Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 18 Hilang


__ADS_3

Pelajaran baru saja akan di mulai kembali setelah jam istirahat saat Winnie mendapati secarik kertas di balik catatannya, sebuah kata bertuliskan "mari bicara di toilet" tertera jelas di sana.


Ia tahu itu bukan undangan biasa, sebuah marabahan harus siap ia hadapi jika ingin memenuhi undangan itu.


Menatap Aslan yang sedang memainkan pena di tangan dalam hati Winnie meminta maaf sebab ia akan membuat kekacauan, pak guru baru saja memulai pelajaran dan lima belas menit kemudian Winnie mengangkat tangan untuk ijin ke toilet.


Ia mendapat ijin dengan mudah, saat berjalan melewati kursi Deborah secarik kertas ia simpan tepat di hadapan gadis itu.


Tentu Deborah heran, dengan penasaran ia membalik kertas itu dan betapa kagetnya ia mendapati tulisan "Jika aku tidak kembali dalam sepuluh menit tolong cari aku" di sana.


Menelan ludah dengan susah payah kecemasan seketika mengerubungi hatinya, diam-diam di liriknya Aslan untuk melihat apa yang di lakukan pemuda itu.


Karena ia sudah berteman sejak lama dengan Winnie ia tahu tak boleh bersikap gegabah dan harus tenang dalam menghadapi masalah terutama yang menyangkut Winnie, maka ia pun akan menunggu selama sepuluh menit baru memulai pencarian.


Sementara itu Winnie yang kini sudah masuk ke toilet cukup di buat terkesan akan kehadiran Carmen yang seorang diri, dari tulisan tangannya memang Winnie menebak itu adalah tulisan tangan seorang gadis.


"Wah... Winnie, betapa sibuk dan pentingnya dirimu sampai hanya untuk bicara saja aku harus membuat undangan di tengah jam pelajaran," ujar Carmen dengan nada mengolok.


"Yah mau bagaimana lagi? Kita sudah kelas tiga dan harusnya kit sudah mempersiapkan ujian," sahut Winnie memutar topik.


Nampak jelas Carmen sangat kesal karena jawaban itu, tentu saja karena maksudnya adalah mengolok Winnie yang di jaga ketat oleh Aslan dan para anak buahnya.


"Silahkan terus membual Winnie, ini kali terakhir kau dapat melakukannya," ujar Carmen pelan.


Ada senyuman aneh di wajah Carmen, sebuah senyuman yang menandakan ia telah menyiapkan satu rencana jahat untuk Winnie. Instingnya kemudian mengatakan untuk segera pergi dari tempat itu, tau baru saja ia mau melangkah sebuah tangan kuat mengunci gerakannya bersamaan dengan sapu tangan yang membekam mulutnya.


Winnie dapat mencium aroma tak sedap khas bahan kimia, ia mengenalnya. Itu adalah obat bius, mencoba melepaskan diri sekuat tenaga Winnie terlambat sebab obat itu bekerja dengan cepat hingga menghilangkan tenaganya.

__ADS_1


Sebelum benar-benar kehilangan kesadaran hal terakhir yang ia lihat adalah samar-samar wajah licik Carmen, dan hal terakhir yang bisa ia lakukan adalah melemparkan kertas undangan Carmen ke sudut pintu.


......................


Sepuluh menit telah berlalu dan Winnie belum juga kembali, Deborah semakin cemas lagi saat melihat Aslan yang sesekali menatap kursi Winnie.


Tentulah Aslan juga merasa heran mengapa Winnie pergi lama sekali, karena sudah mendapat pesan maka Deborah pun segera meminta ijin untuk pergi ke toilet.


Seperti yang ia cemaskan tak ada siapa pun di sana, setiap pintu kosong bakan seperti tak ada bekas orang pernah ke sana. Semakin cemas air mata mulai mengalir di pipinya, berbagai pikiran negatif muncul tentang apa yang kemungkinan terjadi pada Winnie.


"Tidak! aku tidak boleh menyerah. Kali ini aku harus menemukan Winnie," tekadnya sambil menghapus air mata.


Ia mulai mencari di setiap tempat yang kemungkinan akan di datangi Winnie, mulai dari perpustakaan, atap, hingga gudang. Tapi Winnie tak ada dimana pun di seluruh tempat di sekolah.


"Ada yang bisa aku bantu? kau kelihatan sedang bingung," ujar Carl yang tanpa sengaja berpapasan dengan Deborah di koridor.


Carl terkesiap, ekspresinya segera mengeras.


"Aku akan bantu mencarinya," sahutnya pelan dan segera pergi.


Deborah yang tak tahu harus mencari kemana lagi akhirnya memutuskan untuk memulainya lagi dari toilet, ia berfikir mungkin saja akan mendapatkan sebuah petunjuk.


Keputusannya sangat tepat, ia menemukan sebuah gulungan kecil yang ternyata secarik kertas bertuliskan undangan.


Sepuluh menit telah berlalu semenjak ia mencari Winnie dan hanya menemukan satu petunjuk, tak mungkin bekerja sendiri ia memutuskan untuk memberitahu Aslan.


Tak di sangka saat pergi meninggalkan toilet ia berpapasan dengan Aslan di jalan.

__ADS_1


"Hei bayi, apa kau melihat Winnie?" tanya Aslan yang sudah mencium hal yang tak beres.


"Aslan... Winnie hilang," lapor Deborah dengan rasa takut.


"Apa?" tanya Aslan dengan suara keras.


Jantung Deborah seketika berdegup kencang, air mata semakin deras keluar hingga ia kesulitan bernafas dengan benar. Tak peduli pada keadaan Deborah yang syok dan ketakutan Aslan malah mengguncang pundak Deborah dan bertanya lagi "Apa maksud mu dia hilang?".


" Aslan.... " panggil Deborah lirih.


Tatapan yang sendu dan penuh ketakutan itu menyadarkan Aslan bahwa ia terlalu panik, menarik nafas panjang ia mencoba tenang dan membujuk Deborah untuk menjelaskannya.


Setelah beberapa saat Deborah pun memberitahu kalau sebelum Winnie pergi ke toilet ia memberi pesan kepadanya, pesan yang di tulis Winnie itu ia berikan kepada Aslan.


"Aku juga menemukan ini di toilet," lanjut Deborah memberikan satu kertas lagi.


Melihat dua pesan itu Aslan segera tahu bahwa Winnie telah di incar, seseorang dengan sengaja mengundangnya dan berbuat jahat kepadanya.


Tak ada tersangka lain yang bisa Aslan pikirkan kecuali satu orang.


"Carl, ini pasti ulah dia!" gerutunya.


"Eh, tapi aku tadi bertemu dengan Carl. Dia bertanya padaku ada apa yang dan ku jawab Winnie telah hilang, ia sangat terkejut mendengarnya dan membantu ku mencari Winnie," ujar Deborah memberitahu.


"Sungguh?" tanya Aslan masih ragu.


Deborah mengangguk dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


"Kalau begitu musuh besar satunya lagi," gumam Aslan.


__ADS_2