RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Abaikan Dia


__ADS_3

" Mas Rama ...!"


Ramadhan menghentikan langkahnya saat mendengar suara seseorang memanggil namanya. Dia lalu menoleh ke arah suara tadi berasal. Dari sebuah mobil Porsche seorang wanita cantik turun dari mobil berwarna silver metallic itu.


" Farah? Ada apa kamu kemari?" Ramadhan terkejut saat mendapati Farah lah orang yang memanggilnya tadi. " Mau apa kamu kemari, Farah?" Ramadhan nampak tidak suka dengan kehadiran Farah di kantor Angkasa Raya Group. Karena dia yakin kehadiran wanita itu tidak ada sangkut pautnya dengan urusan perusahaan.


" Aku ingin ketemu Mas Rama, soalnya Mas Rama sudah sekali aku hubungi, pesan aku juga nggak Mas Rama balas." Farah mengatakan alasannya menemui Ramadhan di kantor pria itu bekerja.


Sejak terkuak alasan penolakan perjodohannya dengan Rayya, hati dan pikiran Ramadhan dibuat bimbang dengan sikap Rayya. Belum lagi dia sedang berusaha agar bisa bicara empat mata dengan Rayya hingga tentu saja dia mengacuhkan apa yang dianggapnya tidaklah penting untuknya.


" Farah, tolong jangan campur adukan masalah pekerjaanku dengan urusan pribadi. Aku nggak ingin bos aku tahu jika ada wanita yang datang kemari bukan karena urusan pekerjaan dan Angkasa Raya." Ramadhan menegaskan sikapnya, tentu saja dia tidak ingin ditegur oleh Dirga soal kedatangan Farah di Angkasa Raya saat ini.


" Lho, aku ini 'kan model dari produk yang dipasarkan Angkasa Raya, Mas. Memangnya kenapa aku nggak boleh datang kemari?" protes Farah, dia juga nampak keberatan kehadirannya tidak disambut hangat oleh Ramadhan.


" Kalau alasan kamu datang kemari hanya ingin bertemu denganku, sebaiknya kamu kembali saja. Aku ini sedang bekerja, aku nggak bisa meladeni kamu," ujar Ramadhan memberi pengertian kepada Farah agar dia mau mengerti dan tidak mengganggunya di kantor.


" Tapi Mas Rama janji harus membalas pesanku, dan Mas Rama mau aku ajak pergi makan malam menemaniku." Farah menyampaikan keinginannya. Dia berharap Ramadhan akan menyetujui permintaannya.


Ramadhan mendengus kasar menanggapi permintaan Farah.


" Oke, nanti aku akan membalas pesanmu." Akhirnya dengan berat hati Ramadhan menyetujui permintaan Farah, dia pikir hanya sekedar membalas pesan, tidak ada susahnya.


" Makan malam?" Karena Ramadhan hanya menyetujui membelas pesan, membuat Farah minta agar Ramadhan pun menerima ajakan makan malamnya.


" Aku nggak ingin ada gosip-gosip yang beredar lagi, Farah! Setiap kita jalan bersama pasti ada saja gosip yang muncul mengenai kebersamaan kita." Ramadhan yang mengingat akan adanya isu yang beredar saat pertama kali perusahaan Angkasa Raya mengadakan dinner bersama Farah dan Arya. Keesokan harinya muncul gosip kedekatan dia dan Farah, bahkan gosip itu memberitakan hal negatif tentang hubungan dia dan Farah. Begitu juga saat dia hadir di acara fashion show Farah, entah dari mana datangnya pencari berita itu hingga muncullah gosip seputar kedekatan dia dengan Farah yang dituding berlibur bersama sampai ke Italia.


" Ya ampun, Mas Rama memikirkan hal itu? Kenapa diambil pusing sih, Mas? Biarkan saja mereka mau menggosipkan apa! Mereka itu juga 'kan butuh cari makan. Dengan adanya berita ini, tulisan mereka semakin banyak dilihat oleh orang dan menghasilkan uang untuk mereka. Anggap saja kita memberikan rezeki kepada mereka." Farah menganggap semua gosip yang pernah beredar bukanlah suatu hal serius yang harus dipikirkan.


" Farah, aku ini bukan orang entertain! Aku tidak butuh hal-hal semacam itu untuk meningkatkan popularitas! Aku ini pekerja kantoran, dan berita semacam itu sangat menggangguku!" tegas Ramadhan, tak setuju dengan pendapat Farah yang menganggap remeh soal berita seputar gosip. Bagi orang seperti Ramadhan dan juga Papanya. Bekerja sebaik mungkin dan memajukan perusahaan adalah prioritas utama. Kepopuleritasan pribadi bukanlah tujuan utama mereka.


***


" Daddy cerita ke Kakak, katanya tadi Daddy bertemu dengan Luigi. Benar itu, Rayya?" tanya William saat mereka berdua sedang menyantap makan malam.


" Iya, Kak."


" Daddy tahu kalau Luigi itu menyukaimu. Dan Daddy menyuruh Kakak agar lebih ketat mengawasimu." Dalam perjalanan menuju airport Fiumicino selama kurang lebih tiga puluh menit, Gavin menceritakan kepada William tentang pertemuannya dengan Luigi. Sudah bisa dipastikan jika dirinya langsung diberikan tugas semakin berat untuk menjaga adiknya itu oleh Gavin.


" Dulu juga Daddy bersikap seperti itu terhadap Simone, Kak. Tapi sekarang hubungan Daddy sama Simone justru berjalan baik-baik saja." Rayya berpikir, lambat laun Daddy nya itu bisa menerima kehadiran Luigi seperti Gavin menerima kehadiran Simone di dekat Rayya.


" Kasus Luigi ini berbeda Rayya! Luigi berani secara terang-terangan menyatakan rasa sukanya terhadap kamu di depan Daddy."


" Bagus 'kan, Kak? Itu namanya gentle." Rayya terkekeh, dia memang tidak ingin dipusingkan dengan masalah seperti itu.


" Apa kau suka Luigi?" Tiba-tiba William penasaran dengan perasaan Rayya kepada Luigi.


Rayya mengedikkan bahunya. " Aku biasa saja, Kak. Tapi aku tidak menampik jika sejauh ini Luigi memang baik. Dia bahkan bilang ke aku kalau saja murid-mudidnya tidak akan menjalani ujian, dia ingin datang ke Jakarta menyusulku." Rayya menjelaskan kepada William, apa yang sempat dikatakan Luigi kepadanya di hari kedua dia di Jakarta.


" Serius dia bicara seperti itu?" William justru terperanjat mendengar penjelasan Rayya soal niat Luigi yang akan mengunjungi adiknya ke Jakarta. Suatu tindakan nekat jika Luigi benar-benar ingin melakukan hal itu.


" Iya, Kak. Mana pernah aku bicara bohong, kan?"


" Hmmm ..." William menautkan kedua alisnya menatap adiknya yang kini duduk berhadapan dengannya.


" Kenapa, Kak?" tanya Rayya curiga karena William menatapnya seperti itu.


" Kalau Luigi konsisten dengan sikap dan ucapannya, Kakak yakin Daddy lama-lama akan memberikan lampu hijau kepada Luigi untuk mendekatimu. Karena karakter pria seperti Luigi lah yang Daddy suka." William memberikan analisanya tentang sikap Luigi.


" Kak Willy bicara apa, sih? Rayya masih muda, Kak! Baru umur dua puluh tahun, Rayya nggak ingin memikirkan hal itu dulu," tepis Rayya.

__ADS_1


" Kak Willy saja yang duluan memikirkan hal itu. Selama di sini, Kak Willy sudah bertemu dengan wanita idaman Kak Willy belum?" Rayya mencoba mengalihkan pembicaraan dari hal seputar dirinya dan Luigi ke arah pembicaraan soal hal pribadi William.


" Kalau soal itu kau nggak perlu khawatir. Kakak sudah menemukan wanita idaman Kakak." William memainkan alisnya turun naik seraya mengembangkan senyuman.


" Siapa, Kak? Kok Rayya nggak tahu? Kakak nggak pernah kenalkan dia ke Rayya, sih?" protes Rayya karena mengganggap jika William menyembunyikan kisah cintanya kepada dirinya.


" Kakak baru tahap pendekatan. Lagipula kisah cinta Kakak tidak seseru kisah cintamu, Rayya." William terkekeh.


William lalu bangkit dan beranjak ke kamarmya, meninggalkan Rayya yang langsung memberengut. Namun tak lama Rayya segera membereskan piring dan gelas bekas makan malam dirinya dan juga William dari atas meja makan.


***


Waktu sudah memasuki pukul sepuluh malam waktu Roma, namun Rayya masih belum juga bisa terlelap. Pertemuan antara Daddy nya dengan Luigi tadi pagi lah yang membuatnya kepikiran hingga dia tidak bisa tidur malam ini.


Rayya pikir ucapan Luigi yang mengatakan jika pria itu ingin menjadi kekasihnya hanya iseng belaka. Namun jika mendengar ucapan yang dikatakan Luigi kepada Daddy nya tadi pagi seketika membuat dirinya gelisah. Didekati oleh pria yang secara terang-terang mengatakan menyukainya membuat dirinya tidak nyaman. Dia bisa dekat dengan Simone, tapi Simone tidak terburu-buru mengatakan jika pria itu menyukainya sebelum mereka berdua benar-benar dekat. Setidaknya Simone perlu waktu berbulan-bulan untuk menyatakan perasaannya itu. Sementara Luigi, Luigi langsung mengatakan ingin menjadi pacarnya di pertemuan kedua mereka. Bagaimana itu tidak membuat Rayya syok? Dia maupun Luigi belum saling mengenal, namun pria itu seolah sudah mantap mengatakan menyukainya.


Ddrrtt ddrrtt


Rayya menoleh ke arah nakas di mana dia menyimpan ponselnya. Dia lalu meraih alat komunikasi itu untuk mengetahui siapa yang mengirimnya pesan malam-malam begini


Rayya terkesiap saat mengetahui Ramadhan lah yang mengirimnya pesan saat ini. Dia melihat waktu di sudut ponselnya. Diperkirakan saat ini di Jakarta akan memasuki waktu Shubuh.


" Assalamualaikum, Rayya. Apa sekarang kamu sudah kembali ke Italia?" Rayya membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya.


Kening Rayya berkerut. Dia tidak tahu apa tujuan Ramadhan mengirimkan pesan itu. Padahal Daddy nya sudah mewanti-wanti agar pria itu tidak lagi menghubunginya.


" Waalaikumsalam, iya aku sudah di Roma sekarang." Akhirnya Rayya memilih menjawab pesan yang dikirimkan oleh Ramadhan.


" Kamu belum tidur, Rayya? Jam berapa di sana sekarang? Jam sepuluhan, ya?" Pesan jawaban dari Ramadhan kembali masuk ke dalam ponsel Rayya.


" Aku baru mau tidur, Kak." Rayya membalas pesan Ramadhan.


" Waalaikumsalam ..." Setelah membalas pesan Ramadhan yang terakhir, Rayya menaruh kembali ponselnya itu di atas nakas.


" Kenapa. Kak Rama mengirimkan aku pesan seperti itu? Bukankah aku sudah bilang sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan lagi di antara kami?" Rayya dibuat binggung dengan sikap Ramadhan yang seperti itu.


" Apa Kak Rama masih merasa bersalah? Padahal aku sudah bilang jika aku sudah memaafkan dia."


Rayya menghela nafas panjang seraya mengusap wajahnya.


" Kak, berhentilah menghubungiku. Jika Kak Rama masih menghubungiku seperti ini, bagaimana aku bisa menghapus Kak Rama dari hatiku?" keluh Rayya dalam hati seraya memejamkan matanya.


***


Sejak pertemuan dengan Gavin, hal itu ternyata tak menyurutkan tekad Luigi untuk mendekati Rayya, terlebih lagi pria itu kini udah menjadi dosen di universitas tempat Rayya kuliah.


Walaupun William dan Simone selalu berusaha membentengi Rayya, namun tak membuat Luigi gentar untuk mendekati Rayya.


Tak berbeda jauh dengan Luigi, Ramadhan pun ternyata masih sering mengirimkan pesan kepada Rayya, walau Rayya kadang mengacuhkan pesan dari pria yang sangat spesial di hatinya itu.


Rayya sudah bertekad jika dia ingin melupakan Ramadhan, dia tidak ingin merasakan kecewa untuk yang kesekian kalinya dari pria itu. Namun Ramadhan yang seolah terus berusaha menjalin komunikasi dengannya membuat dia merasa terganggu.


" Ehi, cosa stai sognando ad occhi aperti?" ( Hei, apa yang sedang kau lamunkan ) tanya Simone saat mendapati Rayya duduk sendiri sambil termenung di taman kampus.


" Stai pensando a quel docente?" ( Apa kau sedang memikirkan dosen itu ) tanya Simone.


Rayya mengedikkan bahunya lalu menoleh ke arah Simone.


" Sai tenere un segreto?" ( Apa kau bisa menjaga rahasia ) tanya Rayya kemudian. Entah mengapa dia rasanya ingin curhat tentang perasaannya. Dan dia rasa Simone lah yang bisa menyimpan rahasianya saat ini

__ADS_1


" Riguardo a cosa?" ( Tentang apa )


" Kak Rama."


" Rama? Ramadhan?" Simone membelalakkan matanya saat Rayya menyebutkan nama Ramadhan.


" Si."


" Che gli succede? Lo stai ancora aspettando?" ( Ada apa lagi dengannya? Apa kamu masih mengharapkannya ) Nada suara Simone nampak serius.


" No Simone, non è così!" ( Tidak Simone, bukan seperti itu )


" E allora?" ( Lalu apa )


" Prometti che non lo dirai a Willy e a mio padre?" ( Janji kau tidak akan mengatakan hal ini kepada Willy dan juga Papaku )


" Si, lo prometto!" ( Iya, aku janji )


Rayya pun akhirnya memceritakan apa yang terjadi selama dia di Jakarta, tentang terkuaknya alasan kegagalan perjodohan dirinya dan Ramadhan sampai kemarahan Gavin kepada Ramadhan.


" Quindi è per questo che sta cercando la tua numero?" ( Jadi itu alasan dia mencari nomer teleponmu ) Simone ingat jika Ramadhan saat itu pernah meminta nomer telepon Rayya kepadanya.


" Si."


" Non pensavo si sarebbe comportato così." ( Tidak kusangka dia berani melakukan hal itu ) Simone menyesali sikap Ramadhan yang tega menyakiti Rayya dengan lisannya.


" Sai quale donna piace a Rama?" ( Kau tahu siapa wanita yang disukai oleh Rama )


" Chi?" ( Siapa )


" Kayla."


" Che cosa?? Stai scherzando?" ( Apa? Kau bercanda )


Rayya menggelengkan kepalanya menyakinkan jika dia tidak sedang bercanda.


" Oh mio Dio, posso immaginare come ti sei sentito ieri incontrando Rama e Kayla." ( Ya Tuhanku, aku bisa bayangkan bagaimana perasaanmu saat kemarin harus bertemu dengan Rama dan Kayla ) Simone merasa menyesal karena saat di Milan beberapa waktu lalu dia memaksa Rayya untuk ikut makan bersama dengan Ramadhan dan Kayla.


" Non ho problemi con questo, Simone." ( Aku tidak masalah dengan hal itu ) Rayya menghela nafas dalam-dalam. " Il problema ora è che Rama mi sta ancora contattando anche se mio padre mi proibì di avere più contatti con lui." ( Masalahnya sekarang Rama masih menghubungiku, padahal Papaku sudah melarangku berhubungan dengan dia lagi )


" Temo che se Rama continua a contattarmi, diventa sempre più difficile per me dimenticarlo." ( Aku takut jika Rama masih terus menghubungiku, aku akan semakin susah untuk melupakan dia ) Rayya mengutarakan rasa cemasnya.


" Allora dovresti ignorarlo! Non rispondere mai più ai suoi messaggi!" ( Kalau begitu abaikan dia! Jangan pernah membalas pesannya lagi )


Rayya menoleh ke arah Simone.


" Ma non posso rompere i legami. Non voglio essere chiamato arrogante, Simone!" ( Tapi aku tidak bisa memutuskan hubungan. Aku tidak ingin dibilang sombong, Simone ) Rayya memang tidak ingin memutus silaturahmi dengan siapapun termasuk dengan Ramadhan. Tapi dia benar-benar merasa tidak nyaman dengan pesan-pesan yang selalu dikirimkan oleh Ramadhan.


" Devi andare avanti con la tua vita, Rayya! Se servi sempre Rama, sarà difficile per te aprire la tua cuore a un altro uomo che ti ama veramente, Rayya!" ( Kau harus melanjutkan hidupmu, Rayya! Kalau kau terus meladeni Rama, akan susah untukmu membuka hatimu untuk pria lain yang benar-benar mencintaimu ) Simone memberikan nasehatnya sebagai seorang sahabat. Karena sekarang ini dia sudah benar-benar menyerah dengan cintanya kepada Rayya. Dia kini justru sedang memulai menjalin hubungan dengan adik perempuan William yang lainnya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2