Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 10 Mau Jadi Pacarku?


__ADS_3

Sepanjang pelajaran Winnie tak bisa benar-benar fokus, wajah benci Carmen sangat nyata di benaknya hingga membuat hatinya merasa tak nyaman.


Ia sangat mengenal gadis itu, Carmen selalu ingin menjadi nomor satu dan tak mau jika ada gadis lain yang lebih di perhatikan dari pada dia. Tentu sikap Aslan pagi tadi telah menyulut emosinya dan kini Winnie harus siap mendapat hukuman dari Carmen.


Sebenarnya ia tak takut pada siapa pun apalagi Carmen, ia hanya tidak suka terlibat masalah dengan orang-orang seperti dia karena merepotkan.


"Winnie!" seru Deborah untuk kesekian kalinya sebab Winnie tak juga menyahut.


"Oh maaf," ujarnya segera tersadar.


"Kenapa kau melamun?" tanya Deborah penasaran.


"Ah tidak, ada apa?" balasnya.


"Kau mau ke kantin tidak?" tanyanya.


Winnie menatap sekitar, ternyata sudah jam istirahat dan dia tak menyadarinya. Mengangguk pelan ia pun bangkit dan mulai berjalan bersama, saat baru hendak duduk setelah mendapatkan makanan tiba-tiba salah satu anak buah Aslan memanggil dan menyuruhnya datang ke gedung teater atas perintah Aslan.


"Makanlah duluan," ujar Winnie kepada Deborah sebelum pergi.


Tentu setelah sekian lama pertemanan mereka Deborah tahu ucapan Winnie bermaksud untuk jangan menunggunya dan jangan mengkhawatirkannya, tapi tetap saja Deborah cemas namun tak ada yang bisa ia lakukan.


"Apa yang terjadi?" tanya Winnie saat mereka berjalan menuju gedung.


"Sepertinya Aslan ingin pertunjukan yang lain," jawab anak buah Aslan yang tentu sudah dekat dengan Winnie sebelumnya.


"Pertunjukan lain?" tanya Winnie heran.


"Carmen bersama dengan kami tadi, lalu dia menyinggung Aslan soal melindungi mu. Carmen meminta Aslan untuk menjadikan mu sebagai pelayannya," sahutnya.


Winnie memutar bola matanya, akhirnya hukumannya sebentar lagi akan di mulai.


"Akhirnya kau datang juga," sambut Carmen dengan senyum puasnya.


Winnie memberi hormat seperti biasa dengan menundukkan sedikit kepalanya, tentu ia lakukan kepada dua orang yang berkuasa yaitu Aslan dan Carmen.

__ADS_1


"Winnie berdiri tepat di hadapan Carmen," perintah Aslan.


Sekilas Winnie dapat melihat ekspresi Aslan yang datar, membuatnya tidak senang sebab tak bisa membaca pikirannya.


Berdiri tepat di hadapan Carmen Winnie dapat merasakan aura kebanggaan terpancar dari Carmen, apalagi senyum itu sangat jelas.


"Tampar Carmen!" seru Aslan yang membuat semua orang terperangah.


"Apa? As.... "


PLAK


Satu tamparan tepat mendarat di pipi Carmen sebelum ia sempat menyelesaikan ucapannya, tentu saja apa yang di lakukan Winnie jauh lebih mengejutkan dari perintah Aslan.


Bahkan Aslan sendiri sampai melongo tak percaya.


"Kau... beraninya!" jerit Carmen murka sambil memegang pipinya yang terasa perih.


"Maaf, tapi aku hanya membuktikan bahkan sebagai pelayan kau tidak perlu memberi perintah dua kali. Aku sangat memahami posisiku dan tugasku," jelas Winnie tanpa merasa bersalah.


Tawa Aslan tiba-tiba meledak, membuat Winnie bernafas lega sebab ia berfikir telah lulus ujian. Carmen mungkin masih kesal dan akan memberikan hukuman berat lainnya, tapi dengan begini dia hanya perlu melayani satu orang bukan dua.


"Sejak pertama melihat mu aku sudah merasa kau berbeda dari yang lain, mata itu.. cara mata mu memandang selalu tanpa keraguan dan tanpa rasa takut. Aku memang tidak pernah salah menilai," ujar Aslan setelah puas tertawa.


Ia berjalan mendekati Winnie, kini berdiri di hadapannya untuk melihat sepasang mata yang ia kagumi.


"Winnie, apa kau mau jadi pacarku?" tanya Aslan tiba-tiba.


"Apa? Aslan! kau mengada-ngada!" seru Carmen tak percaya dengan apa yang baru ia dengar.


"Ya," sahut Winnie tegas.


"Kalau begitu mulai sekarang kau pacarku," sahut Aslan lembut.


Ia menarik tubuh Winnie hingga mendekapnya, sebuah sentuhan lembut kemudian ia berikan dari bibirnya untuk bibir Winnie yang sedikit terbuka.

__ADS_1


Tentu Winnie terkejut bukan main, ia tak menyangka Aslan akan berbuat sejauh itu. Sebuah kecupan ringan yang merupakan ciuman pertama bagi Winnie dalam dua kehidupannya, hanya sebentar tapi mampu membuat Winnie merasa malu hingga membuang muka.


Wajahnya yang memerah tampak lucu di hadapan Aslan, ia pikir Winnie akan selalu tampil seperti robot namun ternyata ia tetap seorang gadis yang bisa malu.


"Aslan apa-apaan ini? kenapa kau mau pacaran dengan gadis miskin dan kotor seperti dia?" hardik Carmen yang tak bisa terima.


"Yeah dia memang miskin, tapi dia bersih dan cukup cantik. Terlebih dia juga pintar dan penurut, sayang sekali tapi aku tidak suka gadis dominan seperti mu," sahut Aslan.


"Baiklah Winnie ku sayang, ayo pergi ke kantin. Aku lapar," ujar Aslan sambil menarik tangannya.


"Baik," sahut Winnie menurut.


Semua anak buah Aslan juga ikut pergi, tinggallah Carmen seorang dengan kebenciannya. Tentu ia tak akan tinggal diam, setelah sebuah tamparan yang di berikan Winnie dan penolakan dari Aslan. Ia bersumpah akan membalas dua orang itu dengan lebih kejam.


......................


"Kita sudah sampai," ujar Aslan.


Winnie melihat sekitar, rupanya mereka memang sudah sampai. Setelah resmi berpacaran Aslan memberi perintah untuk selalu berada di sampingnya, Winnie harus menemaninya kemana pun ia pergi.


Aslan juga memberitahu akan menjemput dan mengantarnya setelah sepulang sekolah, tak ada yang bisa Winnie katakan kecuali Ya.


"Baiklah sampai besok," ujarnya sebelum keluar dari mobil.


Aslan mengangguk dan membiarkan Winnie keluar dari mobilnya, seperti biasa Winnie tetap berdiri di pinggir jalan sampai mobil Aslan pergi jauh.


"Ya Dewa... cobaan macam apa yang kau berikan? sekarang apa bedanya kehidupanku yang dulu dengan sekarang, keduanya aku tetap menjadi pasangan yang penurut," keluhnya.


Winnie benar-benar tak menyangka Aslan akan tertarik padanya seperti ini, jika tahu begini ia akan memilih untuk menjadi pelayan Carmen saja.


Andai itu Adnan ia tak keberatan sebab Adnan mudah untuk di hasut, tapi Aslan adalah orang lain. Bahkan ia sendiri tak bisa membaca apa yang di pikirkan Aslan sehingga ia tak tahu harus bertindak bagaimana untuk menjauh darinya.


Nasi sudah menjadi bubur, kini ia harus tetap menjadi gadis penurut seperti yang Aslan inginkan. Sebelum hari suram datang esok hari malamnya Winnie memberi pesan kepada Deborah, ia meminta maaf karena mulai besok ia tak akan bisa makan siang lagi bersamanya.


Ia juga memberitahu bahwa mulai besok ia harus menemani ke mana pun Aslan pergi sehingga mungkin ia tak akan memiliki waktu untuk Deborah, tentu Deborah sedih karena hal itu tapi ia juga tak bisa berbuat banyak.

__ADS_1


Deborah pikir Winnie harus menjadi pelayan Aslan karena sebuah hukuman atau semacamnya, karena itu ia hanya memberi dukungan agar Winnie tetap dapat semangat dan sabar menjalaninya.


__ADS_2