Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 42 Kotak Kenangan


__ADS_3

"Ayah! bagaimana dengan Nicki?" tanya Winnie saat melihat Brian kembali.


Pagi yang menggemparkan itu tentu membuat heboh satu rumah, Camila segera membawa Nicki ke dokter bersama dengan Brian untuk mendapat perawatan.


"Dia harus tinggal untuk beberapa tes lagi, tapi tak ada yang perlu di cemaskan," sahut Brian.


"Syukurlah," ujar Winnie.


"Ayah tidak pergi bekerja?" lanjutnya bertanya.


"Tentu saja harus, ayah kembali untuk mengganti pakaian. Kau tidak kuliah?" balas Brian.


"Hari ini tak ada kelas, aku berencana menyelesaikan kebunku di halaman belakang."


"Baiklah, ayah pergi siap-siap dulu," ujar Brian kemudian pergi.


Sesuai rencana Winnie segera pergi ke halaman belakang, masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Beberapa menit kemudian Brian datang dengan sebuah kotak keranjang yang cukup besar, ia meminta Winnie datang dan melihat.


"Apa itu?" tanya Winnie penasaran.


Brian segera membukanya, terdapat banyak benda disana mulai dari pakaian, album, kotak musik dan lainnya.


"Semua barang ini milik ibumu, selama ini ayah menyimpannya dan akan ayah buka jika sedang merindukannya. Sudah lama ayah berencana memberikan semua ini untukmu sebab kau berhak memilikinya, tapi tak menemukan waktu yang pas. Kau tahu ayah tak bisa memperlihatkannya di hadapan Camila untuk menjaga perasaannya," jelas Brian.


Winnie melihat satu persatu barang itu, diantara semua benda ada sebuah amplop yang sudah lengkap bertuliskan alamat penerima.


"Surat apa ini?" tanyanya.


"Oh mungkin salah satu ucapan tahun baru yang hendak di kirim ibumu untuk nenekmu," jawab Brian.


Winnie membuka amplop itu dan memang isinya sebuah kartu ucapan tahun baru yang disertai sebuah foto, Winnie mengenal foto pria yang ada di sana dan dia yakin itu adalah Brian. Sementara yang wanita ia belum pernah melihatnya.


"Apa ini ibu?" tanyanya.


"Ya, itu Maya. Kau bisa menemukan fotonya yang lain di album kecil itu," jawab Brian sambil menunjuk sebuah album.


Memperhatikan paras Maya hati Winnie seketika sakit, terbayang dalam benaknya sebuah kematian yang menyakitkan yang pernah di rasakan oleh ibunya itu.

__ADS_1


Begitu mengenaskan, sama seperti kematian ibu Yumna karena sakit yang di sengaja.


"Kenapa ibu tidak mengirimkan kartu ini?" tanyanya mencoba mengalihkan perasaan pilu itu.


"Jika tidak salah saat itu kami sedang liburan di Eropa, awalnya kami berencana menghabiskan tahun baru di sana namun tak jadi. Karena itu ibumu tak mengirimkannya karena kami bisa mengunjungi nenek mu," jelasnya sambil mencoba mengingat.


"Apakah nenek masih ada?" tanyanya.


"Entahlah, sudah lama sekali kami tidak bertemu," jawab Brian dengan ekspresi yang tiba-tiba sedih.


"Ada apa?" tanya Winnie jelas menuntut penjelasan.


Dengan berat hati Brian membuka luka lama itu, sembilan belas tahun yang lalu saat Maya meninggal dan Winnie hilang tentu semua keluarga di beritahu dan datang di acara pemakaman.


Saat itu ibu Maya tak bisa menerima kepergian putrinya dan menyalahkan Brian, berulang kali Brian menjenguk dan meminta maaf tapi pintu telah tertutup rapat.


Dalam kondisi sedih ditinggal istri dan disalahkan mertua membuat Brian tak bisa menerima tekanan yang kuat itu, wajar jika pada akhirnya ia lari menjadi alkoholik.


Seingatnya semenjak ia menjadi pecandu alkohol ia menjadi jarang menjenguk mertuanya, apalagi setelah menikah dengan Camila dan Nicki lahir.


Itulah sebabnya ia tak tahu apakah ibu Maya masih ada atau tidak dan bagaimana keadaannya sekarang.


Winnie bisa melihat kelumpuhan di mata Brian pada Camila, tentu saja itu masuk akal setelah kebaikan yang dilakukan Camila.


"Baik ayah," sahut Winnie tapi tentu itu pun jika Camila tidak mengusik hidupnya.


Di dunia yang baru ini bahkan Jeny dan Fabio Martius tidak bisa menundukkannya meskipun mereka adalah orang telah memberi kasih sayang dan cinta, apalagi Brian yang meski ayah kandung tapi baru bertemu.


Di kehidupan yang telah Dewa berikan padanya sebagai ganti rugi ia tak akan pernah tunduk dan hormat pada siapa pun, langkahnya untuk meraih kebahagiaan akan ia lakukan dengan caranya sendiri.


......................


Tuk


Menaruh sekaleng cola tepat di hadapan Leo ia tahu temannya itu sedang memikirkan sesuatu, sudah cukup lama mereka berteman karena itu terkadang ia tahu isi pikiran Leo.


"Apa itu seorang gadis?" tanyanya.

__ADS_1


"Tidak seperti yang kau pikirkan," sahut Leo yang berarti memang tidak menampik ucapan Marito.


"Dengar, kau hanya perlu bilang dia gadis yang baik dan juga pria yang baik. Setelah itu biarkan Tuhan yang memutuskan," ujar Marito menasehati.


Menggelengkan kepala Leo menolak saran itu, gadis yang sedang ia pikirkan berbeda dengan yang lain.


"Apa itu Winnie?" terka Marito.


Hampir Leo tersedak mendengarnya saat ia sedang minum, itu berarti ya.


"Wah... kau memang punya selera yang bagus," puji Marito.


Ia cukup tahu Leo sulit menyukai gadis, meski ia populer di kalangan gadis dan bisa mendapatkan gadis seperti apa pun tapi hanya bererapa saja yang bisa dekat.


"Memang sih Winnie itu gadis yang sangat cantik, dia juga punya aura kuat. Wajar jika kau tertarik, hanya saja kali ini kau memiliki banyak saingan. Baru saja kemarin aku mengetahui Ashar membeli bunga untuk Winnie," ujarnya.


"Sungguh?" tanya Leo.


"Kau tahu bagaimana si playboy itu, gadis gampangan seperti Nicki saja pernah ia dekati apa lagi yang menawan seperti Winnie."


Itu memang benar, Leo juga cukup tahu bagaimana sifat Ashar yang tidak akan melepaskan mangsa sebelum sempat ia cicipi.


"Bagaimana dengan mu?" tanya Leo.


"Apa?" tanya Marito tak mengerti.


"Kau menyukai Winnie?" tanyanya.


"Aku juga normal kawan! jika Winnie mau dengan ku tentu aku tidak akan menolak, tapi aku tidak akan bodoh seperti kalian. Aku malas bersaing jadi terimakasih saja," sahutnya.


Leo tersenyum, Marito memang berbeda dengan yang lain. Sebenarnya dengan wajah manis dan karakter menyenangkan dia bisa menggaet beberapa gadis, tapi Marito memiliki sifat acuh bahkan kadang tak percaya diri.


Itu membuat gadis yang mendekatinya putus harapan dan berpaling, selama mereka berteman setahunya Marito pernah berpacaran dua kali dan itu berlangsung cukup lama. Semenjak putus dengan gadis terakhir hingga sekarang dia belum pernah mendengar Marito dekat lagi dengan seorang gadis.


"Jika tekad mu sudah bulat sebaiknya kau mulai dari sekarang, jangan sampai keduluan si brengsek Ashar," ucap Marito kembali menasehati.


"Aku tidak tahu harus mulai dari mana," akui Leo.

__ADS_1


"Bodoh! kau ajak saja dia makan siang berdua," seru Marito mulai kesal.


__ADS_2