Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 13 Carl


__ADS_3

Winnie tahu Aslan kaya, tapi ia tak menyangka bahkan Aslan tinggal di mansion yang begitu mewah. Bak pangeran kedatangannya segera di sambut oleh pelayan, mengikuti langkah Aslan sambil melihat-lihat Winnie di buat menelan ludah menyadari ada banyak barang berharga di setiap ruangan.


Seperti lukisan klasik hingga ke furniture, ia memang miskin tapi bukan berarti buta harga. Winnie selalu membaca update tentang perkembangan dunia bagi orang kaya, ia merasa perlu tahu sebab di sekolah ia di kelilingi anak-anak konglomerat.


"Masuklah," ujar Aslan membuka satu pintu.


Begitu masuk hal pertama yang menarik perhatiannya adalah miniatur kota dengan berbagai bangunan yang memiliki desain.


"Apa ini proyek mu?" tanya Winnie melihat banyak bagian yang kosong dan ada satu bangunan terpisah yang belum selesai.


"Aku kagum kau cepat menyadarinya," sahut Aslan sembari tersenyum.


"Saat kita di mall kau menunjukkan ketertarikan pada bidang arsitektur, sekali lihat ruangan ini tentu saja aku akan langsung tahu ini pasti tempat kau menghabiskan waktu."


"Sungguh? bagaimana jika ternyata ini ruang kerja orangtuaku?" tanya Aslan.


"Ayah berbisnis di bidang fashion, tidak mungkin juga ruangan ibumu sebab wanita tidak bermain game," sahut Winnie sambil menunjuk PS di sudut ruangan.


Kini Aslan semakin tertarik pada Winnie yang mampu membaca sekeliling dengan mudah, merasa nyaman Aslan mulai membicarakan hobinya yang memang berada di bidang arsitektur.


Winnie menangkap dengan baik setiap kalimat yang di utarakan Aslan, bahkan ia mengajukan beberapa pertanyaan yang memang datang dari rasa penasarannya.


Sudah lama sekali Aslan tak merasa sesenang ini, ia bahkan dapat bercanda dan tertawa seolah melepas semua beban di atas pundak.


Sebenarnya selama ini Aslan memiliki masalah yang sering terjadi antara orangtua dan anak, ayah Aslan ingin ia fokus pada belajar bisnis agar dapat meneruskan usahanya kelak.


Tapi Aslan merasa bakatnya tak ada di sana, ia ingin menjadi seorang arsitektur dan berkeliling dunia demi membuat berbagai bangunan yang akan menjadi sejarah.


Ketidakcocokan ini membuat Aslan merasa terkekang dan tentu berakhir menjadi berandalan, ia sering pindah sekolah karena tak segan-segan menghabisi orang yang berani menentangnya.


"Aku tak menyangka kau juga tertarik pada arsitektur," ujar Aslan sambil mengambil minuman yang telah di sediakan pelayannya.


"Aku tertarik pada semua hal, tapi yang paling membuatku tak bisa berpaling adalah uang," sahut Winnie jujur.


Aslan terkekeh, ia tak mengira akan senyaman itu bersama dengan seorang gadis dari kalangan rendah.


"Lain kali kita akan kencan ke tempat yang lebih romantis, kau ada ide?" tanya Aslan.


"Padang bunga," jawab Winnie tak mau melewatkan kesempatan emas.


"Padang bunga?" ulang Aslan.

__ADS_1


"Mm, aku ingin melihat hamparan bunga mekar yang indah. Di bawah langit cerah dengan udara yang sejuk," sahutnya antusias.


"Baiklah, lain kali kita akan pergi," janji Aslan.


Winnie mengangguk, tersenyum dengan tidak sabar menantikan hari itu tiba. Ia sudah sangat merindukan taman bunga di kediaman Mo, mungkin saja nanti kerinduan itu dapat terobati.


......................


"Winnie, pak guru memanggil mu," ujar seorang murid saat kelas baru saja hendak di mulai.


Bertanya-tanya mengapa ia di panggil sepagi ini Winnie segera bangkit dari kursinya dan pergi ke ruang guru, tapi belum sampai ia di sana seorang pemuda berdiri tepat di hadapannya menghalangi.


"Aku yang memanggilmu," ujar Carl tersenyum penuh misteri.


"Apa?" tanya Winnie heran.


"Habis kau tidak pernah meninggalkan berandalan itu sih, terpaksa aku gunakan trik ini agar kalian berpisah."


"Apa yang kau inginkan? kau bukan murid dari sekolah ini kan?" tanya Winnie yang tentu akan ingat jika ada pria tampan di sekolah selain Aslan.


"Hehe.. jika kau mau ikut dengan ku sebentar saja akan ku katakan semuanya," sahut Carl.


Insting Winnie mengatakan untuk waspada terhadap orang itu, tapi ia juga penasaran tentang siapa dan apa maunya. Maka ia pun memilih untuk mengambil resiko, ia mengikuti Carl pergi ke sebuah kelas yang sudah tak terpakai.


"Jadi... apa hubungan mu dengan Carmen?" tanya Winnie tanpa menunjukkan rasa takut.


"Teman sejak kecil, orangtua kami berteman dan tentu saja sejak kecil kami sudah bersama," sahut Carl.


"Bagitu rupanya, kau sampai meminta bantuan teman mu untuk memberi ku pelajaran. Apa itu tidak terlalu beresiko untuk mu?" tanya Winnie.


Carmen tentu benar-benar geram, ia sangat membenci tatapan Winnie yang penuh keyakinan dan selalu tanpa rasa takut.


"Sekarang kita memiliki kekuatan yang sama, jangan terlalu sombong!" hardik Carmen.


Winnie hanya menatap Carmen tanpa ekspresi.


PLAK


Bahkan setelah satu tamparan yang di berikan Carmen Winnie masih diam tanpa rasa takut dan tak ada niatan untuk membalas atau pun kabur, ia bukan Mo Yumna lagi yang pengecut.


Ia tak akan pernah lari dari musuh, justru ia senang karena Carmen dengan jelas telah memberitahu posisinya.

__ADS_1


PLAK


Satu tamparan lagi yang kini lebih keras, membuat sudut bibir Winnie bedarah. Carmen pernah merasakan tamparan Winnie sekali dan itu rasanya sangat perih meski tak sampai bengkak apalagi berdarah, jadi mustahil Winnie tidaak merasa kesakitan.


"Kenapa? kau takut? heh.. hanya di depan Aslan saja kau berani menghinaku," olok Carmen.


"Kau melupakan banyak fakta Carmen," ujar Winnie santai.


"Apa?" tanya Carmen bingung.


"Pertama, aku tidak menghinamu. Aku ingin membawa tas mu tapi Aslan melarangnya jadi harusnya kau salahkan dia. Kedua, aku menamparmu atas perintah Aslan jadi kau harusnya salahkan dia lagi. Ke tiga, aku tidak pernah merasa takut, benci, ataupun marah atas tindakan apa pun yang kalian lakukan padaku selama itu adalah hubungan timbal balik. Jadi setelah kau puas menghajar ku ingat untuk memberi imbalan yang sesuai," jelas Winnie.


Carl terpana, ia tak menyangka musuh Carmen adalah gadis yang begitu menarik.


"Kau merebut posisiku! harusnya aku yang menjadi pacar Aslan!" seru Carmen kesal.


"Aslan yang mengajak ku pacaran, jika aku menolak apa kau bisa menjamin nyawaku dari dia? sejujurnya selama ini meski status kami pacaran tapi yang ku lakukan hanya terus menemani kemana dia pergi dan melayaninya dengan baik. Bukankah apa yang ku lakukan lebih tepat di sebut pelayan? kau mau posisi seperti ini?" balas Winnie.


Carmen benar-benar di buat bungkam, padahal ia ingin menghajar Winnie habis-habisan tapi justru mentalnya yang terpukul hebat.


"Tetap saja kau perlu di beri pelajaran!" seru Carmen hendak memberi sebuah tamparan yang lebih keras dari sebelumnya, tapi.


Gep


"Cukup Carmen," Carl menangkap tangan Carmen tepat sebelum telapak tangannya menyentuh pipi Winnie.


"Lepaskan tanganku," perintah Carmen tegas.


"Sudah cukup, jangan berlebihan," balas Carl.


"Pergilah," ujar Carl kepada Winnie.


Sejenak Winnie menatap Carmen yang masih memberikan tatapan benci, beralih pada Carl yang memberi senyuman aneh. Merasa urusannya sudah selesai Winnie pun pergi tanpa mengatakan apa pun.


"Cih! kau bilang kau mau membantuku!" hardik Carmen melepaskan tangannya dari genggaman Carl.


"Sadarlah Carmen, yang kau lawan adalah seseorang dengan tingkat kecerdasan yang tinggi dan memiliki kekuatan. Kau tidak akan menang jika hanya mengandalkan otot dan koneksi," sahut Carl.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Carmen kesal.


"Kau harus bersabar dan menunggu waktu yang tepat, sebelum itu bantu aku mengurus kepindahan ku."

__ADS_1


"Kau akan pergi? kemana?" tanya Carmen mendadak cemas.


"Tentu saja ke sisimu, mulai besok aku akan sekolah di sini," sahut Carl sambil menatap pintu dimana tadi Winnie melewatinya.


__ADS_2