Reinkarnasi Putri Cacat

Reinkarnasi Putri Cacat
Bab 110 Nona Sally


__ADS_3

Mansion itu dipenuhi oleh pria berjas hitam, beberapa diantara mereka memiliki bekas luka di wajah yang membuatnya terlihat lebih mengerikan.


Sudah sejam sejak mereka di panggil dan belum tahu apa alasannya, karena itu ruangan yang hampir sesak itu bising oleh suara saling berbisik.


Namun saat Philip datang dan berdiri di lantai atas seketika ruangan menjadi senyap, mereka menatap sang Tuan yang paling disegani.


"Hari ini ada hal yang akan umumkan kepada kalian," ujar Philip.


Tanpa berseru suaranya sudah sampai pada orang yang berdiri di paling belakang.


"Mulai saat ini aku akan menyerahkan wilayah Dauce pada orang yang paling berharga bagiku, kalian wajib menghormati dan melaksanakan semua perintahnya."


Bisikan demi bisikan kembali terdengar karena pengumuman itu, selama ini selama bertahun-tahun Philip tidak pernah memberikan wilayahnya pada siapa pun.


Meski sangat kerepotan karena harus mengurus semua tapi dia yang tidak mudah pecaya pada orang lain tidak akan mengambil resiko, kini mereka bertanya-tanya siapakah gerangan yang paling Philip percayai untuk memimpin wilayah yang selama ini sumber penghasilan terstabil.


Tuk Tuk Tuk


Suara sepatu yang menggema membuat mereka mencoba mengintip seseorang yang berjalan di belakang Philip, jelas dari suaranya itu merupakan sepatu wanita.


Berdiri dengan penuh percaya diri disamping Philip wanita itu terlihat mencolok dengan dress panjang berwarna merah, Philip tersenyum kepadanya setelah mengecup punggung tangannya.


"Aku akan berikan wilayah itu kepada tunangan ku Sally," ujar Philip.


Semua mata terbelalak, bagaimana tidak? Philip memberikan kepercayaan penuh pada wanita yang tidak jelas asal usulnya.


"Mulai sekarang kalian bisa memanggilku Nona Sally," ujar Winnie.


"Baik Nona Sally!" sahut mereka serentak sambil memberi hormat dengan menundukkan kepala.


Winnie tersenyum puas, akhirnya ia mendapat kesempatan untuk membuktikan kemampuannya. Setelah berhasil mengembangkan bisnis Philip ia akan disegani oleh banyak orang sehingga pekerjaan akan semakin banyak berdatangan, saat itulah ia akan mendapat kesempatan untuk pergi kemana pun yang ja suka termasuk pulang ke rumah untuk melihat keluarganya.


......................


Ibu Nagisa rupanya seorang perawat yang baik, Brian ingat Camila saja butuh waktu berbulan-bulan untuk menyembuhkannya sementara Ibu Nagisa melakukannya hanya dengan waktu semingguan.


Kini Brian merasa tubuhnya jauh lebih ringan dan sehat, bahkan nafsu makannya juga kembali normal.


"Aku pulang... " seru Nagisa sambil masuk.


"Selamat datang, oh apa yang kau bawa?" sambut Brian.


"Donat, ayo kita makan sama-sama!" ajak Nagisa.

__ADS_1


Diatas meja bundar Nagisa segera mengeluarkan donat dengan berbagai toping diatasnya, rasa manis dan legit begitu terasa meski baru satu gigitan.


Ibu Nagisa tiba-tiba bangkit, rupanya ia membuat teh yang cocok untuk dimakan bersama Donat.


"Aah... ini kombinasi yang sangat pas," ujar Brian.


"Wah wah... nafsu makan paman sangat baik, makanlah yang banyak," ucap Nagisa yang membuat Brian malu.


Ibu Nagisa yang memperhatikan berkata dengan bahasa isyarata kalau wajah Brian memerah seperti jambu.


"Ini berkat kalian, sekarang aku sudah sembuh. Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesehatan yang telah kalian berikan, aku akan pulang dan kembali bekerja."


"Kenapa begitu? paman bisa tinggal disini," ujar Nagisa.


"Mana boleh begitu... aku akan merepotkan kalian terus," sergah Brian.


Ibu Nagisa segera melambaikan tangan yang berarti Brian sama sekali tidak merepotkan mereka.


"Untuk apa paman pulang? toh disana juga tidak ada siapa-siapa kan?" tanya Nagisa.


Sebenarnya diam-diam Nagisa menyukai Brian sebagai orangtua, selama Brian ada di rumah ia merasa seperti memiliki keluarga sempurna yang selama ini ia idamkan.


Hidup hanya berdua dengan ibunya dalam kondisi miskin membuat Nagisa tak bisa merasakan kebahagiaan seperti anak lainnya, terkadang ia iri saat melihat temannya di jemput oleh ayahnya.


"Aku tidak bisa terus tinggal disini, tapi aku berjanji akan datang setidaknya seminggu sekali," ujar Brian.


"Baiklah, paman harus tepati janji paman," sahut Nagisa.


......................


Winnie tentu saja butuh asisten sebab ia baru dalam bisnis dengan skala besar itu, selama ini ia hanya membeli barang haram dari tengkulak dengan jumlah kecil jadi pengalamannya tak bisa di bandingkan.


Philip yang tahu hal ini memberi kepercayaan pada salah satu anak buah setianya yaitu Juan untuk menjadi asisten Winnie, ia juga memberi perintah agar Juan selalu melaporkan apa saja yang dilakukan Winnie.


Hari pertama bekerja Juan menjelaskan metode bisnis mereka, ini adalah bisnis kecil namun dengan hasil yang stabil. Resikonya juga tidak terlalu tinggi sehingga Philip memberikannya kepada Winnie.


"Tuan Juan ada masalah serius," ujar salah satu anak buah mereka sambil masuk ke dalam ruangan.


"Katakan!" ujar Winnie tegas.


Pria itu terkesiap, ia lupa jika mulai hari ini atasannya adalah Winnie meskipun ada Juan disana.


"Be-begini Nona Sally, barang kita terlambat datang. Jika sampai jam dua belas masih belum sampai itu akan menghambat pekerjaan lainnya lalu... "

__ADS_1


"Aku mengerti, kau tidak perlu menjelaskan sampai detail seperti itu! intinya kita akan rugi jika barang terlambat," potong Winnie.


"Maafkan saya," ujar pria itu menyesal.


"Sudah ada kabar dari mereka?" tanya Winnie.


"Kami sedang mencoba menghubungi," sahutnya.


"Terus hubungi," perintah Winnie.


"Juan antar aku dermaga, siapakan juga beberapa kapal dan helikopter untuk menjemput," lanjutnya.


"Siap!" tegas Juan.


Dengan cekatan ia memerintahkan anak buahnya untuk melaksanakan perintah Winnie, sementara mereka pergi ke dermaga baru ada kabar bahwa kapal yang mengangguk barang terhambat karena tiba-tiba terjadi kerusakan pada mesin.


Untung Winnie segera memerintahkan penjemputan barang sehingga barang hanya terlambat satu jam saja dari jadwal, kesigapan Winnie dalam menghadapi masalah kini mulai menarik perhatian anak bawahnya.


Winnie juga sering datang untuk pengontrolan dan menjalin kerjasama yang lebih luas, hanya dalam waktu satu minggu ia sudah berhasil menjalin kerjasama dengan para petinggi di kota-kota besar yang sulit di jangkau.


Tak lupa Juan melaporkan hasil kinerja Winnie kepada Philip, mendengar kehebatan gadisnya Philip menyiapkan sebuah perhiasan mewah sebagai ucapan selamat.


Itu merupakan kalung bertahtakan berlian, saat Philip memasangnya di leher Winnie yang jenjang perhiasan itu nampak bersinar lebih indah.


"Kau menyukainya?" tanya Philip.


"Gadis mana yang tidak menyukai perhiasan," sahut Winnie sambil berkaca.


"Ini baru sepuluh hari dan kau sudah menujukan kualitas dirimu, jika kau terus begini nama mu pasti akan cepat melambung. Itu yang kau inginkan?" tanya Philip lagi.


"Sudah kubilang aku ingin duduk sejajar dengan mu, jika kau adalah Raja maka aku akan menjadi Ratunya. Siapa pun harus tunduk akan telunjuk ku dengan rasa takut."


"Jadi kau ingin ditakuti," ucap Philip.


"Lebih baik dari disegani, rasa takut akan memberikan loyalitas yang dipenuhi bumbu."


Philip tersenyum aneh, ia bagai sedang bercermin saat melihat Winnie sekarang.


"Apa kau juga ingin aku takut padamu?" tanya Philip untuk terakhir kalinya di malam itu.


"Itu akan sulit, kau terlalu mencintaiku meski ada rasa takut juga disana. Setidaknya malam ini aku ingin kau merangkak dihadapanku," sahut Winnie sambil berbalik dan menatap Philip dengan senyum menggoda.


"Apa pun yang kau inginkan," ujar Philip balik tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2