
Karena Rhea sudah masuk kerja Winnie pun mengumpulkan mereka di kantin hotel, hari ini ia akan mengumumkan kesepakatan yang dia lakukan dengan Pak Kepala.
Tentu saja mereka sudah lebih dulu tahu dari Pak kepala dan sempat menolaknya, tapi berkat bujukan pak kepala akhirnya mereka juga tak bisa berbuat banyak.
"Kita akan mulai membenahi hotel, karena pegawai hotel tidak banyak kita akan melakukannya bersama setiap hari. Mulai dari setiap kamar yang ada, aku sudah mengecek semua kamar dan memang semuanya rapi dan bersih. Hanya saja aku melihat beberapa kerusakan seperti cat dinding yang mengelupas dan lainnya, oleh karena itu kita akan mengecat semua kamar mulai dari lantai satu. Mohon kerjasamanya," umum Winnie.
Wajah mereka nampak malas dan menyahut pelan, bukan karena itu pekerjaan yang berat tapi karena Winnie yang memimpin.
Mereka membayangkan pekerjaan itu akan lebih sulit dari biasanya mengingat sifat Winnie, namun ternyata mereka salah.
Dengan enam orang bekerja termasuk Winnie dan pak Kepala ia pun membaginya menjadi dua grup, satu kamar akan di kerjakan oleh tiga orang.
Winnie yang ikut membantu sama sekali tak bersuara bahkan sangat fokus pada pekerjaannya, saat ada yang melakukan kesalahan dengan menumpahkan cat ia hanya menyuruh untuk segera membersihkannya.
"Kerja bagus semuanya! kita lanjutkan besok," seru Winnie saat mereka selesai diantai satu.
"Baiklah, karena semuanya sudah bekerja keras aku akan memasak makanan mewah!" umum Roger.
"Hore.... " sorak mereka semua.
Sementara yang lain membereskan sisa pekerjaan Winnie mengikuti Roger ke dapur, ia melihat bagaimana keahlian koki dalam memasak.
"Sudah berapa lama kau menjadi koki?" tanya Winnie.
"Sudah sekitar sepuluh tahun, sebenarnya ayah ku ingin aku menjadi atlet tapi aku yang hobi memasak ini justru ingin menjadi koki. Tentu saja awalnya kami terus bertengkar, sampai akhirnya ayahku sakit dan aku pun sadar akan keegoisan ku dan menjadi atlet angkat besi. Saat berhasil mendapat mendali emas aku berikan pada ayahku dan itu membuatnya sadar bahwa ia juga sudah egois, dia menyuruhku menggunakan uang hadiah untuk belajar memasak. Tapi semuanya tidak semudah yang kami pikirkan," ujarnya bercerita.
Ada senyum pahit saat ia mengenang semua hal-hal pahit yang telah ia lewati.
"Sekolah memasak ternyata membutuhkan banyak biaya, kami akhirnya kekurangan dana dan aku tak bisa melanjutkan sekolah ku. Saat dalam keputusanasaan aku bertemu pak kepala, dia mengetahui bakatku dalam memasak dan meminta ku jadi koki di sini. Meski tak memiliki banyak ilmu tapi semua yang ku pelajari di sekolah ku praktekan di sini," lanjutnya.
Winnie tersenyum, kisah perjuangan setiap orang memang berbeda. Roger adalah salah satunya dengan kisah pantang menyerah meski dalam kondisi yang sulit.
"Hotel ini bukan hanya sekedar tempat mencari nafkah tapi juga rumah tempat ku melakukan hobi setiap hari, aku harap kau mengerti berapa pentingnya hotel ini bagiku," ujar Roger pelan.
"Kalau begitu kau harus berusaha keras agar rumah mu tidak hancurkan," sahut Winnie.
"Panggil aku jika makanannya sudah siap," ujarnya sambil berjalan pergi.
Mencari ketenangan untuk menjernihkan pikiran yang sudah berusaha keras Winnie memilih untuk pergi ke pesisir pantai, saat ia menikmati hembusan angin laut dilihatnya seseorang berdiri di tepian batu karang.
"Oh tidak," gumamnya panik berfikir orang itu akan menghabisi nyawanya sendiri dengan melompat ke laut.
__ADS_1
Segera Winnie bergegas menghampirinya, anehnya saat ia menatap pria yang berdiri di tepian itu tak nampak seperti orang yang depresi.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Winnie hati-hati.
"Kau Winnie bukan?" ujar pria itu bertanya balik.
"Darimana kau tahu namaku?" tanya Winnie kini dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi.
Pria itu tersenyum dan berjalan menghampirinya, membuat Winnie menebak-nebak apa yang akan dilakukannya.
"Tentu saja aku tahu, karena aku... malaikat mautmu!" seru pria itu sambil mencoba menyakiti Winnie dengan sebuah belati.
Untung Winnie menghindar tepat waktu sehingga ia tak terluka, tapi detik berikutnya ia terkena satu sayatan kecil di lengan karena belum siap terlebih pijakannya cukup licin.
Perkelahian tak dapat di elakkan lagi, mereka bergulat dengan gemuruh ombak sebagai musik pengiring. Saling mencoba melukai satu sama lain, meski Winnie tak begitu kuat tapi ia cukup pintar dengan memanfaatkan pijakan licin agar membuat pria itu tak seimbang.
Mencoba merebut belati di tangan pria itu pada akhirnya mereka sampai di ujung tebing dengan posisi Winnie yang terancam, sekuat tenaga pria itu mencoba mendorong Winnie agar terjatuh namun Winnie bertahan sekuat tenaga.
Sekali lagi ia memanfaatkan pijakan yang licin dengan menendang kaki pria itu dari samping agar kehilangan keseimbangan, lalu dengan cepat ia melompat ke belakang pria itu dan mendorongnya sebelum pria itu berhasil bangkit.
Aaaaaaaa....
Sayangnya tangan pria itu sempat menarik Winnie sehingga ia juga ikut terjatuh, menatap bagaimana langit cerah di matanya Winnie mencoba meraih apa pun di dekatnya.
Gep
"Aslan! tarik aku!" pinta Winnie.
Wajahnya yang memerah jelas menunjukkan beban yang menggelantung di tangannya tidaklah ringan, meski begitu Aslan tetap berusaha menarik Winnie sekuat tenaga hingga ia berhasil naik dengan selamat.
Hhhhh Hhhhhh Hhhhh
Kelelahan menghadapi kematian mereka mencoba mengatur nafas yang berantakan sambil menatap bagaimana juramnya tempat itu, saling menatap ada senyum bentuk syukur karena selamat.
"Terimakasih," ujar Winnie.
"Kau terluka!" seru Aslan kembali panik melihat belas sayatan di lengan Winnie yang masih mengeluarkan darah.
"Hanya luka kecil," ucap Winnie santai.
Gep
__ADS_1
Tapi tiba-tiba Aslan memeluknya, nafasnya yang masih tak beraturan terasa panas di tengkuk Winnie.
"Andai aku terlambat sedetik saja, aku akan menghukum mereka semua sebelum menghukum diriku sendiri," bisiknya.
Perasaan itu, rasa aman dan nyaman saat seseorang lebih mementingkan nyawanya daripada apa pun didunia ini membuat Yumna hadir bersama air mata bahagia.
"Kita harus mengobati luka mu," ujar Aslan melepaskan pelukannya.
Winnie mengangguk sambil menghapus air matanya, mereka pun bangkit dan pergi dari tempat berbahaya itu.
Tak jauh dari sana mobil Aslan terparkir, disanalah mereka mengobati luka Winnie.
"Kenapa kau bisa datang kemari?" tanya Winnie.
"Deborah memberitahuku bahwa pemilik mobil itu Jack, dia juga memberitahuku bahwa kau mendapat telepon misterius. Merasa kau sudah diincar makanya aku segera datang," sahutnya.
Winnie merenung, semua potongan puzzle itu ada namun ia merasa salah menempatkannya sehingga bentuknya tidaklah benar.
"Siapa yang mencoba membunuhku?" tanya Winnie.
"Mengingat siapa dirimu jelas banyak yang menginginkan kematianmu," ujar Aslan.
"Bagiku tersangka utamanya adalah Camila, dia bersama Will merupakan dalang dari kematian bibiku Miya. Apa tidak mungkin Camila melihat ibuku sebagai Miya karena mereka kembar? lalu karena takut ia pun membunuh ibuku juga baru masuk ke kehidupan ayahku," jelasnya.
"Itu juga masuk akal, sekarang kita hanya perlu mencari tahu mengapa Jack memata-matai perawat Iren."
"Mungkin dalam pembunuhan ibuku Camila tidak bersekutu dengan Will tapi dengan Jack, itulah mengapa Jack memata-matai perawat Iren."
"Semuanya belum begitu jelas, sebaiknya kita lebih hati-hati. Ayo kembali ke hotel," ajak Aslan.
Sampai di hotel mereka bersikap tenang seolah tak terjadi apa-apa, selesai berganti pakaian Winnie pun bergabung bersama yang lainnya untuk makan.
"Aku akan disini selama beberapa hari untuk menjagamu," ujar Aslan selesai mereka makan.
"Tidak perlu, aku yakin setelah mengetahui pembunuh itu gagal dia tidak akan gegabah dengan mengirim pembunuh lainnya."
"Benar juga, tapi apa kau yakin kau tidak apa-apa?" tanya Aslan memastikan.
"Ini bukan kali pertama aku menghadapi maut," sahut Winnie penuh percaya diri.
Menatap mata Winnie yang sama sekali tak goyah meski ia baru saja selamat dari kematian membuat Aslan heran.
__ADS_1
"Sebenarnya kau ini siapa?" tanya Aslan.
Winnie tersentak, seakan identitasnya sebagai Yumna sedang di bongkar.