Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 124 Akhir dari Kehidupan kedua


__ADS_3

Masuk ke dalam kamar Saly segera melingkarkan tangannya pada leher Philip, ia kemudian memberi kecupan ganas yang membuat Philip bahkan susah untuk bernafas.


"Hei tunggu dulu!," sergah Philip melepaskan diri.


Ia sedikit menjauhkan tubuh dan mengawasi Saly dengan seksama.


"Ada apa?" tanya Saly.


"Tidak, hanya saja aku merasa ini bukan kau," sahutnya jujur.


"Bicara apa kau ini? jika ini bukan aku lalu siapa?" tukas Saly menampilkan senyum getir.


Philip masih mengawasi dengan kedua matanya, sebagai sepasang kekasih mereka sudah ribuan kali berpelukan dan saling mengecup. Tapi sekali lagi ini adalah kali pertama Saly begitu agresif, seakan ia baru saja minum pil.


Menatap setiap gerak tubuh Saly tapi ia tak menemukan tanda-tanda Saly minum obat atau semacamnya.


Booomm..


Tiba-tiba terdengar sebuah ledakan yang cukup keras, memasang kewaspadaan baik Philip maupun Saly bergerak mengambil senjata.


Menggunakan bahasa isyarat lewat mata dalam hitungan ketiga mereka keluar dari kamar dan melihat tepat di lantai bawah anak buah mereka sedang bertarung melawan sekelompok orang tak dikenal.


"Tuan, nona! cepat pergi dari sini! kita sudah ketahuan," perintah Juan.


Tanpa basa basi mereka lantas pergi lewat pintu belakang, rupanya dihalaman belakang Aslan sedang berjuang melawan sekelompok orang bersenjata.


Philip cepat membantu agar mereka bisa pergi dari sana.


"Saly pergilah duluan!" perintah Philip sementara ia masih bergelut dengan yang lain.


Berlari melintas pertempuran Saly mengambil langkah seribu menuju mobil, dengan cepat ia menyalakan mobil tersebut dan membuatnya berjalan merusak taman hingga sampai di halaman belakang.


"Cepat masuk!" serunya seraya membuka pintu mobil depan.


"Aslan ayo!" ajak Philip sembari menendang satu musuh terakhir.


Mengikuti perintah Aslan ikut berlari tepat di belakang Philip dan masuk ke mobil, Saly segera tancap gas menabrak pagar hingga mobil mendapat guncangan yang cukup hebat.


Saat mereka sudah melaju di jalan nampak jelas dua mobil mengikuti merema di belakang.


"Apa itu Thom?" tanya Saly sambil menatap kaca spion.


"Sepertinya begitu," sahut Philil sembari mengatur nafas.


"Bagaimana dia bisa tahu tempat persembunyian kita?" tanya Saly lagi.


"Entahlah, tapi aku curiga ada orang dalam."


Itu sudah jelas, rumah peternakan hanya diketahui oleh Saly dan Philip saja. Jika sampai ada orang lain yang tahu seseorang yang tak pernah pergi dari mereka berdua pastilah telah berkhianat, hanya saja mereka belum tahu siapa cicak putih itu.


Bruk


"Ah!" pekik Saly mendapat benturan dari mobil musuh yang menabrak bagian belakang mobil mereka.


Bruk


Sekali lagi mereka ditabrak agar berhenti melaju, tak bisa tinggal diam Philip menyuruh Saly agar lebih ngebut lagi sementara ia akan melepaskan beberapa tembakan yang menghambat laju musuh.


Kejar-kejaran terus berlangsung selama satu jam lamanya sampai Saly memilih jalan tol agar mereka bebas bertarung dalam kecepatan tinggi.


Sayangnya itu pilihan yang salah, mobil mereka kemudian dihimpit oleh dua mobil musuh yang memaksa Saly agar menurut kemana mereka akan dibawa pergi.


Sementara tembak-tembakan terus berlangsung diantara Aslan, Philip dan musuh dalam jarak yang dekat.


Dooorr..


Ckiiiitt...


Aslan berhasil menembak supir musuh yang membuat mobil mereka oleng, sayangnya ketidakberuntungan melaju pada mereka.


Mobil yang oleng itu menghalangi jalan Saly sehingga ia membanting stir, guncangan yang hebat terjadi saat mobil Saly menabrak mobil musuh lainnya.


Membuat mereka berada di jalur yang salah hingga BRAK! mereka menabrak pembatas jalan dengan keras hingga bagian depan mobil penyok.


Aslan yang pertama sadar mencium aroma bensin bocor yang kuat, tertatih ia cepat keluar dari mobil dan mencoba mengeluarkan Saly.


Kondisinya tidaklah lebih baik sebab ia tak mengenakan sabuk pengaman, darah mengalir dari kening yang sobek. Membuatnya tak sadarkan diri.


"Uh... Saly!" erang Philip tersadar bahwa wanitanya tak ada disamping.

__ADS_1


Menahan sakit di lututnya yang cedera ia segera keluar dari mobil dan menemukan Aslan tengah mengecek keadaan Saly ditempat yang aman.


"Apa dia baik-baik saja?" tanyanya segera menghampiri.


"Ya, dia hanya pingsan," sahut Aslan.


Baru saja Philip hendak membelai pipinya kening Saly langsung berkerut, perlahan matanya mengerjap dan terbuka dengan tatapan bingung.


"Kalian tidak apa-apa?" tanyanya kemudian sambil mencoba bangkit.


"Sebaiknya kita pergi dari sini selagi sempat," saran Aslan.


Mereka mengangguk, meski sedikit sulit untuk berjalan karena benturan di mobil mereka tetap memaksakan diri untuk berjalan masuk ke area hutan.


Langit sudah gelap saat beberapa menit mereka berjalan di hutan, Aslan yang memimpin jalan memastikan kaki mereka melangkah dengan tepat hingga menemukan sungai.


Disana setidaknya mereka berhasil menghilangkan dahaga dan membasuh luka, beristirahat sejenak untuk menyusun rencana kemana mereka akan pergi selanjutnya.


"Sebaiknya malam ini kita bermalam disini saja, terlalu berbahaya menyusuri hutan di malam hari. Besok pagi baru kita bergerak," saran Aslan.


"Baiklah," sahut Philip setuju.


Api unggun di buat untuk menghangatkan diri, Saly yang sudah kelelahan sejak tadi cepat terlelap meski beralaskan dedaunan kering.


Tapi beberapa jam kemudian ia terbangun, langit masihlah sangat gelap saat ia membuka mata. Dilihatnya Aslan dan Philip tertidur cukup pulas tak jauh darinya.


Merasakan sakit di tenggorokan yang kering ia bangun dan berjalan ke arah sungai, air yang dingin sedikit mengejutkan jarinya namun segera ia terbiasa.


Setelah terbangun kini cukup sulit bagimu untuk kembali tidur, maka ia pun memutuskan untuk menatap pantulan bulan di riak sungai dengan cukup lama.


"Kau tidak seharusnya sendirian disini," ujar Aslan yang membuat Saly cukup terkejut.


"Aku hanya mencari air," ujarnya.


Aslan bergerak dan duduk tepat di samping Saly, memperhatikan gadisnya yang kini benar-benar telah berubah.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Saly menangkap tatapan Aslan.


"Mengapa kau tidak kembali?" balasnya.


"Bukankah jawaban ku saat itu sudah jelas? bukankah kau melihat dengan mata kepala mu sendiri bagaimana hubungan kami?" ujarnya sedikit getir.


"Bagaimana dengan Leo?" ucapnya.


Aslan tertegun, Leo adalah pengecualian. Meski memang ia mengetahui bahwa ada perasaan Winnie kepada Leo tapi pada akhirnya tetap dirinyalah yang merajai hati gadis itu.


"Aku tidak menemukan cinta di matamu meski tubuhmu terus bergerak menceritakannya," ujar Aslan jujur.


Saly menatap lekat mata pria itu, ucapannya yang tepat sasaran telah meruntuhkan pondasi yang selama ini ia bangun.


Ia adalah seseorang manipulatif, tapi dihadapan Aslan kebohongannya cepat terbongkar hanya dengan satu tatapan.


"Berhenti bicara omong kosong!" dengus Saly sambil beranjak pergi.


Pagi buta, bahkan sebelum matahari menampilkan diri mereka telah berjalan keluar dari hutan. Ada salah satu kenalan Philip yang kediamannya tak jauh dari sana, kepada orang itu ia meminta perlindungan untuk sementara waktu.


"Anggap saja rumah mu sendiri," ujar sang pemilik rumah sambil berjalan pergi.


Rumah itu tidaklah terlalu besar, hanya rumah biasa dua lantai dengan tiga kamar dan dua kamar mandi di masing-masing lantainya.


Philip berencana untuk sembunyi sementara waktu sampai keadaan cukup aman dan membalas dendam, hingga sampai saat itu ia akan memikirkan caranya keluar dari situasi yang tidak menguntungkan itu.


"Setidaknya perut kita tidak kelaparan meski nyawa kita diambang pintu," ucap Saly membuka kulkas yang berisi penuh makanan.


Ia mengambil satu kaleng bir dan melemparkannya kepada Philip, saat Aslan datang ia juga memberinya satu kaleng.


"Kita harus tetap waspada, kita akan bergantian berjaga," ujar Philip.


"Tidak perlu, aku bisa berjaga sendirian," sahut Aslan.


"Kau juga harus menghemat energimu, malam ini aku akan berjaga duluan baru kau."


"Dan aku mendapat giliran terakhir," tukas Saly.


"Tidak perlu, aku tidak ingin kau kelelahan," ucap Philip sembari mendekat dan membelai penuh kasih rambut Saly.


Aslan menatap pemandangan menyakitkan itu dengan penuh perhitungan, jelas Philip sangat mencintai Saly dan rela berkorban untuknya.


Itu cukup menghidupkan api di dalam hatinya setelah mengetahui Saly adalah Winnienya.

__ADS_1


Brak....


Tiba-tiba suara dobrakan pintu membuat mereka membeku, beberapa detik kemudian Aslan yang menyadari serangan telah tiba memberi isyarat kepada Philip dan Saly agar segera pergi.


"Sial! bahkan kini aku tidak bisa mempercayai siapa pun," gerutu Philip sadar bahwa ia telah dikhianati.


Sementara Aslan pergi ke depan dengan bersenjatakan pisau dapur Philip dan Saly cepat pergi ke garasi untuk mengambil mobil, namun rupanya mereka telah di kepung.


Pertempuran yang tak seimbang pun dimulai, meski cukup kuat tapi tenaga mereka yang sudah terkuras beberapa hari terakhir membuat musuh unggul.


Philip mendapat luka di pinggang yang sebenarnya cukup fatal karena darah terus mengalir keluar dari sana, di tempat lain Aslan pun tak sama baiknya. Ia beberapa kali mendapat pukulan dan benturan di kepala yang menyebabkan keseimbangannya terganggu.


Sementara Saly hanya bisa bertugas sebagai pendukung dengan pistol di tangan, melihat situasi memang lebih baik mereka kabur. Karena itu Saly mencoba mendapatkan mobil sementara yang lain bertempur.


"Philip! cepat pergi pada Saly, biar disini aku yang tangani," ujar Aslan tegas meski darah mengalir dari kepalanya.


Philip mengangguk, seburuk apa pun keadaan Aslan itu adalah resiko yang ia ambil untuk menjadi pengawal. Oleh karena itu ia tak repot khawatir meski Aslan sekarat sekalipun, yang terpenting adalah dirinya dan Saly selamat.


"Mana Aslan?" tanya Saly melihat kedatangan Philip yang seorang diri.


Philip memberi isyarat bahwa pria itu di belakang, Saly pun menunggu dengan gusar sambil menatap cemas arah pintu masuk garasi, beberapa detik yang terasa begitu menyiksa akhirnya Saly dapat melihat Aslan berjalan terhuyung dengan darah di sekujur tubuhnya yang tak dapat ia bedakan mana darah musuh dan lukanya.


Meski begitu ia cukup lega karena Aslan masih hidup, sayangnya ketegangan memuncak saat dilihatnya musuh sudah mengejar dan berjalan tepat di belakang Aslan.


Matanya membulat sempurna tatkala melihat sebuah senjata di acungkan menargetkan Aslan.


"Aslan..... " teriak Saly sembari berlari menghampiri.


Dooooorrrr...


"Uh," kejadian itu terjadi dengan sangat cepat hingga Aslan sendiri butuh waktu untuk mengerti.


Dooor


Dooor


"Saly!" saat Philip menyerukan nama itu tangan Aslan menopang tubuh Saly dengan tiga luka tembakan di tubunnya.


Kini ia sadar apa yang telah terjadi, baru saja Saly menyelamatkan nyawanya. Tidak, wanita itu baru saja mengorbankan nyawanya.


"Saly," panggil Aslan dengan mata yang mulai memerah.


"Biarkan... " pinta Saly.


Dengan tiga luka tembakan dimana salah satunya mengenai dada ia tau hidupnya akan sulit untuk bertahan, sekalipun keajaiban bisa menyembuhkannya ia sudah tak ingin hal itu datang untuknya.


"Aslan... aku lelah, aku ingin tidur. Bisakah kau membelai rambutku sampai aku tidur?" tanya Saly dengan sisa tenaga yang akan habis.


Dalam pangkuannya, wanitanya yang selama ini selalu sempurna akhirnya bersikap seperti anak kecil. Permintaan terakhir yang sederhana itu tentu ia kabulkan meski setiap belaian menjatuhkan satu bulir air mata.


"Aku adalah wanita yang cacat, wajahku memiliki luka yang tak dapat di sembuhkan. Meski begitu masih ada pangeran yang mau menerimaku, setelah mendapat kesempurnaan justru martabatku yang cacat. Aslan.... aku telah tidur dengan pria lain meski dihatiku ada kau, bagaimana bisa aku kembali padamu setelah berkhianat? aku sama sekali tidak memiliki muka," ujar Saly menghentikan lima belaian Aslan.


"Bodoh! siapa yang peduli? aku akan tetap menerima mu meski seribu pria sudah kau layani, harusnya kau tahu cintaku tidak terpaku pada satu hal saja."


"Tidak...ini bukan hanya masalah martabat, aku memilih untuk bertahan hidup dengan cara apa pun meski itu artinya berkhianat."


"Berhenti bicara yang tidak penting," hardik Aslan membiarkan air matanya deras keluar.


"Maafkan aku... rupanya di kehidupan ini pun takdir cintaku bukan untuk menjalani hari tua yang damai," bisik Saly.


Ada senyuman ikhlas yang di barengi dengan jatuhnya tangannya, sebuah penanda bahwa perjalanannya di kehidupan ini telah usai.


Ada teriakan yang begitu pilu keluar dari tenggorokan Aslan, beberapa menit kemudian Philip menghampiri dengan wajah tak rela wanitanya pergi di pangkuan pria lain.


Rasa tak Ikhlas itu membangkitkan iblis dalam dirinya yang entah mengapa meski tubuhnya terluka ia dapat mengalahkan semua musuh yang ada, meski pada akhirnya ia pun mendapat luka berat yang tak mungkin tergolong.


Terduduk di samping tubuh Saly yang mulai dingin ia menatap Aslan dengan tajam.


"Aku tahu ada sesuatu diantara kalian, aku telah mencari tahu siapa kau sebenarnya dan karena itulah aku percayakan keselamatan Saly. Sialnya justru kau yang merenggut nyawanya dariku," ujarnya dingin.


"Beri aku hukuman terberat yang kau punya, aku tak peduli," sahut Aslan.


"Heh, aku akan pergi menyusul Saly. Setidaknya di alam baka aku masih bisa bertemu dengannya, sementara untuk mu. Teruslah hidup dalam kematian keduanya," ujar Philip sembari tersenyum penuh kemenangan.


Duka yang terasa untuk kedua kalinya, rasa kehilangan itu lagi, rasa kesepian itu lagi. Semua adalah kutukan yang tak dapat Aslan tepis begitu saja, nanar matanya menatap senyum ejekan Philip dalam hembusan nafas terakhirnya.


* * *


Tamat.

__ADS_1


__ADS_2