luigi. Aku masih belum bisa terima panggilan telepon ) Rayya menolak Luigi yang ingin menghubunginya.
" Ok, ho capito. Ma posso chiamarti più tardi?" ( Oke, aku mengerti. Tapi apa aku boleh menghubungimu nanti) Sepertinya Luigi tak patah arang meminta Rayya untuk mengijinkannya menelepon nanti.
" Oke ..." Akhirnya dengan sangat terpaksa Rayya menerima permintaan Luigi.
" Grazie, Rayya."
Rayya sempat mengintip pesan terakhir dari Luigi namun tak berniat membuka pesan itu apalagi membalasnya, karena dia ingin keluar dari kamarnya di rumah Dad David dimana dia menginap semalam.
***
Ramadhan berdiri bersandar di samping mobilnya seraya memperhatikan beberapa mahasiswa yang keluar dari kampusnya. Dia sedang mencari sosok Azkia. Ramadhan seolah tak tahu harus meminta bantuan siapa selain Azkia untuk membantunya dalam usaha untuk menebus kesalahannya terhadap Rayya.
Ramadhan melihat mobil yang dikendarai Azkia melintasi pintu gerbang kampus. Dengan cepat Ramadhan mendekat ke arah mobil dan berdiri di depan Azkia.
" Kak Rama apa-apaan sih main berdiri di depan mobil aku? Mau bunuh diri karena ketahuan sebagai biang keladi batalnya perjodohan, ya? Sana, deh! Jangan bikin susah Kia! Nanti kalau Kak Rama ketabrak terus mati nanti Kia yang dipenjara. Aduh, Kak Rama ... sudah bikin Rayya patah hati sekarang mau cari mati dan bikin Kia ditangkap polisi." Azkia yang terkejut karena kemunculan Ramadhan yang tiba-tiba langsung turun dari mobilnya dan menarik tubuh besar Ramadhan yang menghalangi jalannya.
" Eh, semua ini gara-gara kamu penyebabnya!" Ramadhan yang awalnya ingin meminta bantuan Azkia malah meladeni perdebatan yang dimulai oleh Azkia.
" Idiiihh ... sudah jelas-jelas salah masih saja melempar kesalahan kepada orang lain," cibir Azkia memutar bola matanya.
" Eh, Kakak ke sini bukan mau ajak kamu berantem. Tapi mau minta bantuan kamu." Ramadhan menyampaikan maksudnya menemui Azkia.
" Minta bantuan? Oh, Kia ngerti ... pasti Kak Rama ingin minta bantuan agar Uncle Gavin nggak marah sama Kak Rama, kan? Atau minta maaf ke Rayya karena sudah bikin Rayya menangis dan patah hati?" Azkia melipat kedua tangannya di depan dadanya.
" Kak Rama, dengar, ya! Tidak akan semudah itu Kak Rama mendapatkan maaf dari Uncle Gavin. Rayya itu anak kesayangan Uncle Gavin. Coba Kak Rama bayangkan kalau Kak Rama punya anak perempuan, terus anak perempuan Kak Rama itu ditolak mentah-mentah sama pria yang disukai oleh anak Kak Rama sampai anak Kak Rama itu patah hati, sebagai ayah, apa Kak Rama nggak merasa sedih dan kecewa?"
" Kakak belum nikah, jadi nggak bisa membayangkan ..." Ramadhan masih sempat berseloroh mendegar perkataan Azkia.
Terang saja kelakar Ramadhan membuat Azkia mendelik.
" Sumpah, Kak Rama nyebelin banget, deh!" Azkia langsung memberengut.
" Eh, Kakak serius butuh bantuan kamu, Kia." ucap Ramadhan kemudian. " Kamu sudah makan siang belum? Kita ngobrolnya sambil makan siang, yuk!" ajak Ramadhan.
Azkia tak langsung menerima ajakan dari Ramadhan.
" Tenang saja, nanti Kakak yang traktir," lanjut Ramadhan saat melihat Azkia tak merespon ucapannya.
" Aku nggak mau kalau tujuan Kak Rama justru hanya akan menyakiti hati Rayya kembali!" tegas Azkia.
" Tenang saja, Kakak justru ingin meminta maaf kepada Rayya, kok. Ayo kita ke resto di ujung jalan sana!" Ramadhan kemudian meninggalkan Azkia kembali ke mobilnya untuk menuju ke restoran yang dia maksud. Sementara Azkia pun akhirnya ikut kembali ke dalam mobilnya dan mengikuti mobil yang dikendarai ke arah tempat makan di mana mereka ingin membicarakan soal bantuannya yang dibutuhkan oleh Ramadhan dari Rayya.
*
*
*
Bersambung ...
Readers jujur ya! Rela nggak sih Rayya untuk Rama? Jawab dikomentar 😁
__ADS_1
Happy Reading❤️