Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 122 Bersembunyi


__ADS_3

Seharian berkendara menghapus jejak Saly pun mengajak Aslan untuk bersembunyi di rumah peternakan, itu adalah rumah yang Saly beli atas nama orang lain untuk berjaga-jaga. Tak disangka akhirnya rumah itu akan digunakan juga.


Kreeeeett...


Suara derak kayu saat ia membuka pintu mengisyaratkan bahwa rumah itu tak pernah terjamah manusia sejak ia beli, begitu masuk debu tebal pun menyambut kedatangan mereka.


"Tolong periksa air dan listriknya," ujarnya kepada Aslan.


Sementara ia pergi ke lantai atas, memastikan sesuatu yang ia simpan masih ada disana dan masih berfungsi.


Itu merupakan berbagai senjata yang tersembunyi di balik lukisan besar, beruntung semuanya masih terjaga dengan baik.


"Bagaimana?" tanyanya saat kembali ke bawah.


"Semuanya bagus," sahut Aslan.


"Kalau begitu tolong bereskan kamar itu, aku akan mencari makanan dulu," pintanya sambil menunjuk sebuah pintu yang tepat berada di samping dapur.


Aslan mengangguk dan segera membereskan kamar itu sementara Saly pergi pergi keluar, di desa itu ia bisa mendapatkan jamur dan buah-buahan dengan mudah karena dekat hutan.


Besok pagi baru ia bisa pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan, sementara itu saja sudah cukup.


Kembali ke rumah ia segera memasak jamur dan mencampurnya dengan beberapa jenis buah, setelah hidangan tersaji di meja makan niat Saly adalah untuk mengajak Aslan makan malam.


Tapi yang ia temukan adalah kerinduan pada sentuhan kekasihnya, setelah membereskan kamar Aslan yang berkeringat memutuskan untuk mandi.


Tepat saat Saly datang ke kamar Aslan masih bertelanjang dada dengan sehelai handuk yang melilit pinggangnya, kondisi ini mengingatkan Saly saat mereka berada di Vila.


Perlahan Saly berjalan mendekat, Aslan yang sedang memunggungi tak sadar akan kehadiran Saly sampai tangan Saly mengelus punggungnya.


"Ah!" pekiknya saat Aslan menarik tangan dan membanting tubuhnya ke atas ranjang.


"Kau? oh.. maaf... ku pikir.."

__ADS_1


"Musuh?" potong Saly menatap kedua mata Aslan yang kaget melihatnya.


"Ya.. " sahut Aslan masih dalam posisi mengunci pergerakan Saly.


"Musuh tidak akan mengendap-endap untuk mendekatimu, hanya seseorang yang menginginkan sesuatu yang akan melakukan ini," ujar Saly kini dengan tatapan yang berpindah pada bibir Aslan.


Nafasnya yang perlahan menjadi tak beraturan membuat Aslan merasakan sesuatu yang diinginkan Saly, perlahan ia ikut mendekatkan wajahnya dengan mata yang juga tertuju pada ranumnya bibir Saly.


"Sebaiknya kau juga mandi, pakaian mu sudah kotor," ujar Aslan segera bangkit melepaskan Saly.


Kecewa, Saly tetap telentang di ranjang dengan mata yang mengawasi Aslan. Pria itu kini mengenakan kaus dan pergi ke kamar mandi untuk mengenakan celana.


"Aku sudah masak, makanlah duluan!" seru Saly begitu Aslan keluar dari kamar mandi.


***


Saly menyuruh membersihkan satu kamar karena memang mereka akan tidur di kamar yang sama, ini lebih efektif untuk menjaga satu sama lain.


Tadi sore saat ia menghimpit tubuh mungil itu diantara ranjang dan dadanya Aslan teringat pada Winnie, posisi itu sangat ia sukai jika bersama dengan Winnie sebab ia bisa menundukkannya.


Hampir saja tadi pun ia menundukkan tunangan bosnya, untung ia segera sadar dan menghindar. Meski Saly dan Winnie memiliki wajah yang sama tapi ia tak boleh terpancing karena masa lalu.


Esoknya sementara Aslan mengitari rumah itu untuk memasang perangkap bagi penyusup Saly pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan setidaknya cukup untuk seminggu.


Karena di luar terlalu berbahaya mereka tak boleh sering-sering pergi ke luar jika tak ada hal yang mendesak.


"Sampai kapan kita di sini?" tanya Aslan.


"Sampai ada yang menjemput, entah itu Philip, Juan atau Thom."


Aslan mengangguk, tugasnya hanya menjaga Saly agar tetap hidup dan selamat sampai kembali pada Philip. Ini akan menjadi lebih mudah karena mereka hanya perlu bersembunyi.


***

__ADS_1


Mendapat berita besar secara tak sengaja Carl segera kembali ke hotel untuk menemui Deborah.


"Nona Saly tidak akan datang ke pesta mana pun dalam waktu dekat," ujarnya.


"Kenapa?" tanya Deborah.


"Ada yang bilang dia sedang sibuk karena suatu pekerjaan, tapi gosip panas yang beredar mengatakan nyawanya sedang di incar. Mana yang lebih kau percayai?" terang Carl.


"Tentu saja gosip," sahut Deborah.


"Kalau begitu kita harus meretas CCTV disebuah klub," balasnya.


Deborah mengangguk, ia mengikuti Carl pergi ke sebuah klab. Agar lebih aman Deborah akan menggunakan komputernya di kafe depan klub sementara tugas Carl adalah memasang sebuah alat khusus untuk meretas.


Dengan kelihaiannya memanipulasi orang Carl dengan mudah dapat masuk dan memasang alat, setelah memberi pesan pada Deborah tugasnya selanjutnya hanya menunggu sampai pekerjaan Deborah selesai.


Begitu ia dapat masuk ke rekaman CCTV klub itu Deborah memeriksanya dengan cukup teliti, sampai akhirnya ia menemukan sesuatu yang tak terduga.


Dalam CCTV yang terpasang di pintu belakang ia tak hanya melihat Saly tapi juga Aslan, jelas segerombol pria bersenjata mengejar mereka.


Segera menyimpan rekaman itu Deborah kemudian menyuruh Carl untuk pergi, terburu-buru ia mengajak Carl untuk kembali ke hotel.


Menyerahkan rekaman itu agar Carl dapat melihatnya tentu saja Carl dibuat kaget, ia pun menyimpulkan bahwa Aslan mengenal Saly jelas dari caranya menjaga wanita itu.


"Menurut mu apa dia benar Winnie?" tanya Deborah.


"Entahlah, yang jelas kita harus mencari Aslan dulu untuk memastikan."


Mereka memulai pencarian dari hotel dimana Aslan menginap, mudah bagi mereka untuk masuk ke dalam kamar Aslan.


Tak ada jejak berarti yang tertinggal disana, namun jelas dari barang yang masih ada disana dapat di simpulkan Aslan akan kembali ke sana.


Sayangnya kini mereka tak tahu dimana Aslan berada, satu-satunya cara adalah dengan mencari secara ilegal.

__ADS_1


__ADS_2