
Pulang dari berbelanja Camila terkejut melihat pengacara Brian keluar dari ruang kerja, ini membuatnya bertanya-tanya sampai menghampiri pengacara itu.
"Lama tidak bertemu, apa Brian memanggilmu dengan sengaja?" tanyanya.
"Oh benar, Pak Brian ingin menanyakan kembali isi wasiat yang dulu ia tulis."
"Apa? kenapa?" tanya Camila heran.
"Sepertinya dia ingin merubahnya, nona Winnie sudah kembali bukan? mungkin Pak Brian ingin melihat siapa yang paling pantas menggantikannya memimpin perusahaan," jelasnya.
Camila segera gusar mendengar hal ini, isi wasiat Brian adalah Nicki yang akan menggantikannya memimpin perusahaan. Tapi jika setelah kematiannya Winnie baru di temukan maka harta akan di bagi rata dan kepemimpinan tergantung rapat dewan, tapi Winnie di temukan dengan cepat bahkan saat Brian masih segar.
Ada kemungkinan Winnie dapat kepercayaan dewan dan sahamnya lebih tinggi dari Nicki, jika sudah begitu hanya tinggal menunggu waktu sampai dia jatuh miskin.
Sayangnya pengacara tak bisa di ajak bekerja sama, dia hanya akan mengatakan isi wasiat itu berapa pun uang yang diberikan Camila. Setidaknya dia dapat mengantisipasi jika tahu apa yang di tulis Brian, sekarang dia hanya perlu mencari cara agar dirinya mendapatkan lebih banyak harta dari Winnie.
"Aaahh... Nicki tak bisa begitu di andalkan, andai aku punya anak laki-laki pasti posisiku lebih kuat," gumamnya.
Memikirkan seorang anak tiba-tiba Camila ingat ia sudah berusia empat puluh dua tahun, jika di lihat dari fisik saja memang dia cantik dan terlihat seperti masih berusia tiga puluhan.
Tak ingin hanya diam dan menerka dia mencoba peruntungannya dengan berkonsultasi ke dokter, seperti yang dia perkiraan hamil di usia seperti ini terlalu beresiko.
Tapi jika dia bersikeras tentu dapat di usahakan, mulai sekarang dia harus lebih rajin mengonsumsi makanan sehat dan berolahraga. Dia juga mulai minum obat penyubur rahim agar cepat di beri keturunan.
"Aku tidak menyangka akan butuh anak lagi, ini benar-benar merepotkan!" gerutunya.
Dulu saat ia hamil oleh Nicki waktu sembilan bulan merupakan siksaan yang tak pernah ia lupakan, ia sangat membenci bentuk tubuhnya yang jelek dan wajahnya yang nampak buruk.
Hanya karena Brian selalu memanjakannya ia bisa tahan dengan itu, tapi tetap saja setelah Nicki lahir ia berusaha dengan keras mengembalikan kecantikannya dan tak mau lagi hamil.
................
Winnie sudah memutuskan untuk merekrut Nagisa secara resmi, karena itu ia mengajaknya ke apartemen. Dia menjelaskan apa misi yang tengah ia jalani, bersama dengan Deborah ia menjelaskan pekerjaan mereka bisa sangat berbahaya.
__ADS_1
"Aku butuh orang seperti mu, jika kau mau bekerja sama dengan ku tentu aku akan membayar dengan harga yang sesuai. Yang kau perlu kau ketahui adalah kau harus waspada terhadap semua orang ini, jika sampai kau ketahuan kau tidak boleh buka mulut meski di siksa sampai mati. Ini resiko yang terlalu besar untuk gadis seusia mu, jadi jika kau merasa ragu sebaiknya lupakan bahwa kita pernah bertemu," jelas Winnie.
Nagisa menatap banyak foto yang terpasang, sebagian adalah foto hasil jepretannya. Ia sudah menebak ada sesuatu yang Winnie sembunyikan, tak disangka ini mengenai kasus dua pembunuhan.
"Jika aku mati apa kakak bisa menjamin kehidupan ibu akan baik-baik saja?" tanya Nagisa.
"Tidak," sahut Winnie tegas.
Deborah yang mendengarnya merasa sakit hati padahal bukan dia yang akan meninggalkan keluarga.
"Tidak ada seorang ibu yang mampu menghadapi kematian putrinya begitu pun sebaliknya, aku atau Deborah tidak akan bisa membuatnya tersenyum kembali. Tapi dia tidak akan pernah sendirian karena kau adik kami," lanjut Winnie.
Nagisa tersenyum, ia sudah biasa dengan sikap dingin Winnie yang apa adanya.
"Katakan apa pekerjaan ku selanjutnya," ujar Nagisa.
Winnie tersenyum, untuk saat ini Nagisa hanya perlu tetap berperan sebagai asistennya. Ia menasehati agar berhati-hati terhadap Will sebab keliatannya tua bangka itu tertarik pada Nagisa, jika di pikir lagi Nagisa memang mangsa yang empuk.
Apa pun yang ia lakukan pada Nagisa tak akan ada yang tahu, sekali pun Nagisa mengadu orang-orang akan lebih percaya padanya sebagai produser.
Kedatangan Winnie membuat sutradara bersyukur, ia pikir Winnie akan kapok dan tak mau lagi berakting karena insiden kemarin.
"Aku berjanji hal seperti kemarin tak akan terulang lagi, jadi kau tenang saja dan percayakan pada kami," ujar sutradara meminta kepercayaan.
"Tentu saja," sahut Winnie yang bahkan sudah melupakan insiden itu.
Ini bukanlah kali pertama dia menghadapi kematian jadi rasanya sudah kebal, hanya saja dia menyayangkan keterlibatan Nagisa yang bisa saja mengalami cedera serius.
Karena insiden kemarin Winnie mempertegas kepada Nagisa untuk jangan melakukan hal yang beresiko demi dirinya, apa pun yang terjadi Winnie ingin Nagisa lebih dulu menghindar sebelum dia terluka.
Baginya yang sudah mengalami kematian mudah untuk menghadapinya lagi dalam kehidupan ini, yang ia tak mau adalah ada orang yang sampai berkorban demi dirinya.
"Kau sudah merasa baikan?" tanya Bram mendekat.
__ADS_1
"Oh ya, terimakasih atas tumpangan mu waktu itu. Maaf seharusnya aku mengajak mu masuk dulu untuk sekedar menghidangkan teh," sahut Winnie.
"Tidak masalah, sebagai gantinya bagaimana jika makan siang bersama nanti?" tanya Bram.
"Boleh saja," sahut Winnie tak keberatan.
Senang mendapat sambutan hangat Bram tak sabar menunggu makan siang hingga ingin memutar waktu, dengan cepat ia menyelesaikan pekerjaannya hanya dengan sekali cut.
Akhirnya saat waktu makan siang tiba ia mengajak Winnie ke restoran terdekat, sampai di sana seperti biasa Bram menyuruh Managernya untuk melihat situasi terlebih dahulu agar ia bisa keluar dengan tenang.
Setelah menunggu beberapa lama Managernya pun memberitahu mereka bisa masuk tanpa perlu mengkhawatirkan apa pun, ia sudah memesan tempat khusus yang nyaman.
Menggunakan topi untuk menutupi wajah Bram segera keluar dari mobil di ikuti Winnie dan Nagisa, saat mereka hendak masuk tiba-tiba seseorang memangil Winnie.
Sontak mereka serempak menoleh, rupanya itu Leo.
"Senang sekali bisa bertemu dengan mu di sini, rencananya aku mau pergi ke rumah mu," ujar Leo.
"Ada apa?" tanya Winnie.
"Aku punya bunga marigold, warnanya yang kuning cerah pasti memperindah taman mu. Bagaimana jika pergi untuk menanamnya?" sahut Leo.
"Sungguh? bunga itu sangat cantik dan menebar aura positif, saat melihatnya rasanya aku bisa seceria Deborah. Tapi sayangnya aku sedang bekerja sekarang," ujarnya.
"Begitu ya," ucap Leo sedikit kecewa.
"Kami hendak makan siang, bagaimana jika kau ikut?" tawar Winnie.
"Baiklah," sahut Leo senang tanpa memperhatikan wajah Bram yang di tekuk.
Saat mereka sudah masuk dan duduk baru Leo sadar ia tengah berada di samping bintang, itu mengundang pertanyaan pekerjaan apa yang Winnie lakukan dengan seorang artis.
Winnie menjawab alakadarnya bahwa ia memainkan sebuah peran, tapi enggan memberitahu bahwa perannya sangat penting.
__ADS_1
Sepanjang makan siang Bram harus menahan diri melihat kedekatan mereka, apalagi saat Leo begitu perhatian hingga mengambilkan lauk untuk Winnie dan menuang air pula.