
Rayya mendengar ponselnya bergetar, dia segera berjalan untuk mengambil ponselnya yang tadi dia taruh di atas meja rias di kamar Ramadhan. Rayya melihat nama William yang nampak di layar ponselnya.
" Astaghfirullahal adzim, aku lupa kasih tahu Kak Willy kalau aku batal ke Italia. Rayya segera mengangkat panggilan masuk dari Kakak laki-lakinya itu.
" Assalamualaikum, Kak Willy. Kak maaf, aku lupa memberi kabar ke Kak Willy kalau aku batal ke Italia, Kak." Rayya langsung menyampaikan permohonan maaf nya, karena dia batal berkunjung ke Italia dan lupa memberi kabar.
" Waalaikumsalam, Rayya. Kamu batal kemari? Ada apa memangnya, Rayya?" tanya William yang kaget melihat Rayya batal mengunjungi kota Venice.
" Ada satu hal yang bikin kami batal ke sana, Kak." Rayya tidak mungkin menjelaskan apa yang membuat dia dan suaminya membatalkan perjalanan bulan madu ke kota air di Italia itu.
" Ada apa, Rayya? Apa kalian mengalami masalah?" Suara William terdengar khawatir.
" Tidak, Kak. Kak Willy jangan khawatir, ini hanya masalah ringan saja, tapi memang membuat kami nggak nyaman untuk melanjutkan perjalanan." Rayya menjelaskan.
" Yakin kalian nggak apa-apa, Rayya?"
" Kami baik-baik saja, Kak. Kak Willy jangan khawatir."
" Syukurlah kalau begitu." William bernafas lega. " Oh ya bagaimana liburan di Raja Ampat?"
" Menyenangkan, Kak. Tempatnya Masya Allah indah banget. Nanti kalau Kak Willy menikah, Kak Willy harus pergi honeymoon ke sana, deh."
William terkekeh mendengar ucapan adiknya.
" Kalau honeymoon? Kalau Kakak nggak honeymoon, Kakak nggak boleh ke sana, gitu?"
" Boleh sih, Kak. Tapi kalau untuk honeymoon lebih asyik lagi. Makanya Kak Willy buruan menikah, deh. Masa harus disusul Michelle lagi?" Rayya menyemangati William agar segera menikah.
" Hmmm, nanti Kakak cari calonnya dulu." William terkekeh menjawab
" Bukannya Kak Willy sudah punya kekasih?" Rayya teringat jika dulu William pernah dekat dengan seorang wanita yang dia sendiri belum pernah bertemu dengan kekasih dari Kakaknya itu.
" Yang mana?"
" Yang mana? Bukannya dulu Kak Willy pernah dekat dengan cewek Italia?"
" Oh yang itu. Itu sudah lama putus. Kemarin malah baru putus dari cewek Jerman." William tertawa kecil menceritakan beberapa kali dia putus dengan beberapa wanita.
__ADS_1
" Kak, Kak Willy jangan mengikuti jejak Daddy, ya!" Rayya menegur William yang sepertinya mulai tertular sikap Daddy nya saat muda dulu.
" Hahaha ... kau tenang saja, Rayya. Kakak tidak akan separah Daddy." William menanggapi teguran Rayya dengan santai.
" Oh ya, kemarin saat Kakak berlibur ke Sardinia, Kakak bertemu dengan Farah."
" Farah? Maksud Kak Willy itu Farah siapa?" Rayya terkesiap saat mendengar nama Farah yang disebut oleh William.
" Memang Farah siapa yang kau kenal?" William balik bertanya.
" Yang Rayya kenal Farah itu mantan tunangannya Kak Rama. Kak Willy kenal dengan Kak Farah?" tanya Rayya penasaran darimana Kakaknya itu mengenal Farah.
" Kakak secara tidak sengaja bertemu dengan dia di pantai di Sardinia, dan Kakak berkenalan dengannya."
" Apa Kak Farah bercerita tentang aku dan Kak Rama?" Rayya semakin tertarik dengan cerita William seputar Farah. " Apa Kak Farah tahu aku dan Kak Rama sudah menikah, Kak?"
" Dia tidak tahu kalau aku ini adalah Kakakmu."
" Lalu bagaimana Kak Willy tahu jika itu adalah Kak Farah, mantan tunangan Kak Rama?" tanya Rayya heran.
" Tentu saja Kakak tahu. Di jaman secanggih ini apa yang tidak bisa diketahui? Apalagi dari seorang publik figur." William sebenarnya mengetahui Farah adalah mantan tunangan Ramadhan, karena saat itu Farah berteriak menyebutkan nama Rama. Sebagai seorang jurnalis tentu saja dia langsung mencari informasi tentang wanita-wanita yang pernah dekat dengan adik iparnya itu. Hingga muncullah nama Farah yang wajahnya memang mirip dengan wanita yang dia temui di pantai.
" Pa ...."
Ramadhan mengetuk pintu ruang kerja Ricky saat melihat lampu ruangan Papanya itu masih menyala.
" Rama? Ada apa, Nak? Masuklah ..." Ricky yang melihat putranya menyembulkan kepalanya di pintu langsung menyuruh Ramadhan untuk masuk ke dalam ruangan kerja orang nomer dua di Angkasa Raya Group saat ini.
" Papa masih sibuk? Sudah malam, kenapa Papa nggak beristirahat?" tanya Ramadhan yang melihat Ricky masih sibuk dengan pekerjaan padahal saat ini sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
" Ini baru saja selesai. Bagaimana bulan madu kalian? Kenapa kalian menggagalkan perjalanan ke Venice?" tanya Ricky kemudian.
" Karena Rayya kedatangan tamu bulanan, Pa."
" Oh ...."
" Pa, bagaimana Papa menghadapi Mama saat Mama datang bulan? Apa Papa dan Mama menghentikan aktivitas hubungan suami istri?" Ramadhan tentu saja harus banyak belajar dengan bertanya kepada Papanya yang lebih berpengalaman.
__ADS_1
" Papa memang tidak bisa melakukan saat Mama kamu berhalangan, tapi itu tidak menghalangi kami untuk saling bermesraan. Ada cara lain agar kita bisa terpuaskan sebagai laki-laki." Ricky menarik satu sudut bibirnya ke atas.
Ramadhan mendengarkan dengan seksama apa yang diucapkan oleh Papanya. termasuk saat Ricky menceritakan apa saja yang bisa dilakukan sang istri agar bisa memuaskan dirinya.
" Mama mau melakukan itu, Pa?" Ramadhan hampir tak percaya cara lain yang disebutkan oleh Papanya. Karena dia tahu jika Mamanya bukan tipikal wanita agresif.
" Tentu saja Mamamu mau melakukan itu. Sebagai istri yang baik, Mamamu itu tidak ingin mengecewakan Papa." Ricky tersenyum.
" Tapi apa Rayya mau melakukan hal itu ya, Pa? Rayya itu pemalu." Ramadhan tidak yakin istrinya akan bisa melakukan apa yang dilakukan Anindita terhadap Ricky.
" Itu tergantung bagaimana kamu mengajarinya. Kebanyakan wanita itu pemalu, hingga akan ragu untuk melakukan itu. Tapi jika kau mengajarinya, lama-lama istrimu itu pasti akan mengerti dan akan melakukan apa yang bisa membuat suaminya bahagia." Ricky terkekeh.
" Ya seandainya saja Rayya mau melakukan aktivitas itu, mungkin aku tidak akan membatalkan perjalanan ke Venice. Karena Rama pikir, percuma pergi honeymoon jauh-jauh kalau tidak bisa berhubungan badan."
" Jadi kamu yang membatalkan kepergian ke Italia?"
Ramadhan dan Ricky terkesiap saat mendengar suara Anindita yang sudah berdiri di depan pintu ruang kerja Ricky.
" Mama?"
" Jadi kalian kembali ke Jakarta bukan karena Rayya tidak nyaman dengan kondisinya sekarang ini, tapi karena kamu merasa kamu tidak bisa menyalurkan kebutuhan biologismu, Rama?" Anindita berjalan seraya melipat kedua tangan di dadanya.
" Hmmmm ...."
" Kamu ini egois sekali, Rama! Kamu hanya memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan perasaan Rayya. Rayya bahkan tidak mengatakan ke Mama kalau semua ini adalah ulah kamu." Anindita merasa kesal dengan sikap putranya itu.
" Rama, kamu ini sudah berjanji tidak akan mengecewakan Rayya lagi, tapi buktinya apa? Hanya karena datang bulan kamu sudah membuat Rayya kecewa." Anindita mendengus kesal karena lagi-lagi putranya mengecewakan Rayya.
*
*
*
Bersambung ....
RDHR sebentar lagi mau tamat ya, Readers. Rayya udah mendaparkan cinta sejatinya walaupun Rama masih aja menyebalkan.😁
__ADS_1
Happy Reading❤️